Kategori: penginapan

Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean

Sebelum naik ke kapal pesiar Royal Caribbean, saya deg-deg-an membayangkan bagaimana nanti kalau saya mabuk laut. Maklum lah, nenek moyang saya bukan pelaut. Saya kembali teringat pengalaman ngehe menyeberang selat Bass dari Tasmania, pusing banget terombang-ambing di lautan meski cuma berlayar semalam. Juga pengalaman terakhir kami LOB menyusuri sungai Sekonyer di Tanjung Puting National Park. Kapal kelotoknya sih jalan pelan-pelan, tapi dua hari setelah kembali ke darat, rasanya badan masih terayun-ayun di sungai.

Tapi rasa penasaran saya pada kapal pesiar mengalahkan kecemasan saya. Dan… begitu lihat kamar dan balkonnya, rasa gugup saya langsung lenyap, berganti dengan excitement. Batin saya, “Ini sih hotel terapung bintang lima!”

Our room
Handuk binatang imut, tiap hari ada di kamar

Kita bisa tahu lokasi kapal dari TV di kamar

 

 

Kami berempat mendapatkan dua kamar (stateroom) di deck 6. Untuk keluarga sebenarnya bisa pesan family room untuk berempat, atau connecting room. Kamar standar mempunyai tempat tidur ukuran king, yang bisa dipisah menjadi dua single bed.

Fasilitas kamar kami ini lengkap seperti layaknya kamar hotel di darat. Ada sofa, televisi yang dilengkapi dengan program untuk anak-anak (Dreamworks), ketel listrik, kopi dan teh, minibar, lemari dan tentu saja pelampung. Kalau ada penghuni anak-anak, room attendant akan memberikan pelampung khusus anak-anak. Colokan listriknya sama dengan di Indonesia, jadi tidak perlu menggunakan konektor.  

Kamar mandinya cukup nyaman dan bersih. Sabun, sampo, dan handuk sudah disediakan, tapi kita perlu membawa sikat dan pasta gigi sendiri. Alat pengering rambut juga tersedia.

Kasurnya sangat nyaman untuk tidur. Kalau sudah ketemu kasur, rasanya susah buat keluar kamar lagi, hehehe. Beberapa kali kami niatnya rehat sejenak di antara aktivitas di kapal, eh jadinya Big A atau Little A malah tidur siang. Little A juga senang setiap kali menyalakan TV, ada film kartun dari Dreamworks. Setelah nonton filmnya bisa langsung meet and greet dengan karakter aslinya, sesuai jadwal yang diadakan.

Setiap kamar punya room attendant atau buttler yang akan membersihkan kamar sehari dua kali. Kamar kami, 6668, room attendant-nya Pak Awit dari Indonesia. Enak kan, kalau mau minta apa-apa bisa pakai bahasa Indonesia aja πŸ˜€ Pak Awit ini sopan, ramah, dan rajin. Room attendant juga yang memastikan setiap penghuni kapal ikut “drill”, latihan penyelamatan dalam keadaan darurat. Sebelum kapal berangkat, sekitar jam 4 sore sirine dibunyikan. Semua penghuni harus keluar kapal sesuai dengan nomor titik berkumpul yang ada di seapass card. Setelah berkumpul, kami diberi peragaan cara menggunakan pelampung. Anak-anak diberi gelang sesuai nomor titik kumpul tadi.   

From where I sleep πŸ˜‰
Tumben Big A mau berpose :p
Little A menikmati pemandangan Langkawi

Foto oleh Nabila Azzahra

Apa yang paling asyik di kamar kami? Jawabnya adalah balkon! Dari balkon, kita bisa melihat kesibukan di pelabuhan, laut lepas, dan pemandangan pulau atau kota ketika kapal akan berlabuh. Tiap pagi bisa melihat matahari terbit, dan sorenya bisa melihat matahari terbenam. Kadang kami juga dihadiahi pelangi yang cantik setelah hujan usai. Kalau menginap di hotel, kami hanya bisa melihat satu view yang sama. Tapi kalau ikut cruise, pemandangannya bisa beda-beda tiap hari.


Rute kapal kami yang berlayar selama 4 malam adalah Singapura – Port Klang (KL) – Langkawi – Singapura. Di hari pertama kami bisa menikmati pemandangan pelabuhan Singapura yang sibuk. Di hari kedua, kami disuguhi pemandangan Port Klang Malaysia yang relatif lebih sepi dan tenang. Hari ketiga pemandangannya super sekali, gugusan pulau di Langkawi.
 
Saya sendiri cukup senang bisa duduk bengong di balkon sambil minum minuman hangat. Melihat air bergerak pelan ditinggalkan kapal yang melaju benar-benar membuat saya rileks. Tidak ada di antara kami berempat yang mabuk laut πŸ˜€

Ada beberapa pilihan kamar di kapal pesiar Royal Caribbean. Yang paling istimewa adalah suite dengan balkon pribadi, bath tub, dan juga pelayan pribadi. Setingkat di bawahnya adalah kamar dengan balkon. Yang lebih hemat lagi adalah kamar dengan sea view, jendela yang menghadap laut. Pilihan yang paling hemat adalah stateroom interior, yaitu kamar yang menghadap ke dalam kapal. Ada yang mempunyai balkon menghadap ke promenade (semacam Mal di dalam kapal). Keuntungannya, penghuninya bisa melihat parade atau atraksi di promenade, cukup dari dalam kamar.


Tarif stateroom interior sekitar $400 per orang untuk cruise selama 4 malam. Sementara untuk stateroom dengan balkon, harganya sekitar $600 per orang untuk cruise 4 malam. Harga ini sudah termasuk pajak, biaya pelabuhan, tip, makanan, dan hiburan di kapal. Tarif selengkapnya bisa dicek di website www.royalcaribbean.com.

Harga segitu, dibandingkan dengan apa yang didapat (biaya liburan all in), tidaklah begitu mahal. Tahu sendiri kan, harga kamar hotel di Singapura aja semalam nyampai berapa. Benefit lain dari cruising adalah nggak perlu ribet bongkar koper dan cek in pesawat, tapi sudah nyampai ke beberapa destinasi. Keuntungannya mirip dengan liburan naik campervan, hanya saja ini memakai jalur laut.

Balkon yang menghadap promenade

Balkon kamar interior

Budget liburan dengan kapal pesiar atau cruising sudah fullboard, artinya biaya yang kita keluarkan sudah termasuk makanan 3x sehari. Selain cruising, biasanya ada resort yang menawarkan liburan full board juga. Tapi keuntungan naik kapal pesiar, kita tidak hanya makannya saja yang dijamin, tapi juga ada hiburan dan aktivitas seru lainnya yang bisa dicoba. Untuk aktivitas yang cocok dilakukan oleh keluarga akan saya buatkan post tersendiri ya.

Makanan di kapal pesiar Royal Caribbean melimpah ruah. Dijamin tidak akan kelaparan di sini. Kalau memilih leyeh-leyeh di kamar pun, kita bisa pesan room servis, gratis! Biaya hanya dikenakan untuk pemesanan tengah malam.

Untuk sarapan prasmanan seperti di hotel, ada restoran Windjammer. Kalau bisa datang pagi dan langit kebetulan cerah, kita bakal sarapan dengan pemandangan sunrise yang cantik. Meski pilihan makanan berlimpah, saya dan anak-anak ternyata nggak bisa mengubah kebiasaan sarapan favorit kami. Saya tetap sarapan dengan buah potong, salad sayuran, dan kopi. Big A sarapan dengan hash brown dan omelet, sementara Little A dengan roti panggang dioles selai. Alhamdulillah ada susu full cream untuk melengkapi sarapan duo precils.

Selain Windjammer, kita bisa sarapan di restoran ala carte seperti di Rhapsody in Blue atau Top Hat and Tails. Di sini kita harus antre untuk mendapatkan tempat duduk, dan menu sarapannya pun akan disiapkan pelayan. Kita bisa minta dibuatkan bagel salmon atau french toast. Tapi di sini pun saya tetap sarapan dengan granola, buah, dan yoghurt. Yang penting kopinya enak!

Untuk makan siang, kita bisa tetap makan di Windjammer. Menu untuk makan siang tentu berbeda dengan menu sarapan. Atau kalau bosen prasmanan, bisa mencoba beberapa restoran yang berbayar, seperti Johnny Rockets yang menyajikan hamburger atau Giovannis’ Table yang merupakan restoran Italia.

Tetap setia sama yang gratisan saja? Bisa mencoba gerai hot dog atau gerai es krim di dekat kolam renang.

Masih lapar di luar jam makan? Ada kafe yang buka 24 jam! Kafe Promenade ini letaknya di ‘Mal’ di dalam kapal. Menunya makanan ringan seperti sandwich, pizza, puding, cheesecake, cookies, muffin, dan berbagai minuman hangat maupun dingin.

Kalau di kapal pesiar, sudah biasa makannya nggak 3 kali, tapi 5 kali sehari, hehehe.

Buka 24 jam!

Pengalaman makan yang tak terlupakan di kapal pesiar adalah fine dining setiap malam. Setiap penumpang kapal sudah dialokasikan meja tertentu untuk makan malam. Jadwal makan malam kami setiap jam 5.30 sore di restoran Top Hat and Tails. Menunya 3 course, mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup. Setiap hari menunya ganti-ganti. 

Tidak semua makanan di sini halal, jadi untuk yang muslim sila menghindari masakan yang ada pork/ham-nya. Untuk yang ragu makan daging tanpa sertifikat halal, bisa memilih hidangan laut atau vegetarian. Di setiap pilihan menu pasti ada pilihan hidangan vegetarian dan sea food-nya. Salah satu teman dalam rombongan kami vegetarian dan dia asyik-asyik aja, tetap makan enak dan kenyang πŸ™‚

Rombongan kami berjumlah 12 orang dan duduk di dua meja. Waiter yang melayani kami adalah Xiaolong, dan asistennya adalah Pak I Gede dari Bali. Servis mereka bagus sekali, selalu menjelaskan pilihan makanan ke kami, memastikan kami suka dengan hidangannya, dan minumnya tidak pernah kekurangan. Little A sangat terkesan dengan Xiaolong yang membuatkannya mainan dari serbet. Di malam terakhir, Xiaolong membuatkan topi dari serbet yang cantik banget. Little A berasa seperti princess, hehehe.

Di hari terakhir, ada malam apresiasi untuk seluruh kru yang bertugas di restoran. Mereka melakukan parade dan chef-nya malah menyumbangkan lagu untuk menghibur. Suasananya hangat dan akrab sekali, rasa-rasanya saya tidak ingin kembali ke dunia nyata, hahaha. 

yummy dinner bread roll and appetizer
New Zealand Mussels

Merasakan kemewahan kapal pesiar ini, saya berasa naik Titanic, sayangnya mamas Leonardo-nya nggak ikut πŸ˜‰

~ The Emak 

Previous post: Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean
Next post: 10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

Review Hotel Village Bugis Singapura

Saya sudah lama pengen nginep di Hotel Village di daerah Bugis yang lokasinya super strategis ini. Alhamdulillah kesampaian juga pas liburan kali ini, meskipun enggak dapat tarif yang murah.

Karena sekolah di sekolah Islam, anak-anak mendapat ekstra libur di hari-hari Tasrik. Saya ajak anak-anak ke Singapura (lagi) karena ada voucher Jetstar $330, refund dari kesialan saya dan Si Ayah ketika jalan-jalan pacaran ke Taipei tahun lalu. Kok ndilalahnya, tanggal itu bertepatan dengan acara Formula 1 digelar di Singapura. Just my luck, harga hotel sudah tentu meroket. 


Saya memesan Hotel Village Bugis lewat website Booking dot com. Alasannya biar bisa mendapatkan pembatalan gratis. Waktu itu saya masih was-was karena sedang merebak virus Zika di negara tetangga ini. Tapi alhamdulillah, kenyataan di lapangan nggak seheboh yang diberitakan. Aktivitas di Singapura tetap normal, berjalan seperti biasa. Tarif Hotel Village semalam untuk tipe kamar keluarga (satu king bed dan satu single bed) sebesar SGD 305 atau kalau dirupiahkan Rp 2.919.541, termasuk pajak dan sarapan untuk 3 orang dewasa dan 1 anak. Hiks, lumayan mahal ya? Tapi memang ini tarif akhir pekan di peak season dan untuk kamar yang bisa dibatalkan. Tarif untuk kamar double bed biasa nggak semahal ini kok, low season mulai Rp 1,7 jutaan. Jadi untuk keluarga yang anaknya dua orang di bawah usia 12 tahun, bisa pesan kamar dengan dua double bed, tidak perlu ekstra bed. Saya pesan family room karena Big A memang sudah 14 tahun, hitungannya orang dewasa. Ouch :p

Biar dapat cashback dari pemesanan di booking.com, saya mengaktifkan akun ShopBack ID. Jadi nanti kita masih bisa dapat uang kembali sekitar 5% dari setiap pemesanan hotel. Lumayan sih, dapat kembalian Rp 191.653 untuk transaksi ini. Ikutan shopback ini cukup menguntungkan buat yang biasa belanja online, baik untuk pesan hotel, tiket pesawat, pulsa, baju-baju, grocery shopping, sampai tiket nonton bioskop. Yang tertarik ngumpulin recehan kayak The Emak, daftar Shopback pakai tautan ini ya, biar dapat bonus Rp 25.000.

Karena tarifnya nggak begitu irit, saya cuma menginap semalam di hotel ini. Yang tiga malam lainnya kami habiskan di Hotel Boss, dekat stasiun MRT Lavender, yang tarifnya lebih bersahabat.

Pintu masuk menuju resepsionis ada di Arab St. Jadi kalau kita naik MRT, turun di stasiun Bugis (jalur hijau), dan keluar dari Exit B yang menuju Raffles Hospital. Untuk urusan exit dari MRT ini jangan sampai salah ya, karena kalau nyasar harus putar jauh banget. Kalau sambil geret koper bisa nangis, hehehe. Jadi mending begitu turun dari MRT, cek peta lokal dulu, daripada nyasar. Dari Exit B kita jalan kaki menyusuri Victoria St sekitar 200m, baru belok kanan ke Arab St. Hotelnya ada di pojokan Victoria St dan Arab St.

Setelah cek out dari Hotel Boss, saya dan anak-anak jalan kaki menuju Hotel Village menyusuri North Bridge Rd. Kami sampai di lobi jam 10 pagi. Resepsionis bilang kamar kami akan siap sekitar jam 11, jadi dia menyarankan kami sarapan dulu di restoran Zam-Zam yang persis di seberang hotel. Dan kami nurut aja. Koper bisa dititipkan di hotel.

Alhamdulillah kami bisa early check in, meski tidak meminta secara khusus sebelumnya. Kami menunggu kedatangan Si Ayah yang menyusul dari Surabaya.

Kamar untuk keluarga ini luas banget. Dibandingkan kamar-kamar hotel di Singapura lainnya yang biasanya mini, kamar kami super legaaa. Big A seneng banget bisa dapat kasur sendiri setelah tiga malam harus rela tidur empet-empetan kena tendangan Little A. Dari ujung kasur ke televisi masih ada ruang untuk bermain dan makan lesehan.

Fasilitas hotel bintang ini terbilang lengkap. Ada mini bar, pembuat teh dan kopi, setrika, hair dryer, brankas, dan sandal kamar. Kamar mandinya juga luas, meski tidak ada bath tub nya. Amenities kamar mandi lengkap, termasuk sabun batangan, sabun cair, shampo, conditioner, serta pasta dan sikat gigi. Saya suka sabun dan shampo-nya, dari bahan tea tree oil. Amenities ini persis seperti yang saya dapat di hotel Rendezvous. Dua hotel ini sama-sama dari grup Far East Hospitality.

TV ada saluran untuk anak-anaknya: Cartoon Network dan Disney Junior. Tapi anak-anak tidak begitu suka CN. Mereka lebih suka bisa nonton youtube dari TV seperti di hotel Boss. Internet di kamar langsung nyambung, tapi sayangnya tidak begitu cepat. Wifinya masih kalah cepat dari hape yang saya belikan kartu telpon lokal Starhub. Ya udah, Si Ayah tethering dari hape saya yang nggak bakalan habis datanya karena beli pulsa $15 dapat bonus 100GB, hahaha.

Fasilitas lain yang cukup unik, hotel ini menyediakan smartphone untuk dipakai selama kami menginap di sini. Isinya informasi destinasi wisata dan diskonan belanja. Fasilitas ini gratis, tapi kalau ada kerusakan pada gadgetnya, bakalan ada denda yang mahal. Saya nggak berani utak-utik, hehehe.

Keunggulan hotel Village Bugis ini di lokasi, lokasi, lokasi. Memang lokasinya sangat strategis di tengah-tengah Arab Quarter/Kampong Glam. Mau makan enak, restoran halal Zam-Zam cuma sepelemparan batu dari hotel. Mau salat berjamaah, masjid Sultan tinggal jalan kaki nggak sampai 3 menit. Pemandangan Sultan Mosque yang cakep banget bisa terlihat dari jendela kamar kami di lantai 10.

Menyeberang jalan dari hotel ada Haji Lane, gang sempit yang terkenal dengan kafe dan ruko-rukonya yang cantik. Hotel ini juga hanya dua gang dari Jalan Pisang, yang ada kafe halalnya (The Lab), bakery halal (Fluff Bakery), dan restoran Hjh Maimunah, warung makan halal yang masuk daftar Michelin guide. Rekomendasi kafe-kafe trendi dan bakery yang halal di daerah Bugis ini, saya tulis di sini.

Sultan Mosque view from our room
selangkah dari hotel, langsung nemu perempatan ini

Hotel Village Bugis juga menyediakan sarapan prasmanan halal. Restoran The Landmark di lantai 5 mempunyai dapur dengan sertifikat halal dari MUIS. Sayangnya ketika kami makan di sana, pilihan menu sarapannya tidak semewah yang kami bayangkan. Pilihan makanannya termasuk di bawah standar untuk hotel sekelas bintang empat. Bahkan pilihan lauk dagingnya hanya chicken nugget. Saya kecewa berat karena memang niat pertama menginap di hotel ini adalah mencicipi sarapan halal, nggak perlu menghindari lauk daging seperti di hotel lainnya. Untuk rasa makanannya pun tidak istimewa. Si Ayah mencoba nasi goreng Singapura, saya mencoba bubur. Rasanya nggak ada rasanya, hiks. Little A juga kecewa karena tidak ada roti pratha dengan kari. Adanya roti puri. 

Sayuran untuk saladnya juga tidak sesegar salad di hotel Boss. Nilai plusnya di sini, ada berbagai macam roti dan pastry, pilihan sereal yang lebih banyak, dan ada egg station-nya. Kita bisa meminta dimasakkan telur sesuai selera. Kalau menurut saya, hidangan sarapannya tidak sebanding dengan tarif hotelnya.

A photo posted by Ade Kumalasari✈️Travel Blogger (@travelingprecils) on

Hotel Village mempunyai kolam renang dan juga gym di lantai yang sama dengan restoran untuk sarapan halal. Tapi kami tidak sempat berenang di sini. Apalagi paginya hujan dan kami harus cepat-cepat menuju Changi untuk mengejar pesawat kembali ke Surabaya.

Overall, kelebihan hotel ini ada di lokasi yang sangat strategis, fasilitas yang lengkap, serta kamar dan luas dan nyaman. Sayangnya sarapannya tidak memuaskan dan harganya juga lumayan mahal. Kalau nggak keberatan dengan tarif hotelnya, memang enak banget nginep di sini, ke mana-mana dekat tinggal jalan kaki. Saya merekomendasikan hotel ini kalau jalan-jalan dengan keluarga membawa orang tua yang tidak kuat jalan jauh.

Pilihan lain untuk hotel yang lebih murah di lokasi ini adalah Hotel Marrison, yang dekat dengan MRT Bugis exit D, atau kalau tidak keberatan tinggal di hostel, ada beberapa pilihan di area Bugis ini. Untuk sarapan halal, banyak warung yang sudah buka di pagi hari, termasuk Zam-Zam, Hjh Maimunah, Sabar Menanti (masakan Padang) dan beberapa warung makan lainnya di sepanjang North Bridge Rd.

~ The Emak

Boss Singapura, Hotel dengan Sarapan Halal

Traveling ke Singapura kali ini, saya sengaja mencoba hotel yang buffet breakfast-nya halal. Nggak banyak pilihan hotel di Singapura yang restoran dan dapurnya sudah mempunyai sertifikat halal dari MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura). Hotel Boss di dekat stasiun MRT Lavender ini salah satunya yang bisa terjangkau oleh kantong saya πŸ™‚

Saya pesan hotel ini dari website Booking.com, yang bisa dibatalkan tanpa denda. Alasannya, karena isu virus Zika yang merebak, saya masih maju mundur syantiek, jadi apa enggak ke Singapura. Saya perlu memesan hotel yang bisa dicancel, dan pilihan terbaik adalah memesan lewat booking dot com. Setelah saya konfirmasikan ke teman-teman yang juga nge-trip ke sana, ternyata kondisi di Singapura nggak seheboh yang diberitakan media. Semua tetap beraktivitas seperti biasa, hanya saya perlu waspada dengan selalu mengoleskan lotion anti nyamuk.

Harga yang saya dapat per malam adalah SGD 161,34, atau Rp 1.583.925 dengan kurs kartu kredit Rp 9.817 per dolar. Harga ini sudah termasuk pajak ya. Tadinya budget saya di bawah $150 per malam. Saya pikir, hotel di Singapura kok mahal-mahal lagi ada apa sih? Ternyata sedang berbarengan dengan Formula 1. Yaelah, baru tahu :p Kalau pas nggak ada acara apa-apa bisa kok tarifnya di bawah $150 atau sekitar 1,4 jutaan.

Untungnya saya punya akun cashback di Shopback ID, jadi saya masih bisa dapat kembalian dari booking-an saya. Lumayan sih, dapat cashback Rp 258.411. Hehe, emak-emak banget lah, duit kembalian dihitung. Etapi lumayan lho balik 5%. Buat kamu yang udah biasa belanja online, beli pulsa, beli tiket bioskop, atau pesan keperluan traveling via online, wajib daftar Shopback ini. Kalau pakai referal dari The Emak, bisa dapat tambahan receh Rp 25.000. Lumayan kan? Daftar di tautan ini ya.

Lokasi Hotel Boss ini cukup strategis, tinggal jalan kaki 5 menit (kalau pakai geret koper 7 menit lah) dari exit B stasiun MRT Lavender. Dari stasiun MRT Changi di Terminal 3, kami naik jalur hijau (EW) yang menuju Joo Koon, turun di Lavender (EW 11). Keluar dari MRT, cari exit B. Dari pintu exit, langsung kelihatan Mc Donalds, di terasnya ada tulisan Hotel Boss 200m. Sebenarnya yang nemu tanda ini Big A, anak saya yang pinter banget jadi navigator. Emaknya sih keluar dari stasiun masih bengong hore, ini harusnya kemana ya? :p

Dari exit B sudah nggak perlu nyebrang lagi, tinggal ikuti trotoar yang lumayan lebar ke arah sesuai tanda di Mc D. Kami melewati sungai kecil yang bersih, dan voila, hotel Boss yang segedhe gaban ini sudah kelihatan. Serius, hotelnya tinggi banget, kamarnya aja ada 1500!

Lobinya tampak mewah dan suasananya selalu ramai. Pelayanan nggak terlalu ramah, tapi sopan dan efisien. Saya bayar booking-an dengan kartu kredit dan langsung dapat kamar. Sayangnya kamar pertama yang kami dapat bau asap rokok. Dududuh, kepala saya langsung kliyengan. Kamar mandinya juga parah banget bau asapnya. Akhirnya saya minta ganti.

Petugas resepsionis minta maaf dan langsung mengganti kamar, tanpa tanya macam-macam. Akhirnya kami dapat kamar di lantai 13, dengan view kota Singapura yang lumayan kece. Sepertinya kamar kami di-upgrade deh. Soalnya kalau kamar superior biasa dapat view-nya taman belakang doang, bukan pemandangan kota. Alhamdulillah.

Fyi, liburan kali ini kami berangkat bertiga saja karena Si Ayah masih ada kerjaan. Kamarnya kecil sih, seperti yang kami dapat di Hotel Marisson di daerah Bugis dulu. Tapi Hotel Boss ini kasurnya lebih nyaman. Bed-nya lebar 150cm, cuma pas buat kami bertiga. Kalau buat tidur berempat ya empet-empetan.

Di samping tempat tidur ada nakas. Tempat colokan ada dua, ditambah dua colokan USB. Colokan listrik di Singapura ini 3 kaki (lihat foto). Jadi kalian perlu bawa universal adaptor. Fasilitas hotel berbintang 3,5 ini lumayan lengkap. Ada minibar (kulkasnya doang), ketel listrik, teh kopi gula krim, hair dryer, dan safe deposit box. Tiap hari kami dapat jatah dua botol air mineral meski air keran di sini aman untuk diminum langsung.

Yang paling disukai anak-anak adalah fasilitas You Tube yang bisa dilihat di TV. Jadi meski saluran TV ini tidak ada channel anak-anaknya, mereka nggak bete karena bisa nonton pilihan mereka sendiri di You Tube. Saya juga hepi-hepi aja karena internetnya lumayan kenceng. Instagraman lancaaaar…

 
 

Hotel ini baru dibuka tahun ini (2016), jadi bangunan dan interiornya masih gress. Kamar mandinya masih kinclong. Meski sempit, kamar mandi cukup nyaman karena showernya terpisah dari toilet, dibatasi pintu kaca. Airnya nggak meluap ke lantai toilet. Pancuran air panasnya mantap, saya jadi rajin mandi, hahaha.



Toiletries yang diberikan standar: sabun cuci tangan, sabun mandi cair, shampoo, sikat gigi, dan pasta gigi. Semuanya enak dipakai dan cukup wangi. Handuk yang disiapkan masih baru dan lembut. Hanya satu kekurangan kamar mandi ini: toiletnya nggak ada semprotan bidetnya. Tapi ya tetap bisa diakali sih, karena tangan saya masih bisa meraih wastafel, saking kompaknya kamar mandi ini :p

Meski kamarnya sempit, kami cukup terhibur dengan jendela lebar dan pemandangan kota yang cantik. Di malam hari kami bisa melihat Singapore Flyer. Di siang hari kami bisa melihat Masjid Sultan dan daerah Kampong Glam. Jendelanya juga bisa buat nongkrong Little A pose-pose ala model πŸ˜‰

Oh, ya, dari hotel ini juga bisa jalan kaki ke Mustafa Centre di daerah Little India. Mustafa Centre ini buka 24 jam. Jadi kalau mau shopping tengah malam juga bisa. Di dekat Mustafa juga banyak warung dan restoran halal yang buka sampai malam. Saya dan anak-anak jalan kaki santai dari Mustafa, kira-kira lima belas menit sampai di hotel. Biar nggak nyasar, saya pasang apps Citymapper dan Google Map di hape.

Paginya kami semangat sarapan prasmanan karena bisa ambil-ambil semua yang ada. Biasanya kalau di hotel yang restorannya nggak halal, cuma bisa sarapan vegetarian. Bisa sih pesan omlet telur, tapi kadang mereka masaknya campur sama bacon, hehehe. Kalau telur rebus sih aman, seperti ketika kami sarapan di Hotel Meininger Amsterdam

Hotel Boss punya dua restoran untuk sarapan buffet. Yang halal adalah Jubilicious di lantai 4, yang non-halal ada di lantai 1. Kalau tarif kamar belum termasuk sarapan, bisa bayar dulu di resepsionis, bilang minta sarapan halal. Harganya per orang $12.

Pas kami sampai di restoran sekitar jam 8-an, suasana sedang ramai-ramainya. Di luar ada petugas yang mengecek nomor kamar kami. Jadi harus bawa kartu kunci kamar ya untuk dicek. 

Pilihan makanannya lumayan, cuma ramainya yang nggak nguatin. Kami harus menunggu orang selesai makan biar dapat meja. Setelah anak-anak bisa duduk, saya gerilya cari makanan. Pilihan rotinya cuma roti panggang biasa, tanpa pastry, dan itupun antrenya panjang banget. Akhirnya anak-anak saya bawain kentang wedges, chicken ham, sosis, scrambled egg, dan roti pratha dengan kuah kari. Little A seneng banget sama roti pratha dicelup kuah kari, sampai dia minta masakan India terus setiap kali makan selama traveling di Singapura. Di sini tidak ada egg station, jadi pilihan telurnya cuma telur rebus atau scramble. Salad sayurnya cuma ada satu pilihan di baskom besar, tapi sayurannya segar-segar banget. Ada juga pasta salad. Buahnya ada semangka dan jeruk. Saya sempat coba buburnya tapi nggak ada rasanyaaaa, hahaha. Cuma cakep difoto doang :p

Beberapa pilihan makanan lain yang nggak kami coba adalah sereal, mi goreng, dan nasi goreng. Minumannya ada teh, kopi, jus jeruk, dan susu. Lumayan sih, kami bisa sarapan kenyang dengan protein hewani tanpa keluar hotel.

Di samping restoran halal ada tempat bermain, laundromat, tempat setrika, kolam renang, dan gym. Kami tidak sempat coba kolam renang dan gym-nya karena kaki kami sudah gempor jalan kaki berkilo-kilometer di Singapura πŸ˜€

Laundry-nya dioperasikan dengan koin. Perlu 5x koin $1 untuk laundry dan 5x koin $1 untuk dryer (pengering). Jadi total sekali cuci kering $10.

 

Berdasarkan pengalaman ini, saya merekomendasikan hotel ini untuk keluarga yang pengen sarapan halal di hotel, yang lokasinya cukup strategis dan harganya juga terjangkau. Kamar standar cukup untuk bertiga. Tapi kalau punya dua anak atau anaknya sudah cukup besar, bisa pesan kamar triple atau family room. Bandingkan tarifnya di hotelscombined ya.

Yang merasa nggak perlu sarapan halal di hotel, bisa pesan hotel V Lavender yang lokasinya lebih strategis, persis nempel sama stasiun MRT. Di bawah hotel, di dekat stasiun ada beberapa pilihan restoran halal untuk sarapan, dan ada juga Mc Donalds yang bersertifikat halal. Ketika saya cek tarifnya bersamaan dengan booking hotel Boss ini, hotel V Lavender cuma sedikit lebih mahal.

Saya sih senang sarapan di hotel. Kan mandinya bisa nanti sehabis sarapan, hehehe :p


~ The Emak

Alila Solo, Kemewahan yang Terjangkau

Saya sudah lama ‘ngidam’ pengen menginap di hotel Alila. Mana saja deh, karena hotelnya cakep-cakep semua. Alila Ubud, Manggis, Seminyak, atau Uluwatu. Tapi memang tarifnya mahal ya, karena memang luxury hotel. Begitu dapat kabar grup Alila buka hotel di Solo, saya langsung masukin ke bucket list. Semahal-mahalnya Solo berapa sih? πŸ˜‰ Alhamdulillah kesampaian mencoba hotel Alila pas long weekend di bulan Mei kemarin.

Hotel Alila Solo ini masih baru, baru buka bulan November 2015. Beberapa fasilitasnya juga baru buka ketika saya menulis review ini, seperti rooftop bar dan spa. Saya memesan kamar deluxe lewat Agoda seharga US$ 83,61 atau sekitar 1 juta rupiah. Setelah membandingkan di Hotels Combined, waktu itu tarif di Agoda memang lebih murah. Harga sudah termasuk pajak dan sarapan gratis untuk 2 orang. Tarif ini sedikit di atas rata-rata karena bertepatan dengan liburan akhir pekan panjang.

Tentunya hotel ramai banget. Kami cek in sekitar pukul 7 malam setelah menempuh kemacetan kota Solo, sepulang dari Candi Cetho di Karanganyar. Begitu masuk ke lobi hotel Alila, saya langsung takjub banget. Padahal foto-foto lobi hotel ini sudah sering saya lihat di postingan seleb twit dan seleb instagram. Tapi tetap saja, aslinya lebih megah.

Kamar kami di-upgrade jadi Executive Room, yay! Alhamdulillah, rezeki Emak salehah πŸ˜‰ Sementara saya cek in, anak-anak dan Si Ayah duduk di sofa dan disambut dengan welcome drink dan handuk hangat untuk cuci muka. Seger banget. Waktu itu kebetulan ada Ibu Eleonore, GM Alila Solo yang dengan ramah menyambut kedatangan kami. Kata beliau, malam ini hotelnya fully booked.

Begitu dapat kunci, anak-anak langsung lari ke lift dan buka kamar. Udah capek banget pengen rebahan ke kasur empuk. Tentu saya usir-usir karena harus… foto duluuuu. Maaf ya Nak πŸ˜€ Kamarnya luas (40 meter persegi) dan memang elegan banget, khas Alila. Saya suka desainnya yang simpel tapi terkesan mewah. Plus sentuhan dekorasi wayang yang membuat hotel ini Solo banget. Kasurnya ukuran king, jadi muat buat kami berempat. Orangnya memang mini-mini sih :p Tapi kalaupun nggak muat, ada sofa yang cukup nyaman untuk jadi extra bed. Begitu selesai foto-foto, duo precils langsung ambil remote dan nyalain TV segedhe gaban. Maklum, di rumah nggak ada TV yang bisa nyala. TV-nya 48 inci dan channel-nya lengkap, mulai dari berita, olahraga, sampai anak-anak.

Kami tidur dengan nyaman di sini. Kamarnya terasa tenang banget nggak ada gangguan suara apapun. Sepiii… Padahal hotelnya sedang penuh lho. Berarti soundproof-nya oke banget kan. Suara AC juga nyaris nggak terdengar.



Ini pose apaan sih? :p

Fasilitas kamar ini lengkap kap kap. Ya jelas, bintang lima! Dari meja kerja yang sleek, colokan di mana-mana, sampai akses internet dari wifi yang cukup kencang. Dari amenities wajib seperti botol air mineral sampai setrika dan papannya. Karena ini kamar eksekutif, kamar mandinya dilengkapi bath tub. Little A senang banget bisa mandi berendam dengan busa-busa melimpah. Saya suka sabun dan samponya yang wangi sereh. Tentu sisa toiletris-nya saya bawa pulang semua. Jadi ketika mandi di rumah, saya masih merasakan kemewahan bintang lima, hahaha.

Fasilitas kamar eksekutif yang paling saya suka adalah: mesin kopi! Terbiasa minum kopi enak, saya paling sebel kalau hotel hanya menyediakan kopi sesat, eh saset. Apalagi kalau di restorannya juga nggak ada mesin kopi. Gagal deh jadi hotel berbintang. Makanya begitu bangun pagi, saya langsung mencoba mesin kopi nespresso ini, yang dilengkapi dengan dua buah kapsul kopi. Alhamdulillah ada petunjuk cara menggunakan, bisa repot kan kalau sampai rusak :p Pagi itu, dua cangkir kopi lezat terhidang untuk saya dan suami. Kami berdua bisa menikmati golden time, ngopi sambil ngobrol sebelum anak-anak bangun. Alangkah sedapnya.

Lokasi Hotel Alila Solo di jalan Slamet Riyadi No 562, bagian barat kota Solo. Hotel ini dekat dengan mal Solo Square. Pusat perbelanjaan ini terlihat dari jendela kamar kami di lantai 8.

Ketika anak-anak sudah bangun, langsung saya ajak untuk sarapan. Saya sudah terbayang restorannya bakal ramai kayak apa karena kamarnya penuh semua. Dan memang benar, ramai pol. Staf Alila tampak hilir mudik melayani tamu dengan gesit. Kami juga diantar oleh waiter sampai mendapatkan meja untuk empat orang. Karena Big A sudah 14 tahun, dia sudah harus bayar tambahan tarif dewasa. Sementara Little A yang usianya 7 tahun pakai tarif anak-anak. Total saya bayar ekstra Rp 232.320 untuk sarapan. 

Pilihan makanan untuk sarapan sangat lengkap, dari makanan tradisional sampai ala Barat. Seperti biasa si duo lidah bule pilih makan roti panggang dengan olesan. Saya wajib mencicipi bubur ayam, sementara Si Ayah selalu menjajal makanan tradisionalnya plus sepiring salad. Bubur ayam cukup enak, rotinya bisa diterima duo Precils yang punya standar tinggi untuk bakery, Si Ayah juga hepi dengan macam-macam sambal yang tersedia. Saya paling terkesan dengan yoghurt dan muesli yang dihidangkan dalam gelas-gelas mini banget. Ini enaaaak… tapi kok kayaknya nggak banyak yang ambil. Selain itu, kami juga sempat mencicipi aneka sushi yang yummy dan tentunya diakhiri dengan buah-buah segar.

Saya sangat terkesan dengan pelayanan staf Alila di restoran. Tahu sendiri kan, suatu hotel atau tempat makan bakalan diuji ketika ramai pengunjung. Kalau menurut saya Alila lulus ujian dengan nilai bagus. Meskipun ramai, tampaknya semua tamu terlayani. Meja cepat dibersihkan, makanan selalu cepat diisi ulang, dan ketika saya meminta tolong salah satu staf untuk mengambilkan tusuk gigi, dia langsung menghentikan kegiatannya dan melayani saya. Pagi itu, saya mendapati Ibu Eleonore turun langsung ikut membersihkan meja. Pemimpin keren yang seperti ini kan, lead by example.

Suasana ramai juga tidak membuat restoran Epice ini rusuh. Saya lihat pengunjungnya kebanyakan warga lokal yang menikmati long wiken. Para pengunjung bisa antre dengan tertib, nggak sampai rebutan saat mengambil makanan πŸ˜€ Anak-anak disediakan high chair, jadi nggak ngider ke mana-mana. Kami punya cukup waktu untuk menikmati sarapan dengan nyaman tanpa takut diusir. Meski begitu, kami juga nggak terus berlama-lama, gantian dengan tamu yang lain. Lagipula kami masih punya agenda hari itu sebelum cek out: berenang!

Wajah kelaparan :p

Ini yang ditunggu-tunggu saya dan duo precils: mencoba kolam renang Alila yang super keren itu. Kolam ini ada di lantai 6, jadi satu dengan gym yang sayangnya belum sempat kami coba. Kolamnya luas banget, bisa untuk olahraga renang beneran, nggak cuma celup-celup. Di pinggirnya ada kolam-kolam dangkal untuk main. Masih ditambah kolam terpisah khusus anak-anak. Di kolam ini juga tersedia banyak kursi malas plus handuknya, semua pasti kebagian meski sedang ramai. Kita juga bisa pesan minuman dan snack kalau masih belum kenyang.

Yang lucu, di kolam ini ada beberapa bantal besar dan bean bag buat leyeh-leyeh manja di air. Little A langsung pose-pose cantik ala model begitu berhasil mendapatkan bean bag. Belum lancar berenangnya nggak papa asal gaya, hahaha. Kami main-main di kolam ini sampai puas, sampai tamunya tinggal kami aja. Nggak takut gosong? Nggak lah, kan udah pakai sunblock.

 
We had a fantastic stay at Alila Solo. Will definitely come back again when we visit Solo and when the kids club is open. Hotel ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau staycation, mudik, atau mengunjungi Solo. Meski hotel baru, Alila Solo sudah mendapat ranking satu di Tripadvisor. Kapan lagi nginep di Alila dengan harga ‘hanya’ satu jutaan?

~ The Emak

Memesan Penginapan Airbnb di Taipei

Mau memesan penginapan yang lebih hemat daripada hotel dan lebih privat daripada hostel? Mungkin Airbnb bisa menjadi pilihan. Sebenarnya apa sih Airbnb itu? Website ini mempertemukan traveler yang memerlukan penginapan dan orang-orang biasa yang menyewakan kamar/apartemen atau rumahnya. Saya sekeluarga pernah menyewa apartemen di Paris dan vila di Ubud melalui airbnb. Aman nggak? Dari pengalaman saya sih aman dan berkesan, tapi tentu ada tip dan triknya. Baca sampai habis ya.

Step-by-step untuk memilih dan menyewa akomodasi di airbnb gampang banget, mirip dengan situs booking engine lainnya. Tapi di sini kita harus daftar menjadi anggota dulu, karena penyewa juga ingin tahu profil kita.

Langkah-langkah:
1. Buka website airbnb.
2. Klik “Daftar untuk mengklaim kredit” Kamu bakalan dapat kupon Rp 250.000.
3. Daftar dengan FB/Gmail/Email lain. Masukkan biodata seperti biasa.
4. Setelah daftar, balik ke halaman utama. Di pojok kiri atas, dekat logo airbnb, masukkan kota tujuan.
5. Masukkan tanggal cek in, cek out dan jumlah tamu.
6. Klik “Lebih banyak filter” Saya biasanya pilih (dengan centang) Superhost” atau “Hos Teladan” dan “Bahasa tuan rumah: English”, setelah itu klik “Berlakukan filter”
7. Untuk mencari penginapan di lokasi tertentu, zoom in dan geser peta

Tampilan Airbnb

Filter superhost penting untuk memastikan tuan rumah kita terpercaya. Biasanya mereka ini sudah berpengalaman menjadi host dengan ulasan-ulasan yang bagus. Filter bahasa tuan rumah juga penting, terutama untuk negara-negara yang tidak berbahasa Inggris. Saya mengaktifkan filter tuan rumah harus bisa berbahasa Inggris ini ketika memesan airbnb di Paris dan Taipei. Saya takutnya nggak nyambung dan ada miskomunikasi kalau enggak, karena saya sendiri nggak bisa bahasa Perancis dan Mandarin.

Selanjutnya kita bisa pilih-pilih akomodasi seperti biasa. Saya lihat foto, memastikan fasilitasnya sesuai dengan yang saya inginkan dan membaca ulasan atau reviewnya. Untuk menghindari penipuan atau akomodasi fiktif, jangan memesan di listing yang yang belum ada review-nya meskipun harganya miring. Beberapa pilihan penginapan yang bagus bisa kita simpan di wish list, dengan meng-klik tanda hati.

Setelah melihat-lihat pilihan yang ada, saya tertarik memesan kamar privat di apartemen ini: https://www.airbnb.com/rooms/6405228. Lokasinya dekat dengan Taipei main station dan harganya tidak terlalu mahal. Tidak lupa saya cek profil host-nya, tampak meyakinkan kok πŸ™‚

8. Ajukan pemesanan (request to book). Halaman selanjutnya meminta anda untuk memperkenalkan diri, kemudian membayar dengan kartu kredit, kartu debit atau paypal. Kartu kredit yang diterima untuk pembayaran adalah visa, mastercard, amex dan discover. Kalau tidak punya kartu kredit, bisa pinjam punya orang lain. Saya memasukkan nomor kartu kredit punya suami di akun saya dan nggak masalah. Sementara untuk kartu debit, yang sudah saya coba masukkan dan diterima adalah kartu debit dari Permata Bank yang ada tulisannya VISA Electron. Kartu Debit dari Bank Mandiri ditolak. Mungkin beberapa kartu debit dengan logo visa/mastercard perlu diaktifkan dulu fitur belanja online-nya di bank. Coba aja deh semua kartu yang ada πŸ™‚ 

Perhatikan di halaman pembayaran bahwa kupon atau travel credit sudah dipotongkan sebagai diskon. Kalau punya kupon banyak seperti saya, bisa jadi bayarnya Rp 0 alias gratis πŸ™‚ Selain itu, perhatikan bahwa ada biaya jasa (fee airbnb) sebesar kurang lebih 12%.

Setelah isian beres > klik “kirim permohonan”

9. Untuk listing dengan tanda “pemesanan instan” yang logonya seperti petir, kita bisa langsung mendapat konfirmasi saat itu juga. Untuk yang tidak bertanda instant confirmation” kita tunggu saja konfirmasinya melalui email. Ketika memesan vila di Ubud, saya mendapat konfirmasi instan, sedangan untuk apartemen di Paris dan kamar di Taipei ini, konfirmasinya perlu menunggu sebentar.

Sebelum memesan, perhatikan juga kebijakan pembatalan dari masing-masing listing. Ada yang fleksibel, artinya bisa dibatalkan sehari sebelumnya dengan pengembalian penuh (contohnya: vila kami di Ubud). Ada yang kebijakan pembatalannya sedang, artinya pembayaran bisa dikembalikan penuh kalau dibatalkan 5 hari sebelumnya. Tapi ada juga yang kebijakan pembatalannya ketat (strict), pembayaran hanya dikembalikan 50% kalau dibatalkan seminggu sebelumnya. Untuk semua pembatalan ini, fee atau biaya airbnb tidak dapat dikembalikan alias hangus.

Selain mendapat konfirmasi, kita juga akan memperoleh kuitansi atau tanda terima pembayaran. Fyi, kuitansi pemesanan penginapan airbnb ini bisa digunakan untuk melengkapi syarat visa, termasuk visa Schengen. Biasanya tuan rumah juga akan memberi petunjuk lengkap alamat dan cara menemukan rumah atau apartemnnya. Kalau kurang jelas, kita bisa menghubungi mereka via email atau sms/whatsapp.

Tuan rumah saya yang di Taipei ini, Angie, malah mempunyai video You Tube yang sangat jelas, menjelaskan cara mencapai apartemennya dari bandara di Taipei. Sangat membantu saya yang pusing lihat huruf-huruf keriting πŸ™‚



Gimana, gampang kan? Yuk daftar airbnb sekarang biar nanti gampang kalau pas perlu. Mumpung ada kupon dari The Emak sebesar Rp 250.000. Daftarnya pakai tautan ini ya: www.airbnb.co.id/c/akumalasari

~ The Emak

Review Vila Ratna 2 Ubud

Siapa yang nggak mau leyeh-leyeh atau nyemplung di sini?

Gara-gara Big A harus ikut acara outbond sekolah, liburan kami di Ubud kali ini singkat banget. Tapi nggak papa, meski hanya menginap semalam kami puas karena vila yang kami tempati kali ini istimewa banget. Saya nggak salah memilih Vila Ratna 2 di Airbnb.

Sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya kalau saya punya kredit Airbnb hasil menang kuis @kartupos. Iya, alhamdulillah saya sering menang kuis. Tapi jangan khawatir, saya juga sering bagi-bagi rezeki kok. Kalau mau voucher Airbnb senilai $35, bisa daftar lewat tautan ini: https://www.airbnb.com/c/akumalasari. Lumayan kan dapat diskon sekitar Rp 460 ribu untuk pemesanan pertama. 

 

https://www.airbnb.com/c/akumalasari

Ketika saya cek lokasi Vila Ubud ini di Google Map, kok kayaknya nggak ada jalannya ya? Karena takut nyasar, saya sekalian pesan mobil jemputan dari bandara Ngurah Rai melalui Mbok Ratna. Tarif bandara – Ubud 300 ribu per mobil sekali jalan. Di Ngurah Rai saya dijemput oleh Bli Kadek – adik Mbok Ratna – yang langsung mengantar kami ke Ubud.

Jalan masuk ke vila ini lewat Jalan Raya Penestasan, kemudian masuk di plang D’Omah Bali. Mobil bisa diparkir di daerah situ. Perjalanan kami lanjutkan dengan sepeda motor. Kami berjalan kaki 50 meter dari tempat parkir mobil, sampai di warung Mbok Ratna yang juga membuka laundry. Kami ditawari sewa sepeda motor dengan tarif Rp 50.000 per hari. Dari warung Mbok Ratna, kami masih harus naik motor sekitar 800 meter, melalui jalan selebar pematang sawah yang untungnya sudah diperkeras. Memang mobil nggak bisa masuk jalan ini. Pantesan nggak ada gambar jalannya di Google Map πŸ˜€

Mbok Ratna dan keluarganya sangat ramah menyambut kami. Ada Mbok Kadek (yang ini perempuan ya) yang mengantar kami sampai vila. Karena Vila Ratna 2 masih ada tamu yang menginap, kami dipersilakan beristirahat di vila ratna 3. Waktu itu memang baru jam 11 siang, belum saatnya cek in.
 

Jalan menuju Vila Ratna. Rugi ke Ubud kalau nggak lihat sawah :p

Compound vila Ratna ada 3 vila, terletak di ujung jalan pematang sawah yang kami lalui. Vila Ratna 3 ini juga cakep banget, dan kelihatannya lebih baru dari Vila Ratna 2. Vila ini hanya memiliki satu kamar tapi ada satu day bed yang cukup besar di ruang depan, jadi nggak masalah untuk satu keluarga dengan empat orang. Kamar mandinya satu, luas banget dengan bath tub. Ada dapur yang cukup lengkap peralatannya dan lounge dengan sofa yang nyaman. Sayangnya di vila ini kolam renangnya kecil, nggak bisa untuk berenang beneran. Yah, sekedar untuk nyemplung ngademin badan aja, atau bermain air untuk anak kecil.

Kalau tertarik dengan Vila Ratna 3, bisa cek listingnya di airbnb: https://www.airbnb.com/rooms/7115392
Tarifnya Rp 1,1 jutaan per malam, lebih murah sedikit daripada Vila Ratna 2.

Kami hanya beristirahat sebentar di vila ini. Barang bawaan kami yang nggak seberapa kami titipkan dengan Mbok Kadek, sementara kami cari makan di Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Saya sekalian keluar ikut acara Ubud Writers and Reader’s Festival. Sementara saya ikut acara sampai sore, Si Ayah dan Little A berenang di vila Ratna 2 yang sudah dibersihkan dan siap untuk kami tempati.

Kolam renang Vila Ratna 3, lumayan kecil

Saya dulu memilih Vila Ratna 2 ini karena kesengsem sama kolam renang pribadinya. Ternyata emang enak banget bermalam di vila dengan kolam renang privat, nggak perlu rikuh dengan tamu lain dan bisa bebas berenang kapan saja. Kalau memesan penginapan via airbnb, saya sarankan untuk membaca dengan teliti. Saya tadinya pengen nginep di vila lain yang ada kolam renangnya juga, e tapi ada yang review kalau orang lain bisa bebas keluar masuk. Aduh ngeri juga kalau nggak ada privasi. Alhamdulillah di Vila Ratna 2 ini privasi terjaga, mau renang pakai pakaian renang aneh-aneh pun nggak masalah :p Vila kami ini cuma tetanggaan sama sawah, bukan hotel yang tamunya bisa ngintip kami.

Malam hari selepas dari ‘mendaki’ bukit Campuhan, saya dan Little A sempat berenang dan main air lagi. Nggak mau rugi, Little A sampai berenang 3 kali: sore, malam dan pagi keesokan harinya.
 Ada dua kamar di vila ini. Tadinya sih saya berharap anak-anak bisa tidur di kamar sendiri. Tapi karena Big A batal ikut, akhirnya Little A tidur di kamar kami juga. Sayang banget ya kamar satunya nggak kepakai. Padahal besarnya sama dan ada kamar mandinya juga. Kamarnya dua-duanya cukup lega, nggak terasa sempit.

Kamar mandi dua sangat membantu kami biar nggak rebutan kalau ingin pipis. Gaya kamar mandinya semi outdoor, tapi tanpa bath tub. Airnya hangat dan mengalir lancar. Semuanya sangat bersih dan nyaman ditempati. Di vila ini disediakan handuk bersih, sabun dan shampoo.

Ruang duduk, tempat makan dan dapurnya jadi satu. Alat-alat di dapurnya lengkap, ada kompor gas, rice cooker, panci, penggorengan, dll. Saya sih tidak menggunakan dapurnya karena malas masak sudah jajan di luar. Saya hanya membuat teh di pagi hari. Air mineral yang disediakan satu galon sehingga gak bakal kehausan. Sebenarnya ada pilihan sarapan diantar ke vila, seharga Rp 80.000 untuk dua orang, tapi kami memilih keluar mencari sarapan di Alchemy yang dekat banget dengan vila. Pengen nyobain kafe vegan, hehehe.



Saya dan Si Ayah cukup kagum dengan penataan taman di vila ini yang cantik khas Bali. Kami berdua sampai motret segala jenis tanamannya untuk diterapkan di rumah kami. Tanaman-tanaman tropis dipadu Bougenville ternyata indah banget, nggak bosen mandangnya.

TV di ruang tengah punya saluran TV kabel dari Indihome, tapi kami nggak banyak nonton. Internet juga bisa menyala dengan sambungan wifi, tapi kecepatannya biasa saja, standar Indonesia lah ya… Sejauh kami menginap yang hanya satu malam, kami tidak punya komplain apa-apa. Saya cukup puas menginap di sini. Mungkin terasa kurang lama aja nginapnya, hahaha.

Tarifnya juga nggak terlalu mahal. Saya bayar Rp 1,4 juta per malam untuk vila dengan dua kamar plus kolam renang pribadi ini via Airbnb. Kalau tertarik sewa juga, bisa cek listingnya di sini: https://www.airbnb.com/rooms/5451185


Pemandangan sawah dan skuter yang kami sewa πŸ™‚


Vila Ratna 2 ini recommended banget untuk keluarga. Letaknya memang agak masuk dari jalan raya, tapi itu malah membuat lingkungannya sangat tenang. Yang patut diacungi jempol adalah servis dan keramahan pemiliknya, khas keluarga Bali yang menyambut kami sehingga kami merasa nyaman seperti di rumah sendiri.

~ The Emak

Luxury Stay at Hotel Tugu Bali

Dari dulu saya sudah ngincer pengen merasakan menginap di sini. Grup Tugu memiliki beberapa hotel yang cantik dan unik di Indonesia, yaitu Tugu Malang, Tugu Lombok, Tugu Blitar dan Tugu Bali ini. Saya pernah makan dan diajak tur di hotel Tugu Malang. Keren banget memang, jadi pengen mencoba semua properti Tugu.

Makanya… ketika akun instagram @kartuposinsta mengadakan #KartuposAuction, saya sudah bertekad harus menang. Alhamdulillah berhasil πŸ™‚ Voucher hotel Tugu ini sebenarnya bisa digunakan sampai bulan Desember 2016, tapi akhirnya kami pakai awal Maret ini agar bisa bareng dengan Tante @diladol. Big A kebetulan juga punya tiket Garuda yang belum terpakai, jadi dia bisa mencoba terbang sendiri ke Bali, sementara saya, Si Ayah dan Little A naik pesawat yang lebih murah, hehehe. Cerita Big A, in her own words, bisa dibaca di sini.

Kami naik Grab Car sampai Canggu, dari Kuta sekitar 1 jam, melewati jalan-jalan tembus yang sempit, bahkan lewat pematang sawah yang hanya pas untuk satu mobil. Ngeri-ngeri sedaaap :))

Begitu masuk lobi hotel, kami disambut dengan ramah oleh Pak Pande dan staf hotel lainnya, yang langsung tahu nama saya. Saya sempat ge-er, sudah mulai terkenal nih saya. Tapi setelah bisa mikir dengan jernih, tentu saja mereka gampang menebak karena wajah saya paling Indonesia dibanding tamu-tamu bule lainnya πŸ™‚

Antre cek in di hotel Tugu nggak perlu berdiri di depan konter. Kami bisa duduk-duduk di sofa empuk sambil menikmati welcome drinks, yang bisa dipilih sesuai selera masing-masing. Lobi hotel ini mengesankan sekali, bangunannya bergaya pendopo dengan pilar-pilar kayu dari pohon utuh. Di tengahnya ada panggung untuk pementasan tari. Dan di panggung tersebut terdapat patung garuda besar yang ikonik. Little A sampai bengong menatap patung ini.

Yang paling saya takutkan setiap kali membawa keluarga menginap di hotel adalah hotelnya nggak ramah sama anak-anak. Sempat ragu juga waktu mau bawa anak-anak menginap di Tugu, karena hotel ini lebih terkenal sebagai hotel mewah untuk honeymooner. Tapi ketakutan itu langsung lenyap dengan sambutan yang ramah dari staf di sini. Little A langsung merasa seperti di rumah sendiri dengan mengomentari banyak hal, tapi terutama jus apelnya yang menurut dia seger banget.

Ada dua pilihan kamar ‘biasa’ di hotel Tugu. Dedari Suite yang terletak di bawah, dengan kolam renang kecil dan kamar mandi semi terbuka. Satunya lagi Rejang Suite yang ada di lantai atas, dengan pemandangan ke laut, balkon terpisah dan spa pribadi. Si Ayah memilih kamar yang di atas biar bisa melihat laut. Saya setuju saja, karena saya lihat kolam renang pribadi yang di bawah hanya kecil, cuma cukup untuk celup-celup, bukan berenang beneran. Tapi, kalau boleh memilih sih, saya pengennya menginap dua malam dan bisa coba dua-duanya πŸ™‚ Kalau di kolam renang pribadi kan bisa pakai bikini, bukan burqini :p

Room boy mengantar kami ke kamar, naik melewati tangga berputar. Dia juga menjelaskan fasilitas yang ada di kamar, berikut cara kerja listrik, kunci dll. Saya manggut-manggut saja. Begitu room boy keluar, baru lah kami sekeluarga bebas mengekspresikan kekaguman kami pada kamar yang luasnya 75 meter persegi ini. Norak-norak bergembira seperti biasa, hahaha. Saya terpesona dengan dua lemari kayunya yang menjulang tinggi sampai langit-langit, yang dikunci dengan selot kayu juga. Big A langsung mencari posisi wuenak di day bed samping jendela, karena masih dalam tahap penyembuhan dari sakit batuknya, dia kurang begitu semangat. Sementara itu Little A main seluncuran di lantai kayunya yang licin mengilap. Si Ayah menginspeksi meja kerja di balkon untuk tempatnya mengerjakan PR nantinya.      

Saya langsung mengkalkulasi ketersediaan kasur untuk malam nanti. Ada satu ranjang besar ukuran king, pastinya muat untuk kami bertiga, dengan Little A di tengah. Sementara Big A bisa tidur di day bed yang cukup nyaman, dengan tambahan selimut yang bisa saya mintakan ke housekeeping. Tapi pada praktiknya, kami berempat tidur di ranjang utama, cukup nyaman dan hangat dengan bantal yang empuk banget dari bulu angsa.

Di atas meja, ada rangkaian bunga khas Bali dengan kartu ucapan untuk saya dan juga sepiring buah-buahan tropis untuk camilan. Untuk minum ada empat botol air mineral dan beberapa kantung teh Dilmah dan kopi dari plantation mereka sendiri. Logistik aman sampai nanti.

Happy Little A in front of a mirror

Ketika saya tanya ke Little A, apa yang paling berkesan di hotel Tugu, dia bilang bath tub-nya. Saya setuju banget! Bak mandi yang ada di kamar Rejang ini sangat banget. Bentuknya bulat, cukup untuk nyemplung berempat sebenarnya. Kami bertiga berendam di bath tub setelah berenang sebentar di kolam renang hotel. Sementara Si Ayah masih sibuk dengan PR-nya di meja sebelah, hahaha. Sabun dan sampo yang disediakan hotel cukup wangi, bisa untuk bubble bath dua kali. Saya paling suka sabun batangan mereka yang beraroma sereh. Sabun cair dan sampo diletakkan di wadah seperti kendi dari tanah liat, jadinya nggak bisa dibawa pulang. Saya cuma bisa bawa pulang sabun serehnya doang. Emak-emak nggak mau rugi banget :p

Kamar mandi pancuran dan toilet ada di sisi satunya lagi, tidak jadi satu atau ada di dekat bath tub. Pertama kali masuk kamar mandi shower, saya sempat kaget karena ada penunggunya: patung Simbok Gemuk lambang kesuburan. Big A juga kaget dan kurang nyaman mandi bareng Simbok. Saya yang tadinya mikir bakalan terbiasa sama kehadiran Simbok ini, ternyata tetap ‘mak tratap‘ juga waktu masuk kamar mandi, tetep kaget. Owalah simbok, simbok!

Toiletnya terpisah dari kamar mandi. Kebetulan di kamar saya ini toiletnya belum dilengkapi penyemprot air/bidet. Kami bisa akali sih, kan ada wastafelnya di dalam toilet. Lagipula sudah banyak latihan pas tinggal di Ostrali sono πŸ˜€ Sebenarnya, kata pihak hotel, di sebagian besar kamar yang ada, toiletnya sudah dilengkapi penyemprot air/bidet/washlet. Tinggal rikues aja sih, dijamin bakal dikasih. Saya nggak minta ganti kamar karena sudah pewe, posisi wuenak banget. Anak-anak juga udah susah diangkut, masing-masing udah mojok hepi.

Setelah leyeh-leyeh sebentar, kami turun untuk berenang. Lingkungan hotel ini cukup asri, enak dipandang mata. Kolam renangnya tidak besar, tapi cukup untuk membakar kalori dengan beberapa lap. Bagian dangkalnya 60 cm, sedangkan bagian dalamnya 150 cm. Little A bisa ditinggal bermain sendiri di bagian dangkal sementara balapan dengan Big A yang tentu saja dimenangkan dia yang sekolah renangnya di Sydney Uni.

Hotel ini hanya mempunyai 24 kamar, jadi suasananya tidak ramai dan hiruk pikuk seperti hotel besar. Ketika kami berenang, hanya ada sepasang Opa Oma yang leyeh-leyeh di tepi kolam, yang satu tiduran, satunya membaca buku. Untungnya anak-anak saya tipe yang kalem, jadi kegiatan kami tidak mengganggu mereka.

Setiap sore, tamu di Tugu hotels bisa menikmati afternoon tea dengan sajian kue-kue tradisional dan pilihan teh sesuai selera. Sajian teh sore ini bisa dinikmati di mana saja. Kami memilih menikmatinya di taman tepi pantai, sekaligus menikmati matahari terbenam. Saya mencoba teh melati sementara Si Ayah meminta teh jahe. Big A sedang ingin minum kopi flat white. Kue-kuenya kami bawa sebanyak mungkin, biar malamnya nggak kelaparan πŸ˜‰ Big A terutama suka kue klepon (kue bulat berwarna hijau dari tepung ketan yang digulingkan ke parutan kelapa, didalamnya ada gula merahnya) sampai harus berebut dengan jatah Little A.

Beach garden, properti milik hotel Tugu ini ada di tepi pantai Batu Bolong. Di sini terdapat kursi santai, meja kursi untuk makan dan juga bale-bale (dipan yang bisa dipesan untuk tempat makan malam romantis). Kami menikmati minum teh di bale-bale berhiaskan kain-kain merah yang cantik.

Di sebelah lapangan rumput milik Tugu ada The Lawn, tanah lapang untuk para bule jelata umum. Di sini sepertinya bisa membeli minum dan meminjam peralatan piknik. Ada ayunan, papan keseimbangan dari tali, dan bahkan ada yang berlatih juggling. Suasana cukup ramai tapi masih nyaman. Orang-orang yang ada di sini tipe yang pengen santai-santai menikmati pantai, bukan yang berisik dan mengganggu.

Tugu Beach Garden
The Lawn
Pantai yang ada di sebelah hotel Tugu ini namanya pantai Batu Bolong, terkenal sebagai pantai untuk berselancar karena ombaknya yang cukup besar. Pasirnya tidak putih, tapi cukup bersih. Menjelang sunset, Little A mulai berbasah-basahan di air, menemani Si Ayah yang asyik motret. Saya suka pantai yang tidak terlalu ramai seperti ini. Meski harus berbagi dengan pengunjung lain, Little A masih punya spot pribadinya. Tidak ada pedagang asongan yang terlihat. Tapi juga tidak ada penjaga pantainya. Untuk yang mau berenang di pantai ini perlu berhati-hati karena ombaknya cukup besar. Daerah Canggu yang yang terletak di antara Seminyak dan Tanah Lot ini bisa menjadi alternatif main ke Bali bagi yang sudah bosen ke Kuta yang ramai.
Yang mungkin bisa mengganggu adalah anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar pantai. Bukan anjing kampung buduk sih, mereka tampak bersih dan tidak berbahaya. Tapi bagi yang takut anjing mungkin akan kurang nyaman juga karena mereka mengendus-endus setiap orang yang duduk-duduk di pantai, mungkin mencari makanan.
Menjelang magrib, para surfer mengangkut papan selancar mereka untuk pulang. Little A pun harus mengakhiri main-main di pantai meski belum puas.

Tadinya saya pengen jalan-jalan menyusuri pantai di pagi hari. Tapi setelah pagi datang kok jadi malas ya? Hahaha. Padahal kalau mau jalan sedikit bisa sampai di pura melihat keramaian umat Hindu yang beribadah melasti. Sejak subuh, sudah banyak orang Bali yang berbondong-bondong melewati jalan di samping hotel kami menuju pura. Melasti adalah upacara untuk menyucikan benda-benda sakral, yang dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi.  

Akhirnya saya dan Si Ayah kencan sarapan saja di taman tepi pantai. Saya memesan paket sarapan tradisional (150K) untuk Si Ayah dan paket sarapan Babah (180K) untuk saya. Hotel Tugu tidak menyediakan sarapan buffet, semua menu bisa dipilih sendiri dan bisa diantarkan ke mana saja sesuka hati kita, mau di kamar, di lobi, di dekat kolam, atau di pinggir pantai juga bisa. Pagi itu di pantai, saya lihat sudah banyak yang mulai berselancar, sepagi itu. Si Ayah juga membawa peralatan berselancar… di internet :p

Makanan kami datang setelah satu jam, hiks. Ini mungkin salah saya juga sih. Saya memesan dua jenis sarapan, satu untuk kami di pantai, satunya lagi untuk anak-anak di kamar. Saya bilang yang untuk anak-anak tolong diantar satu jam lagi, karena waktu itu mereka masih tidur. Eh, mungkin mereka salah paham mengira sarapan kami juga mintanya satu jam lagi.

Tapi gara-gara lapar, makannya jadi tambah nikmat. Paket Si Ayah terdiri dari nasi goreng, bubur ketan hitam, buah potong dan kopi. Paket saya terdiri dari bubur ayam, dimsum, buah potong dan kopi. Saya dari dulu selalu mewajibkan untuk mencicipi setiap bubur yang ada di hotel. Yang ini buburnya lumayan lah, cukup terasa enak kaldunya, tidak terlalu asin. Sementara untuk Si Ayah, nasgornya kurang pedas! Dia meminta sambal ulek, alhamdulillah segera datang sebelum nasgornya habis. Memang sih, kalau di hotel bintang 5, kalau ingin pedas harus bilang dari awal, karena biasanya bumbu makanannya mild, disesuaikan dengan lidah internasional.

Saya cukup senang dan puas dengan kencan pagi ini, bisa makan dan ngobrol sama Si Ayah tanpa gangguan anak-anak yang masih tidur di kamar. Hanya ditemani debur ombak di kejauhan, ish

Untuk anak-anak, sarapannya saya pesankan bakery basket (75K) yang berisi empat potong roti pilihan dan 2 gelas susu segar. Saya pilihkan 2 toasted whole wheat bread, croissant dan danish. Untuk olesannya, kami diberi mentega dan homemade jam yang enak banget: selai nanas, selai jambu biji, dan satu lagi saya nggak tahu campurannya apa aja, tapi enak!

Sebelum cek out, kami sempat diantar keliling hotel oleh Mbak Retno, untuk melihat kamar-kamar yang lain, tempat spa, galeri koleksi benda antik dan pilihan tempat makan yang tersedia. Karena biasanya tamu yang menginap adalah honeymooner, Tugu punya tempat spa yang spesial. Ada paket lengkap spa selama 8 jam untuk pasangan, termasuk diselingi makan siang. Saya membayangkan kalau Si Ayah ikutan ini, pasti bakalan sukses tertidur begitu kepalanya mulai nempel di dipan πŸ™‚

Kami juga dibawa melihat Bale Puputan, dining hall yang bisa dipesan untuk 
makan malam istimewa. Salah satu paket makan istimewa mereka adalah Royal Tugudom Dining. Tamu akan dibawa ke era majapahit, diperlakukan seperti raja, dengan makanan yang dibawakan oleh pelayan, penduduk desa, dan prajurit. Tamu juga akan disuguhi tarian di antara acara makan.

“Ya ada, Mbak, yang pesan paket ini?” tanya Si Ayah keheranan.
“Banyak, Pak,” kata mbak Retno, “terutama tamu-tamu dari Eropa.”

Saya nggak seheran itu sih, kalau memang uangnya ada, kenapa nggak dipakai untuk membeli pengalaman yang unik, yang nggak akan hilang kenangannya. Setelah melihat satu dining venue lagi yang atapnya memakai kuil Tiongkok yang sudah berusia ratusan tahun, tur hotel itu ditutup dengan mengunjungi galeri benda antik, koleksi Pak Anhar, pemilik hotel yang dijual untuk umum. Saya dan Si Ayah nggak ngerti apa-apa tentang benda antik, jadi kami cuma melihat-lihat saja dan kadang terbelalak membaca label harganya πŸ˜‰


Bale Puputan
 Bale Puputan Dining venue
Keluarga Precils di depan Hotel Tugu

Saya senang mencoba hal-hal baru, termasuk menginap di hotel yang nggak biasa-biasa saja. Secara umum kami puas dengan pengalaman kami di Tugu hotel, terutama pelayanan para staf-nya yang excellent. We were impressed with their hospitality. Siang itu, setelah makan siang di Canggu Cafe di dekat hotel, kami diantar Pak Sopir ke Seminyak. Di dalam mobil, saya sudah memikirkan strategi untuk menginap di hotel Tugu lainnya.

~ The Emak

Follow @travelingprecil

LOKAL, Hotel Kecil Nan Cantik di Jogja

Nggak nyesel menginap di hotel Lokal Yogyakarta, mesti tarif hotel bintang tiga ini lebih tinggi dari rata-rata hotel dengan bintang yang sama. Kamarnya nyaman, desainnya keren, makanannya enak dan kami bisa renang-renang cantik seperti punya kolam renang pribadi.

Sudah lama saya pengen nginep di hotel kecil yang trendi ini. Impian baru kesampaian minggu lalu, pas kami ke Jogja menjenguk Ayah Ibu saya. Alhamdulillah saya punya tabungan kredit di Paypal, bisa buat nginep ‘gratis’. Sempat bingung juga booking engine mana yang bisa dibayar pakai paypal. Biasanya saya pakai apps HotelQuickly di hp untuk pemesanan mendadak, bisa dibayar pakai paypal juga. Tapi sayangnya Lokal belum terdaftar di HQ. Padahal bisa dapat diskon 130 ribu kalau pakai kode promo: AKUMA72 πŸ™‚ Agoda katanya juga bisa bayar pakai Paypal, tapi ternyata untuk hotel-hotel tertentu saja. Akhirnya saya pesan lewat website Hotel Travel

Free minibar!
view kolam renang dari balkon

Tarif per malam untuk kamar suite (loft room) adalah USD 68,93 atau setara IDR 950.000, termasuk pajak 21%. Cukup mahal untuk ukuran hotel bintang tiga. Tapi saya sudah terlanjur penasaran sama loft room mereka, hehe. Daripada kredit paypalnya nganggur. Kalau mau lebih ngirit, bisa pesan kamar biasa (double atau twin) seharga Rp 580 ribuan. Harga yang saya bayarkan sudah termasuk sarapan pagi untuk berdua, welcome drinks dan minibar gratis!

Lokasi hotel Lokal agak tersembunyi, di daerah Gejayan, dekat dengan jembatan merah. Tempat ini juga agak jauh dari Malioboro atau Tugu. Tapi Jogja sih itungannya ke mana-mana dekat, bisa pesan taksi ber-argo via resepsionis. Keuntungan lokasi yang nylempit, suasananya relatif tenang, nggak dengar keramaian lalu lintas di tepi jalan besar. Pagi hari juga tidak dibangunkan suara TOA πŸ™‚

Proses cek in cukup cepat. Petugas hotel juga ramah. Saya tinggal menyerahkan voucher dari Hotel Travel. Langsung dapat kunci, password wifi, voucher welcome drink dan voucher untuk sarapan esok harinya. Saya dan anak-anak langsung menuju kamar yang cuma beberapa langkah dari resepsionis mungil. Kamar kami B2, di lantai satu, berbentuk loft dan nyambung dengan balkon di lantai dua.

Seperti biasa kalau nemu hotel yang bagus, kami teriak-teriak kegirangan. Norak-norak bergembira pokoknya. Apalagi waktu itu kami diantar sama Tante Dila cs, dobel ramainya. Setelah inspeksi amenities dan foto-foto sebelum kamar berantakan, saya ngecek logistik. Di atas meja tersedia dua botol air mineral, kopi, teh, gula, krimer. Yang ini pasti gratis, standar lah. Di kulkas ada beberapa minuman dan camilan. Saya cari-cari daftar harganya kok nggak ada. Mosok gratis? Saya ingat di voucher hotel tertulis free minibar. Tapi saya belum percaya soalnya nggak biasanya ada minibar gratis. Akhirnya saya telpon resepsionis untuk memastikan. Dan memang gratis, yay! Adik saya langsung nyomot silverqueen. Hadeh, kayak dapat apa aja.

Welcome drink disajikan di restoran, yang terletak di depan hotel, berbatasan dengan jalan kampung. Kami dapat dua jus semangka yang seger banget. Kami nggak makan malam di resto karena sudah keluar makan di Pizza Panties dekat hotel, daerah Gejayan juga.

Interior restorannya trendi banget. Suasananya juga cozy. Pelayannya ramah. Kami sarapan pagi-pagi biar nggak terlalu ramai. Eh ternyata baru kami yang nyampai di resto. Menu sarapannya kami bisa milih, menu lokal atau western. Selain itu, kami bebas makan roti panggang, sereal, buah potong dan boleh minum teh, kopi, susu, jus buah, air mineral sepuasnya. 

Seperti biasa, Big A memilih sarapan ala bule, dengan omelet dan hash brown. Little A juga berlidah bule, maunya roti panggang dan selai. Tinggal Emaknya yang pilih sarapan lokal, pesan nasi goreng. Tapi karena Emak mewajibkan diri mengecek semua rasa bubur ayam ala hotel, akhirnya pesan bubur ayam juga, hahaha. Kami lama banget nongkrong di resto ini sambil ngobrol-ngobrol tentang… kehidupan! Cuma ada dua keluarga lain yang akhirnya sarapan di resto. Baru kami ingat kalau ini hari Senin!

Tarif hotel sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Untuk anak di bawah usia 5 tahun gratis, sementara anak usia 5-12 tahun bayar Rp 25.000 aja.

Setelah sarapan, kami masih punya waktu sampai jam 12 siang untuk cek out. Jelas kami memilih untuk berenang-renang cantik biar nggak rugi. Kolam renangnya kecil, tapi bisa lah untuk membakar kalori setelah makan buryam. Little A sudah bisa berenang, tapi perlu waktu lama untuk pemanasan, sampai dia nyaman di air. Big A memilih duduk di tepi kolam sambil membaca buku. Hanya kami bertiga yang menggunakan kolam renang waktu itu, serasa punya kolam pribadi.

Kedalaman kolamnya mencapai 160 cm, tapi ada area yang dangkal, bisa untuk main bayi-bayi. Di dekat area dangkal, kedalaman kira-kira 120 cm. Pokoknya saya nggak tenggelam lah, bisa berdiri sambil jaga Little A yang renang wira-wiri.

Selesai renang dan mandi air pancuran hangat, badan cukup segar. Kami mengepak kembali barang-barang kami (cuma dua ransel sih) dan siap-siap pulang dengan kereta kembali ke Surabaya. An overnight stay well spent.

Reading or swimming?
Renang pakai bando? Cuma Little A ;p

Overall, kami puas menginap di sini. Ranjangnya sangat nyaman dan cukup besar (ukuran king) untuk bertiga. Malahan sepertinya masih muat untuk berempat. Spreinya halus dan lembut, desainnya nggak norak πŸ˜€ TV-nya ada dua, di depan kasur dan di living room, di depan sofa. Saluran untuk anak-anak ada, jadi no problemo. Wifinya kenceng, mau minta apa lagi? :p


Yang paling saya suka dari hotel ini adalah desainnya. Lantai di bangunan hotel dan resto diplester biasa, tapi dihiasi dengan tegel warna-warni. Mereka juga memberi perhatian ke hal-hal kecil, misalnya desain rak TV yang ada tempat untuk menaruh remote. Saya sampai jatuh cinta sama mug dan piring yang ada di kamar dan resto. Koleksi mereka seperti piring/gelas seng vintage dengan pinggiran biru, tapi tentu bahannya bukan seng karena terasa berat dan mantap. Meski tidak merokok, saya terkesan sama area merokok mereka yang mungil dan tetap trend. Biasanya resto di hotel lain menempatkan area merokok di luar ruangan, tapi di Lokal, pengunjung yang tidak merokok pun bisa memilih duduk di dalam atau di luar resto tanpa terganggu asap rokok. Mereka membuatkan area merokok di dalam ruangan. Saya suka banget dengan penataan seperti ini, sama-sama nyamannya.

Tentu hotel ini juga punya kekurangan, tapi masalah kecil aja sih. Tidak ada hairdryer dan safety box di kamar. Sofa di ruang tamu juga nggak ada bantal-bantalnya. Trus pasta gigi yang diberikan dikit banget, kami pencet-pencet nggak ada yang keluar, hahaha. Udah itu aja sih.

Oh, ya, satu lagi, kamar suite kurang cocok untuk anak-anak kecil, antara usia 2-5 tahun. Mereka nanti terlalu excited untuk naik turun tangga yang lumayan curam. Yang punya anak kecil mending milih kamar biasa aja. Tetep lucu kok desainnya πŸ™‚ Saking senengnya sama hotel ini, Little A sempat bilang, “This hotel should be 4-star, not 3-star.”

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Staycation: Hotel Harris Gubeng Surabaya

Terus terang kami bertiga (tanpa Si Ayah) staycation di Harris Hotel ini karena saya tergoda SALE Harbolnas, hahaha. Masa di Hari Belanja Nasional (12 Desember) yang bertabur diskon nggak beli apa-apa? Akhir pekan ini kami ditinggal Si Ayah yang bertugas ke luar kota. Malam minggu kami memang harus ke luar rumah menghindari tetangga yang berisik. Daripada bete… yo wes staycation aja.

Saya booking hotel Harris via apps Hotel Quickly di handphone. Saat Harbolnas, HQ memberi tambahan diskon 75 ribu. Saya sendiri sudah punya kredit HQ lumayan. Total diskonan HQ saya waktu itu Rp 495.000. Kalau mau nginap di hotel bintang 3 yang kini menjamur di Surabaya, saya nggak perlu nambah biaya lagi. Tapi anak-anak pengennya hotel yang ada kolam renangnya. Dan saya pun pengennya hotel yang gratis sarapannya. Tarif Hotel Harris bulan Desember ini Rp 713.788, termasuk pajak. Dipotong kredit HQ, saya tinggal bayar USD 15,72, pakai kredit paypal. Hore… gak perlu keluar uang. Saya anggap aja hadiah ultah (acaranya diada-adain).

Yang pengen diskonan hotel juga, coba install apps Hotel Quickly di hp (android atau iOS). Masukkan kode dari The Emak: AKUMA 72. Nanti kalian dapat kredit IDR 130 ribu untuk pemesanan pertama. Lumayan kan? Apps ini cocok untuk pesan hotel secara mendadak, untuk malam ini sampai seminggu berikutnya. HQ sudah memilihkan beberapa hotel dengan tarif last minute terbaik. Kalau rajin mengumpulkan poin/kupon, bisa nginep gratis juga. Saya pernah memakai apps HQ ini untuk mengungsi staycation di Hotel Swiss Belinn ketika musuh tetangga tiba-tiba mendirikan terop di depan rumah saya tanpa izin.




Lokasi Hotel Harris Gubeng Surabaya di Jl. Bangka 8-18, dekat dengan stasiun Gubeng (iyaaaa). Waktu kami cek in, suasana cukup ramai. Sepertinya sedang ada acara di hotel ini. Saya sudah suudzon aja kalau hotel ramai begini biasanya pelayanannya tidak begitu bagus.

Kami dapat kamar 917. Saya minta kamar double dengan ranjang besar, tapi mereka cuma punya kamar twin. Resepsionis bilang kalau mau, ranjang twin-nya bisa digabungkan. Saya bilang, “Iya, Mbak, saya mau ranjangnya digabungkan. Tolong ya.” Resepsionis bilang, “Lihat-lihat dulu kamarnya Bu, nanti bisa telpon housekeeping dari kamar.” Lho?

Kamar kami cukup lega, dekorasinya minimalis dengan warna kesukaan saya, oranye. Kesannya cerah dan ceria. Ranjang cukup nyaman, dan ada gulingnya (jarang lho ada guling di hotel). Jadi seperti di rumah. Amenities lainnya standar: teh, kopi, krimer, gula, dan dua botol air mineral. Ada juga kulkas kecil seperti show case tapi nggak ada isinya. Ada safety box. Kamar mandi cukup luas, dengan pancuran besar di atas. Perlengkapan mandi juga lengkap: sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, dll.

TV ada saluran untuk anak-anaknya. Ini penting, kalau nggak, Little A dan Big A bakal bete karena mereka nggak punya TV di rumah. Bisanya nonton TV di hotel atau pas di rumah Kakek Nenek. Wifi bisa nyambung tanpa perlu password, tapi kecepatannya biasa-biasa saja, sama seperti wifi di rumah. 

Masalah muncul ketika saya sadar cuma diberi satu kunci kamar. Little A maunya lihat kolam renang, sementara Big A maunya di kamar aja. Padahal untuk naik lift harus bawa kunci kamar. Saya berhasil menyeret duo precils ke resepsionis untuk minta kunci tambahan. Ternyata tidak ada kunci tambahan. Resepsionis minta maaf karena tidak bisa memberi saya room card ekstra. “Shouldn’t you have enough room cards for everyone?” tanya saya. Petugas hotel menawarkan akan mengantar kami kalau pas keluar tanpa kunci. Ya repot Mas. Kami kan juga perlu ke kolam renang dan resto. Ribet kalau harus minta antar-antar segala. Di sini saya merasa disepelekan. Entah mereka beneran kehabisan kunci atau tidak mau memberi saya kunci karena kami dianggap tamu yang tidak penting (mulai dramaaaa…) *nangis di pojokan*

Di resepsionis, saya juga menanyakan adanya shuttle gratis ke pusat-pusat perbelanjaan, seperti yang diiklankan di website mereka. “Tolong saya pesan untuk nanti malam jam 6 ke Grand City, untuk 3 orang,” kata saya. Mas resepsionis bisik-bisik di HT, buka catatan di meja, terus bilang kalau shuttle sudah penuh. Oh… Baiklah, mungkin shuttle memang sudah penuh, atau mungkin memang tidak ada. Untuk yang ini saya maklum, mungkin seat memang terbatas. Tapi kalau kunci kamar… *masih dendam*

Kalau mau makan enak, di dekat hotel ini ada Restoran Steak terbaik di Surabaya: Boncafe. Tinggal menyeberang jalan dari hotel. Tapi harganya lumayan premium ya. Kami memilih makan malam di Mal Grand City, yang cukup dekat dengan hotel. Sekalian kami mau nonton The Good Dino di sana. Karena tidak ada shuttle, kami naik taksi, pesan dari concierge di depan. Dua perusahaan taksi di Surabaya yang cukup bagus pelayanannya dan selalu pakai argo adalah Orenz Taxi dan Blue Bird. Dari hotel ke Mal Grand City, saya cukup membayar tarif minimal, kalau naik Blue Bird Rp 25.000, sementara kalau naik Orenz cukup Rp 15.000.

Tidur nyaman, bangun pagi pun bisa segar. Kami sarapan di resto hotel di lantai 5, satu lantai dengan kolam renang dan spa. Restorannya cukup luas, meski tamunya banyak, tidak terasa sumpek atau ramai. Kami memilih duduk di bangku yang desainnya seperti bangku piknik. Sebenarnya pengen duduk di luar sambil melihat pemandangan kota, tapi ternyata outdoor-nya smoking area. Huh, no way

Menu sarapannya sangat beragam, menu Western, Asia dan masakan Indonesia. Bisa ditebak, lidah bule Little A memilih roti panggang dengan selai. Big A memilih sushi dan salad. Sementara saya merasa wajib mencicipi sajian bubur ayam di setiap hotel. Parahnya, saya salah ambil ketika menata menu bubur. Kebetulan sajian bubur disandingkan dengan menu rawon. Saya terlanjut mengambil kecambah yang sebenarnya untuk rawon. Bubur ayam dengan kecambah? Arrrrgghhh… Anak-anak malah ngakak menertawakan Emaknya.

Makanan di sini enak-enak, pelayanannya juga bagus. Sushinya enak, sayuran untuk saladnya segar, buahnya segar, salad dressing juga enak. Kopinya enaaaak pakai mesin kopi. Alhamdulillah yah. Kalau kopinya nggak enak dan nggak ada susunya, mungkin saya bisa ngomel-ngomel lagi, hahaha. Yang istimewa, ada counter jamu Iboe di resto ini. Saya minta dibuatkan kunyit asam dan kulit manggis (biar kulitnya mulus dong). Ternyata anak-anak nggak doyan, sampai saya harus bertanggung jawab minum jamu dua gelas!

Enaknya di hotel Harris, anak-anak usia di bawah 12 tahun boleh menginap dan sarapan gratis, nggak perlu bayar extra. Asal mau tidur empet-empetan dikit, hotel ini bisa muat 2 dewasa dan 2 anak di bawah usia 12 tahun tanpa membayar extra bed.

Setelah kenyang, kami lanjutkan dengan berenang di sebelah restoran. Big A cuma mau baca buku dan leyeh-leyeh sampai ketiduran di pinggir kolam. Di kolam renang ini ada kolam kecilnya untuk anak-anak, tapi ya cuma bisa untuk main-main saja, kedalamannya cuma 60 cm. Little A yang ingin berenang beneran minta langsung nyemplung di kolam dewasa. Untung kedalamannya cuma 120 cm, saya masih bisa berdiri tanpa kelelep :p

Dino Club atau tempat bermain anak ada di sebelah kolam renang ini. Selesai bilas, Little A sempat bermain-main di sini. Mainannya cukup lengkap, tapi tidak ada penjaga/petugas di sini. Kalau anaknya masih kecil harus dijaga sendiri.

Kami lumayan senang sih staycation di Harris, despite the room key problem. Happy ending karena saya dan Little A cukup lama berenang sampai puas dan pegal-pegal. Big A juga puas tidur-tiduran di tepi kolam. Hotel Harris ini bisa jadi pilihan untuk keluarga dengan dua anak di bawah 12 tahun yang mau ngirit tanpa extra bed. Tapi memang bed-nya kecil, lebih kecil daripada di Swiss Belinn yang muat untuk berempat. Hotel Harris ini juga bersebelahan dengan hotel Pop yang tarifnya lebih murah, tapi tanpa fasilitas kolam renang. Dari kolam renang Harris, kami bisa melihat jendela-jendela kamar Pop Hotel. Mungkin suatu saat kami akan mencoba menginap di sana. Little A menyarankan, kalau menginap di Pop Hotel dan ingin berenang, tinggal lompat dari jendela aja, Ma. Hahaha.






~ The Emak 
Follow @travelingprecil

Staycation: Ascott Waterplace Surabaya

Kalau saldo Paypal lagi banyak, The Emak bawaannya pengen staycation melulu, hehe. Jangan ditiru ya. Seperti minggu kemarin ketika saya memutuskan membawa anak-anak nginep di apartemen mewah di Surabaya Barat. Tapi ini ada alasan rasionalnya kok. Selama dua minggu ini kan Big A bertugas menjadi jurnalis di acara Deteksi Jawa Pos, jadi tiap hari wajib ke DetCon yang diadakan di PTC Supermall. Dari rumah kami di Surabaya ujung timur, Supermal ini jauh banget, mana macet pula. Jumat malam Big A harus meliput acara sampai malam, dan siangnya sudah harus ke sana lagi. Karena Si Ayah juga sedang ke luar kota, ya sudah lah, Emak jadi punya alasan untuk booking hotel πŸ˜‰

Saya memesan Ascott Waterplace ini via Agoda, karena bisa dibayar dengan saldo paypal. Tarif semalam untuk apartemen 1 bedroom waktu itu sebesar $79,48. Saya sudah cek via hotelscombined, harga di website lain juga sama. Gak mau rugi, kan? Saya memilih Ascott ini dari segi kepraktisan saja karena lokasinya persis di depan PTC Supermal, jadi tinggal menyeberang jalan. Ada sih beberapa pilihan hotel di sekitar situ yang lebih murah, tapi sama saja tidak walking distance, tetap harus naik taksi.


Jumat sore setelah menjemput Little A dari sekolah, kami berdua naik taksi menuju Ascott. Kami masuk ke lobinya yang mewah dan disambut dengan ramah. Proses cek in cukup gampang dan cepat. Setelah menyerahkan voucher Agoda, kami langsung dapat kunci kamar.

Big A ngecek tulisannya di Deteksi Jawapos

Little A, pecinta penginapan mewah, langsung terbelalak dan kagum begitu kami sampai di kamar. Dekorasinya memang tampak mewah. Ada satu kamar tidur dengan queen bed, dilengkapi TV dan lemari tanam. Ruang keluarga terpisah dari kamar, dilengkapi sofa besar dan nyaman, plus TV kabel dengan saluran lengkap. TV-nya ada dua ya, jadi The Emak nggak akan rebutan remote sama Little A, hahaha. Di ujung ruang keluarga terdapat dapur, lengkap dengan kompor, microwave, dispenser air panas dingin, peralatan masak, kulkas besar dan meja kursi. Bahkan ada mesin cuci juga. Kelihatannya apartemen ini sangat nyaman untuk tinggal dalam waktu lama. Sayangnya kami tidak menggunakan semua fasilitas tersebut. Ngapain masak kalau makanan enak tinggal beli di mal sebelah?

Wifi juga disediakan gratis. Meski kami stay di lantai atas, wifi masih bisa nyambung. Kecepatannya lumayan, bisa digunakan Big A untuk mengerjakan PR.

Tarif yang saya bayarkan sudah termasuk sarapan. Setelah bisa tidur nyenyak bertiga di kasur empuk, Sabtu paginya kami turun untuk sarapan. Menu sarapannya standar, tidak ada yang terlalu istimewa. Seperti biasa Little A minta roti panggang dengan olesan. Big A minta salad sayuran yang lumayan segar dengan dressing yang cukup enak. Saya pesan omelet jamur yang dimasak di tempat, cukup enak lah. Kopinya biasa saja, tidak nendang, tapi cukupan untuk memulai pagi hari.

Setelah lumayan kenyang, saya menemani Little A untuk main-main air di kolam renangnya yang ternyata luas banget. Sebenarnya lebih mirip mini waterpark daripada kolam renang biasa. Setelah melihat sendiri, saya baru ngeh kenapa namanya Ascott Waterplace πŸ™‚ Di sini ada kolam untuk bayi, kolam yang seperti pantai, kolam dengan permainan air (seluncuran) dan kolam renang biasa untuk olahraga. Sepertinya ada lazy river-nya juga tapi kok airnya nggak bergerak. Waktu kami menginap di sana hari Sabtu, suasana tidak terlalu ramai. Hanya ada dua keluarga yang bermain dan beberapa orang yang berenang beneran. Padahal apartemen ini juga jadi satu dengan hunian, fasilitas kolam bukan hanya untuk tamu apartemen saja

Karena Big A tidak ikut main air, Little A cuma sebentar bermain di sini. Tapi untuk staycation, fasilitas mini waterpark ini cukup mewah juga, jadi nggak perlu keluar ke waterpark beneran.

Yang paling kami suka dari Ascott ini adalah fasilitas kamar mandinya yang mewah banget. Ada bak mandi (bath tub) yang tampaknya masih baru. Amenities yang disediakan adalah merk L’occitane. Duh, wanginya sedep banget, dengan senang hati sisanya saya bawa pulang :)) Cuci tangan aja pakai L’occitane *berasa jadi horang kaya*. Sayangnya sebotol kecil shower gel-nya cuma cukup untuk dua kali berendam.

Selepas berenang, Little A dan Big A berendam bersama. Mereka main-main di bak mandi lama banget sampai saya harus memaksa mereka untuk keluar. Mandi air hangat dengan sabun wangi emang enak sih πŸ˜‰

Serviced apartment ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang memang punya acara di Surabaya bagian barat. Soalnya lokasinya cukup jauh dari kota. Kalau jalanan macet, satu jam perjalanan mungkin belum sampai ke tengah kota. Tarif apartemen ini memang lebih mahal dibandingkan hotel, tapi sepadan dengan fasilitas yang diberikan, antara lain dapur agar bisa memasak/menghangatkan makanan sendiri dan mini waterpark-nya yang pasti membuat anak-anak puas bermain.

~ The Emak  
Follow @travelingprecil

Memesan Vila di Bali dengan Airbnb

Vila Ratna 2 di Ubud yang kami pesan via Airbnb

Setelah sukses memesan tiket pesawat ke Bali dengan poin Garuda Miles, saya mulai berburu penginapan di Ubud. Tadinya saya pengen menginap di Tegal Sari, hotel kecil yang langganan menang di Tripadvisor untuk kategori Bargain Hotels. Tapi ternyata untuk tanggal yang kami perlukan, vilanya sudah penuh. Ya maklum sih, pas ada acara Ubud Writers and Readers Festival.

Lalu saya ingat masih punya kredit di Airbnb. Aha! Saya kan–alhamdulillah–menang kuis @kartupos yang hadiahnya voucher Airbnb yang lumayan banget, $250. Cukup lah ya buat sewa vila dua kamar dengan kolam renang pribadi.

Tidak perlu iri dengan kemujuran saya yang sering menang kuis, hehe. Kalau mau voucher juga, bisa langsung daftar Airbnb dari tautan ini: https://www.airbnb.com/c/akumalasari. Nanti otomatis akan mendapatkan kredit/voucher sebesar $20 (sekitar Rp 279 ribu) untuk pemesanan pertama. Mendaftar Airbnb gampang, bisa menggunakan akun Facebook, Gmail atau email yang lain. Kalau masih bingung caranya, bisa membaca tulisan saya yang ini.

Yang pengen dapat voucher, daftar di sini ya: https://www.airbnb.com/c/akumalasari

Cara memesan di Airbnb juga gampang. Setelah punya akun, kita tinggal search, ketikkan destinasi di kolom yang ada gambar kaca pembesarnya. Lalu masukkan tanggal cek in cek out dan jumlah orang yang menginap. Airbnb akan mencarikan penginapan yang tersedia di tanggal tersebut, dengan peta lokasi di sebelah kanan. Kita bisa menggeser peta sesuai kebutuhan. Kita juga bisa mengatur harga maksimal, tipe kamar atau fasilitas yang kita mau.
 
Di Ubud, sudah banyak vila cantik-cantik yang tersedia di Airbnb. Sekarang juga sudah ada fasilitas Instant Book, artinya pesanan kita akan langsung terkonfirmasi. Fitur ini ditandai dengan gambar flash/petir berwarna kuning.

Dulu ketika saya memesan apartemen di Paris dengan Airbnb, saya harus mengirim pesan ke host dulu, memastikan bahwa di tanggal tersebut apartemennya kosong. Tapi untuk vila di Ubud ini, saya tinggal klik instant book kalau memang sudah mantap dengan vila tersebut. Tidak perlu mengirim pesan ke host, kecuali kalau memang ada yang ditanyakan. Baru setelah pesanan vila saya terkonfirmasi, saya mengirim pesan perkenalan ke host.

Sangat banyak pilihan yang tersedia di Ubud. Saya sendiri sampai bingung berhari-hari membandingkan satu vila dengan lainnya. Saya pengennya menginap di vila dua kamar biar duo Precils tidur di kamar sendiri, sementara saya dan Si Ayah bisa nganu, tidur dengan nyaman juga πŸ˜€ Lalu kolam renang juga wajib, kalau bisa kolam privat biar saya bebas pakai bikini, hahaha. Sarapan pagi nggak begitu penting, karena biasanya vila ada dapurnya. Lagipula, kami mungkin pengen nyoba sarapan di kafe yang trendi.

Karena susah milih, vila-vila yang saya taksir saya masukkan ke wishlist (klik tanda hati). Ini contekan wishlist saya, yang buanyak banget saking bingungnya: https://www.airbnb.com/wishlists/40161556. Akhirnya saya menemukan Vila Ratna 2 dan jatuh hati karena desain interiornya yang cerah, dan harganya juga di bawah vila 2 kamar lainnya. Kalau tertarik menginap di Vila Ratna 2, ini tautannya: Listing: https://www.airbnb.com/rooms/5451185.

Selain dari harga dan fasilitas yang disediakan, saya memilih vila ini juga karena review-nya bagus. Tadinya ada vila yang saya taksir juga, tapi dari reviewnya, sering ada orang yang masuk begitu saja ke dalam vila menawarkan transport, jadi privasi nggak terjamin. Duh, ngeri kan kalau gini? Saya juga tidak berani pesan vila baru yang belum ada review-nya.

Tarif menginap di Airbnb mengikuti rate USD. Ketika saya memesan di bulan Juni 2015, tarif per malam adalah Rp 1.267.509. Service fee dari Airbnb sebesar Rp 306.871. Total yang harus saya bayar untuk dua malam adalah Rp 2.841.889. Tapi bayarnya nggak perlu pakai uang karena saya masih punya kupon. Uang yang saya keluarkan untuk memesan vila ini adalah Rp 0. Kalau kredit atau kupon airbnb tidak mencukupi, sisanya bisa dibayar dengan kartu kredit atau kartu debit. Untuk memasukkan nomor kartu yang digunakan untuk membayar, klik account setting >> payment methods >> add payment methods >> masukkan nomor kartu dan data lainnya >> klik Add Card. Kartu kredit yang diterima untuk pembayaran adalah visa, mastercard, amex dan discover. Kalau tidak punya kartu kredit, bisa pinjam punya orang lain. Saya memasukkan nomor kartu kredit punya suami di akun saya dan nggak masalah. Sementara untuk kartu debit, yang sudah saya coba masukkan dan diterima adalah kartu debit dari Permata Bank yang ada tulisannya VISA Electron. Kartu Debit dari Bank Mandiri ditolak. Coba aja deh semua kartu yang ada πŸ™‚

Berikut screenshot pemesanan saya menggunakan apps Airbnb di iPad.

Beres? Ternyata belum. Sebulan sebelum berangkat, ada perubahan rencana. Big A ternyata ada acara outbond di sekolah, jadi tidak bisa ikut ke Ubud. Hiks. Akhirnya rencana kami juga ikut berubah. Yang tadinya menginap dua malam, terpaksa jadi menginap semalam saja karena esoknya harus menjemput Big A di sekolah.

Untungnya pemesanan di Airbnb bisa diubah. Ini tergantung kebijakan pembatalan dari host ya. Kebetulan host yang ini, Mbok Ratna, cancellation policynya moderate (bisa dilihat di profil penginapan). Artinya, 5 hari sebelum tanggal kedatangan, pesanan masih bisa diubah. Nanti uangnya dikembalikan, kecuali biaya servis Airbnb.

Seminggu sebelum berangkat, saya mengubah pesanan dari dua malam menjadi satu malam saja. Saya juga mengirim pesan ke host bahwa rencana berubah karena anak saya ada acara di sekolah. Alhamdulillah host langsung menyetujui perubahan ini dan uang (kredit) saya dikembalikan satu malam. Nggak masalah.

Untuk mengubah atau membatalkan pesanan, klik Your Trips >> klik Change or Cancel >> pilih Change Reservation >> ubah tanggal atau jumlah tamu >> Submit Alteration.

Ingat, perubahan atau pembatalan mengikuti kebijakan pembatalan dari host. Cek dulu cancellation policy masing-masing penginapan di profilnya. Kalau kebijakannya strict, booking tidak bisa dibatalkan.

Pesan vila sudah beres. Sekarang tinggal packing bikini. Ada yang mau ikut kami renang-renang di kolam pribadi di Ubud, lanjut dengan ngopi atau ngeteh di gazebo tepi sawah?

~ The Emak

Follow @travelingprecil

Review: Hotel Greenhost Yogyakarta

Saya selalu pengen mencoba menginap di hotel-hotel baru yang lagi happening. Masalahnya, agak susah untuk hotel di kota Jogja, Malang, atau Surabaya. Lha ibu dan adik saya ada rumah di pinggiran Jogja, ngapain nginep di hotel? Harus ada strategi, alasan lain yang tidak menyakiti hati ibu (atau ibu mertua di Malang). Alhamdulillah, doa istri salehah terkabul, saya memenangkan voucher $50 dari Agoda. Cukup lah untuk pesan 2 kamar dan nginep-nginep cantik.

Pilihan saya jatuh ke Hotel GreenHost di daerah Prawirotaman. Sebenarnya inceran saya ada dua: Hotel LOKAL di daerah Gejayan, atau hotel ini. Tapi karena tarifnya lebih murah hotel GreenHost (400 ribuan termasuk pajak), ya sudahlah nanti coba Hotel Lokal lain kali kalau ada rezeki.

Tampak Depan
Lobi
Lobi

Sesuai namanya, hotel GreenHost ini benar-benar green, hijauuuuuu di mana-mana. Tampak depannya dihiasi dengan tanaman rambat dan pot-pot kecil, jadi gampang dibedakan dari bangunan sekitarnya. Hotel ini nylempit di jalan Prawirotaman 2 No. 629. Kalau dilihat di Google Map, nama jalannya Jl Gerilya, satu blok dari jalan Prawirotaman dan Jl Tirtodipuran. Hotel ini juga berada di jalan yang sama dengan hotel Gallery Prawirotaman yang lebih besar dan sudah lebih populer.

Sebelum menginap, saya sudah mengintip website mereka. Desain kamarnya bisa kita pilih, tentu sesuai persediaan ya. Saya memilih kamar Studio Kita 1, dengan dinding plesteran tanpa cat dan dekor dari benda-benda daur ulang. Kami pesan dua kamar, tapi tidak ada kamar connecting-nya, jadi kamar saya dan kamar anak-anak sebelah-sebelahan. Kenapa saya pesan dua kamar? Karena nganu, biar nggak berdesak-desakan, Big A kan sudah besar πŸ™‚ Dan toh pesan dua kamar harganya gak mahal. Kalau untuk keluarga dengan anak 1, cukup pesan 1 kamar saja.

Little A, cousin K, and Big A

Cek in cepat dan efisien. Kami langsung diberi dua kunci untuk dua kamar di lantai 3. Kamar yang kami dapatkan persis sama dengan foto yang saya lihat di website. Saya suka desainnya yang unik. Lantainya dari kayu dan dindingnya cukup plesteran saja, tanpa cat. Kasurnya cukup nyaman dan luas untuk kami berdua. Lha iya wong anak-anak kami suruh tidur di kamar mereka sendiri :)) Dari jendela kacanya yang lebar dari lantai sampai atap, kami bisa mengintip rumah-rumah kampung tetangga sebelah. Di area luar, di bawah jendela-jendela ini ditanami sereh. Hijau yang menyejukkan mata. 

Kamar mandinya cukup luas dengan dinding kaca, jadi bisa diintip dari kamar. Tapi kalau nggak mau diintip ada kordennya kok πŸ˜‰ Toiletries-nya saya suka, terutama sabun serehnya. Sayangnya pas di kamar saya pasta giginya nggak ada, dan sikat giginya hanya satu. Mungkin terlewat ya housekeeping-nya. Tisunya juga habis. Waktu itu ada masalah dengan flush toilet-nya, tapi segera diperbaiki oleh petugas begitu kami menelepon resepsionis. Oh, ya, lantai kamar mandinya lumayan licin karena dari tegel biasa.

TV di kamar saya juga bermasalah, ada suara mbrebet-nya gitu. Lengkap deh seirama dengan suara karburator AC yang cukup kencang. Tapi di kamar anak-anak TV-nya lancar. Sayangnya channel-nya nggak lengkap, hanya ada HBO Hits, Fox Sport, Disney Junior, Nat Geo People dan Animal Planet. Ukuran lengkap bagi saya sih ada channel Disney (bukan junior) dan Nickelodeon biar anak-anak anteng πŸ˜€


Wifi di lantai 3 juga lemah. Ini yang bikin bete Si Ayah karena harus mengerjakan PR. Akhirnya dia ke bawah. Untungnya di bawah wifi-nya lumayan kenceng. Standar kepuasan wifi kami, selemah-lemahnya sama lah ya dengan kecepatan internet di rumah. Kalau enggak, Si Ayah bakalan cranky :p
 
Kami menginap di sini pas bulan puasa, jadinya tidak sempat mencoba kolam renangnya. Dari segi desain, kolam ini cukup bagus, terletak di tengah hotel, jadi semua kamar bisa mendapat view ke kolam renang. Kolam menyatu dengan lobi depan, plus dekorasi unik yang instagrammable. Tapi kalau dari segi kepraktisan, agak gimana gitu kalau berenang di sebelah restoran tanpa pembatas yang jelas. Gak nyaman kan kalau berenang dilihatin orang-orang yang sedang makan? Solusinya mungkin berenang bukan saat jam makan.

Di bulan puasa, hotel ini menyediakan makan sahur sebagai pengganti sarapan. Menunya sederhana, nasi goreng, mi goreng, ca sawi, tahu, ayam goreng, kerupuk, roti putih dan roti gandum, mentega dan selai, sereal dan minumannya biasa teh, kopi dan air putih. Sayangnya tidak tersedia pilihan buah potong segar. Adanya hanya jeruk dan salak. Saya agak kecewa karena setiap sahur kami selalu makan buah segar. Saya nggak tahu menu sahur ini sama atau tidak dengan menu sarapan. Ketika kami makan sahur memang tamunya nggak banyak, hanya ada beberapa keluarga. 

Peta lokasi hotel Greenhost. Klik untuk memperbesar.

Bagian hotel yang paling keren adalah rooftop-nya. Hotel ini menggunakan bagian atap untuk bertanam sayuran secara hidroponik. Jadi kita bisa melihat selada, sawi, bokchoy, dan herba segar yang ditanam di sana. Nggak cuma ngelihat sih, rooftop ini terutama untuk selfie-selfie πŸ˜€ Di depan kamar hotel juga ada kangkung yang ditanam di pipa-pipa pralon yang mengelilingi hotel. Duh, kalau lihat yang segar-segar seperti ini rasanya pengen nyemil.

Lokasi hotel ini juga sangat strategis, di daerah Prawirotaman yang lebih terkenal sebagai kampung bule. Di sini banyak pilihan restoran yang nge-hits, antara lain Via Via, Nanamia Pizzeria, dan Warung Bu Ageng milik seniman Butet Kertaredjasa. Kita juga bisa mampir di toko Cokelat Monggo untuk membeli oleh-oleh yang letaknya persis di depan Warung Bu Ageng. Untuk review tempat-tempat makan, terutama di Jogja, cus langsung ke blog Diladol si food blogger: kokidol.blogspot.co.id. Jangan lupa follow instagram-nya juga di instagram.com/diladol. Kalau memang main di daerah sini, sempatkan untuk mampir ke Ark Gallerie di jalan Suryodiningratan 36A. Kalaupun nggak begitu ngerti seni, minimal bisa foto di tangga Ark untuk update instagram πŸ˜‰ 

Daerah Prawirotaman dan sekitarnya ini bisa dijelajahi dengan naik becak, tinggal manggil tukang becak yang nongkrong di depan hotel. Tarifnya sekitar 15-20 ribu untuk jarak dekat.

Dari hotel menuju stasiun Tugu, kita bisa naik taksi, minta ditelponkan resepsionis. Sayangnya taksi di Jogja tidak sebagus di Surabaya, kadang dapat sopir dan mobil yang bau rokok, kadang ada sopir yang nggak mau pakai argo. Waktu itu kami naik taksi Sadewa, dengan argo, dari hotel sampai ke Tugu cukup bayar 25 ribu.

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Review: Hotel Rendezvous Singapura

Ketika diberitahu Singapore Tourism Board (STB) bahwa saya akan menginap di Rendezvous Hotel, saya langsung cek website dan review hotel ini di Tripadvisor. Langsung semangat banget melihat foto-foto lobi dan lounge hotel yang nyeni, yang diunggah para pejalan.

Lokasi hotel berbintang empat ini di Bras Basah Rd, di kawasan seni dan sejarah (art and history precinct). Buat pecinta seni dan sejarah, cocok banget kalau memilih hotel ini karena tinggal jalan kaki ke Singapore Art Museum dan National Museum of Singapore. Tapi kalau pun mau ke mana-mana juga dekat kok, tinggal jalan kaki ke stasiun MRT Bras Basah (jalur oranye) atau stasiun MRT Dhoby Ghaut (jalur oranye, ungu dan merah). Halte bis juga ada di depan dan samping hotel. 

Lokasi Hotel Rendezvous. Klik untuk memperbesar.

Saya cek in ke hotel ini setelah capek jalan-jalan seharian di National Gallery Singapore (akan dibuka November 2015) dan Orchard Road (tahu dong buat apa ke sini :p). Untungnya pelayanan mereka cepat dan ramah, jadi capeknya langsung ilang. Pada awalnya saya mendapat kamar twin (dua kasur single) karena kamar double bed tidak tersedia. Tapi esoknya kamar saya bisa diganti yang baru, dengan koper saya sudah nongkrong manis di kamar.

Kamarnya sangat bersih dan rapi, dengan interior minimalis yang saya suka. Kasur dan bantalnya empuk dan nyaman. AC-nya pas, bisa diganti-ganti sesuka hati. Ada TV kabel dengan banyak saluran termasuk TVRI (bahasa Indonesia dong). Sayangnya nggak ada saluran anak-anak seperti Nickelodeon atau Disney channel. Tapi… koneksi internetnya cukup cepat, termasuk di dalam kamar. Wifi-nya gratis dong. Jadi anak-anak tetap bisa streaming apapun yang mereka suka di hp atau tablet.

Di kamar standar ada mini bar alias kulkas mini berisi minuman dan camilan, juga disediakan ketel listrik pemanas air untuk membuat kopi dan teh. Kopinya nescafe, tehnya lipton, standar lah. Oh ya, buat teman-teman yang belum pernah nginep di hotel, minuman dan camilan yang ada di kulkas mini ini nggak gratis ya. Kalau kalian ngambil, nanti akan ditagih ketika cek out. Tapi biasanya ada dua botol air mineral gratis, pilih yang ada tulisannya: with compliment. Kalau ragu air ini bayar apa gratis, cek di daftar harga mini bar, kalau tidak tertera harganya di situ berarti gratis. 

Toilet dan kamar mandi hotel ini cukup luas dan bersih, meski tidak ada bath tubnya. Pancuran air panasnya manteb banget, membuat saya rajin mandi dan betah berlama-lama di sini. Apalagi sabun mandi dan shampoonya enak banget baunya. Semua langsung saya angkut ke tas begitu cek out :p *Emak-Emak nggak mau rugi*

Sayang banget ya saya cuma tidur sendirian di kamar sebagus ini, hiks.

Pagi hari kedua di Singapura, saya punya kesempatan berenang di kolam renang yang bergaya Bali. Pantesan kok merasa seperti di rumah πŸ™‚ Kolam renangnya sepi, cuma saya sendiri yang berenang sepagi itu, jadi enak banget seperti punya kolam pribadi. Selain kolam renang, ada juga kolam jacuzzi di sebelahnya, tapi saya nggak coba. Di level yang sama juga ada gym. Sebenarnya saya sudah berencana untuk nyobain gym, sudah bawa kostum olahraga, etapi malah lupa bawa sepatu! Terlalu kepedean packing tanpa list. Hari berikutnya pengen berenang lagi sudah nggak sanggup karena kecapekan jalan-jalan di Sentosa Island.

Buffet sarapan yang disediakan hotel ini cukup lengkap, dengan menu Western dan Asia. Mumpung bisa sarapan gratis di hotel, saya makan dua piring dong, hehehe. Tapi karena di rumah sudah biasa minum jus sayuran untuk sarapan pagi, saya pilihnya juga makanan yang sehat-sehat saja. Roti gandum utuh panggang, omelet dengan jamur dan paprika dan salad sayuran. Nggak ketinggalan buah potongnya. Menu vegetarian ini jelas sehat dan halal. Tapi kalau mau menu yang berat-berat bisa coba nasi lemak, bubur ikan dan dimsum.

Yang saya senang, di restoran hotel ini ada mesin kopi untuk membuat espresso atau latte. Lumayanlah, lebih enak daripada kopi sachet di kamar πŸ˜€ Di hari terakhir, saya tidak sempat sarapan di hotel karena mengejar penerbangan pagi. Pelayan hotel membungkuskan saya beberapa pastry dan sebotol jus jeruk. Alhamdulillah bisa buat sarapan sebelum boarding di Changi. Croissant-nya enak, yum!

“Make me one with everything, please.”

Tahun 2015 ini Singapura merayakan HUT Emas atau Golden Jubilee. Banyak sekali promo hotel atau belanja yang ditawarkan untuk memperingati #SG50. Untuk hotel Rendezvous ini ada promo menginap 2 malam, gratis malam ketiga. Lumayan banget kan bisa menghemat anggaran penginapan. Selain itu juga ada promo Great Singapore Sale yang bisa dicek di website mereka. Hotel Rendezvous ini termasuk dalam grup Far East Hospitality yang juga memiliki Hotel Village di Bugis yang populer untuk pengunjung dari Indonesia.

Jangan lupa, sebelum ke Singapura, cek website resmi Badan Pariwisata Singapura di sini (ada bahasa Indonesianya juga), untuk melihat-lihat program promo dan diskon penginapan dan belanja.

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Disclaimer:
This trip was paid by Singapore Tourism Board.  
But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

Memesan Penginapan, Paling Murah Pakai Apa?

Little A di Kids Suite Hard Rock Hotel Bali

Mencari, membandingkan dan memesan penginapan secara daring (online) sekarang ini mudah banget. Banyak situs pemesanan hotel yang mudah digunakan, dan menerima pembayaran dari berbagai macam cara. Lalu, bagaimana cara memilih website atau apps booking agar dapat harga yang paling murah? Golden rule-nya adalah: selalu cek toko sebelah. Saya sendiri minimal membandingkan tiga website pemesanan penginapan, misalnya Agoda, Booking dot com dan website resmi hotel tersebut. Jangan pernah terjebak dengan diskon besar atau potongan harga. Bisa jadi harga sudah dinaikkan terlebih dahulu sebelum didiskon. Jangan fanatik dengan satu booking engine tertentu, selalu cek toko sebelah!

Setiap website booking engine selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Agoda mungkin harganya paling murah untuk hotel-hotel di Asia, tapi di Australia, seringkali Wotif yang harganya lebih juara. Venere bisa jadi tarifnya paling murah di Eropa, tapi mungkin kita perlu memesan lewat Booking.com supaya mudah membatalkan kalau ada perubahan rencana. Berikut ulasan booking engine dari pengalaman The Emak.

1. HotelsCombined
Ini website andalan The Emak untuk membandingkan harga suatu hotel dari berbagai situs pemesanan hotel terkenal seperti Agoda, Venere, Hotels, Booking dot com dan lain-lain. Kelebihannya, website ini sudah langsung membandingkan harga beserta pajak yang  harus kita bayarkan, juga menghitung total harga yang harus kita keluarkan, sesuai berapa malam kita menginap. Dari website ini kelihatan booking engine mana yang menawarkan harga paling murah untuk hotel tersebut di tanggal tertentu. Kalau kita klik harga termurah, kita langsung diantar ke website booking engine karena HotelsCombined hanya bertugas membandingkan harga. Jangan khawatir, layanan ini gratis kok.


2. Website Hotel atau Telepon Langsung 
Kadang website resmi hotel menawarkan harga yang lebih murah daripada booking engine, terutama kalau mereka sedang punya promo. Saya selalu cek website resmi penginapan sebelum mengambil keputusan mau memesan lewat mana. Untuk beberapa hotel kecil di Indonesia, kadang lebih mudah memesan via telepon, seringkali tidak diperlukan deposit apapun. Seperti ketika saya membawa anak-anak keliling Jawa naik kereta, beberapa hotel saya pesan via telepon. Ketika saya memesan Hard Rock Hotel di Bali, harga terendah saya temukan di website resmi mereka.

3. Agoda
Website Agoda adalah andalan saya untuk booking hotel di wilayah Asia. Harganya memang lebih murah daripada booking engine lainnya untuk wilayah Asia. Untuk member Agoda, ada rabat berbentuk poin yang nilainya sekitar 5% dari nilai pesanan hotel kita. Setelah mencapai jumlah tertentu, poin ini bisa kita tukarkan untuk mendapatkan potongan harga atau bahkan menginap gratis. Lumayan kan buat staycation. Perlu dicatat, harga Agoda di pencarian awal belum termasuk pajak, jadi di akhir pemesanan, ada tambahan biaya yang harus kita bayarkan. Pemesanan Agoda ini bisa dibayar melalui kartu kredit atau paypal. Nggak punya keduanya? Boleh pesan via The Emak melalui DM twitter (@travelingprecil) atau FB messenger. Harga sama kok, dan biasanya nggak masalah pesanannya dibayarkan dengan kartu kredit orang lain asal nama yang cek in sama dengan nama di voucher hotel. Mention @travelingprecil ya kalau perlu bantuan booking via Agoda, nanti bayarnya via transfer ke rekening bank The Emak.

4. Booking.com
Website ini tampilannya simpel dan mudah digunakan. Salah satu keunggulan Booking dot com adalah fitur ‘pembatalan gratis’. Fitur ini penting bagi traveler yang itinerary-nya belum fixed. Saya menggunakan pemesanan hotel di booking dot com untuk melengkapi syarat visa Schengen. Waktu itu itinerary kami di Eropa belum final, sementara dokumen untuk visa harus segera diajukan. AKhirnya saya memesan beberapa penginapan melalui Booking dot com dengan fitur ‘pay later, free cancelation‘ atau bayar nanti, gratis pembatalan. Setelah visa saya dapatkan, dan ternyata itinerary kami berubah, pesanan hotel saya batalkan. Proses pembatalan mudah dan gratis melalui website mereka.

5. Wotif
Wotif adalah website andalan saya untuk mencari penginapan di Australia dan New Zealand. Hampir semua penginapan di wilayah Oceania, mulai dari yang mewah sampai yang budget seperti motel atau hostel ada di wotif. Tarif di wotif untuk wilayah ini relatif lebih murah daripada di booking engine lain, meskipun ada biaya pemesanan sekitar $4.

6. Accor & IHG
Accor dan Intercontinental Hotel Group (IHG) adalah kelompok hotel waralaba (chain hotel) langganan saya. Alasannya sederhana sih, hotel Novotel dari Accor dan hotel Holiday Inn dari IHG bisa mengakomodasi dua anak dalam satu kamar tanpa harus membayar ekstra bed. Novotel menyediakan dua double bed dalam satu kamar atau satu queen bed dan satu sofabed. Untuk dua dewasa dan dua anak sampai usia 16 tahun, tidak perlu memesan kamar kedua atau ekstra bed. Kami pernah menginap di Novotel Canberra, Sydney Olympic Park, Novotel Clarke Quay Singapura dan Novotel Brussel Off Grand Place. Holiday Inn juga menyediakan dua double bed dan malah kasur mereka lebih lebar daripada Novotel. Kalau sering menginap di hotel-hotel yang termasuk dalam grup Accor atau IHG, sebaiknya mendaftar keanggotaan mereka agar bisa mendapatkan poin setiap kali menginap. Poin tersebut nanti bisa ditukar dengan bermalam gratis seperti pengalaman kami menginap di Holiday Inn Penang.
  
7. Hotel Quickly
Hotel Quickly adalah app yang bisa dipasang di hp android maupun iOS. App ini dirancang khusus untuk pemesanan hotel mendadak, malam ini atau besok. Tarif hotel yang ditawarkan cukup murah dengan promo last minute booking. Pasang app ini di hp untuk memudahkan sewaktu-waktu perlu pesan hotel mendadak di suatu kota, atau cuma ingin staycation seperti yang pernah kami lakukan di Swiss Belinn Surabaya. Pengen dapat diskon Rp 130.000? Unduh app Hotel Quickly di iTunes Store atau Google Play dan redeem (tukarkan) kode promo dari The Emak: AKUMA72. 



8. AirBnb 
Airbnb adalah website pemesanan bed & breakfast, atau tempat menginap yang disediakan perorangan, bukan hotel atau motel. Memesan melalui airbnb menjadi alternatif ketika hotel di suatu kota tarifnya sangat mahal. Biasanya tarif airbnb lebih murah daripada hotel. Kadang pemilik menyewakan satu kamar kosong yang ada di apartemennya atau rumahnya, atau seluruh apartemennya. Tinggal di airbnb juga terasa seperti tinggal di rumah warga lokal, tentu pengalamannya berbeda dari tinggal di hotel biasa.

Kami pernah memesan apartemen di Paris melalui airbnb. Caranya bisa dilihat di tautan ini. Untuk liburan di Ubud bulan Oktober nanti, saya juga sudah memesan vila melalui airbnb. Pengen dapat voucher airbnb $25 (sekitar Rp 333.000)? Daftar airbnb melalui link ini ya: www.airbnb.com/c/akumalasari. Lumayan banget kan, voucher segitu bisa buat menginap gratis semalam di Jogja atau Solo lho πŸ™‚

9. HostelWorld
Ini website andalan untuk mencari dan memesan hostel. Saya pernah menggunakannya untuk memesan hostel di Boat Quay Singapura. Ternyata anak-anak boleh kok menginap di hostel, asal memesan kamar privat, bukan kamar asrama. Enaknya booking di hostelworld, kita hanya perlu membayar deposit 10% dari harga kamar, sisanya bisa dibayar ketika cek in. Misalnya tarif satu malam di kamar asrama hostel di Singapura sebesar Rp 300 ribu, cukup bayar Rp 30 ribu untuk booking.



 
10. Website Lokal: Tiket, Traveloka, Nusatrip
Saya belum pernah sih memesan hotel via website lokal, tapi sudah sering menggunakan booking engine tersebut di atas untuk membeli tiket pesawat. Keuntungan dari memesan via booking engine lokal adalah pembayarannya bisa melalui transfer bank atau internet banking, tidak harus punya kartu kredit.

Gimana, sudah siap berburu penginapan untuk liburan? Jangan lupa memanfaatkan poin, voucher, diskon, promo yang ada. Gakpapa dibilang Emak-Emak banget, yang penting sekeluarga bisa sering-sering piknik :p

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Staycation Surabaya: Hotel Swiss Belinn Manyar

Little A jumping on the bed

Senin pagi, ketika kami pulang dari berakhir pekan di Malang, kami mendapati jalan di depan rumah kami sudah dipasangi terop. Rupanya tetangga mau punya hajatan. Acaranya mulai jam 6 sore. Kami tahunya juga dari spanduk yang terpasang karena si tetangga tidak bilang permisi sama sekali ke kami. Yo wes, nanti tinggal pergi aja sorenya biar nggak pusing kena bising. E ternyata cek sound sudah dimulai jam 9 pagi, dengan suara dentuman speaker raksasa yang menggetarkan jendela rumah kami. Little A yang kebetulan libur karena ada UN SD sampai takut dan teriak-teriak. Waduh, kalau begini caranya harus keluar rumah nih, sebelum gendang telinga kami meledak. Saya dengan cepat mengais-ngais promo/kupon/poin yang saya punya untuk booking hotel. Mendadak Staycation!

Saya ingat punya voucher dari apps booking hotel di HOTELQUICKLY. Apps yang bisa dipasang di iOS maupun Android ini memang khusus untuk pemesanan hotel yang mendadak, untuk malam ini atau besok malam. Jadinya harga mereka bisa lebih murah, tentu saya sudah cek di toko sebelah πŸ˜€ Tambah diskon lagi. Lumayanlah, saya tinggal bayar harga setelah diskon dengan saldo Paypal hasil jualan voucher hadiah airbnb. Emak-emak nggak mau rugi banget! Booking via HotelQuickly prosesnya gampang, tampilan apps-nya pun sederhana dan menarik. Cuma ada beberapa pilihan hotel yang tersedia, jadi lebih cepat memutuskan. Saya pilih staycation di hotel yang cukup dekat dengan rumah: Swiss Belinn Manyar.

Oh, iya, yang pengen dapat voucher hotel juga sebesar Rp 170.000, bisa langsung pasang apps HotelQuickly di handphone dan masukkan promo code dari The Emak ya: AKUMA72. Lumayan kan diskon 170 ribu.

Kami naik taksi, dan nggak sampai setengah jam kemudian sudah sampai di hotel Swiss Belinn di Jalan Kertajaya (Manyar Kertoarjo). Little A seneng banget diajak nginep di hotel. Tidak lupa saya packing bikini Little A untuk berenang di sore hari. Untuk baju ganti Si Ayah dan Big A, saya ambil sembarangan saja karena terburu-buru. Mereka akan menyusul nanti sore sepulang kerja dan sekolah. Saya memberi tahu Si Ayah juga setelah mendapat kunci kamar. Biar dia pasrah manut saja, hahaha.

Meski cek in resminya baru bisa jam 2 siang, kami sudah boleh masuk kamar jam 11 siang, karena sudah ada kamar yang siap. Kata Mbak Resepsionis, untuk kamar non-smoking tinggal yang dua single bed, tapi bisa didempetkan. Ya udah, daripada kamar bau asap rokok kan? Cek in dengan pesanan dari HotelQuickly juga gampang kok, saya tinggal berikan print bookingan saya yang dikirim via email. Cukup perlihatkan KTP. Hotel ini tidak meminta uang deposit.


Kami mendapat kamar di lantai 11, paling tinggi. Lantai ini non-smoking floor, jadi tidak tercium asap rokok sama sekali. Alhamdulillah, kami alergi asap rokok je, bisa bengek nanti kalau ada asap sedikit saja. Kamarnya cukup luas, bersih, dengan dekorasi minimalis modern. Single bed-nya cukup lebar: 120 cm, jadi buat keluarga kami yang berukuran mini ini bisa cukup untuk berdua. Malah dua kasur didempetkan ini lebih nyaman buat kami berempat daripada berdesakan di satu kasur queen bed. Kasurnya King Koil, sudah jaminan mutu dan terasa sangat nyaman. Little A juga puas lompat-lompat di kasur πŸ™‚

Kamar mandi dan toilet standar, tapi bersih. Tidak ada bathtub, hanya mandi pancuran. Amenities-nya juga standar: sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi. Handuk bersih, tebal dan lembut. Ada safety deposit box untuk menyimpan barnag-barang berharga. Ada ketel listrik untuk menjerang air. Sayangnya teh dan kopinya minimalis banget, hanya ada satu teh celup dan dua sachet kopi plus creamer dan gula.

Fasilitas yang tidak ada di kamar ini adalah mini bar, jadi kami tidak bisa menyimpan makanan di kulkas mini. Tapi tidak begitu penting sih karena hanya menginap semalam. Yang penting, fasilitas TV kabelnya lengkap, ada chanel untuk anak-anak. Little A bisa anteng nonton Nickelodeon sementara Emaknya istirahat.

Untuk staycation kali ini, saya pilih hotel yang ada kolam renangnya, biar bisa berenang, nggak cuma numpang nginep doang. Swiss Belinn punya kolam renang di lantai lima, tapi tidak ada fasilitas gym. Setelah Si Ayah dan Big A menyusul ke hotel sorenya, kami berenang sampai matahari tenggelam. Dari kolam renang, kami bisa melihat apartemen yang belum jadi di sebelah rumah kami, dan juga bisa melihat atap sekolah Big A dan Little A. Haha, memang dekat sih hotelnya.

Lokasi Swiss Belinn cukup strategis. Di sebelah-sebelahnya banyak pilihan restoran, jadi kalau mau makan malam di luar hotel tinggal jalan. Restoran di dekat hotel dalam jarak jalan kaki 5-15 menit antara lain: KFC, Zenbu, Little Chicken, Steak Hut, Ayam Bakar Primarasa, Pondok Jenggolo, Restaurant Pantai Seafood dan Layar Seafood. Kami pilih makan di Primarasa, Si Ayah jelas lebih doyan masakan tradisional.

Di ujung kanan terlihat apartemen di sebelah rumah kami.

Bufet sarapan yang dihidangkan hotel cukup beragam, ala Barat dan ala Indonesia. Mulai dari roti, pastry, salad, nasi goreng, mie goreng, pecel, soto, tahu telor, sampai jajanan angkringan. Kami tentu pilih yang sehat-sehat dong. Si Ayah aja sarapan salad (ronde pertama sih, hehe). Duo lidah bule sarapan roti oles mentega. Sementara The Emak makan pecel, tanpa nasi!

Buah dan minuman yang disediakan juga beragam. Ada Mas-Mas yang menawarkan jamu beras kencur, kunir asam dan sinom. Ini rasanya seger banget. Tapi sayangnya, kopinya nggak enak. Nggak tahu deh, negeri penghasil kopi tapi jarang ada kopi enak terhidang di hotel. Missing link-nya di mana ya?

Kami tidak bisa berlama-lama sarapan karena Big A dan Si Ayah harus kembali ke sekolah. Setelah mereka pergi, saya dan Little A melanjutkan sarapan dengan makan banyak buah dan sayur. Little A habis semangkuk brokoli rebus!

Oh, iya, sebenarnya jatah sarapan hanya untuk dua orang per kamar. Karena anak-anak sudah besar, saya harus tambah ekstra. Biaya sarapan di Swiss Belinn Rp 110.000 per orang, sudah termasuk pajak. Untuk anak-anak antara 5-12 tahun bayar 50%. Kalau kalian booking hotel di HotelQuickly, cek dulu apakah tarif sudah termasuk sarapan apa belum. Karena ada beberapa hotel yang sudah termasuk sarapan, ada yang belum.

Swiss Belinn Manyar hotel yang relatif baru, jadi interior dan dekorasinya masih tampak fresh. Hotel ini juga dekat (15 menit naik taksi) dengan ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, jadi bisa jadi alternatif kalau ada kerabat yang wisuda atau menghadiri pernikahan di gedung ITS. Tapi nanti kalau apartemen kami di Pakuwon City sudah jadi, mending nginep di apartemen kami aja ya kalau liburan di Surabaya, bakalan nyaman untuk sekeluarga.

~ The Emak

Baca juga: 
Staycation in Surabaya: Hotel 88 Embong Kenongo

Menyusuri Sungai Sekonyer dengan Klotok

Klotok Borneo Lestari

Kami sudah pernah mencoba berbagai macam penginapan, mulai dari menginap di tenda, kabin, apartemen, motel, hostel, suite hotel bintang lima, campervan sampai terombang-ambing di kabin kapal feri menyeberangi Tasmania. Menginap dua malam di perahu klotok (atau kelotok) adalah pengalaman baru yang kami nanti-nantikan. Ternyata asyik kok, goyangnya nggak seberapa dan gak bikin mabuk. Malah berasa naik kapal pesiar πŸ˜€

Menginap di klotok adalah standar akomodasi ketika kita mengunjungi Tanjung Puting National Park. Di sini memang ada satu hotel dan beberapa homestay, tapi pengalaman yang lebih otentik adalah dengan Live On Board (LOB) di river house boat alias klotok ini.

Klotok adalah perahu tradisional Kalimantan yang dibuat dari kayu Ulin. Ukurannya bervariasi. Diberi nama klotok karena tadinya perahu ini menggunakan mesin bersuara keras, terdengar seperti “klotok klotok klotok”. Mesin kapal yang sekarang sudah lebih halus, tapi nama klotok masih menempel. Klotok kami ukuran kecil, sekitar 3 x 12 m, muat untuk berdua sampai berempat. Berenam mungkin cukup, tapi ruang geraknya terbatas. Klotok ini terdiri atas dua lantai. Lantai di bawah adalah untuk servis: tempat tidur kru, ruang kemudi, dapur dan kamar mandi. Sementara lantai atas untuk turis, terdiri dari lounge yang bisa disulap jadi tempat tidur di malam hari, ruang makan plus wastafel dan viewing deck di depan dan belakang.

Dari bandara Iskandar di Pangkalan Bun, kami naik taksi sekitar 30 menit sampai pelabuhan Kumai. Di sana, klotok kami sudah menunggu. Untuk sampai ke klotok, kami menyeberangi (melompati) klotok-klotok lain. Big A senang bagian lompat-lompat ini, sok pede tanpa dipegangi. Seru!

Begitu sampai di klotok, kami berkenalan dengan kru yang akan mendampingi kami selama 3 hari 2 malam. Ada Pak Syahrizal sebagai kapten kapal, Pak Pi’i sebagai pemandu (tour guide), Bu Atik sebagai koki dan Heri sebagai asisten. Terasa mewah banget bagi kami punya 4 asisten sekaligus, soalnya di rumah kami nggak ada ART, apalagi sopir.

Pelabuhan Kumai

Kondisi klotok kami cukup bersih dan nyaman, meski perabotnya sederhana. Selama menyusuri sungai Sekonyer, kami leyeh-leyeh di kasur tipis yang digelar di lounge. Angin yang membelai lembut membuat kami jadi ngantuk dan sukses tidur siang bergantian, dengan pose masing-masing :))

Menjelang malam, Kapten kapal akan mencarikan tempat yang nyaman untuk menambatkan kapal di pinggir sungai. Kami parkir di sebelah pohon yang penuh dengan kunang-kunang. Setelah makan malam, kru akan menyiapkan tempat tidur kami. Lounge disulap menjadi dua ‘kamar tidur’ lengkap dengan kelambu. Kami bisa tidur dengan nyenyak karena suasana malam sangat tenang. Sayangnya saya lupa membawa selimut (sarung Bali serbaguna yang biasanya saya bawa). Alhasil kami berebut sarung Si Ayah untuk selimutan. Mungkin bagi bule-bule, udara malam di Pangkalan Bun tidak dingin sama sekali, beda dengan yang kami rasakan. Selimut tipis sudah cukup kok. Nyamuk nakal tidak sampai mengganggu kami karena ada kelambu dan kami juga mengoleskan roll on anti nyamuk.

Malamnya tidur ditemani kerlip kunang-kunang, paginya kami dibangunkan oleh ocehan burung-burung.

Kamar mandi klotok cukup bersih dan tidak bau. Ada toilet duduk, tapi tanpa flush, jadi kami harus mengguyur toilet dengan menggunakan gayung. Air yang dipakai untuk mandi adalah air tanah (sungai kecil) di daratan, yang diambil di Pondok Tanggui dan air merah (air akar) di Camp Leakey. Sementara air untuk toilet adalah air sungai Sekonyer. Airnya cukup segar untuk mandi. Saya juga berhasil memaksa precils untuk mandi, setelah badan lengket oleh keringat gara-gara trekking. 

Dari dek kapal, depan dan belakang, kami bisa duduk santai menikmati pemandangan. Awalnya adalah vegetasi pohon nipah, kemudian berganti dengan daun-daun pandan hutan dan akhirnya vegetasi pohon hutan hujan tropis, dengan air sungai sebening air teh. Little A sempat menggambar dan membuat cerita tentang perjalanan kami. Ketika memasuki kawasan taman nasional, kami berkali-kali melihat hewan liar di alam, seperti monyet, bekantan, lutung dan orang utan. Kupu-kupu cantik tak terhitung banyaknya berseliweran di perahu kami.


Bagian yang paling mengasyikkan (setidaknya buat The Emak) dari jalan-jalan kali ini adalah: makanannya. Asyik karena nggak perlu masak, apalagi cuci piring, hehehe. Semua telah terhidang tepat saat jam makan. Makanannya enak karena bahannya segar dari alam dan dimasak di tempat. Menunya adalah olahan ikan dengan nasi, sayuran dan buah-buahan. Untuk sarapan pagi hari pertama kami dibuatkan pancake pisang (endeeees!) dan juga disediakan roti dengan berbagai macam olesan. Sarapan berikutnya kami dibikinkan nasi goreng. Baru kali ini juga saya ketemu yang namanya buah cempedak, yang memang banyak ditemukan di sana. Rasanya enak banget, perpaduan antara manisnya nangka dan creamy-nya durian. Baunya harum, tapi tidak semenusuk bau durian.
Untuk makanan ini, saya tidak minta macam-macam. Saya hanya bilang agar makanannya dibuat tidak pedas untuk anak-anak, tapi tetap disediakan sambal untuk Si Ayah. 

Selain makan berat, kami juga selalu diberi camilan dan soft drink atau jus dingin setiap kali selesai trekking. Duh, dimanja sekali pokoknya. Di kulkas rumah kami tidak pernah ada minuman bersoda, jadi Precils nyengir-nyengir bahagia boleh minum coke dan sprite selama liburan.

Ketika saya memesan paket liburan ini ke Kak Indra @bpborneo, saya belum tahu akan dapat klotok yang mana. Memang kami dikirimi contoh perahu kelotok dan menu makanan, tapi belum pasti dapat klotok yang mana. Dalam perjalanan ke Tanjung Puting NP, kami berbarengan dengan klotok-klotok lain beraneka rupa. Seperti biasa, klotok tetangga tampak lebih hijau, hahaha. Ada satu klotok tetangga yang mewah banget interiornya, dengan kasur spring bed dan mandi air panas. Bulenya yang naik cakep pula :p Tapi setelah kami pulang dan saya cek tarifnya, memang bukan kelas kami, hehe.

Saya merasa beruntung mendapat kru yang baik di klotok ini. Pak Pi’i, pemandu kami tadinya adalah koki, tapi kemudian berusaha belajar dan mengikuti kursus agar bisa menjadi pemandu. Dia belajar tentang taman nasional, margasatwa, konservasi orang utan dan juga bahasa Inggris dari pelatihan yang diadakan departemen pariwisata. Pak Pi’i ini senang dengan anak-anak dan bisa akrab dengan Little A. Ketika Little A capek trekking, Pak Pi’i mau menggendongnya di pundak. Untung badannya besar. Pak Pi’i juga yang selalu membawakan botol-botol air minum kami. Manja banget ya, dasar turis Indonesia :)) Di hari terakhir sebelum tugasnya selesai, dia sempat memberikan pelajaran sulap untuk Little A. Bonus!

Untuk liburan ke Taman Nasional Tanjung Puting ini saya memesan paket 3 hari 2 malam, yang termasuk antar jemput bandara, sewa klotok, bahan bakar, gaji kru, makan dan minum, dan tiket masuk ke taman nasional. Tarif 3D/2N untuk dewasa adalah Rp 1.750.000 per orang, sementara untuk anak-anak Rp 1.500.000 per orang. Total Rp 6,5 juta all in. Tinggal nambah tiket pesawat dari kota masing-masing ke Pangkalan Bun.

Yang nggak sanggup bermalam di perahu, bisa menginap di Rimba Ecolodge atau homestay yang ada di sana. Tapi dijamin, pengalamannya lebih seru kalau menginap di perahu, goyang-goyang kecilnya masih terasa sampai dua hari kemudian πŸ™‚

Klotok tetangga, pakai spring bed
Penginapan Rimba Eco Lodge
Pak Pi’i, pemandu kami
Pak Syahrizal (kapten) dan Bu Atik (koki)

~ The Emak

Baca juga: 
Orang Utan Trip With Kids: Itinerary & Budget

Review Hotel Melia Purosani Yogyakarta

View dari kamar No 552

Libur Idul Adha tahun ini, kami pengen staycation di Jogja bareng rombongan sirkus keluarga besar. Terus terang aja kami belum pernah menginap di hotel manapun di Jogja, lha wong punya rumah di dekat sini kok πŸ™‚ Mumpung punya voucher Agoda, sekali-sekali nyoba hotel di Yogyakarta.

Tadinya saya dan Diladol, adik saya tercintah pengen nyobain hotel-hotel baru di Jogja. Memang banyak banget hotel baru yang dibangun di Jogja dua tahun belakangan ini, seperti cendawan di musim hujan. Mulai dari hotel bintang tiga sampai bintang lima. Kali ini kami pengen hotel yang: 1) punya kolam renang untuk anak dan 2) sarapannya enak. Lokasi nggak masalah karena kami bawa mobil sendiri. Dari sini kami coret daftar hotel bintang 3 karena nggak ada kolam renangnya.

Hotel-hotel baru di Jogja yang masuk incaran kami adalah: The 101 Tugu (dekat Tugu Jogja, tentu), Grand Zuri (dekat stasiun Tugu), dan Grand Aston (Jl. Solo). Ada teman yang merekomendasikan Tentrem, hotel bintang lima baru yang terkenal punya tempat main (indoor play area) yang besar banget. Tapi saya kurang sreg sama hotel ini. Teman lain merekomendasikan Santika Premier (Jl. Sudirman) yang menu sarapan tradisionalnya paling top se-Jogja. Lokasi Santika juga gak jauh sih dari Tugu dan Malioboro, bisa naik becak.

Tapi akhirnya kami pilih Melia Purosani, dengan alasan ini hotel bintang lima yang tarifnya paling murah. Persis prinsip Si Ayah banget. Hotel bintang lima di ‘belakang’ Malioboro ini sudah berdiri sejak 1995. Zaman SMA dulu, sudah ratusan kali saya lewat tikungan depan hotel pinky ini dan hanya bisa memandang kagum πŸ˜€ Kami memesan hotel ini via Agoda, setelah membandingkan harga di Hotelscombined. Tarif Agoda memang paling murah, bahkan dibanding dengan memesan online dari website hotel. Lagipula, saya memang ingin memakai poin Agoda. Kami memesan 3 kamar dengan tarif Rp 730 ribu per kamar per malam, termasuk pajak dan sarapan.

Kami datang di hari Minggu jam 2 siang, tepat saat cek in dibuka. Nggak mau rugi dong. Pelayanan resepsionis cukup ramah, tapi proses cek in lumayan lama. Seminggu sebelum cek in, saya sudah mengirim email meminta connecting room dan satu baby cot (boks bayi). Jam dua siang, baru ada dua kamar yang siap, itu pun bukan connecting rooms. Ya sudah nggak papa. Kami diberi kamar di level yang tinggi agar tidak berisik dan menghadap ke kolam renang, sesuai permintaan saya di email.

Setelah mendapat kunci, precils langsung melesat ke kamar. They looooove hotels :p Little A langsung loncat-loncat di kasur, sebelum saya usir karena harus difoto dulu sebelum kusut, hehe. Saya cek kelengkapan kamar dan kamar mandi, semua bersih dan rapi jadi tidak perlu komplain.

Kamar yang saya dan duo precils tempati nomor 552, dengan pemandangan ke kolam renang. Kasurnya queen bed, cukuplah untuk tidur bertiga. Sayang sekali Si Ayah harus masuk kerja hari Senin, jadi tidak bisa ikut menginap di hotel. Tapi Si Ayah sempat mencoba kolam renangnya dengan Little A. Di pojok kamar ada 2 seater sofa, coffee table dan meja kerja. Kamar mandinya cukup besar dengan bak mandi (bathtub) dan pancuran (shower) terpisah. Wastafelnya kelihatan tua dan letih, minta direnovasi. Tapi secara umum cukup bersih.

Amenities di kamar mandi lengkap banget: sabun, shower gel, shampoo, kondisioner, sisir, kikir kuku, cukuran, body talc, body lotion, alat jahit, sikat gigi, pasta gigi, penggosok sepatu, shower cap bahkan deterjen. Di atas bak mandi juga ada tali jemuran yang bisa untuk jemur pakaian renang. Hotel juga menyediakan dua botol air mineral gratis. Cuma yang saya heran, botolnya kecil banget, nggak bakal cukup untuk seharian. Minibar menyediakan teh dan kopi gratis, dengan gula dan krimer. Ada hadiah kecil khusus kamar ini yaitu sandal batik yang bisa dipakai di rumah. Lumayan πŸ™‚

Kamar yang ditempati Bapak dan Ibu saya nomor 548, selisih satu kamar dengan kamar saya. Interiornya sama persis, hanya saja ada balkonnya. Di balkon ada dua kursi untuk duduk-duduk. Dari balkon bisa melihat pemandangan kolam renang dan sisi hotel bagian dalam. Kamar mandinya sama, televisinya juga sama. Kami senang karena chanel kabelnya lengkap, mau nonton apa saja bisa: berita, film, petualangan, tayangan anak, olahraga, musik, dan lain-lain. Bapak saya senang bisa nonton Nat Geo Wild seharian. Beliau sampai nanya apa bisa dipasang di rumah, hehe.
 
Sementara Ibu saya senang bisa mandi berendam. Beliau mengaku mandi berendam dua kali biar nggak rugi bayar hotelnya, hehe. Ketahuan kan prinsip ngiritisme The Emak menurun dari siapa? πŸ˜‰

View dari balkon kamar 548
View dari kamar 544
King bed di kamar 544
boks bayi gratis

Begitu selesai menaruh barang di kamar, kami langsung turun untuk berenang. Suasana kolam dan sekelilingnya sangat nyaman, cocok untuk bersantai. Sore itu cuma ada beberapa bule yang leyeh-leyeh di kursi malas. Little A langsung nyemplung dan senang banget bisa perosotan berkali-kali. Baby K yang hampir satu tahun usianya juga nyemplung berbekal pelampung leher. Tapi cuma bisa sebentar karena airnya dingin. Saya juga menyempatkan berenang beberapa kali putaran. Cuma agak susah juga karena bentuk kolamnya free form. Kolam seperti ini cuma cocok untuk main-main dan leisure swimming saja, bukan untuk olahraga serius.

Di sebelah kolam renang ada fasilitas bilas yang cukup bersih dan nyaman, dengan bilik pribadi dan pancuran air hangat. Kolam ini buka dari pukul 8 pagi sampai 8 malam.

Selesai berenang, kamar ketiga yang kami pesan siap. Kamar nomor 544 ini punya kasur ukuran king yang besar banget. Untuk tidur berempat pun cukup. Di kamar ini juga ada baby cot seperti yang sudah saya pesan. Kamar ini ditempati Diladol, Suami Siaga dan Baby K.

welcome drink: jus terong belanda

Ketika cek in kami diberi kupon welcome drink yang bisa ditukar dengan minuman di bar. Menu hari itu jus terong belanda yang ternyata enak, asem-asem seger gitu. Kami minum-minum di bar setelah makan malam di luar. Tadinya kami ingin mencoba Ayam Goreng Bu Tini, tapi karena sudah tutup, kami melipir ke Bebek Cak Koting di depan eks bioskop Mataram. Banyak pilihan makan malam di Jogja yang lebih enak dan lebih murah daripada di hotel πŸ™‚ Melia dekat sekali dengan Malioboro, cukup 15 menit jalan kaki. Malam hari bisa jalan kaki sampai ke toko Mirota Batik, ujung jalan Malioboro untuk belanja-belanji oleh-oleh sekaligus makan malam di Kafe Oyot Godhong. Yang nggak kuat terbiasa jalan kaki bisa naik becak yang mangkal di samping hotel.

Paginya, kami sengaja mruput sarapan, ketika suasana masih sepi. Kami memilih duduk di sofa di pojok. Tak lupa meminta kursi makan bayi untuk Baby K. Keuntungan sarapan awal, menu makanan masih lengkap, tidak perlu antre dan… masih banyak waktu untuk ambil berkali-kali. Sesuai prinsip ‘jangan sampai rugi’, kami mencoba semua makanan, sedikit-sedikit. Precils yang berlidah bule, seperti biasa sarapan roti dan olesan, disusul sosis dan kentang wedges (sayangnya tidak ada hash brown kesukaan Big A). Sementara saya, mewajibkan diri mencoba bubur ayam di setiap hotel. Buryam Melia saya kasih nilai 7, cukup enak dan gurih, tapi tidak spesial. Nasi kuningnya juga biasa saja. Kalau roti dan pastry-nya bolehlah, ada pilihan whole wheat, sordough dan baguette.

Yang membuat saya senang, Bapak dan Ibu saya menikmati sekali sarapan di hotel. Ibu saya mencoba semua makanan ‘aneh-aneh’ yang tidak biasa beliau makan sehari-hari. Ibu senang sekali dengan baked beans, yang beliau makan bersama dengan… nasi goreng, hahaha. Bapak saya juga senang mencoba beberapa makanan, meski tidak sebanyak ibu.

Sayangnya makanan enak-enak ini tidak ditemani dengan kopi enak pula. Sepertinya kopinya cuma standar kopi sachet seperti yang tersedia di minibar kamar. Padahal negara ini punya kopi-kopi lokal yang rasanya khas dan nikmat. Mestinya nanti hotel-hotel bintang lima seperti ini bekerja sama dengan artisan kopi lokal di wilayahnya untuk menyuguhkan kopi andalan.

Kenyang, kami istirahat, beres-beres sebentar dan cek out sekitar jam 9.30. Ibu saya ingin segera kulakan bahan untuk tokonya, hahaha. Alhamdulillah, staycation kali ini sukses dan semua senang. Staycation berikutnya, enaknya ke hotel mana ya?

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Baca juga:
Indrayanti Sang Primadona Gunung Kidul
Griya Pesisir Pantai Pulang Sawal[review penginapan]

 

Review Apartemen Airbnb Paris

Selama dua minggu jalan-jalan di Eropa, tujuh malam kami habiskan di Paris. Untuk menghemat pengeluaran makan, saya memilih akomodasi yang menyediakan fasilitas dapur agar bisa memasak sendiri. Di Paris, apartemen menjadi pilihan terbaik. 

Mencari apartemen bisa melalui website booking penginapan biasanya seperti Hotelscombined. Tapi biasanya yang muncul brand seperti Citadines dan Adagio, serviced apartment atau aparthotel yang tarifnya cukup mahal. Alternatif yang lebih murah adalah mencari via airbnb. Di airbnb, yang menyewakan apartemen adalah ‘orang-orang biasa’ yang punya tempat kosong untuk disewa dalam jangka pendek.

Cara mencari penginapan menggunakan airbnb sudah pernah saya tulis di sini.

Dari beberapa alternatif apartemen yang masuk ke wishlist kami, Si Ayah memilih yang tarifnya paling murah (of course!), sementara saya tentu memilih yang paling cantik :)) Apartemen yang kami sewa selama 7 hari ini milik Julien, letaknya sangat strategis di dekat taman Tuileries dan hanya tujuh menit jalan kaki ke Museum Louvre.

Untuk menginap tujuh malam di Paris, kami membayar Rp 11.135.446 dengan kurs 1 Euro = Rp 16.745 (ouch!). Rata-rata tarif per malam untuk apartemen yang kami tinggali adalah Rp 1.590.778 atau EUR 95 untuk 4 orang. Atau EUR 23,75 per orang per malam.
 

Lokasi apartemen yang sangat strategis. Klik untuk memperbesar.
Pemandangan gereja ini yang terlihat begitu membuka pintu depan
Lorong menuju pintu depan
Pintu kamar apartemen yang tersembunyi

Begitu pesanan kami via airbnb disetujui tuan rumah, saya langsung melihat lokasi apartemen dengan Google Street View. Saya sempat deg-deg-an kalau apartemen tersebut tidak ada atau cuma fiktif. Paranoid banget karena baru pertama kali menggunakan airbnb. Sebenarnya kekhawatiran itu tidak perlu, karena kami sudah memilih listing yang punya beberapa review. Artinya apartemen ini benar-benar ada dan pernah disewakan ke orang.

Kami mencapai Paris dari Stasiun Gare du Nord, naik kereta Thalys dari Amsterdam. Dari stasiun, saya memutuskan untuk naik taksi karena tidak ingin menggotong koper naik tangga dan menyusuri jalan yang belum kami kenal. Alhamdulillah kami mendapat sopir taksi yang sangat ramah, orang Perancis asli. Kami beruntung naik taksi ini, meski mobilnya butut, karena Si Sopir mau sedikit bercerita dan memberi rekomendasi tempat-tempat yang wajib kami kunjungi di Paris. A nice introduction. Biaya taksi ini hanya EUR 13 untuk perjalanan sekitar setengah jam.

Saya lega begitu sopir taksi menemukan alamat apartemen ini. Senyum saya semakin cerah ketika pintu abu-abu bernomor 193 berhasil kami buka dengan memasukkan kode dari Julien. Setelah melewati lorong yang panjang, akhirnya kami sampai ke pintu kamar apartemen yang sama persis dengan foto yang diunggah di listing airbnb. Pintunya bisa dibuka dengan kunci manual yang kami ambil dari kotak surat Julien. Yay! Tuan rumah memang tidak menyambut kami, jadi perjalanan mencari apartemen ini seperti teka-teki yang bikin deg-deg-an.

Kondisi apartemen persis sama dengan foto-foto di listing. Apartemen ini satu studio di lantai dasar dan satu kamar di bawah tanah. Kami bersyukur apartemen ini ada di lantai dasar, tidak perlu menggotong koper lewat tangga karena biasanya apartemen di bangunan lama Paris tidak ada lift-nya.

Apartemen ini sederhana dan tidak cantik, seperti listing lainnya. Tapi sudah cukup memenuhi kebutuhan kami. Anak-anak tidur di sofabed di ruang atas, yang sekaligus jadi ruang makan dan dapur. Kamar mandi kecil ada di sebelah dapur. Air hangat dari pancuran berfungsi normal. Julien menyediakan handuk untuk kami berempat dan juga selimut untuk sofa bed dan kasur di bawah.

Yang membuat kami senang adalah wifinya yang langsung nyambung dengan koneksi yang cepat. Wush… wush… TV yang salurannya berbahasa Perancis semua terpaksa kami cuekin :p

Dapur mungil apartemen ini juga membantu kami menghemat anggaran makan. Semua alat tersedia: kompor, microwave, pemanas air, panci, sudip, piring, gelas, sendok, bahkan mesin pembuat kopi. Satu alat yang rusak adalah pemanggang roti, jadi kami memanggang dengan wajan. Kalo rice cooker, saya bawa sendiri yang ukuran kecil πŸ™‚ Bahan-bahan makanan yang ada di pantry juga bisa kami gunakan, antara lain beras, kopi, gula, garam dan pasta. Saya pun meninggalkan sesuatu untuk penghuni berikutnya: kecap manis! πŸ˜€ 

Hidangan yang berhasil saya siapkan di dapur sederhana ini antara lain: fish & chips, gado-gado, chicken nugget, pasta, nachos, omelet, sardin, dan nasi goreng. Tak lupa ditambah hidangan nasional kita: Indomie goreng, hahaha. Saya tidak memasak sayur, hanya membuat salad dan lalapan. Kami juga selalu makan buah, membawa apel dan pisang untuk ganjal perut di perjalanan. Pilihan tempat belanja dekat apartemen adalah Carrefour Express (50 meter) atau Monoprix (250 meter).

Open plan studio. Foto dari listing Airbnb
Dapur dengan peralatan lengkap. Foto dari listing Airbnb
Big A dan Little A langsung merasa nyaman di sofabed
Tangga menuju kamar bawah tanah yang cukup curam
Kamar dengan double bed di ruang bawah tanah

Kami cukup nyaman di sini. Hanya saja kamar bawah terasa lebih dingin. Saya sampai harus menyalakan heater, padahal ini musim panas. Saya juga sempat mencuci baju dengan mesin cuci yang ada. Karena tidak ada pengeringnya, baju-baju kami gantung di mana-mana, termasuk kami angin-anginkan di dekat heater.

Selama tujuh malam di sini kami tidak pernah berpapasan dengan tetangga. Cuma sayup-sayup mendengar suara mereka. Suasana cukup sepi. Saya suka dengan pengalaman pertama airbnb Paris ini karena bisa merasakan tinggal di daerah yang Paris banget. Rue St Honore terletak di arrondissement (distrik) 1, atau kawasan tua di Paris. Bangunan-bangunan tetangga sangat khas dan cukup enak dipandang. Jalan-jalan di sekitarnya kecil, dipenuhi dengan butik dan kafe. Meski penginapan kami sendiri tidak mewah, kami mendapat lingkungan yang cukup keren πŸ™‚

Apartemen ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang ingin penginapan murah di pusat kota. Sofabed-nya cukup nyaman untuk dua anak atau satu orang dewasa. Tapi mungkin tangga yang curam ke ruang bawah tanah cukup berbahaya untuk anak balita dan akan merepotkan untuk orang yang sudah tua. Itu saja kekurangan apartemen ini. Kalau nilai plusnya yang pasti, dari sini kami tinggal jalan kaki ke mana-mana: minimarket Carrefour (50m), taman Tuileries (100m), stasiun Metro Tuileries (100m), stasiun Metro Pyramide (200m) dan museum Louvre (250m).
 
Kalau pengen dapat voucher $25 (lumayan, kan?) dari Airbnb, daftar pakai link ini: www.airbnb.com/c/akumalasari. Baca caranya di sini.

100m dari taman Tuileries

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Baca juga #EuroTrip:
VISA 
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga  
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

TRANSPORTASI 

Review Hotel Meininger Amsterdam

Berbeda dari hotel Novotel Brussels yang saya pilih karena lokasinya, Hotel Meininger Amsterdam City West ini saya pilih karena harganya yang relatif murah. Di Brussels, kami hanya punya waktu semalam, jadi memang harus memilih lokasi di tengah kota. Sementara di Amsterdam, kami bisa menginap dua malam, lokasi agak jauh dikit nggak papa asal harga murah πŸ™‚

Ketika membayangkan jalan-jalan di Amsterdam, saya pengennya menginap di hotel pinggir kanal. Pengennya bisa sarapan dengan pemandangan sepeda berseliweran dan perahu yang menyusuri kanal. Tapi ternyata hotel-hotel di tengah kota untuk bulan Juli mihil bingiiits πŸ˜€ Apalagi kamar keluarga atau quadruple room yang bisa mengakomodasi dua dewasa dua anak. Dengan budget EUR 100 per malam cuma bisa dapat kamar quad hotel bintang dua di daerah red district, hahaha. Waktu itu ada sih promo Novotel Amsterdam, cuma EUR 72 per malam, tapi lokasinya juga tidak di tengah kota (perlu 20 menit naik tram), belum termasuk sarapan dan… waktu itu itinerary kami belum final, padahal promo hotel waktunya terbatas dan tidak bisa dibatalkan. Ya sudah, lewat deh.

Kalau budget dinaikkan sedikit ada beberapa pilihan hotel keluarga: Hotel Nadia EUR 138 (1 double bed + 2 single bed, bintang 3, lokasi strategis dekat museum Anne Frank, termasuk sarapan), Hostel StayOkay Zeeburg EUR 145 (private room, ensuite, termasuk sarapan), Mercure Arthur Former EUR 155 (dua kamar, tidak termasuk sarapan), Ibis Amsterdam City EUR 167 (dekat stasiun Central, dua kamar, tidak termasuk sarapan) dan Ibis Style Amsterdam City EUR 169 (kamar keluarga, dekat museum rijks, termasuk sarapan). Itu semua harga per malam untuk kamar yang cukup buat empat orang. Entah hotel di Amsterdam yang memang mahal atau saya yang miskin kurang beruntung.

Ketika mengajukan visa, kami tidak memasukkan itinerary menginap di Amsterdam. Kami hanya memasukkan pesanan hotel di Paris via airbnb dan pesanan hotel Brussels dari booking dot com yang akhirnya kami batalkan. Setelah visa di tangan, kami mulai serius mencari penginapan di Amsterdam. Saat itu kebetulan ada twit dari Claudia Kaunang yang numpang lewat di timeline saya dan merekomendasikan Hotel Meininger.

Lokasi Hotel Meininger memang tidak di tepi kanal di tengah kota, tapi cukup strategis karena ada di sebelah stasiun Sloterdijk, 5 menit naik kereta dari Stasiun Centraal Amsterdam. Setelah saya cek harganya, ternyata cocok dengan kantong kami. Meininger ini setengah hotel setengah hostel. Dia punya kamar-kamar pribadi, tapi juga menyediakan asrama yang berisi empat atau enam kasur. Tarif bermalam pun dihitung per orang. 

Saya memesan kamar Quadruple via website resmi mereka. Tarif per malam per orang dewasa adalah EUR 25,65, sementara untuk anak-anak usia 6-12 tahun EUR 12,83. Anak-anak umur 0-5 tahun gratis. Yay! Sarapan bisa ditambahkan seharga EUR 7,90 per orang untuk dewasa dan EUR 3,95 untuk anak-anak. Usia 0-5 tahun sarapan gratis. Double yay! Total yang saya bayar untuk kamar quad dua malam termasuk sarapan adalah EUR 167,75. Dengan kurs Rp 16.865 per Euro, total saya bayar IDR 2.829.134. Ketika kami datang, kami masih diminta untuk membayar city tax sebesar EUR 6,67 atau Rp 109.860. Karena lokasinya di luar kota, kami masih harus mengeluarkan uang lagi untuk transportasi lokal. Tiket dari AMS Sloterdijk ke AMS Centraal sebesar EUR 2,10 (satu arah) dan EUR 4,20 (pp). Tiket pp untuk anak-anak diskon menjadi EUR 2,50 saja. Dihitung-hitung, tarif hotel Meininger Amsterdam beserta transportasi lokalnya masih di bawah budget kami, EUR 100 per malam. 


Hotel Meininger ini mudah dicari. Keluar dari stasiun Sloterdijk, tinggal melipir ke kanan dan ikuti anak panah. Kira-kira lima menit jalan kaki. Kalau tidak ingin turun tangga, keluarlah lewat jalan belakang stasiun yang ada lift-nya menuju parkiran sepeda. Dari sana tinggal jalan terus lewat sisi belakang hotel Meininger.

Ketika kami datang, resepsionis cukup ramai dan hanya ada satu yang melayani. Tapi begitu dilayani, proses cek in cukup cepat. Kamar kami sudah tersedia di lantai 7. Kami bergegas naik lift ke lantai tujuh dan mendapati kamar kami di pojok. Sesuai yang ditawarkan di website, kami mendapat 1 double bed dan bunk bed. Precils tentu gembira melihat bunk bed, dan langsung menclok ke singgasana mereka. Kamar kami cukup luas. Kasur, bantal dan sprei tertata rapi. Tapi kok lantai kayu kamar kami rasanya nggak disapu dengan bersih, seperti ada remah-remah dan lengketnya. Kalau kamar mandinya bersih dan luas. Ada pancuran, tapi tanpa bak mandi. Handuk, sabun dan shampo disediakan. Di dekat pintu depan ada lemari baju yang bisa muat baju berkoper-koper, tapi tidak kami gunakan, takut ada yang ketinggalan :)) Di kamar juga disediakan meja dengan empat bangku yang bisa untuk makan.

Meininger juga menyediakan wifi gratis. Sayangnya sinyal wifi tidak sampai di kamar kami. Sinyal cuma bisa ditangkap kalau kami melipir ke selasar, depan pintu. Jadi kalau mau ngetwit kerja dengan internet, saya harus turun ke bawah. Televisi ada untuk hiburan, tapi hanya menayangkan siaran berbahasa Belanda, haha.

Begitu kami sampai di kamar, rasanya lega sekali. Bagaimana tidak, hari ini kami melintasi tiga negara: Belgia, Jerman dan akhirnya Belanda. Tapi rasa lega langsung diikuti oleh rasa lapar. Sementara hotel Meininger ini jauh dari mana-mana. Warung terdekat ada di stasiun Sloterdijk, itu pun pilihannya terbatas. Ketika mendarat di Stasiun Centraal, kami tidak sempat beli makan apa-apa karena pengennya cepat beristirahat di hotel. Akhirnya… rice cooker to the rescue! Untungnya saya sudah bawa beras sedikit (1kg) untuk jaga-jaga kejadian seperti ini. Saya masak nasi di kamar mandi, takut alarm kebakaran nyala kena asap :p Hotel budget Meininger ini memang nggak ada mini bar-nya, tanpa kulkas dan tanpa pemasak air.

Sebenarnya, kami bisa saja masak di dapur umum, fasilitas yang tersedia di lantai bawah, dekat resepsionis. Tapi malasnya minta ampun, sudah capek banget. Untuk lauk, saya cukup menghangatkan rendang kalengan yang dibawa dari Indonesia, langsung tuang ke dalam rice cooker ketika nasi sudah matang. Karena nggak punya piring, kami makan langsung dari kalengnya, haha. Tak lupa senjata andalan sambal sachet. Rasanya uenak banget, syedaaap! Mungkin karena kami udah kelaparan.

Penyelamat kelaparan :p
Dapur umum, mesin cuci dan pengering

Untungnya pagi hari kami tidak perlu ribet lagi memasak. Saya memang memilih membeli paket sarapan di sini. Menu sarapannya berbagai macam roti dengan banyak pilihan olesan dan daging asap, berbagai macam sereal, salad buah dan sayuran dengan banyak pilihan saus, macam-macam keju dan telur rebus. Tersedia juga kue-kue tradisional Belanda, dengan bumbu rempah-rempah dari Nusantara. Pilihan minuman hangatnya teh, kopi atau cokelat, dan minuman dinginnya jus jeruk, air mineral atau susu segar. Sebenarnya susu untuk dituang ke sereal sih, tapi terserah kita kan ya. Lucunya, di depan dispenser air ada larangan mengisi air mineral ke botol. Yang ingin isi ulang air botolan sila memakai air keran di dapur, yang juga sudah layak minum :)) Ada larangan lagi yang khas hostel: “Tamu dilarang membawa makanan ke luar selain untuk sarapan. Kalau ingin membeli bekal makan siang, sila hubungi kami.” Hihihi, mungkin ada yang nakal menyelundupkan makanan biar irit ya? Kami sih nggak sampai begitu. Kami cuma ambil beberapa apel dan jeruk, memang masih jatah untuk sarapan kan? πŸ˜‰

Yang saya ingat, rotinya enak-enak, ada roti gandum utuh dan sordough. Olesan favorit saya: cream cheese. Yummy banget. Favorit Big A: peanut butter dan butter. Favorit Little A: wild berry. Favorit Si Ayah: sambal ABC bawa dari rumah πŸ˜€ Kejunya aneh-aneh, saya coba semua dan tidak ada yang suka. Pilihan daging asapnya: ayam, daging sapi dan salami (yang ini ada pork-nya). Yang nggak makan daging tanpa sertifikat halal, pilihannya ada telur rebus yang bisa diiris-iris kecil untuk jadi sandwich, dicampur dengan cream cheese atau olesan lainnya. Atau… bawa aja lauk dari Indonesia: abon atau dendeng. Pengalaman kami di bandara CDG Prancis, tidak ada pemeriksaan sama sekali untuk barang bawaan πŸ™‚


Di malam kedua, kami menggunakan fasilitas dapur untuk memanggang sosis yang kami beli di Cologne, Jerman. Makannya tetap dengan nasi dan sambal. Fasilitas lain yang saya gunakan adalah mesin cuci. Karena packing light, kami perlu mencuci baju di perjalanan. Selama dua minggu EuroTrip, saya mencuci baju dua kali: di Meininger Amsterdam dan di apartemen Paris. Sebenarnya di Meininger ini ada fasilitas mesin pengering. Tapi sayangnya sedang rusak ketika kami menginap di sana. Terpaksa baju-baju kami gantung di kamar mandi dan beberapa yang susah kering kami keringkan dengan hair dryer. Fyuh!

Dengan plus minusnya, Hotel Meininger Amsterdam City West bisa jadi pilihan akomodasi murah ketika jalan-jalan di Amsterdam. Terutama untuk yang masuk Belanda dari bandara Schiphol. Kereta dari Schiphol airport ke Centraal station melewati Sloterdijk, satu stasiun sebelum Centraal. Meininger juga punya banyak cabang, antara lain di Brussels dan kota-kota besar di Jerman.

~ The Emak
Follow @travelingprecil
Baca juga:
Review Novotel Off Grand Place Brussels 
Review Apartemen Airbnb Paris

#EuroTrip 
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga   
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

Review Novotel Off Grand Place Brussels

  
Dalam rangkaian EuroTrip, kami hanya punya waktu semalam menginap di Brussels, atau biasa juga disebut Bruxelles. Karena itu, dalam memilih hotel, lokasi menjadi pertimbangan utama. Tadinya saya bingung antara memilih hotel yang dekat dengan Stasiun Brussels Midi (stasiun utama untuk kereta antar negara), atau yang langsung dekat dengan Grand Place (Grote Markt), alun-alun yang menjadi atraksi utama kota ini. Akhirnya pilihan jatuh pada Novotel Off Grand Place yang letaknya paling strategis.

Sabtu sore, kami sampai di stasiun Midi Brussels (Gare de Bruxelles-Midi) dengan kereta TGV dari Lille, Prancis. Esoknya kami harus naik kereta Thalys menuju Cologne, Jerman, yang juga berangkat dari stasiun Midi ini. Tadinya, agar praktis, saya mencari-cari penginapan di dekat stasiun Midi. Pilihannya antara lain Ibis Brussels Centre Gare Midi, Novotel Brussels Midi Station dan Floris Ustel Midi. Tapi dari beberapa review, katanya daerah dekat stasiun Midi ini kumuh dan kurang nyaman. Kalau waktu kita terbatas, banyak traveler yang menyarankan kita mending menginap di tengah kota saja. Setelah tahu bahwa tiket kereta dalam kota, dari Stasiun Midi menuju Stasiun Central Brussels gratis, sudah termasuk dalam tiket TGV atau Thalys, saya semakin mantap mencari-cari hotel di tengah kota, antara stasiun Central dan Grand Place.

Novotel bukan pilihan penginapan keluarga yang paling murah. Ketika itinerary Eropa kami belum tetap, saya memesan kamar di Meininger Hotel Brussels City Centre dari website booking.com untuk kelengkapan pengurusan visa. Meininger ini punya kamar keluarga yang bisa untuk 4 orang, dengan tarif yang lumayan terjangkau. Saya juga menginap di cabang Meininger di Amsterdam dan cukup puas. Sayangnya lokasi Meininger Brussels kurang dekat dengan lokasi wisata yang ingin kami kunjungi, jadi budget harus ditambah dengan transportasi lokal.

Selain Novotel, di dekat Grand Place juga ada pilihan hotel lain, seperti Ibis Bruxelle Off Grand Place dan Best Western Premier. Saya pilih Novotel karena bisa mengakomodasi dua orang dan dua anak (sampai 16 tahun) dalam satu kamar.

Untuk mencapai Novotel, kami naik kereta (banyak pilihan) dari stasiun Midi ke stasiun Central, dengan lama perjalanan yang hanya lima menit. Dari stasiun Central, kami tinggal jalan kaki, kurang lebih tujuh menit untuk sampai hotel. Perlu dicatat, untuk yang membawa barang bawaan banyak, bakal cukup kerepotan karena jalanan di kota lama Brussels ini berbatu-batu. Pastikan kalian punya koper yang rodanya tangguh agar tidak jebol di jalan πŸ™‚  

Saya memesan hotel ini langsung dari website Accor dengan tarif EUR 142, termasuk sarapan untuk dua dewasa (anak-anak sarapan gratis). Dengan kurs sebesar Rp 16.915 per Euro, saya membayar hotel ini semalam Rp 2.401.881 (ouch!). Ini masih ditambah city tax yang dibayarkan ketika kami cek in sebesar EUR 7,50 (IDR 126.511). Cukup mahal ya? Tapi kalau dibanding tarif go show di hari itu sebesar EUR 179, yang saya bayar lebih murah lah. Apalagi dengan memilih penginapan di dekat atraksi wisata, saya tidak mengeluarkan biaya transportasi lokal. Berdoa saja supaya pas kalian sampai di Eropa, kurs-nya nggak hancur-hancur amat :p Oh, ya, tarif sarapan prasmanan untuk dewasa sebesar EUR 17 kalau belum termasuk di harga kamar.


Tidak seperti gedung Novotel di Singapura, Sydney dan Canberra yang modern dan membosankan, tampak luar Novotel Brussels ini cukup cantik. Hotel ini menempati gedung kuno yang menyatu dengan bangunan sekitarnya. Tapi tentu saja bangunan di dalamnya sudah modern. Kamar kami cukup luas dan nyaman. Interiornya minimalis modern. Kamar cukup luas dengan satu queen bed dan sofa yang bisa diubah menjadi dua single bed. Kamar mandinya cukup bagus dengan interior modern yang mewah. Ada bath tub yang terpisah dengan pancuran. Amenities Novotel sama saja di mana-mana: sabun, shampo, dan shower gel. Perlu diingat, hotel di Eropa (dan juga Australia/New Zealand) jarang yang menyediakan sikat gigi dan pasta gigi, jadi harus membawa sendiri.

Di sini tidak disediakan air mineral karena air kran sudah aman untuk diminum πŸ™‚ Tersedia ketel listrik dan kopi/gula/teh. Sayangnya tidak ada susu, hanya ada krim bubuk. Seingat saya memang hanyahotel-hotel di Australia dan New Zealand yang menyediakan susu cair dalam wadah kecil untuk teman minum kopi/teh. 

But no worries, we had fast internet connection here. Wifi tersedia gratis dan bisa tersambung dengan gadget dan laptop yang kami bawa. Di kamar juga ada TV yang menyiarkan pertandingan sepakbola Piala Dunia: Argentina vs Belgia! Hahaha, kebetulan banget, pas kami ada di Belgia, pas mereka main. Suasana di restoran hotel dan kafe-kafe di sekitar hotel ramai orang menonton bola. Teriakan-teriakan suporter sampai terdengar di kamar kami. Sayang banget Belgia kalah.  

Dari hotel, tinggal jalan kaki lima menit menuju Grand Place. Di depan hotel banyak kafe dan restoran untuk nongkrong. Saya senang dengan suasana yang ramai dan akrab, tapi tanpa bising kendaraan bermotor. Zona di dekat Grand Place ini tampaknya memang khusus untuk pejalan kaki. Sore hari, saya dan si ayah jalan-jalan berdua saja karena precils tidak mau keluar. Kami berdua jalan kaki sampai ‘menemukan’ Manneken Pis. Tidak lupa kami membeli wafel, camilan khas Belgia. Tentu saja kami memilih yang paling murah di dekat patung Manneken Pis :)) Di sepanjang jalan dari Grand Place menuju Manneken Pis juga banyak kios-kios souvenir. Kami membeli beberapa magnet, kartu pos dan… payung(!) karena mendadak turun hujan.

Sarapan di hotel ini cukup banyak pilihan. Kami turun ke restoran pagi-pagi benar agar waktunya cukup untuk mengejar kereta Thalys. Suasana masih sepi sehingga cukup nyaman dan tentu saja bebas ambil-ambil makanan. Big A senang menemukan makanan favoritnya: hash brown. Saya juga sempat mencoba wafel mereka yang tentu saja lebih enak dari wafel murah 1 Euro yang kami beli kemarin. Si Ayah memilih baked bean dan sayur-sayuran entah apa yang aneh-aneh. Kasihan, ngga ada nasi :p Buah-buahan dan jus jeruknya seger banget. Kopinya juga enak, bisa kita buat sendiri dari mesin esspreso yang tersedia. Tak lupa kami mengambil beberapa buah: apel, pisang, jeruk untuk bekal ganjal perut sampai siang nanti. Seusai sarapan, kami masih sempat menyeret Precils ke Grand Place sebelum akhirnya mengejar kereta Thalys menuju Koln. 

Bye Brussels. Next, Germany!


~ The Emak
Follow @travelingprecil
Baca juga:
#Novotel
Review Novotel Clarke Quay Singapore
Review Novotel Sydney Olympic Park
Review Novotel Canberra 

#EuroTrip
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga  
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

Review Hotel Marrison Singapore

Kamar dengan double bed, sempit tapi ada jendelanya :p

Dalam perjalanan EuroTrip dari Surabaya, saya dan anak-anak terpaksa transit satu malam di Singapura. Gara-garanya, Air Asia membatalkan penerbangan SUB-SIN di hari rencana keberangkatan kami ke Eropa *sigh*. Terpaksa lah saya memajukan terbang ke Singapore satu hari sebelumnya dan menginap semalam di Hotel Marrison, Bugis.

Sebenarnya bisa saja saya meminta pengembalian uang (refund) ke Air Asia dan membeli tiket baru di hari Kamis, jadwal kami terbang ke Paris. Sayangnya harga tiket baru untuk bertiga lebih mahal daripada kalau saya memajukan jadwal dan memesan hotel semalam. Maklum, tiket Air Asia SUB-SIN yang saya beli ini memang dapatnya murah banget, Rp 877.000 bertiga. Ya sudahlah, anggap saja bonus liburan transit 1 hari di Singapura.

Pencarian hotel untuk transit di Singapura pun dimulai. Karena hanya menginap bertiga (Si Ayah sudah punya tiket Singapore Airlines dari redeem poin Krisflyer), saya lebih gampang cari hotel. Penginapan bintang tiga pun bakalan muat untuk satu dewasa dan dua anak (6 dan 12 tahun). Budget saya juga terbatas, maksimal USD 100. Di atas itu hitungannya rugi karena bisa dibelikan tiket pesawat hari Kamis tanpa menginap πŸ˜€ *rumit*

Banyak rekomendasi dari teman-teman yang sering pergi ke Singapura. Selain budget, kriteria saya tambah lagi: dekat stasiun MRT. Sebelumnya, kami pernah menginap di hotel Novotel Clarke Quay dan Hostel 5 Footway Inn Project Boat Quay yang jaraknya 10 menit jalan kaki dari stasiunn MRT Clarke Quay (jalur ungu). Tapi, tentu saja dengan membawa anak-anak, yang 10 menit menjadi 20 menit. Capek! Saya seleksi lagi hotel-hotel bintang 3 di Singapura yang dekat stasiun MRT, kalau bisa yang 5 menit jalan kaki.

Pilihan saya mengerucut menjadi 7 hotel bintang 3 yang dekat MRT, dengan harga sekitar USD 100: Tai Hoe (10 menit dari MRT Fraser Park), Marrison, Amaris, Beach Hotel, (ketiganya dekat MRT Bugis), Porcelain (dekat MRT Chinatown) dan V Lavender (di atas MRT Lavender). Ada lagi Ibis Bencoolen yang banyak direkomendasikan teman, tapi jaraknya 15 menit dari MRT Bugis. Mungkin nanti kalau stasiun MRT Bencoolen sudah jadi, hotel ini bakal jadi top choice.

Akhirnya setelah semedi dan menghitung kancing, saya pilih Marrison. Saya pesan hotel ini lewat website Agoda, membayar dengan kartu kredit. Karena kamarnya sempit, saya pesan kamar deluxe yang ada jendelanya. Harganya lebih mahal sedikit daripada kamar standar tanpa jendela. Tarif kamar deluxe dengan sarapan dan wifi gratis untuk bulan Juli lalu adalah IDR 1.285.592 (USD 108,63). 

Saya memang sengaja pilih daerah Bugis karena waktu ke Singapura pertama kali belum sempat jalan-jalan ke sini. Stasiun MRT Bugis ada di jalur hijau, sama dengan jalur MRT dari bandara Changi. Untuk sampai ke Bugis, kita tinggal naik MRT dari Terminal 2 atau 3 di airport, ganti kereta satu kali di MRT Tanah Merah (tetap jalur hijau yang menuju kota). Setelah sampai stasiun MRT Bugis, saya menugasi Big A untuk mencari jalan menuju hotel. Sempat tersesat ke Exit A, tapi akhirnya kami balik lagi mencari Exit D. Jangan sampai salah Exit karena nanti jalannya bakalan jauh muter-muter. Untuk ke Hotel Morrison, gunakan Exit D ke arah Tan Quee Lan St. Di depan Exit D ada pangkalan taksi. Kami celingak-celinguk mencari hotel Marrison, dan… tadaaa… langsung kelihatan di pojokan. Tinggal selemparan batu dari pintu keluar D stasiun Bugis. Precils berlari kegirangan karena nggak perlu jalan jauh, hahaha.

Stasiun MRT Bugis Exit D
Hotel Marrison terlihat dari halte Taksi depan Exit D MRT Bugis

Cek in berlangsung mulus. Meski baru jam 11 siang, kami sudah boleh masuk kamar. Petugas resepsionis hotel tidak banyak bicara, tidak terlalu ramah tapi sangat efisien. Karena restoran hotel sedang direnovasi, kami diberi kupon Toast Box untuk sarapan, yang bisa digunakan sampai 3 bulan ke depan, kapan saja.

Kesan pertama membuka pintu: kamarnya kecil banget! Cuma 11 meter persegi. Tapi semua tertata rapi dan bersih. Hidung saya yang sensitif juga tidak menghirup sedikit pun asap rokok. Alhamdulillah. Lalu saya melirik tanda di atas larangan merokok: denda $200 atau sekitar dua juta rupiah! Hahaha, mana ada yang berani merokok. Saya juga bersyukur memesan kamar dengan jendela, kalau enggak, bisa sesak napas di sini :p Amenities hotel standar: pemanas air, kopi dan gula, air mineral 2 botol, serta sabun dan shampoo dalam wadah tekan di kamar mandi. Tidak ada mini bar atau kulkas. Saluran televisinya hanya ada dua yang berbahasa Inggris, sisanya bahasa Mandarin. Tapi internetnya lumayan cepat, dan itu cukup menghibur the precils dan emaknya.

Kasurnya tidak senyaman hotel bintang empat atau lima, seperti ada lapisan kresek-kreseknya. Seprai juga tipis. Tapi kasur ini masih mending, cukup keras daripada kasur busa di hostel 5 Footway Inn Project Boat Quay. Di Marrison ini, ukuran bednya menurut saya cuma cukup untuk berdua, atau bertiga dengan anak kecil. Kalau keluarga berempat dengan dua anak bakal empet-empetan banget. Lagipula mungkin tidak diperbolehkan pihak hotel. Kalau saya pergi berempat dan perlu menginap di daerah Bugis, saya akan memilih hotel bintang empat seperti Village Hotel yang dilengkapi dua double bed dalam satu kamar.

Kamar mandinya sempit. Pancuran terletak di depan toilet, sehingga dudukan toilet pasti tersiram air ketika kita mandi. Tapi nggak papa sih, yang penting bersih, air panasnya jalan dan pancurannya berfungsi dengan baik.

Tadinya, saya pengen ajak Precils untuk jalan-jalan ke Merlion Park melihat patung singa. Iya, di kesempatan jalan-jalan sebelumnya, kami belum sempat berfoto dengan patung singa. Dosa banget kan? Tapi apa daya, Precils susah banget diajak keluar. Mereka lebih seneng ngadem di kamar ber-AC sambil main game di iPad. Sampai akhirnya kami terpaksa keluar mencari makan untuk berbuka puasa. Restoran halal yang direkomendasikan teman-teman di daerah Bugis adalah Zam-Zam, di depan Masjid Sultan. Kami pun ke sana jalan kaki sambil lihat-lihat suasana sore Bugis, perlu waktu sekitar dua puluh menit. Sebenarnya area Bugis ini asyik dijelajahi. Ada Bali lane yang isinya kafe-kafe trendi, Haji lane berisi butik-butik, dan Bugis St untuk belanja oleh-oleh. Sayangnya precils nggak mau diajak blusukan karena Big A lemes puasa dalam perjalanan. Sementara Little A ya selalu ngikut kakaknya aja.

Sampai di Zam-Zam, restorannya sudah ramai banget. Banyak pelayan yang menyongsong pembeli di depan resto. Saya pun akhirnya memilih membeli makanan untuk dibungkus, dimakan di hotel. Hasil berburu di Zam Zam: nasi biryani, nasi goreng, mee goreng dan tentu saja menu andalan mereka, murtabak. Makanan semelimpah itu cukup untuk buka dan sahur kami keesokan harinya πŸ˜€

Hasil buruan di Zam Zam depan masjid Sultan
View dari kamar. Pagi yang gerimis.

Alhasil, transit sehari di Singapura cuma ngendon di kamar hotel seharian. Ditambah lagi, pagi harinya gerimis. Kami menunggu gerimis reda untuk menyeberang ke stasiun MRT Bugis dan mengejar kereta ke Changi menyambut Si Ayah untuk bareng-bareng terbang ke Paris.

Ketika pulang dari Eropa dan transit di Changi, kami memakai dua voucher Toast Box yang sudah lusuh untuk ditukar kopi dan crunchy peanut butter toast. Yum!

Saya merekomendasikan hotel Marrison ini untuk yang pengen jalan-jalan di daerah Bugis karena letaknya yang strategis, dekat sekali dengan stasiun MRT. Harganya juga tidak terlalu mahal, standar hotel bintang 3. Kamar bersih, pelayanan baik dan efisien. Tapi mungkin kasurnya hanya cukup untuk keluarga dengan satu anak saja.

Ada yang punya pengalaman menginap di hotel bintang 3 lainnya? Share di komentar ya.


~ The Emak
Follow @travelingprecil
 
Baca juga:

Review Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore

Mencari dan Memesan Penginapan dengan Airbnb

Pakai tautan “www.airbnb.com/c/akumalasari” untuk mendaftar Airbnb & dapatkan kupon $25

Ketika jalan-jalan ke Eropa bulan Juli lalu, kami menginap tujuh malam di Paris, di apartemen yang kami sewa dari Airbnb. Apartemen memang paling cocok untuk menginap bersama keluarga kalau lebih dari tiga malam. Selain tarifnya (untuk empat orang) lebih murah dari hotel, apartemen juga menyediakan dapur untuk memasak sehingga kami bisa menghemat anggaran makan.
 
Pernah mendengar tentang Airbnb? Layanan website ini memudahkan pemilik dan penyewa penginapan untuk melakukan transaksi. Airbnb berasal dari kata B&B atau bed and breakfast. Penginapan ala BnB biasanya kamar kosong ekstra yang disewakan pemiliknya untuk menginap dalam jangka pendek, berikut layanan sarapan. Di airbnb, tidak hanya kamar kosong yang disewakan, tapi bisa juga seluruh apartemen, studio atau bahkan rumah. Gampangannya, airbnb ini isinya perorangan yang menyewakan kamar atau apartemen ekstra, bukan profesional seperti pemilik motel atau hotel.

Lalu amankah menggunakan airbnb? Dari pengalaman saya, semuanya aman-aman saja. Anggota yang mendaftar di airbnb diverifikasi dengan berbagai macam identifikasi. Selain itu, pembayaran dilakukan dengan transaksi aman di websitenya, dana yang kita bayarkan akan dipegang oleh pihak airbnb, dan baru akan disampaikan ke pemilik penginapan setelah kita berhasil cek in di hari pertama.

1. Mendaftar
Cara mendaftar menjadi anggota airbnb gampang banget. Pertama, buka dulu website airbnb di sini. Lalu kita bisa sign up dengan tiga cara: facebook, akun gmail atau akun email lain. Paling gampang pilihan pertama. Dengan facebook, kita tidak perlu repot membuat nama akun dan password baru. Kita tinggal memasukkan email dan password FB seperti biasa dan klik log in. Nantinya Facebook akan meminta kita menyetujui menghubungkan app airbnb dengan akun facebook kita.

Nggak punya facebook? Daftarlah dengan email. Nanti airbnb akan mengirim email verifikasi. Setelah kita klik tautan verifikasi, maka akun airbnb kita sudah jadi. Penampakannya seperti ini.

Ketika kita klik dashboard (panel muka) dari dropdown nama akun kita, akan muncul halaman selamat datang, termasuk bonus kredit yang didapat sebesar $25 kalau mendaftar lewat tautan ini. Untuk mengubah bahasa dan mata uang, ada pilihan di pojok kiri bawah. Saya biasanya memakai bahasa Inggris karena terjemahan bahasa Indonesianya masih lucu πŸ™‚

Setelah terdaftar, kita bisa langsung mencari-cari dan melihat penginapan yang tersedia. Airbnb ini bisa digunakan di seluruh dunia. Ketika mencari penginapan di Amsterdam dan Brussels, saya juga mengintip airbnb, sayangnya tidak ada yang cocok untuk menginap semalam dua malam. 

Tapi, bisa juga kita menahan diri dan melengkapi profil terlebih dahulu. Untuk menambah keamanan dan mencegah akun palsu, airbnb membuat macam-macam verifikasi. Antara lain dengan nomor ponsel, email, profil facebook dan linked in. Semakin banyak verifikasi kita, semakin dipercaya oleh anggota lain. Sebaiknya, akun facebook yang dijugakan juga nama asli. Kalau tidak ingin verifikasi sekarang, bisa dilakukan nanti ketika sudah siap memesan penginapan.


2. Mencari-cari penginapan
Bagian yang paling seru tentu browsing dan memilih penginapan. Meskipun rencana liburan masih lama, tidak ada salahnya melihat-lihat penginapan sekarang, sekalian untuk menghitung anggaran (budget). 

Untuk mencari penginapan, kita tinggal masukkan lokasi kota (misal: Paris), tanggal liburan (bisa dikosongkan atau diisi ngawur kalau belum punya tanggal pasti), dan tempat menginap untuk berapa orang (anak-anak dihitung, saya langsung isikan 4).

Nanti akan muncul tampilan seperti ini (klik untuk memperbesar). Di sebelah kiri adalah peta lokasi, di sebelah kanan adalah listing atau daftar penginapan yang tersedia. Kita bisa zoom in peta untuk melihat lebih jelas. Alamat yang ada di setiap listing belum alamat lengkap, sudah ada nama jalannya tapi belum ada nomornya. Setelah kita booking, baru kita diberi tahu alamat lengkapnya. Tapi melalui peta, kita sudah diberi ancer-ancer, penginapan tersebut ada di daerah mana.

Untuk mempersempit pencarian, gunakan filter atau saringan yang tersedia. Yang umum adalah kisaran harga. Batasi jumlah listing dengan harga sedikit di atas budget kita. Misal anggaran kita per malam 1 juta, gerakkan kursor kisaran harga sampai 1,5 juta. Selain itu kita bisa memilih tipe kamar: apakah seluruh apartemen, kamar pribadi (seperti kamar kos) atau kamar bersama. Untuk keluarga, saya sarankan memilih ‘entire place‘ agar lebih punya privasi.

Filter lain boleh digunakan boleh tidak, tergantung kebutuhan kita. Saya sendiri menganggap akses internet penting, jadi saya centang wireless internet. Punya host yang bisa berbahasa Inggris juga penting karena saya tidak bisa berbahasa Perancis. Yang mahir menggunakan bahasa tarsan, filter ini tidak usah digunakan πŸ™‚

Kalau tertarik pada suatu listing, tinggal klik saja untuk menampilkan profil properti tersebut. Berikut contoh listing yang akhirnya kami sewa di Paris: https://www.airbnb.com/rooms/1185329. Di profil properti kita bisa melihat foto-foto ruangan dan fasilitas apa saja yang tersedia. Kita juga bisa melihat harga per malam, biaya kebersihan dan apakah tambahan orang (biasanya mulai orang ketiga) dikenakan biaya. 


3. Memasukkan dalam wishlist
Kalau menemukan penginapan yang sreg, segera saja masukkan ke wishlist. Caranya dengan meng-klik tanda hati yang ada profil properti. Jangan takut terlalu banyak membuat wishlist, karena nanti tidak semua properti yang kita taksir tersedia pada tanggal yang kita perlukan. Wishlist ini sangat berguna untuk membandingkan satu properti dengan lainnya.

Sebelum menentukan pilihan, ada baiknya kita memberi catatan plus minus suatu penginapan. Yang perlu dipertimbangkan adalah:
Lokasi. Di Paris, usahakan memilih penginapan yang dekat dengan stasiun metro. Paling jauh ‘5 menit’ dari stasiun. Akan lebih baik kalau lokasinya dekat dengan salah satu atraksi wisata yang akan dikunjungi. Dalam kasus kami, apartemen yang kami sewa tinggal 7 menit jalan kaki ke Louvre.
Review. Ada yang me-review artinya sudah ada yang pernah menginap di sini, artinya properti tersebut memang ada. Kita juga tahu sebaik apa layanan dari host dan apa kekurangan penginapan tersebut. Sebisa mungkin, hindari properti yang belum ada review-nya .
Family friendly. Biasanya disebutkan di profil apakah mereka menerima anak-anak atau tidak.
Harga total. Perhatikan biaya tambahan seperti biaya kebersihgan (cleaning service), biaya tambahan untuk orang ketiga (extra person) dan biaya servis airbnb (ini memang dibebankan ke semua penyewa, sekitar 10% dari harga total).
Kebijakan Pembatalan. Cek apakah uang bisa kembali kalau pemesanan dibatalkan? Berapa persen yang bisa kembali? Biasanya service fee tidak bisa kembali. Apartemen yang kami sewa cancelation policy-nya moderate, artinya uang bisa kembali penuh kalau dibatalkan 5 hari sebelum hari H, kecuali service fee.
Selain itu semua, saya juga memilih penginapan yang ada koneksi internetnya dengan host yang bisa berbahasa Inggris agar komunikasi lancar.



4. Mengontak Host
Setelah menyortir pilihan penginapan dan mempunyai rencana yang jelas, saatnya melakukan aksi: mengontak host lewat layanan pesan dari website airbnb. Admin airbnb sendiri menyarankan kita mengontak host sebelum booking (memesan). Ini untuk memastikan ketersediaan penginapan di tanggal yang kita inginkan. Juga untuk berkenalan dengan tuan rumah. Kami (memakai akun Si Ayah) mengontak beberapa host sekaligus dari penginapan yang kami incar. Jangan takut mengirimkan pesan ke beberapa tuan rumah sekaligus, karena belum tentu tanggal yang kita inginkan tersedia. Ini juga disarankan oleh admin airbnb di laman “bantuan” mereka.

Message atau pesan sebaiknya berisi perkenalan singkat, alasan kunjungan kita ke kota tersebut, berapa orang yang akan menginap bersama kita, di tanggal berapa kita memerlukan penginapan tersebut. Dalam satu dua hari kami mendapat jawaban dari host, ada yang available ada yang tidak. Akhirnya setelah menimbang banyak faktor, kami memilih melakukan booking apartemen Julien.


5. Memesan (Booking)
Cara booking di airbnb sangat mudah. Setelah kita yakin dan bersedia membayar sesuai yang tertera, kita tinggal klik tombol Request to Book. Airbnb akan membawa kita ke halaman pembayaran. 

Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit, kartu debit atau paypal. Perhatikan bahwa ada service fee yang dikenakan oleh airbnb (semacam pajak) sebesar 10%. Coupon atau travel credit (yang bisa didapat jika mendaftar melalui tautan ini) juga otomatis sudah dimasukkan. Nantinya, kartu kredit kita akan ditagih seusai mata uang negara yang akan kita kunjungi, setelah tuan rumah menerima pesanan kita.

Untuk memasukkan nomor kartu yang digunakan untuk membayar, klik account setting >> payment methods >> add payment methods >> masukkan nomor kartu dan data lainnya >> klik Add Card. Kartu kredit yang diterima untuk pembayaran adalah visa, mastercard, amex dan discover. Kalau tidak punya kartu kredit, bisa pinjam punya orang lain. Saya memasukkan nomor kartu kredit punya suami di akun saya dan nggak masalah. Sementara untuk kartu debit, yang sudah saya coba masukkan dan diterima adalah kartu debit dari Permata Bank yang ada tulisannya VISA Electron. Kartu Debit dari Bank Mandiri ditolak. Coba aja deh semua kartu yang ada πŸ™‚

Untuk menginap tujuh hari di Paris, kami membayar Rp 11.135.446 dengan kurs 1 Euro = Rp 16.745 (ouch!). Rata-rata tarif per malam untuk apartemen yang kami tinggali berempat adalah Rp 1.590.778 atau EUR 95.


6. Menerima Kwitansi dan Petunjuk
Begitu host menerima pesanan kita, airbnb akan mengirimkan itinerary dan kwitansi via email, yang bisa digunakan untuk mengajukan visa Schengen. Ya, saya memesan apartemen ini sebelum mendapat visa. Rencana kami di Paris sudah tetap dan kami juga sudah membeli tiket pesawat. Perhatikan bahwa di itinerary jelas tertulis penginapan untuk empat orang (meskipun tidak ada keterangan nama masing-masing). Ini harus ditunjukkan ketika mencari visa bahwa akomodasi untuk setiap anggota keluarga sudah terjamin.

Selain itinerary, kami juga mendapatkan alamat lengkap dan nomor telepon tuan rumah, sekaligus cara untuk mendapatkan kunci dll. Sebelum tanggal kita menginap, kita tetap bisa mengontak tuan rumah via telepon atau message di akun airbnb-nya.

Setelah booking kita beres, airbnb akan menawari kita untuk memberi tahu calon host yang lain, yang tadinya kita kontak untuk menanyakan ketersediaan penginapan mereka. Isi pesannya otomatis, kita tinggal memberi tanda centang saja: “Kami sudah mendapatkan penginapan, thanks ya.” Agar mereka tidak merasa di-php-in gitu. Ada yang membalas dengan sopan dan ada yang cuek-cuek saja πŸ˜€

 7. Menulis review
Setelah cek out dari apartemen, kita masih ‘hutang’ satu hal yaitu menulis review. Berikut review yang ditulis Si Ayah di laman profil penginapan yang kami sewa. Yang paling bawah, bukan yang di tengah.


Gampang kan caranya? Airbnb ini menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan penginapan murah dengan fasilitas seperti di rumah. Yang pengen mendapatkan travel credit alias diskon sebesar USD 25 (setara dengan Rp 300 ribuan, lumayan kan?) untuk penginapan airbnb pertamanya, sila daftar melalui tautan ini: www.airbnb.com/c/akumalasari. Yang belum perlu pun lebih baik daftar sekarang biar bisa browsing-browsing daydreaming sekalian membuat wishlist atau membuat proposal liburan untuk si penyandang dana :p

Yang masih kesulitan mendaftar atau pengen tanya hal-hal lain seputar airbnb, sila komentar di bawah ini ya. Review lengkap apartemen di Paris bisa dibaca di sini.

~ The Emak

Baca juga tulisan The Emak lainnya tentang perjalanan ke Eropa:
VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen


TRANSPORTASI

Review Holiday Inn Resort Penang

Kolam renang hotel saat senja

Menginap dua malam di Penang, saya sengaja memilih satu hotel di kota Georgetown dan satu hotel di tepi pantai Batu Ferringhi. Senang banget hotel kedua ini tidak salah pilih, menjadi highlight liburan kami di sini.

Ada banyak pilihan hotel di tepi pantai Batu Ferringhi (kurang lebih 45 menit dengan bis no. 101 dari kota). Coba buka Google Maps, di sepanjang pantai berjajar hotel, dari yang murah meriah sampai yang harganya selangit, dari brand ternama sampai yang belum pernah terdengar. Saking banyaknya hotel, sampai-sampai jalan masuk ke pantai untuk umum terbatas banget. Kali ini saya mau sedikit bermewah-mewah di hotel ‘beneran’, yang cuma selemparan batu dari pantai. Tapi… kalau bisa bayarnya gak mahal, lebih asyik lagi kalau gratis πŸ˜€

Gratis Pakai Poin
Menganut paham ngiritisme, saya rajin mengumpulkan poin dari keanggotaan hotel, website booking online, pesawat, kartu kredit, bank dan apapun yang nggak perlu bayar. Kalau suatu hotel (biasanya grup hotel) menawari keanggotaan gratis, saya pasti ikut. Gampang kok, biasanya tinggal daftar online di website-nya dan kita dapat nomor keanggotaan. Mereka biasanya nggak peduli dengan kartu fisik karena akun kita akan tersimpan di database dan bisa diakses kapan saja. Setiap kita menginap di salah satu hotel di grup tersebut, kita akan mendapat poin, yang bisa dikumpulkan untuk menginap gratis. 

Holiday Inn punya IHG Rewards Club, satu grup dengan hotel Intercontinental dan Crowne Plaza. Saya pernah beberapa kali menginap di Holiday Inn, yaitu di Darwin, Bandung dan Melbourne. Yang saya sukai dari brand ini adalah pelayanannya yang selalu bagus dan hotelnya yang ramah anak-anak (tentunya bebas asap rokok!). Satu kamar twin di Holiday Inn berisi dua double bed yang boleh untuk menginap dua dewasa dan dua anak-anak. Ini penting banget karena saya nggak mau keluar uang untuk extra bed atau malah sewa dua kamar hotel.

Satu kamar standar di Holiday Inn Penang harus ditebus dengan 20.000 poin. Tarif standarnya sekitar Rp 1,2 juta. Waktu itu saya hanya punya 16.000 poin. Sebenarnya 4000 poin kekurangannya bisa dibayar dengan uang (sekitar Rp 400 ribu). Tapi saya yang pintar ini punya cara lain untuk menambah poin, yaitu dengan menukar poin dari kartu kredit Si Ayah menjadi poin IHG Rewards Club saya. Bisa dilakukan online, dan gampang banget prosesnya, tinggal klak-klik dan poin sudah masuk ke akun saya tiga hari kemudian. (Penting! Emak-emak harus tahu dong password akun kartu kredit suami :p). Yay, akhirnya bisa nginep gratis di resort!

Sebenarnya saya sempat khawatir ketika booking online dengan poin. Di website-nya, tukar poin hanya mendapat kamar standar untuk dua dewasa. Deg-deg-an kalau nanti anak-anak harus bayar tambahan. Ternyata kekhawatiran saya tidak beralasan. Resepsionis menyambut kami dengan ramah, meng-upgrade kamar standar kami menjadi sea-view, dan memberi welcome drink untuk empat orang. Nggak perlu menyelundupkan anak-anak!

Backpacker nyasar di hotel berbintang :p
Dua double bed, muat untuk berempat.
View dari jendela kamar lantai 15.

Holiday Inn resort di Penang punya dua gedung: Beach Wing, bangunan lama yang lebih dekat dengan pantai, dan Ferringhi Tower, bangunan baru yang berada di seberang jalan, dengan view gunung atau laut. Kami mendapat kamar di Ferringhi Tower lantai 15. View-nya cukup bagus, separuh gunung dan separuh laut, spektakuler saat sunset dan sunrise

Little A langsung teriak-teriak hore begitu kamar dibuka. Dia, seperti Emaknya, suka menginap di hotel mewah. Yang nggak suka kan bayarnya, hehe. Si Ayah langsung anteng setelah diberi password wifi (gratis). Koneksi wifi di kamar lumayan cepat. Big A langsung ambil buku dan duduk santai sambil memandang laut. Nggaya banget, hahaha. The Emak sibuk mengecek amenities dari hotel: setrika, papan setrika, sandal kamar, safety box, air mineral, kulkas mini, pemanas air, kopi, teh, gula, creamer, sabun batangan, bubble bath, shampo, conditioner, lotion, sikat gigi, pasta gigi, sampai yang nggak penting seperti lap sepatu (kami pakai sneaker), alat jahit (alhamdulillah nggak ada kancing lepas) dan kapas kecantikan (saya nggak dandan). Oh, mungkin berguna untuk orang lain.

Yang saya rindukan dari hotel-hotel di Australia dan New Zealand adalah susu segar dalam pak kecil untuk campuran bikin kopi. Di hotel Indonesia, Singapura dan Malaysia biasanya cuma diberi creamer bubuk, kopinya pun kopi instan. Kecuali di Kid Suite Hard Rock Bali yang menyediakan mesin kopi espresso di kamar.

Belum lima menit kami leyeh-leyeh di kamar, ada yang mengetuk pintu. Dua staf hotel mengantarkan welcome snack dan tambahan dua botol air mineral khusus untuk anggota klub IHG Rewards. Sweet gesture. Camilannya seperti bakpia aromatic gitu. Lumayanlah untuk ganjal perut. Air mineralnya juga berguna untuk bekal sampai esok harinya. Begitu staf pergi, telepon berdering. Ternyata dari resepsionis yang menanyakan sesuatu dalam bahasa Inggris aksen India yang kurang bisa saya mengerti. Setelah diulang pelan-pelan, ternyata dia hanya ingin memastikan bahwa kami puas dengan kamar ini. Apa ada yang perlu dibantu lagi? Another sweet gesture.

Big A dengan buku kesayangannya
Jembatan yang menghubungkan Ferringhi Tower dengan Beach Wing

Agenda kami di Batu Ferringhi cuma satu: bermain-main di pantai sampai sunset. Jadi setelah istirahat sejenak, kami langsung menuju pantai melalui jembatan penghubung ke Beach Wing. Little A sudah siap-siap membawa mainan untuk membuat istana pasir. Si Ayah bawa kamera dan tripod, sementara The Emak bawa sarung Bali wong niatnya emang cuma leyeh-leyeh.

Kolam renang hotel ini terletak di Beach Wing, dekat resto untuk sarapan. Sayangnya kolamnya cuma kotak tanpa mainan untuk anak-anak. Ada kolam kecil dan dangkal untuk anak-anak, juga tanpa aksesori apa-apa. Di pinggir kolam dan di taman kecil yang menghadap ke pantai, banyak tersedia kursi malas. Tentu Little A lebih tertarik bermain air di pantai.

Pantainya berpasir putih, bersih dan nyaman karena tidak terlalu ramai (untuk ukuran Asia). Ombaknya pelan sehingga tidak berbahaya untuk anak-anak. Saya biarkan Little A nyemplung sampai basah, cukup diawasi dari jauh. Di sekitar tempat kami bermain, ada yang main voli pantai, parasailing, naik banana boat, naik speed boat, dan… syuting video klip :)) Saya menikmati mengamati aktivitas orang-orang ini sambil menjaga jarak dengan atlet parasailing amatiran yang mau mendarat.

Matahari terbenam berbarengan dengan rengekan Little A yang sudah capek bermain. Nikmat rasanya bisa menyaksikan indahnya cahaya langit, bersama orang-orang tercinta. Karena Si Ayah masih sibuk memotret, saya yang mengantar anak-anak kembali ke hotel. Ini keuntungan menginap di hotel tepi pantai, selesai bermain air, nggak perlu ribet ganti baju dan masih harus naik kendaraan untuk pulang. Kami tinggal bilas di pancuran yang disediakan hotel, dan lenggang kangkung menuju kamar.

Kamar mandi di kamar kami besar banget, terpisah antara pancuran (shower) dan bak mandi. Anak-anak senang bisa main bubble bath, nggak perlu dipaksa mandi seperti biasanya. Saya juga senang dengan sabun batangan dari Holiday Inn ini, ada aroma segernya dari sereh gitu. Tentu semua sabun-sabunan hotel ini saya bawa pulang, ransel masih cukup kok πŸ˜€

Setelah precils wangi dan siap diasuh oleh TV kabel (boleh dong, kan liburan…), saya keluar untuk pacaran dengan Si Ayah. Kami kencan di bar bermodal voucher welcome drink. Minuman gratisan ini semacam fruit punch gitu, entah campuran buah-buah apa, yang jelas enak dan seger.

Di pinggir jalan sekitar hotel ini ada pasar kaget setiap malam. Bahasa kerennya night market. Di Tripadvisor, night market ini banyak direkomendasikan. Tadinya saya juga penasaran, kayak apa sih marketnya. Ternyata cuma gitu-gitu aja, kios-kios tenda dadakan yang menjual baju-baju murah dan suvenir. Kurang nyeni menurut saya. Mungkin menurut bule-bule pasar malam seperti ini eksotis? Untung saya sudah membeli suvenir (segepok magnet kulkas street art Penang) di kafe di Lebuh Chulia.
 
Untuk makan malam, kami tidak mau repot-repot lagi dengan daftar buruan kuliner. Misinya mencari yang terdekat, apalagi sudah mulai turun hujan. Kebetulan kok ada warung tenda persis di depan hotel. Malam itu kami kenyang makan kwetiauw, fish & chips dan nasi goreng di kamar hotel.

Pantainya persis di belakang hotel
Gorgeous sunset

Ranjang yang luas dan nyaman, dengan bantal dan selimut empuk membuat tidur kami nyenyak. Sayang kami cuma menginap semalam. 

Kami sarapan sepagi mungkin karena harus mengejar pesawat kembali ke Surabaya. Sarapan gratis untuk anak-anak, tapi orang dewasa harus membayar RM 30 (sekitar Rp 105.000) karena belum termasuk dalam tarif hotel. Restorannya cukup nyaman untuk duduk, menghadap ke kolam renang dan ke pantai. Tapi sayang makanannya tidak ada yang istimewa. Anak-anak saya yang berlidah bule cukup puas dengan roti, selai, pastry, sosis dan chicken ham.

Si Ayah makan nasi goreng, sementara saya mencoba semuanya sedikit-sedikit. Buburnya gak ada rasanya. Nasi lemaknya juga blah bleh. Kok bisa ya? Padahal kokinya orang lokal lho. Yang menyelamatkan cuma sambal ikan bilisnya. Saya juga tidak puas dengan kopinya yang mungkin cuma dari kopi sachet. Susu segar yang saya ambil dari meja sereal pun tidak membantu. Ya gitu deh, kadang resto yang lebih mahal dengan tempat mewah tidak selalu lebih enak.

Oh, ya, masih ingat tentang permainan kecil kami dengan Holiday Inn yang pernah saya ceritakan? Waktu menginap di Bandung, satu handuk muka (washcloth) tidak sengaja terbawa oleh kami. Handuk cap Bandung ini kami ‘kembalikan’ ke Holiday Inn di Melbourne. Oke, sebenarnya kami tukar :p Jadi ketika menginap di Penang, kami membawa dan mengembalikan menukar handuk dari Melbourne. Sekarang di rumah kami ada handuk muka Holiday Inn bercap Penang. Mungkin akan kembalikan nanti di Phuket atau Krabi :)) #kode.

~ The Emak 

Baca Juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai
Review Tune Hotels Downtown Penang
Mencicipi Kuliner Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif  

Review Tune Hotels Downtown Penang

Di depan Tune Hotels Downtown Penang

Tune hotels memang murah sih, tapi…

Setelah mendapat tiket murah dari Surabaya ke Penang, saya mulai cari-cari hotel. Karena menginap dua malam, saya memutuskan untuk menginap semalam di kota (Georgetown) dan semalam lagi di tepi pantai Batu Ferringhi, 45 menit naik bis dari kota.

Ada beberapa pilihan akomodasi murah di Georgetown. Tapi karena saya punya kredit (poin) setelah membatalkan pesanan Tune Hotels di Danga Bay Johor Bahru, mau tak mau saya menggunakan poin tersebut untuk memesan Tune hotel di Penang. Ya daripada keluar uang lagi kan. Ada dua pilihan sebenarnya, Tune Downtown di Jalan Burma atau Armenian St Heritage Hotel yang dikelola oleh Tune. Sayangnya tarif Heritage Hotel di Armenian St ini lebih mahal. Wajar sih, karena lokasinya sangat strategis di tengah-tengah heritage site kota Georgetown. Karena nggak mau keluar uang lagi, saya pesan kamar quad Tune Downtown Penang via website mereka. Pilihan yang sedikit saya sesali sebenarnya.

Tarif Tune hotels memang lumayan murah, dibanding hotel-hotel lainnya. Untuk family room atau quad room saya membayar RM 179,80 atau setara dengan Rp 630.000. Kamar quad ini sebenarnya dua kamar yang dihubungkan oleh pintu penghubung, two connecting rooms. Satu kamar adalah kamar dengan queen bed, satunya lagi kamar dengan dua single bed. Kamar mandi ada di masing-masing kamar, jadinya kami dapat dua kamar mandi. Precils bakal seneng dapat kamar sendiri, dan Emaknya apalagi, bisa berduaan dengan Si Ayah. Itu rencananya.

Enam ratus ribu dapat dua kamar hitungannya lumayan murah kan? Tarif untuk quad room sudah termasuk AC 24 jam. Yup, jangan terkecoh, biasanya harga AC belum termasuk kalau kita pesan dari website Tune, untuk kamar selain Quad. Si Ayah geleng-geleng kepala, “AC harus bayar lagi?” Ho oh, kecuali udah hepi dengan kipas angin aja, gratis :p Selain AC, handuk dan sabun juga harus bayar, RM 6. Saya sih sudah siap-siap handuk dan sabun dari rumah. Internet juga harus bayar, RM 12 untuk koneksi 24 jam. Yang ini saya harus belikan untuk Si Ayah biar orangnya bisa tersenyum kembali. Apa lagi yang harus bayar di Tune hotel? Nitip tas! Ini juga harus bayar, masing-masing RM 2, dan harus dibawa sendiri ke ruang penyimpanan. Saking apa-apa bayar, Big A sampai nanya, “Do we have to pay for the water, Mom?” ketika akan mandi. Untungnya yang satu ini gratis πŸ˜€

Proses cek in mulus dan cepat. Sayangnya waktu kami mendapati kamar kami di lantai tujuh, bau asap rokok terasa menyengat sekali. Haduh, kami paling tidak tahan oleh bau asap rokok. Kamar sempit nggak masalah, handuk dan sabun bawa sendiri nggak masalah, nggak ada TV nggak masalah. Tapi bau asap rokok? Lagipula, bukannya ini non-smoking hotel? Ada tanda larangan merokok dimana-mana. Saya bergegas ke lobi untuk meminta ganti kamar. Nggak mungkin lah kami bisa bernapas di kamar seperti itu. Sebelnya, petugas nggak merasa bersalah atau merasa bahwa bau asap rokok itu masalah besar. Lha piye? Mereka mau membersihkan kamar, katanya. Si Ayah ngeyel minta ganti kamar, daripada bengek kambuh, kan?

Gara-gara kamar bau asap rokok ini, Si Ayah jadi cranky (siapa yang enggak, coba?). Apalagi… kami kelaparan! Di dekat Tune sebenarnya ada foodcourt, tapi baru buka malam hari. Di sebelahnya lagi ada warung, tapi… nggak mau jual ke kami karena semua masakan ada kecap babinya. Haduh! Kami harus berjalan sekitar 200m dalam keadaan lapar dan haus dan kesal, sampai akhirnya bertemu warung pinggir jalan yang buka, dan halal πŸ™‚ Emosi surut seiring perut kami terisi tom yam, ayam kicap, nasi goreng cili padi dan bihun goreng. Bahkan Little A mendapat apel gratis dan Si Ayah diberi lauk ikan gratis. Haha, mungkin kasihan sama kami yang tampangnya kelaparan banget. Lebih murah warungnya, lebih ramah orangnya?

Pulang dari makan di warung pinggir jalan, kamar kami yang baru di lantai sembilan sudah siap. Syukurlah yang ini tidak bau asap rokok lagi. Kamar beranjang dobel ada jendela yang bisa dibuka. Pemandangan dari kamar lumayanlah, menghadap kota dan gunung. Kami bahkan bisa mengintip TV layar lebar yang dipasang di pinggir jalan. Di kamar, jelas nggak ada TV-nya :))

Meskipun terasa sempit seperti kamar kos (11-12 meter persegi), kamar hotel ini cukup nyaman. Asal pilih yang berjendela ya. Mungkin saya bakalan sesak napas kalau hanya dapat kamar sempit tanpa jendela. Malamnya kami bisa tidur nyenyak di ranjang Tune yang cukup nyaman. Pancuran air panas di kamar mandinya juga bekerja dengan baik. AC nggak ada masalah, meski pertamanya kami nggak bisa mematikan kipas angin gara-gara baterai remote habis. Big A yang pintar mengatasi masalah seperti ini. Kalau mau minta air minum dingin (atau panas), tersedia isi ulang di lobi. Di sebelah hotel ini juga ada toko 7-eleven untuk kebutuhan kecil-kecil dan mendadak.

Kamar double bed, setelah dipakai sbg trampolin oleh Little A
Little A is happy, Si Ayah is cranky :p
Kamar mandi, di sebelah kanan adalah pintu hubung kamar satunya
view dari lantai 9

Meskipun namanya Penang Downtown, lokasi hotel ini tidak terlalu di tengah kota. Untuk berburu kuliner, street art dan ke museum, kita bisa menggunakan bis gratis Rapid Penang CAT. Halte terdekat dengan Tune hotel jaraknya sekitar 300 meter, di jalan Transfer. Jalur bis gratis dengan 19 halte bisa diunduh di sini.

Dari airport ke hotel, kami menggunakan taksi bandara (limo), dengan tarif RM 44,70. Dari hotel ke foodcourt di Gurney Drive, kami juga menggunakan taksi tanpa argo, habisnya 2x RM 18. Bisa ditawar sih, tapi kami kurang ahli soal itu. Untuk ke daerah Batu Ferringhi, kami naik bis jalur 101 dari halte 200m dari hotel, masih di Jalan Burma. Tarif bis untuk berempat RM 8.10 dengan lama perjalanan sekitar satu jam karena kondisi jalan yang ramai.

Hotel Tune ini hanya saya sarankan kalau tidak ada pilihan lain di Georgetown, karena lokasinya yang kurang bagus, servisnya yang dibawah standar dan terutama karena ‘kejutan’ asap rokok di kamar. The Tante, ketika bulan madu, pernah menginap di 1926 Heritage Hotel, masih di Jalan Burma juga. Hotel ini cukup murah, sarapannya lumayan dan bahkan ada kolam renangnya. Kalau waktu liburan terbatas, sebaiknya pilih penginapan yang dekat (bisa jalan kaki) dengan salah satu atraksi wisata atau pilihan kuliner. Misalnya kalau mau melihat-lihat street art, mending menginap di Heritage Hotel di Armenian St atau penginapan lain di Lebuh Chulia. Ada yang punya rekomendasi penginapan murah untuk keluarga di Georgetown?

Halte bus gratis terdekat (300m) dari Tune Hotel, di Jl. Transfer
Halte di Jalan Burma (200m dari hotel) untuk bus menuju pantai Batu Ferringhi

~ The Emak

Baca juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai 
Holiday Inn Resort Penang [Review Penginapan] 
Mencicipi Kuliner Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif 

Review Hotel Legoland: Menginap di Kastil Impian

“Aku nggak mau cuma nginep. Aku mau jadiin rumah,” kata Little A, mengungkapkan kesan jujur setelah menginap di Hotel Legoland Malaysia.

Kami diundang pihak Legoland untuk menginap semalam di hotel tematik ini. The Precils (dan Emaknya) kegirangan. Memang sudah lama kami bermimpi menginap di sini. Bolak-balik Emak mampir ke wesbite Legoland, sejak rencana hotel dibangun, sampai kemudian diresmikan Januari lalu. Kami bela-belain datang ke Johor Bahru dari Singapura, tidur di emperan bandara Changi, menempuh hampir tiga jam perjalanan darat dan melewati dua imigrasi. Rencana kami semula terbang langsung dari SUB ke JHB gagal gara-gara meletusnya Kelud. Tapi, capek-capek langsung hilang begitu taksi yang kami tumpangi dari JB Sentral melewati tikungan terakhir. Tampak hotel Legoland dengan warna-warna cerah menyambut kami. Kastil megah yang terlihat seperti lego mainan, hanya saja ini beneran. Whoaaaa, sebentar lagi, impian kami jadi kenyataan…

Lobi
Kesan lego-wi mulai tampak dari depan hotel, dan berlanjut sampai lobi. Sabtu pagi itu lobi ramai sekali, penuh dengan anak-anak (dan orang tua berjiwa kanak-kanak) pecinta Lego. Kami harus antre untuk cek in. Tapi nggak masalah, Little A langsung sibuk bermain-main di kolam berisi keping-keping Lego. Bricks…bricks… are everywhere. Mel dari PR Legoland menyambut kami dengan goody bag berisi tiket combo Legoland untuk keluarga, voucher makan, press kit dan merchandise. Senyum The Emak tambah lebar :))

Resepsionis dihias dengan 12.528 Lego mini figures yang berbeda. Tapi Big A berhasil menunjukkan pada saya, ada setidaknya sepasang yang sama persis, dan ada satu spot yang kosong alias hilang. Duh, saya juga gemes pengen nyomot satu (atau beberapa) untuk dibawa pulang πŸ˜€ Di dinding resepsionis ada sepeda yang digantung dan bisa jalan sendiri, yang ternyata rodanya dijadikan kaca pembesar agar kita bisa mengamati mini figure kecil-kecil itu. Cakep ya?

Proses cek in cepat banget karena kami sudah terdaftar. Mereka hanya minta deposit RM 300 dari kartu kredit untuk ‘pengeluaran yang tidak terduga’ alias kalau tamunya maling sesuatu, hehe. Kami juga boleh early check in, padahal baru jam 11 siang. Cek in resmi jam 4 sore. Kami mendapat kamar bajak laut di lantai satu. Begitu dapat kunci, kami langsung lari ke lift. Let’s be pirates!

Antre cek in di Lobi
Resepsionis
12.528 mini fugures. kami nggak hitung sih πŸ™‚

Pirate Theme Room
Di kamar kami, bajak laut ada di mana-mana. Mulai dari kasur, dinding, lantai sampai kamar mandi. Precils mendapat kasur yang mereka idam-idamkan: bunk bed alias ranjang susun. Sebenarnya masih ada satu extra, trundle bed yang bisa ditarik di bawah bunk bed. Kamar standar ini muat untuk dua dewasa dan sampai tiga anak.

The Emak juga senang dapat kasur king size di ruang terpisah dari Precils πŸ˜‰ Dua ruangan ini dipisahkan oleh pintu geser. Masing-masing ruang punya televisi sendiri, jadi nonton HBO nggak perlu rebutan dengan Nickelodeon. Kamar juga dilengkapi amenities standar: pembuat kopi/teh, brankas, mini fridge, toiletries, dan hair dryer (juga berguna untuk mengeringkan baju renang yang basah).

Yang membuat saya terkesan: mereka menyediakan dua wastafel di kamar mandi, satu dengan ukuran anak-anak. Little A tertawa bahagia. “How do they know my size? From your blog, Mom?” Acara cuci tangan dan sikat gigi nggak pakai huru-hara.

Hurray for bunk bed!
Pintu gesernya bisa ditutup rapat. Ehem.
Perawan di sarang penyamun :p

Aktivitas untuk anak-anak juga disediakan di kamar. Tiap kamar diberi satu peti harta karun. Untuk membukanya, anak-anak (atau ortunya) perlu memecahkan teka-teki yang disediakan. Kalau jawabannya benar, mereka akan mendapatkan nomor kode untuk membuka peti. Big A memecahkan puzzle ini dalam sekejap. Mereka memekik histeris menemukan treasure si raja monyet: Lego friends picnic series, gantungan kunci, pensil, penggaris, kartupos, dan magnet kulkas. Yay!   

Selain isi treasure box sebagai souvenir, anak-anak juga dipinjami satu kotak mainan lego. Yang ada di kamar kami adalah box hijau lego duplo, kurang begitu menantang bagi Little A. Dia lebih sibuk bermain pirate tic-tac-toe.

Sementara Precils sibuk menjelajah kamar bajak laut ini, saya tinggal mandi nyaman di pancuran air panas. Di mana Si Ayah? Seperti biasa, langsung terbang ke alam mimpi begitu ketemu bantal πŸ˜€


Monkey King treasure box
Big A solved this puzzle in a flash
Kid size wastafel

Brekky Party
Sarapan pagi prasmanan di hotel termasuk acara yang saya tunggu-tunggu. Ya itu tadi: prasmanan alias buffet, boleh ambil sepuasnya, hehe. Tarif menginap di hotel legoland sudah termasuk sarapan untuk sekeluarga. Restoran Bricks yang melayani sarapan buka jam 7 pagi. Tapi, seperti biasa kalau tidur di hotel yang terlalu nyaman, anak-anak pasti bangun kesiangan. Kami baru sampai di resto jam 8.30. 

Suasana restoran ramai sekali, penuh dengan keluarga dari berbagai bangsa. Saya senang dengan dekorasi restoran yang cerah ceria dengan warna-warna primer ini. Karakter Lego ada di mana-mana. Setelah mendapat meja di tempat strategis, saya mulai bergerilya cari makanan. Pilihannya banyak sekali, jadi bingung, dan tentu saja jadi ingin mencoba semuanya :p

Precils yang berlidah bule langsung minta roti. Untungnya rotinya enak, bukan cuma roti tawar putih, melainkan dari wholeweat. Selai dan menteganya juga enak, dari New Zealand. Roti panggang mereka saya lengkapi dengan irisan daging kalkun dan salami. Setelah masing-masing habis satu tangkup, Big A masih pingin hash brown, dan Little A masih doyan lamb shank. Ditambah sepiring buah-buahan dan segelas jus apel dan jeruk, saya memastikan anak-anak sarapan sehat dan kenyang sampai siang.

Berbeda dengan Precils, Si Ayah nggak akan merasa kenyang kalau belum makan nasi. Hotel di Asia, gampang lah cari nasi. Resto ini sedia nasi lemak atau nasi goreng (tanpa kecap manis, duh). Saya lihat di piring Si Ayah, semua lauk ada di sana, haha. Giliran The Emak, saya mengambil satu mangkuk tom yum sebagai sarapan pembuka, haha. “Wow, what a healthy choice,” sindir Si Ayah. Sayangnya, kuah tom yum ini kurang YUM, kurang nendang. Saya lalu memutuskan untuk mencicipi SEMUA-nya sedikit-sedikit. Kan mau ditulis di review, ya kan, ya kan?

Ternyata di resto Bricks ini, masakan Malaysianya biasa saja, malah masakan Indianya yang lebih lezat. Nasi lemak, nasi goreng, mie gorengnya biasa saja. Tapi roti chappati, kare daging dan lamb shank-nya mantab. Di teras resto dengan pemandangan Legoland dari atas, ada egg station. Pengunjung boleh memilih telurnya dimasak seperti apa. Kami tidak mencoba karena Little A alergi telur. Tapi saya sempat mencicipi pancake-nya yang yummy dan sedap. Yang juga enak di sini adalah pastry-nya. Mini danish yang baru keluar dari oven harum banget, menggoda minta dicicipi. 

Play, Swim and… Disco!
Menginap di Hotel Legoland bukan cuma perkara menginap saja. Di sini sebenarnya tempat bermain, yang ada kamar-kamarnya πŸ™‚ Selain lobi yang dihiasi oleh kastil dan perahu bajak laut dengan lautan keping-keping lego, ada juga tempat bermain (lego, tentu saja) di depan restoran. Di sini, anak-anak bebas menyusun kepingan lego sesuai imajinasi mereka. Di sebelah tempat main ini dipamerkan gedung-gedung pencakar langit yang lebih tinggi daripada Little A.

Di dekat lobi, ada kios kecil yang menjual souvenir dan barang-barang kebutuhan dasar seperti shampo dan sabun. Kios yang bisa diakses oleh pengunjung umum ini sebagai alternatif kalau lupa membeli oleh-oleh di toko di dalam Legoland. Harganya sih sama… mahalnya :p

Jangan lupa hotel ini juga punya kolam renang! Kolam renangnya ada di lantai lima. Dari sini kita juga bisa melihat pemandangan Legoland dari atas. Kami masih punya waktu 45 menit sebelum cek out jam 11 siang untuk singgah ke kolam ini. Sepi banget! Nggak ada seorang pengunjung pun kecuali dua lifeguard yang nganggur. Mungkin karena sudah bersenang-senang di waterpark, jadi nggak merasa perlu lagi berenang di sini.

Tapi lain dengan Little A. Di mana saja, nggak bisa lihat air nganggur. Dia tetap minta berenang. Saya tergopoh-gopoh mengambilkan dan memakaikan baju renang sebelum akhirnya dia nyemplung. Ada kolam anak-anak yang dalamnya cuma 60 cm, sehingga kami tidak perlu ikut nyemplung. Lagipula, buat apa ada lifeguard?

Jam 11, kami harus cek out dan say goodbye pada hotel keren ini. Tapi, masih ada satu lagi yang bisa dilakukan: disco! Mereka menyulap setiap lift di hotel ini menjadi disco booth. The Emak senang banget naik turun lift. Tapi ternyata, nggak cuma saya kok. Setiap tamu yang ikut masuk lift bersama kami, juga ikut bergoyang mendengarkan lagu-lagu upbeat ABBA. Minimal goyang-goyang kepala lah.

Ini video amatir The Emak tentang disco lift. Sorry, lupa menidurkan kamera, hahaha.

 

Pilih Imajinasimu!
Proses cek out ekspress banget. Kami tinggal menyerahkan kartu kunci kamar. Beres! Di lobi, kami bertemu Faeza. Saya memintanya untuk menemani kami melihat-lihat tipe kamar yang lain. Penasaran banget sama Kingdom Suite. 

Karena kami sudah menginap di Pirate Theme, kami diajak melihat-lihat kamar dengan tema Adventure dan Kingdom. Di kamar Adventure banyak dekorasi dengan tema petualangan Mesir. Untuk keluarga besar, mereka juga punya kamar Pirate Deluxe yang bisa diisi sampai delapan orang. Bedanya dengan Theme Room biasa, kamar deluxe ini punya dua set bunk bed, jadi muat untuk enam orang, plus satu king bed untuk dua orang.  Yang paling mewah adalah kamar Kingdom Suite, bisa muat untuk delapan orang. Selain dua bunk bed seperti di tipe Deluxe, kamar ini dilengkapi dengan dua kamar mandi, salah satunya dengan bak mandi. Kamar suite dilengkapi ruang keluarga dengan TV dan sofa, serta meja makan di sebelahnya. Terletak di lantai tujuh, view dari Kingdom Suite ini keren banget, Legoland bisa terlihat jelas dari jendela kacanya yang gedhe banget. Benar-benar idaman deh nginep di sini, serasa keluarga kerajaan, haha. 

Saya tanyakan ke Faeza, kenapa nggak ada tema Princess? Kan cewek-cewek pengin juga nginep di kastil cantik. Jawabnya: “We’re working on it.” Moga-moga kami diundang lagi begitu Princess room-nya siap πŸ˜‰

Adventure Theme Room
Kingdom Suite

Berapa sih tarif semalam nginep di Hotel Legoland? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dari tadi, atau yang jadi alasan membaca tulisan ini πŸ™‚ Tarif hotel ini sangat tergantung tanggal, ketersediaan dan tipe kamar. Semua bisa dilihat di website-nya langsung. Biasanya tarif malam Minggu atau hari Libur Nasional yang paling mahal. Malam Sabtu juga sedikit lebih mahal daripada hari kerja. Kalau mau murah sih, hindari hari-hari libur sekolah, terutama Juni-Juli dan akhir pekan. Tapi repot ya, kalau harus bolos sekolah, hehe. 

Contoh tarif bulan Juli 2014

Dari menu online, kita juga bisa membeli paket hotel dengan tiket legoland, harga satu hari bisa dipakai untuk dua hari. Oh, iya, semua tarif sudah termasuk sarapan di Bricks Family Restaurant. Kalau dilihat sekilas sih, lebih mahal daripada hotel biasa. Tarifnya mirip dengan kamar kid suite di Hard Rock Bali. Kalau diukur dari pengalaman yang didapat, nilainya sepadan. Nginep di sini cocoknya dijadikan hadiah spesial untuk anak-anak. Kadang, membelikan pengalaman, berkesannya lebih lama daripada membelikan gadget atau mainan.
 
Kalau memang berencana nginep sini, dan nggak harus di tanggal tertentu, pantengin saja website-nya. Kadang, ada promo dari hotel, seperti flash promo untuk low season kali ini: setiap menginap di Hotel Legoland, anak-anak mendapat gratis tiket combo Legoland. Cuma sampai 14 Maret 2014.

Yang belum sempat nginep, sebenarnya bisa main-main dan foto-foto di lobi. Masuk aja via lift yang ada di depan patung Lego penjaga, dari LG2 ke lantai G. Di lobi juga ada kios yang menjual souvenir, kalau saja ada yang lupa terbeli, tapi udah terlanjur keluar dari Legoland Themepark.

Thank you Legoland Malaysia for inviting us, we had a great time here. Sampai-sampai, kepergian kami dari hotel menuju bandara Senai diiringi tangisan Little A. Dia nggak mau pulang. “I want to stay here,” isaknya. “Me too, Darling, me too.”

Disclaimer:
This is a sponsored post. Traveling Precils’ family were given a free night stay at Legoland Hotel. 
But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

~ The Emak

Baca Juga:
Johor Bahru With Kids: Itinerary & Budget
Ke Legoland Malaysia, Via Changi Atau Senai?  
Legoland Themepark & Waterpark, Asyiknya Dobel!
Galeri: Foto-foto Miniatur dari Lego

Staycation in Surabaya: Hotel 88 Embong Kenongo

Cabang Hotel 88 di Embong Kenongo, Surabaya
Untuk menghindari berisik suara terompet, kembang api swadaya dan knalpot brong di malam tahun baru, kami memutuskan staycation di hotel (murah) di Surabaya.
Sebenarnya rencana staycation ini tidak sengaja. Ketika saya cek akun Agoda, ternyata poin saya bakal hangus per 31 Desember 2013 kalau tidak digunakan. Sayang banget kan poin-poin yang didapat dari bantu teman-teman backpacker yang belum punya kartu kredit untuk booking hotel ini hilang begitu saja. Iseng-iseng saya cari hotel yang bisa ditukar dengan 12,500 poin Agoda, dan ketemu hotel ini. Saya pesan dua bulan sebelumnya tanpa membuat rencana malam tahun baru sama sekali. Kalaupun nanti nggak jadi ya gakpapa, toh nggak rugi apa-apa.

Hotel ini relatif baru, salah satu cabang Hotel 88 yang banyak saya lihat di Singapore. Review-nya bagus. Lokasinya oke, di jalan Embong Kenongo 17, dekat dan bisa jalan kaki ke Plaza Surabaya (Delta), Monumen Kapal Selam, Pasar Bunga Kayoon, TIC (Tourism Information Centre), Perpustakaan Kota dan Es Krim Zangrandi. Yang nggak mau jalan kaki, taksi Blue Bird mangkal di depan hotel. Rate standar hotel ini sekitar 350 ribu, sudah termasuk sarapan. Kami dapatnya gratis pakai poin Agoda, jadi ya lumayan, pake banget :p

Enaknya pesan hotel di Indonesia, gak perlu pusing dengan aturan maksimal berapa orang per kamar. Asal muat dan mau empet-empetan aja, monggo, dipersilahkan, haha. Ketika cek in, saya hanya diminta menunjukkan KTP, tanpa ditanya berapa orang yang ikut menginap. Kamar superior kami terletak di lantai dua, untuk non-smoking room. Kamarnya mini banget sih, cuma 17 meter persegi, dengan satu king bed tanpa jendela. Tapi apalah artinya jendela kalau di kamar ada sambungan wifi yang cepat dan gratis. 

Fasilitas kamar ini standar, ada TV kabel, meja kerja, toilet dengan shower terpisah. Air minum botolan, handuk, sabun, shampo, sikat gigi dan sandal hotel juga disediakan. Tapi di kamar tidak ada mini bar (kulkas) dan alat pembuat teh/kopi. Nggak masalah sih, karena di tiap lantai ada dispenser air panas dan dingin. Di lobi juga disediakan teh dan kopi panas setiap saat. Bahkan di malam tahun baru ini ada bonus camilan kacang rebus, ubi dan singkong rebus dan wedang ronde, meski rasa wedangnya tidak karu-karuan :))

Seminggu sebelum malam tahun baru, saya baru tahu kalau di Surabaya diadakan Car Free Night di beberapa ruas jalan. Salah satunya adalah Jalan Jenderal Sudirman yang cuma 50 meter dari hotel ini. Wah, kebetulan banget. Karena anak-anak tidak mau keluar dan memilih menonton film di kamar, saya punya kesempatan pacaran dengan Si Ayah, menengok keramaian di CFN malam tahun baru. 

CFN-nya ramai, dan berisik tentu saja. Tapi saya sudah pakai senjata noise-cancelling earphone. Di sepanjang Jl Sudirman, sampai tugu bambu runcing, berjajar gerai makanan, promosi produk dan komunitas. Di titik-titik tertentu ada atraksi dari berbagai komunitas: capoeira, sepeda lipat, cosplay, ular tangga raksasa, atraksi ular raksasa (beneran). Warga Surabaya tumblek blek di sini, semakin malam semakin ramai saja. Setelah berhasil membelikan nasi kuning untuk makan malam Precils, kami menikmati last supper kami, berupa lontong kikil, sambil menonton sirkus sepeda motor yang ahli menjungkirbalikkan tunggangan mereka. Haha, cara melewatkan tahun baru yang aneh.
Breakfast station di lantai 2

Meski harus berdempetan berempat tidur di satu ranjang, untungnya, kamar hotel kami lumayan kedap suara, jadi kami bisa tidur nyenyak tanpa terganggu kemeriahan pesta jalanan tahun baru di luar sana. 

Pagi harinya, sarapan disediakan mulai jam enam, di lantai dua dan lantai tiga. Saya senang sekali dengan pemisahan ini, karena bisa sarapan dengan nyaman tanpa terganggu asap rokok. Pilihan menu sarapan sederhana: bubur ayam, nasi goreng, pecel dan roti panggang dengan selai. Minumnya ada teh, kopi dan jus jeruk. Pilihan buah hanya ada semangka. Untuk pencuci mulut disediakan singkong rebus dengan gula merah. Saya mencoba bubur ayam dan rasanya lumayan enak.

Karena tempat terbatas, kami tidak bisa berlama-lama di area sarapan ini. Begitu piring atau gelas kami kosong, pelayan dengan cepat mengambilnya. Bahasa halusnya tentu saja ingin mengusir kami karena memang harus bergantian dengan tamu lain. Untung kamar kami dekat dengan area sarapan ini, jadi bisa ambil ini itu dan dimakan di kamar.

Happy New Year 2014!

Mobil tamu bisa parkir gratis di hotel ini. Kalau tempat parkir di depan hotel habis, bisa parkir di pinggir jalan sekitarnya, keamanan dijamin pihak hotel 12 jam. Layanan cek out hotel ini secepat kilat. Saya cukup menyerahkan kartu kunci dan beres sudah karena sudah dibayar oleh Agoda. Little A cukup senang tinggal di sini, meski dia lebih senang lagi kalau hotelnya ada jendelanya. Big A juga senang karena wifinya bisa untuk streaming YouTube tanpa jeda. Si Ayah senang karena bisa numpang mengerjakan PR. The Emak ikut senang karena semua senang. Setelah meninggalkan hotel ini jam 11.30 siang, Little A langsung bertanya, “Kapan kita ke hotel gratis lagi, Mommy?”

Keluarga The Precils mengucapkan Selamat tahun baru 2014. Semoga semua destinasi impian bisa tercapai tahun ini. Cheers.

 ~ The Emak

Baca juga: 
Staycation Surabaya: Hotel Swiss Belinn Manyar

[Penginapan] Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore

Hostel’s reception

Boleh nggak sih bawa anak-anak nginep di hostel? Di Singapura boleh-boleh aja tuh, asal di kamar privat.

Setelah over budget menginap di hotel Novotel, saya ingin menyeimbangkan anggaran dengan menginap 2 malam di hostel, yang tarifnya hampir separuh dari tarif hotel bintang empat.

Saya mengandalkan website Hostel World untuk mengetahui daftar hostel yang tersedia di Singapura. Baru kemudian saya cek website masing-masing hostel. Sebagian besar hostel di Singapura, dalam peraturannya menyebutkan, anak-anak di atas usia 2 tahun boleh menginap, asal di kamar privat atau kalau menyewa seluruh bed di dorm (4 kasur atau 6 kasur). 

Setelah browsing dan baca review sana-sini, saya memutuskan memesan kamar di 5.Footway.Inn Project Boat Quay. Grup hostel ini sudah punya banyak properti di Singapura, antara lain di daerah Bugis, Chinatown 1 dan Chinatown 2. Project Boat Quay adalah hostel terbaru mereka. Lokasinya cukup menarik di tepi Singapore River. Sejak melihat foto-foto mereka di website resminya, saya langsung tertarik.

Di hostel, biaya menginap dihitung per orang atau per kasur, bukan per kamar. Tarif di hostel Project Boat Quay ini SGD 34 per orang per malam, atau sekitar Rp 272.000. Total berempat per malam adalah Rp 1.088.000. Saya booking di Hostel World, yang hanya mengenakan deposit 10% dari total tagihan. Deposit saya bayar dengan Pay Pal, sisanya saya bayar tunai di hostel. 

Bunk bed
Double bed

Saya sempat kesal ketika cek in, kamar yang kami pesan, Superior 4 bed Mixed Dorm tidak ada. Padahal saya sudah booking di Hostel World. Mereka menggantinya dengan 2 kamar privat, 1 kamar dengan double bed dan kamar satunya lagi 1 set bunk bed. Saya pikir-pikir nggak papa lah, karena Big A juga sudah cukup besar untuk menjaga adiknya, dan hostel ini dilengkapi pengamanan dengan kartu.

Sudah diduga, Little A senang dengan bunk bed. Kamar privat bunk bed untuk berdua ini sangat sempit dan tanpa jendela. Kamar double bed lebih luas, lantainya yang diberi karpet bisa untuk menggelar barang bawaan dan hasil shopping kami untuk packing di malam terakhir. Masing-masing kamar dilengkapi AC, meja dan bangku, loker yang bisa dikunci, cermin, lampu baca dan colokan charger. Mereka juga menyediakan handuk. 

Kasur, bantal dan spreinya tipis, tidak senyaman kasur di hotel (ya iya laaah). Awalnya saya sempat merasa sesak napas karena sempitnya ruangan tanpa jendela ini. Tapi lama-lama, setelah tersihir sejuknya AC, saya bisa menyesuaikan diri. Apalagi di hostel ini ada fasilitas wifi gratis dengan kecepatan tinggi. Precils bisa anteng streaming You Tube, sementara Emaknya bisa eksis di media sosial. Siapa yang perlu TV layar datar? Dan jendela?

Brekky with a view

Di hostel ini, semua kamar mandinya sharing, tidak ada kamar mandi dalam. Mungkin ini juga yang bikin ragu Emak-Emak lain untuk mencoba hostel. Nanti gimana mandinya di kamar mandi umum? Saya dulu juga begitu, ketika memesan kabin di New Zealand, selalu memilih yang ada kamar mandi dalamnya. Tapi setelah latihan camping di Sydney, dan campervanning Adelaide – Melbourne, kami jadi berani menggunakan toilet dan kamar mandi umum.

Toilet dan kamar mandi perempuan satu lantai dengan resepsionis dan kamar kami, sementara kamar mandi untuk laki-laki di lantai 3. Toilet duduk kering cukup bersih, dengan tisu yang cukup. Ada juga satu toilet dengan semprotan air. Kami tidak pernah harus mengantre untuk memakai toilet atau kamar mandi. Tapi bilik mandi selalu sudah basah lantainya. Desain bilik mandi mereka juga tidak sebagus yang kami temui di Australia, dengan area basah untuk shower dan area kering untuk ganti baju. Bilik mandi di hostel ini cuma seperti ruang bilas di kolam renang di Indonesia. Mereka menyediakan sabun cair dan shampoo dalam dispenser di setiap bilik. Sayangnya cantelan handuk dan gantungan bajunya cuma satu! Lumayan ribet untuk ganti baju, apalagi tidak ada area kering. Tapi ya sudahlah, yang penting badan segar kena air hangat.

Hostel ini juga menyediakan fasilitas laundry dan pengeringan dengan membayar $13 sekali cuci, termasuk deterjen. Saya perlu cuci-cuci karena Little A berbasah-basah di water play Singapore Zoo. Ketika saya lupa mengambil cucian malam-malam, resepsionis cukup berbaik hati mengamankan cucian saya untuk diambil esok harinya.

Satu lagi kelebihan di hostel, mereka menyediakan sarapan gratis. Meskipun ‘cuma’ roti panggang dengan selai, lumayan lah untuk memulai hari. Yang paling menarik dari hostel ini adalah ruang serbaguna mereka di lantai atas. Dari teras, kita bisa sarapan dengan kopi beneran dari mesin kopi dan roti panggang sambil memandang sungai Singapura yang bersih. Cicit burung menimpali obrolan saya dan Si Ayah pagi itu, tentang… statistik untuk validasi penelitian! Kriuk πŸ™‚
 

Lokasi hostel ini berada di antara ruko-ruko pinggir sungai yang kalau malam disulap menjadi tempat untuk makan-makan. Banyak resto yang menawarkan seafood, chinese dan Thai food dan ada beberapa bar bergaya pub di Inggris. Saya sempat tanya harga makanan di sekitar sini, yang ternyata lumayan mahal, $25-$35. Kami pun melenggang menuju Lau Pa Sat yang standar harga makanannya cuma $5 – $7. Hostel ini berada di antara stasiun MRT Clarke Quay (jalur ungu) dan stasiun Raffles Place (jalur merah dan hijau), masing-masing ditempuh 10 menit berjalan kaki (jadi 20 menit kalau dengan Precils). Dari dan ke bandara Changi bisa memilih via stasiun Raffles Place.

Secara umum, kami asyik-asyik aja tinggal di hostel. Precils tetap bisa tidur nyenyak dan nggak komplain berbagi kamar mandi dan toilet. Saya, meskipun bisa mendengar langkah-langkah orang di lorong kamar dan sayup-sayup obrolan tetangga sebelah, akhirnya bisa tidur juga karena kelelahan. Si Ayah senang dengan internet cepat dan gratis, saya senang bisa minum kopi beneran dari mesin kopi. Cuma yang saya rasakan, tamu-tamu di hostel ini lebih banyak yang cuek. Saat sarapan, hanya bule-bule yang membalas ucapan Good Morning saya. Sementara orang-orang Asia, ketika disapa, tersenyum pun tidak. Euw!

~ The Emak 

Baca Juga:  

[Penginapan] Novotel Clarke Quay Singapore

Little A di depan Novotel Clarke Quay

Mencari akomodasi di Singapura bisa bikin kepala puyeng karena harganya memang paling mahal dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia Tenggara. Pilihan saya jatuh pada Novotel Clarke Quay yang tarifnya waktu itu sedang diskon.

Tidak mudah mencari hotel di Singapura yang murah, ramah anak dan bisa mengakomodasi 2 dewasa dan 2 anak dalam satu kamar tanpa tambahan biaya extra bed. Biasanya hotel-hotel murah (bintang 2 dan 3) hanya membolehkan maksimal 3 orang per kamar. Dan kalau harus menambah biaya extra bed, jatuhnya malah bisa lebih mahal daripada hotel bintang 4. Di catatan saya, hotel bintang 4 yang membolehkan 2 dewasa dan 2 anak dalam satu kamar adalah: Holiday Inn (Orchard), Swissotel (Merchant Court dan The Stamford), Village Hotel (Bugis), dan V Hotel Lavender

Mengapa harus tertib mencari hotel yang memang bisa berempat se kamar? Memangnya tidak bisa ‘menyelundupkan’ satu anak kecil, toh gak makan tempat? Saran saya sih, jangan! Singapura menerapkan aturan ketat tentang jumlah penghuni hotel ini. Setiap orang harus dipindai paspornya oleh pihak hotel. Saya juga banyak membaca cerita di forum-forum kalau yang ketahuan jumlah penghuni kamarnya tidak sesuai dengan peruntukan, wajib membayar ekstra atau bahkan didenda. Udahlah, main aman saja biar liburannya juga nyaman.

Budget saya per malam maksimal Rp 1,5 juta termasuk pajak untuk berempat. Tapi karena frustasi tidak bisa mendapat hotel dengan tarif segitu, saya akhirnya menyerah, memesan 2 malam di Novotel dengan tarif SGD 235 atau Rp 1,880,000 per malam termasuk pajak 17%. Itu saja sudah tarif diskon 40%, kata Accor, grup hotel ini. Saya booking di website resminya menggunakan kartu kredit.

Biasanya saya browsing daftar dan harga hotel yang tersedia di website Hotels Combined. Website ini bisa membandingkan tarif hotel dari banyak booking engine, seperti Agoda, Expedia, Hotels, Venere dan website resmi masing-masing hotel. Jadi kita tinggal memilih tarif termurah. Saya tidak pernah fanatik dengan salah satu booking engine. Minimal, saya bandingkan harga di 3 website sebelum memutuskan membeli. Golden rule: selalu cek harga toko website sebelah πŸ™‚

Selain faktor kids friendly, ketika memilih penginapan perlu dipertimbangkan juga faktor lokasi. Kalau memang ingin menggunakan transportasi umum, pilihlah penginapan yang dekat dengan stasiun MRT dan atau halte bus. Novotel Clarke Quay terletak di 77A River Valley Road, stasiun MRT terdekat adalah Clarke Quay dan ada halte bus di samping hotel.

Dari airport, kami naik MRT jalur hijau, berganti kereta di Tanah Merah, kemudian lanjut sampai stasiun Outram Park. Dari sana perlu ganti ke jalur Ungu dan naik dua stop sampai di Clarke Quay. Ternyata ganti jalur di dalam stasiun MRT ini cukup jauh jalannya, kadang harus naik turun eskalator/lift. Kami yang dulunya pejalan-pejalan tangguh selama tinggal di Sydney, merasa kewalahan berjalan jauh di kota ini karena sejak di Surabaya hampir tidak pernah jalan kaki ke mana-mana. Duh. Perjalanan dari airport yang perlu dua kali berganti kereta dan jalur dan masih ditambah jalan kaki 10 menit dari stasiun ke hotel membuat kami kecapekan di hari pertama. Kami sampai di hotel jam tujuh malam dan sudah nggak sanggup untuk keluar makan malam. Untungnya lokasi Novotel ini menjadi satu dengan Liang Court Mal, yang mempunyai food court, 7 Eleven, Mc D dan Starbucks. Kami terselamatkan dari kelaparan :))

Daerah Clarke Quay ini cukup ramai kalau malam, banyak restoran dan bar yang buka, diiringi dengan dentuman musik yang hingar bingar. Sepertinya kawasan ini lebih cocok untuk anak-anak muda atau yang berjiwa muda, bukan Emak-Emak kayak saya, hehe.

Kalau boleh saya sarankan, pilihlah hotel yang jaraknya dari stasiun MRT maksimal 5 menit jalan kaki. Kalau bisa sih di atas stasiunnya sekalian seperti di V Hotel Lavender, atau tepat di depan stasiun seperti Swissotel Merchant Court. Selain itu, pilihlah hotel yang dekat dengan stasiun di jalur yang paling sering kita gunakan, sesuai itineray, agar tidak perlu berpindah jalur. Saya agak salah dalam hal ini. Stasiun kami jalur ungu, padahal kami mainnya ke Science Museum (jalur hijau), Singapore Zoo (jalur merah), Orchard Rd (jalur merah), Gardens By The Bay (jalur kuning). Alhasil harus pindah jalur setiap kali naik MRT, dan lumayan bikin capek. Lain kali, saya akan rela menambah sedikit anggaran hotel asal lokasinya bagus dan menghemat banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang kami rencanakan.


Kami menginap di kamar Eksekutif dengan dua tempat tidur single. Kamarnya cukup luas, tapi kasurnya tidak sebesar di Holiday Inn. Sepertinya cuma 120cm lebarnya, lupa nggak mengukur waktu itu. Tapi cukuplah buat kami yang posturnya kecil-kecil ini :p Kasur dan bantal cukup nyaman, membuat The Precils susah bangun pagi. Fasilitas sama dengan layaknya hotel bintang 4 lainnya: minibar, TV layar datar dengan saluran TV kabel, sofa, setrika, jubah mandi, safe deposit box, minibar, ketel listrik plus kopi, teh dan gula, air mineral gratis, shower, bath tub dan ubarampe mandi.

Yang saya rindukan dari penginapan-penginapan di Australia yang tidak ada di Indonesia dan Singapura adalah susu segar kemasan kecil gratis di minibar untuk membuat kopi. Di sini cuma disediakan krimer. Susu harus beli sendiri.

Di hotel ini kami tidak sempat menggunakan kolam renang, saking capeknya jalan-jalan seharian. Kami juga tidak mendapatkan sarapan di hotel, karena paketnya memang begitu. Lagipula, Si Ayah harus berangkat ke tempat konferensi jam 6.30 pagi, tidak cukup waktu untuk sarapan dengan nyaman di hotel. Pagi pertama saya beli sarapan takeaway di Mc D untuk dimakan di kamar. Hmm… hash brown! Pagi berikutnya setelah cek out dan pindah ke hostel, saya ajak anak-anak brunch di Starbucks. Hmm… yummy almond cake.

Di lobi tersedia internet gratis selama 20 menit dengan iMac. Sedangkan internet di kamar harus bayar, meh! Ini yang tidak saya suka dari hotel berbintang, mereka mengutip tarif mahal untuk layanan berbiaya murah yang seharusnya menjadi hak semua tamu sekarang ini. Ridiculous.


Hotel ini cukup nyaman, Big A dan Little A betah di sini. Ini Novotel ketiga tempat kami menginap setelah Novotel Canberra dan Novotel Sydney Olympic Park. Pelayanan yang kami dapatkan standar, khas Novotel? πŸ™‚ Kami tidak ada komplain dengan hotel ini, tapi juga tidak ada yang sangat berkesan, semua biasa-biasa saja. Apakah kami akan menginap di sini lagi suatu saat nanti? Hanya kalau ada penawaran yang benar-benar spesial.

Mainan di lobi


~ The Emak

Baca juga:  

[Penginapan] Griya Pesisir Pantai Pulang Sawal

Beach front accommodation

Setelah berkali-kali gagal menelepon penginapan-penginapan lain di sekitar pantai Pulang Sawal alias Indrayanti, akhirnya Dila, adik saya berhasil menghubungi pemilik Griya Pesisir. Di akun Facebook-nya, penginapan ini tidak begitu meyakinkan. Tapi ternyata, lumayanlah untuk menginap semalam dan menikmati senja dan pagi di pantai. Fasilitas memang sangat basic, tapi pemandangan laut dari balkon luar biasa.
Gunung Kidul, Yogyakarta punya banyak pantai cantik di pesisir selatan. Sayang, belum banyak akomodasi dengan standar bagus untuk pengunjung yang ingin menginap. Biasanya, orang-orang melakukan day trip dari Yogyakarta. Memang jarak Jogja dengan pantai-pantai di Gunung Kidul bisa ditempuh sekitar 2,5 – 3 jam. Tapi kami tidak ingin terlalu capek dan memutuskan menginap semalam di akhir pekan.

Ternyata tidak mudah memesan penginapan di sekitar pantai Pulang Sawal. Saya browsing di internet, tidak ada informasi lengkap mengenai akomodasi di Indrayanti. Saya juga minta tolong teman yang kebetulan main ke pantai ini untuk mencatat nomor kontak penginapan yang bisa dihubungi. Tapi ternyata tidak bisa tersambung. Di tengah ketidakpastian, saya mendapatkan akun facebook Griya Pesisir yang tidak begitu meyakinkan. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan?

Akhirnya Dila berhasil menelepon nomor 0877-3801-7351 ini dan memesan satu kamar untuk kami berdelapan. Harga yang semula Rp 750 ribu dia tawar menjadi Rp 700 ribu πŸ™‚ DP 100 ribu kami kirimkan lewat transfer bank. Ketika memesan, belum jelas fasilitas apa yang akan kami dapatkan nantinya. Tapi pemilik penginapan meyakinkan kamar ini muat untuk 6 orang dewasa dan 2 anak-anak.

Untuk jaga-jaga, kami membawa sleeping bag, thermos, berbotol-botol air mineral dan banyak makanan instan. Sedia payung sebelum hujan, sedia camilan daripada kelaparan :p Mobil New Avanza yang kami sewa seharga 250 ribu perhari pun jadi terlalu penuh makanan πŸ˜€

Dua double bed dan satu sofa bed
Basic toilet

Lika-liku perjalanan menuju pantai Pulang Sawal sudah saya ceritakan di sini. Kami menemukan penginapan Griya Pesisir di tepi jalan dekat lapangan tempat parkir pantai yang sudah penuh sesak dengan mobil dan bus. Kami disambut Mas Nardjo, penjaga penginapan yang langsung menyilakan kami memarkir mobil di dalam.

Penginapan ini terdiri atas dua lantai. Lantai pertama dipakai untuk parkir dua mobil, plus dapur dan tempat duduk-duduk. Sementara di lantai dua ada tiga kamar tamu berukuran sedang dan balkon luas yang asyik untuk leyeh-leyeh dan memandang lautan.

Ukuran kamar kami kira-kira 4×5 meter. Ada satu dipan dengan double bed, satu kasur dobel ekstra yang bisa digelar di lantai kayu dan satu sofa bed yang bisa dipakai tidur satu orang dewasa. Di ujung kamar ada kamar mandi basic dengan toilet duduk, ember dan shower head dari pipa pralon kecil πŸ™‚ Wastafel kecil menempel di luar kamar mandi. Mereka juga menyediakan handuk dan dispenser sabun dan shampoo.

Ada dispenser air panas dan dingin di balkon. Tapi kalau butuh air mendidih, kita juga bisa meminta Mas Nardjo untuk memanaskan air di dapur. Pagi harinya disediakan air satu thermos plus kopi, teh dan gula. Dan ternyata kami mendapat sarapan dua piring nasi goreng dengan telur! Rasanya? Ehm… bisa dimakan lah :))

Di kamar kami ada kipas angin, tapi tidak terlalu dibutuhkan karena cuaca yang cukup nyaman. Suhu udara tidak terlalu panas dan angin laut bertiup cukup kencang. Jangan ditanya bagaimana kami bisa tidur berdelapan, hanya dengan 2 kasur dan 1 sofabed. We could manage πŸ™‚

Kami cukup senang menginap di sini. Bapak saya yang sudah tidak kuat berjalan kaki jauh, tetap bisa menikmati suasana pantai dengan duduk-duduk di balkon. Little A ditemani Om dan Tante juga puas main air di depan penginapan persis dan bilas dengan pancuran air bersih di lantai bawah. Ibu saya puas jalan-jalan ke mana-mana dan membeli camilan macam-macam. Saya puas bisa pacaran sama Si Ayah πŸ˜‰ 

Ketika jalan-jalan pagi, saya sempatkan untuk melihat penginapan lain di sekitar. Ada Penginapan Walet di seberang jalan pantai yang menyediakan guest house dan camping ground. Tarif penginapan ini Rp 350 ribu semalam per kamar. Bangunan guest house ini tampak bagus dan lingkungan sekitarnya pun tertata apik dan bersih. Tapi sayangnya lokasinya tidak berada di pinggir pantai persis sehingga tidak mendapat pemandangan laut. Penginapan ini kira-kira 50 meter dari pantai, terhalang kafe Indrayanti dan jalan aspal. Untuk memesan, bisa menghubungi 087838601129 atau 082133065501. Good luck πŸ™‚

Rombongan Darmawisata :))
Griya Pesisir terlihat dari atas bukit

~ The Emak

Baca juga:
Indrayanti Sang Primadona Gunung Kidul
Review Hotel Melia Purosani Yogyakarta

A Quick Rocking Experience At Hard Rock Hotel Bali

Cool guitars πŸ™‚

Meskipun ‘liburan’ kami ke Bali kali ini termasuk sangat singkat, kesan yang kami dapatkan sungguh menyenangkan. Salah satunya karena kami menginap di ‘the bestest hotel ever‘ versi Little A πŸ™‚

Berawal dari mendapatkan durian runtuh tiket gratis Air Asia untuk Surabaya – Denpasar bulan April ini, saya mulai cari-cari hotel untuk menginap di Bali. Kriterianya yang paling penting adalah family friendly, artinya bisa muat untuk dua dewasa dan dua anak dalam satu kamar, tanpa extra bed atau tanpa sembunyi-sembunyi menyelundupkan anak, hehe. Meskipun hotel di Bali banyak banget, ternyata tidak gampang mencari kamar hotel dengan dua double bed. Biasanya hotel menyediakan satu queen/king bed atau dua single bed. Kapasitas juga terbatas untuk dua dewasa dan satu anak kecil. Kalau anak sudah berusia 11 tahun seperti Big A, sudah tidak nyaman satu ranjang dengan orang tuanya. Jadi meskipun ada promo-promo hotel yang murah jatuhnya tetap mahal karena harus ada extra bed atau malah harus pesan dua kamar.

Kriteria lain adalah harus dekat dari bandara karena flight kami kembali ke Surabaya cukup pagi. Kami tidak mau deg-deg-an di jalan terkena macet atau harus berangkat terlalu pagi. Pilihannya tinggal di daerah Jimbaran, Tuban, Kuta Selatan atau Kuta karena saya maunya beachfront, di depan pantai persis. Selain itu saya masih punya syarat lagi: punya kolam renang untuk anak-anak agar kami tidak perlu main di Waterbom. Tiket Waterbom ternyata lumayan mahal juga untuk berempat. Trus syarat yang terpenting adalah tarifnya tidak mahal! Duh, Emak-Emak memang banyak maunya ya? :p

Website andalan saya untuk membaca review hotel adalah Trip Advisor, meski harus diakui terjemahan bahasa Indonesia lucu banget. Mending baca website berbahasa Inggrisnya deh. Hard Rock Hotel Kuta lumayan dapat review bagus, terutama oleh keluarga yang membawa anak kecil. Hotel ini juga dipilih pembaca Trip Advisor menjadi salah satu dari 10 Hotel Keluarga Terbaik di Indonesia tahun 2013. Saya langsung cek harga (sekaligus membandingkan dengan tarif hotel lain) di Agoda, HotelsCombined dan website resminya.

Ternyata paling murah di website resminya, saudara-saudara. Di Agoda malah lebih mahal dan belum tentu dapat diskonan, voucher dan bonus macem-macem. Kami mendapat harga Rp 1.204.764 per malam untuk kamar deluxe (yang paling murah pokoknya), sudah termasuk pajak, termasuk sarapan untuk dua dewasa dan dua anak-anak. Not bad. Dan kalau booking di websitenya, kita tidak perlu bayar di muka. Bisa bayar ketika cek out, tapi nomor kartu kredit kita dicatet. Sebenarnya ada bonus free shuttle dari bandara kalau menginap dua malam, atau bonus free family dinner kalau menginap tiga malam. Sayangnya kami cuma menginap semalam karena ada teman yang mengundang kami menginap di Vila barunya di Canggu.

Sayangnya Hotel Hard Rock ini baru bisa cek in jam 3 sore. Padahal maksud saya setelah makan siang di sekitar Kuta, kami berharap bisa langsung ke hotel sekitar jam 2-an. Saya hubungi akun twitter mereka: @hrhbali untuk mengemis early check in. Ternyata si admin ramah banget dan kami boleh cek in jam 2. Mari kita follow @hrhbali, siapa tahu mereka kasih promo atau bagi-bagi gratisan (modus, hehe).

Sesuai itinerary, setelah makan siang di restoran favorit Little A kami cek in di hotel. Kejutan! Kamar kami di-upgrade menjadi Kids Suite. Whoa! Hadihaha, yay! Saya melirik Big A yang tidak bisa berhenti tersenyum. Ini salah satu impian dia, menginap di Kids Suite, Hard Rock. Berkali-kali dia membuka website Hard Rock dan melihat-lihat kamar spesial ini. Hanya saja saya bilang belum mampu bayar tarifnya. Ntar aja kalau lagi ada diskon. Atau di-upgrade :)) Big A’s dream comes true. “Why do they upgrade our room, Mommy?” tanya Big A. Karena tidak tahu, saya juga jawab sekenanya. “Mungkin mereka tahu kalau kita gak mampu bayar kamar suite.” Big A meringis. “No, maybe because we are good people. Let’s go to our room berfore they change their mind.” Dengan semangat empat lima kami menuju kamar yang terletak di wing 1, ditemani petugas yang membawakan ransel-ransel kami, yang baju seragamnya persis kemeja yang saya kenakan, euw πŸ˜€ Senyum Little A mengembang begitu melihat tanda bintang di depan pintu kamar kami: Rock Star!

The Precils dapat kamar sendiri. Asyik!
Kamar The Emak dan Si Ayah. #okesip :p
Posisi wuenak! Udah susah diajak keluar hotel πŸ™‚

Cerita berikut ini seharusnya disensor demi reputasi pemilik blog ini, tapi begini lah yang terjadi setelah kami masuk kamar. “Whoohoo!” Big A berteriak kegirangan dan langsung meloncat ke ranjang atas bunk bed. Little A ikut-ikutan naik ke ranjang, memeluk boneka yang tersedia di sana. Big A meloncat turun dan mendarat di bean bag besar yang disediakan untuk leyeh-leyeh. Saya ikut senang melihat ekspresi precils yang sangat gembira, sambil nyemil coklat-coklat kecil yang disediakan di meja makan. Tapi saya segera menguasai keadaan: ayo foto-foto dulu sebelum semuanya berantakan!

Kamar Kids Suite ini memang sangat asyik, melebihi ekspektasi kami. Ada ruang khusus untuk anak-anak yang didesain sangat cute, dilengkapi dengan amenities yang menarik untuk mereka: bunk bed alias ranjang susun, boneka plush toys, bean bag, peralatan main pasir, buku-buku, dan Play Station 3 termasuk guitar untuk main guitar hero. Lebih asyik lagi, precils mendapat kamar mandi sendiri dengan sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampo dan kaca mata renang khusus untuk anak-anak. Kids Suite ini benar-benar memanjakan precils, menjadikan mereka lil’ rocks πŸ™‚

Dari pengalaman kami traveling, beberapa kali kami memesan penginapan dua kamar, tapi the precils jarang dengan sukarela mau tidur sendiri di kamar yang disediakan. Biasanya mereka akan ikut tidur di ranjang utama. Kecuali di Kids Suite hotel ini. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan kamar Si Ayah dan The Emak. Asyik kan? :p


Saya sendiri suka dengan perhatian kecil yang diberikan hotel ini. Misalnya kartu selamat datang yang ditulis tangan oleh manajer hotel, buah-buah segar yang disediakan (meski saya tidak tahu bagaimana caranya memotong nanas dengan pisau roti), nama saya di kotak peralatan mandi (berarti boleh dibawa pulang ya?) dan tentu saja cokelat-cokelat selamat datang (yang sebagian besar dimakan Si Ayah, bukan saya). Yang paling saya suka: ada mesin pembuat kopi! Pagi-pagi sebelum cek out, saya sempatkan membuat kopi dari pod yang disediakan. Tentu kopinya lebih sedap daripada kopi instan. Sayangnya mereka tidak menyediakan susu segar untuk teman minum kopi, seperti hotel/motel di Australia dan New Zealand. Di Indonesia, biasanya cuma disediakan kopi bubuk, creamer dan gula. Untungnya kami membawa sendiri susu segar. Punya anak-anak sih, minta dikit gak papa kan? Duh, saya jatuh cinta sama mesin kopi Pod Brewer ini, pengen saya bawa pulang πŸ™‚ Pagi itu baru saya tahu kalau ada yang lupa menyediakan sendok kecil untuk mengaduk kopi. Atau saya aja yang tidak berhasil menemukan?

Masalahnya dengan kamar hotel yang terlalu nyaman, rasanya malas sekali untuk keluar. Setelah selesai beres-beres, Si Ayah, Little A dan Big A duduk nyaman di day bed menonton film di televisi. Si Ayah sedari tadi sudah ‘tidak rewel’ sejak saya beri password untuk menyalakan wifi, yang katanya lumayan kencang. Posisi wuenak mereka ini susah untuk diganggu gugat. The Emak harus ultimatum: renang jam empat, lihat sunset di Kuta jam 5! Hening, tidak ada jawaban kecuali suara dari speaker televisi kabel.

Dengan kolam renang terbesar di Bali ini, saya bisa bilang bahwa Hard Rock sebenarnya bukan hotel, tapi kolam renang raksasa yang kebetulan juga menyewakan kamar-kamar. Kamar kami cukup jauh dari kolam renang utama, harus berjalan melewati lobi dan seluncuran raksasa yang bentuknya persis dengan foto yang saya lihat di website (ya iya laaah). Meskipun seluncuran itu sangat menggoda dan menantang, saya tidak berani bawa anak-anak ke sana karena Little A belum bisa berenang dan tidak membawa pelampung. Kami berjalan melewati pantai pasir buatan, tempat sekelompok anak-anak yang kebanyakan berambut pirang berlomba balap karung. Sepertinya ini aktivitas Kids Club. Sebenarnya The Precils otomatis sudah terdaftar di Kids Club. Tapi kami tidak sempat menggunakan fasilitas ini karena mereka maunya berenang saja. Padahal kalau the precils bisa dititipkan ke club yang diasuh para profesional ini kan Emak dan Si Ayah bisa pacaran… #abaikan.

Saya intip di website mereka, untuk mendaftar ke Kids Club ini harganya Rp 250.000, cukup dibayar sekali dan berlaku selama menginap. Tapi kalau booking lewat website resmi, ada diskonnya kok. Harga ini termasuk minum, makan siang gratis, gift pack dan seluruh aktivitas. Cocok banget untuk yang ortunya punya acara sendiri πŸ˜‰

Puas nonton precil-precil bule jatuh bangun lomba balap karung, kami melipir ke Kids Pool yang ada di pojokan. Kami berpapasan dengan pelayan restoran yang mengantarkan minuman, meluncur dengan in-line skate. Wuih, ide yang bagus, biar pelayanannya lebih cepat. Asyiknya berlibur ketika orang-orang lain masih di kantor, kami tidak perlu rebutan bangku di pinggir kolam. Suasana cukup sepi, hanya ada beberapa keluarga yang main di Kids Pool yang kedalamannya cuma 30 centimeter ini. Little A dan Big A senang banget main di sini. Awalnya Little A masih takut karena ada ember yang memuntahkan air sewaktu-waktu. Tapi lama-lama dia tidak takut lagi dan asyik balapan seluncur dengan kakaknya. Saya cuma menjaga mereka dari tepi kolam, tidak ikut nyemplung.

Puas bermain air, kami menuju pantai Kuta yang letaknya persis di depan hotel, sambil berharap-harap cemas karena mendung tetap menggantung di langit. Benar saja, kami tidak bisa menyaksikan sunset warna-warni. Setelah langit gelap, kami pulang kembali ke hotel dengan pasir yang lengket di kaki. Yang saya sayangkan, saya tidak menemukan pancuran untuk bilas di sekitar pantai. Di depan hotel pun tidak ada, entah mereka punya atau tidak. Rasanya tidak nyaman berjalan di selasar hotel masih dengan pasir yang menempel. Tidak enak sendiri berpapasan dengan staf hotel yang tetap tersenyum dan menyapa ramah pada kami yang meninggalkan jejak pasir di selasar hotel.

Kids Pool
Ready, Set, Go!

Setelah mandi dengan air hangat dari pancuran besar, rasanya nyaman sekali. Saya suka aroma shampo dan sabun dari hotel ini: jasmine & orange. Terutama suka sama sabun glycerinnya untuk cuci muka (iya, yang ini saya colong). Malam itu ada orang yang mengantar gift pack untuk Little A dan Big A, mungkin karena mereka tidak jadi ikut kegiatan Kids Club. Isinya tas serut, boneka teddy bear dan pin. Boneka teddy ini sebenarnya dijual untuk amal, kerjasama kampanye Yoko Ono untuk memerangi kelaparan pada anak-anak miskin di seluruh dunia. Sementara pin pinky keren yang diberikan untuk kami dari kampanye melawan breast cancer. Saya tersenyum mendapati tulisan di tas serut: “Stolen from Hard Rock Hotel, Bali”. Hakdush!

Selesai mandi, saya berniat menukarkan welcome drink di CenterStage. Ketika cek in, banyak sekali voucher yang diberikan: diskon spa, Hard Rock Cafe, souvenir di toko, dan gratis foto di gitar Hard Rock depan hotel. Duh, yang terakhir ini pun kami tidak sempat karena hari keburu gelap. Ternyata welcome drink juga sudah tidak berlaku lagi pada malam hari. Tapi di CenterStage, yang sebenarnya lobi hotel, kami bertemu dengan Fandy dan Wangi dari Hard Rock. Kami ditraktir jus yang seger banget sambil ngobrol-ngobrol tentang hotel yang pertama kali didirikan oleh Hard Rock di Asia ini. Kata Fandy, mereka memang sedang giat mempromosikan hotel ini sebagai hotel ramah keluarga. Selama ini brand Hard Rock populernya di kalangan anak-anak muda atau yang berjiwa muda. Padahal mereka juga cater untuk keluarga dengan anak-anak. Kalau menurutku sih hotel yang family friendly itu jelas kelihatan dari fasilitas-fasilitas yang diberikan. Kalau sampai ada kolam renang untuk anak, Kids Club, menu makan khusus anak, sampai ada Kids Suite, pasti hotel ini cocok untuk anak-anak. Kata Fandy, kebanyakan tamu mereka yang keluarga berasal dari Australia, sebelas dua belas sama keluarga-keluarga di Indonesia. Baru selanjutnya keluarga dari Malaysia dan Singapura.

Fandy dan Wangi juga memamerkan fasilitas-fasilitas yang mereka punya. Duh, memang tanggung banget kalau cuma menginap semalam di sini. Apalagi besoknya saya harus cek out pagi-pagi. Saya belum merasakan spa, lihat-lihat toko merchandise-nya, main catur raksasa (pura-pura), nongkrong di cafe, mencoba rock climbing (belum tentu bisa, tapi kan harus dicoba), dll. Bahkan kami tidak akan merasakan menu sarapan hotel karena kami minta sarapan kami dibungkus untuk dimakan di bandara. Dan… saya baru ingat, belum sempat mencoba gelato yang katanya enak banget, direkomendasikan oleh teman-teman yang pernah menginap di sini.

Sebetulnya, dari semua cerita tadi, yang paling mengesankan ketika kami menginap di Hard Rock Hotel ini adalah pelayanan yang ramah, tulus dan sigap membantu dari semua staf. Semua bisa membangun hotel dengan fasilitas yang paling mewah, tapi tidak semua hotel bisa membuat seluruh stafnya merasa memiliki, sehingga membuat mereka tulus pada setiap tamu yang datang. Pelayanan seperti ini yang kami rasakan sejak pertama kali kami menitipkan tas di depan hotel, seluruh staf sepertinya menjadi owner dari hotel ini, bertanggung jawab untuk membuat tamu-tamunya betah dan ingin kembali lagi. Kami dilayani dengan baik ketika reservasi, diantar oleh petugas yang sigap membawakan ransel kami. Ketika Big A bingung dengan setting PS3-nya, ada petugas yang siap datang ke kamar untuk mengecek. Kami bertemu staf yang tetap ramah menyapa kami ketika kaki-kaki kami yang berlepotan pasir mengotori selasar. Kami bertemu Fandy dan Wangi yang menemani kami minum di centerstage. Pagi harinya, jam lima, sudah ada staf yang mengantarkan kotak-kotak sarapan kami, dengan bonus senyuman lebar. Tapi yang paling membuat kami terharu adalah staf yang dengan sigap dan tanpa diminta membantu kami mencari taksi pagi-pagi, dan meminta maaf karena kami harus berjalan ke depan hotel karena jalan masuk untuk mobil sedang diperbaiki. Staf ini membawakan ransel saya dan memastikan kami masuk ke dalam taksi yang akan mengantar kami ke bandara.

Tidak heran kalau Little A mengalami post holiday sydndrome setelah kami kembali ke Surabaya. Dia sangat ingin kembali ke hotel ini lagi. Dia bilang kalau Hard Rock Hotel adalah ‘the bestest hotel ever’. Bahkan tadi, ketika saya memasang foto-foto untuk ilustrasi blog ini, Little A masih saja bertanya, “When will we go back to Hard Rock Hotel, Mommy? Next week, okay?

~ The Emak

[Penginapan] Holiday Inn Melbourne Airport

Shuttle gratis ke bandara. Foto dari website www.ihg.com

Hotel di sebelah Melbourne Airport (Tullamarine) ini Holiday Inn ketiga yang pernah kami tinggali. Dan kami semakin jatuh cinta dengan brand ini πŸ™‚

Setelah delapan malam menginap di dalam campervan yang sempit, saya ingin malam terakhir kami di Australia (hopefully bukan malam terakhir beneran) dihabiskan di atas kasur empuk berpendingin ruangan. Hotel pilihan saya adalah Holiday Inn Melbourne Airport yang hanya lima menit dari bandara dengan shuttle gratis. Bayangan saya, kami bakalan kecapekan sekali setelah 9 hari berpetualang dengan campervan, dan tidak akan banyak mengeksplorasi kota Melbourne lagi. Lagipula, pesawat kami ke Denpasar pagi, jadi lebih aman kalau menginap di dekat bandara.

Di Melbourne, kami cuma singgah sebentar ke Queen Victoria Market untuk membeli pesanan oleh-oleh dari Mama mertua dan makan siang (dan window shopping). QVM ini lebih besar dari Paddy’s Market di Sydney, tapi pilihan oleh-oleh made in china nya lebih terbatas. Lebih banyak lapak non souvenir yang berjualan di QVM, mulai dari barang kerajinan, fesyen warna warni, tas, camilan, buah dan sayur, sampai bunga segar.

Ini sudah ketiga kalinya kami ke Melbourne. Yang pertama, kami mencapai Melbourne lewat bandara Avalon, kemudian naik bis 50 menit menuju kota. Kami menginap empat malam di apartemen Milano yang tinggal jalan kaki 10 menit ke pasar QVM ini. Kesempatan kedua, kami singgah semalam setelah menyeberang dari Tasmania naik feri untuk menuju New Zealand keesokan harinya. Kami menginap di Hotel Parkview di St Kilda, mencapai bandara dengan mobil sewaan yang kami pakai keliling Tasmania dan meninggalkan mobil sewaan di bandara.

Kamar dengan dua double bed, muat untuk berempat. Foto dari www.ihg.com

Saya memesan kamar ini di websitenya, dengan tarif AUD 201,99. Tidak murah karena bukan tarif diskon. Tapi memang hotel di Aussie mahal-mahal sih. Saya sudah tergabung jadi member Priority Club mereka, jadi lumayan bisa tambah poin yang nantinya bisa ditukar dengan menginap gratis. Keuntungan rewards club grup hotel ini (satu grup dengan Intercontinental dan Crowne Plaza), poinnya tidak ada expire date-nya. Saya sendiri sudah telanjur senang menginap di Holiday Inn chain sejak pertama merasakan pelayanan mereka di Darwin. Kami juga sempat menginap di Holiday Inn Bandung. Seperti biasa kami memesan kamar twin berisi dua double bed untuk berempat. Kasurnya empuk dan ada pilihan bantal empuk atau lebih keras. Sudah saya duga, Si Ayah langsung tidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Maklum lah, sudah menyetir ribuan kilometer dari Adelaide menuju Melbourne. Kami leyeh-leyeh saja di hotel ini sejak sore sampai malam, bahkan terlalu malas untuk keluar beli makan πŸ™‚ Saya juga sibuk re-packing koper-koper kami yang segambreng. Malamnya, semua orang tidur nyenyak.

Kami punya permainan rahasia dengan Holiday Inn, jadi jangan bilang-bilang manajemen ya. Ketika menginap bertiga di Bandung, ada satu handuk muka yang tidak sengaja terbawa kami. Handuk ini kami kembalikan ke Melbourne, tapi kami tukar dengan membawa handuk muka yang ada di sana. Nanti, handuk Melbourne akan kami tukar dengan handuk muka di hotel Holiday Inn yang akan kami tinggali selanjutnya. Mungkin Bali, Phuket, Bangkok atau Maldives. Belum tahu lah. Big A dan Little A senang sekali dengan permainan dan rahasia kecil ini, hihihi. Sst…

~ The Emak

[Penginapan] Novotel Sydney Olympic Park

Novotel Sydney Olympic Park

Sebagai ‘penduduk musiman’ di Sydney, saya kadang bingung kalau diminta rekomendasi hotel yang bagus di kota ini. Masalahnya kami tidak pernah menginap di hotel. Saya hampir lupa kalau sebenarnya kami pernah menginap semalam di Novotel Sydney Olympic Park. Dapat voucher gratisan πŸ™‚

Ceritanya, di awal tahun 2010, saya ikut kuis yang diadakan Sydney Olympic Park di website-nya. Alhamdulillah menang, dan hadiahnya banyak banget, antara lain tiket VIP nonton Taylor Swift, tiket nonton International Sydney Tennis Tournament, tiket nonton kriket, voucher makan di Armory Wharf cafe, voucher sewa sepeda dan… voucher menginap semalam di Novotel SOP plus makan malam untuk sekeluarga.

Kompleks Sydney Olympic Park (SOP) ini bekas fasilitas yang digunakan untuk penyelenggaraan Olimpiade Sydney tahun 2000. Sampai sekarang, kompleks ini masih terawat dengan baik, banyak sekali acara olahraga, konser musik, bahkan layar tancap yang diadakan di sini. Selain gedung-gedung olahraga, ada juga taman Bicentennial seluas 40 hektar, dengan arena bermain dan danau yang biasanya digunakan masyarakat umum untuk main-main sepeda, lari, jogging atau jalan kaki, birdwatching, piknik, dan barbekyuan di akhir pekan.

Kami berusaha booking hotel yang tadinya digunakan untuk akomodasi atlet dan ofisial Olimpiade 2000 dengan voucher gratis sejak Januari, tapi baru dapat tanggal kosong di akhir pekan pertengahan April. Nggak papa lah, yang penting gratis! Dari rumah kami di Lakemba, hotel ini jaraknya 10 km. Kalau dari kota, jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah barat. Kita bisa mencapai Sydney Olympic Park dengan semua moda kendaraan umum: bus, kereta dan feri. Perjalanan kira-kira 30-45 menit. Untuk tahu jalur menuju kompleks ini, klik di sini.

Hotel ini tepat di tengah kompleks Sydney Olympic Park, di depan stadion utama, bersebelahan dengan hotel Ibis. Kami datang untuk cek in seawal mungkin, jam dua siang. Pelayanan cek in biasa saja, dengan keramahan standar Novotel πŸ™‚ Kami diberi kamar di lantai 14 dengan pemandangan keren, bisa melihat stadion utama dari atas.

Novotel termasuk brand yang ramah anak-anak. Tiap kamar dilengkapi dengan dua double bed yang bisa digunakan untuk dua dewasa dan dua anak-anak, tanpa membayar biaya tambahan extra bed. Dekorasi kamar cukup trendi. Amenities yang diberikan sesuai standar Novotel: sabun, shampoo, shower gel, tapi tanpa sikat gigi. Sama dengan pengalaman kami menginap di Novotel Canberra tahun sebelumnya. Saya juga heran kok hotel di Aussie ini pelit banget memberi sikat gigi, hehe. Kamar mandi cukup luas dan bersih, meski tanpa bath tub. Kami leyeh-leyeh di kamar ini sampai sore. Saya bertanya-tanya, siapa ya yang menghuni kamar ini ketika Olimpiade 2000 dulu?

Dua double bed, cukup nyaman untuk berempat
Lobi, ada mainan anak2 dan mainan orang dewasa :p
Amenities standar di Novotel. Minus sikat gigi.

Hotel ini tidak mempunyai kolam renang sendiri. Sebagai gantinya, kami diberi tiket masuk ke SOP Aquatic Centre, yang juga merupakan venue untuk cabang olahraga renang di Olimpiade 2000. Aquatic Centre ini letaknya di seberang hotel, sekitar 100 m. Sore hari, kami jalan kaki ke sana. 

Aquatic Centre terbuka untuk umum, dilengkapi dengan kolam bermain anak, tempat fitnes, whirpool, sauna, taman untuk piknik dan kafe. Ada satu kolam lap besar untuk yang berenang serius, satu kolam sedang untuk belajar berenang dan main-main, dan satu kolam dangkal yang dilengkapi seluncur dan permainan air lain untuk anak-anak. Sementara itu, kolam ukuran Olympic hanya digunakan untuk pertandingan renang. Biasanya di akhir pekan, kolam ini ramai pengunjung. Kami sempat beberapa kali berenang dan bermain-main air di sini. Terletak di suburb bagian barat Sydney, kolam ini menjadi favorit bagi komunitas muslim yang tinggal di sini. Penampakan burqini (baju renang muslimah) tidak asing lagi di sini πŸ™‚

Sunrise di atas stadium
View dari kamar kami di lantai 14
Swimming Pool, cuma selemparan batu dari hotel

Malamnya kami menikmati makan malam gratis di restoran hotel. Kami memesan steak saus jamur, spaghetti bolognese dan ayam dengan herb dan sayuran. Rasanya ya begitu-begitu saja, tidak istimewa. Dan sepertinya Si Ayah masih lapar karena belum makan nasi πŸ˜€

Malam hari, kami dikejutkan oleh ledakan kembang api. Mengintip dari jendela, ternyata memang ada kembang api yang dinyalakan dari salah satu venue. Sepertinya ini perayaan komunitas Bangladesh yang ada di Sydney karena sore harinya kami berpapasan dengan banyak sekali orang berpakaian tradisional Bangladesh yang menuju venue tersebut. Lumayan lah dapat kejutan hiburan gratis.

Paginya kami disuguhi pemandangan sunrise di atas stadion. Langit merah jambu menyambut pagi. Kami turun dan menyempatkan diri jogging. Kapan lagi bisa numpang jogging di kompleks olimpiade, iya kan? Karena tidak mendapat sarapan gratis, kami membeli sarapan di kafe Gloria Jeans, tepat di lantai bawah hotel. Kalau suka fast food, di sebelah juga ada Mc D. Yep, resto junk food di kompleks olahraga terbesar di Sydney :p

Kolam untuk Olimpiade 2000
Having fun in the pool

Hotel Novotel Sydney Olympic Park ini bagus, nyaman dan ramah anak-anak, tapi hanya saya rekomendasikan untuk traveler yang memang ingin mengunjungi kompleks Sydney Olympic Park. Misalnya ingin ke acara Sydney Royal Easter Show, semacam pasar malam yang juga buka siang hari pada liburan paskah, atau nonton konser musik tertentu di salah satu stadion di sini. Kalau memang menginap di sini, bisa sekalian belanja-belanji ke IKEA Rhodes, 7 menit bermobil, dan Direct Factory Outlet (DFO) Homebush, 4 menit dengan mobil. Kalau tidak ingin berkunjung ke Sydney Olympic Park, lebih baik menginap di Novotel yang berada di tengah kota: Novotel Darling Harbour.

~ The Emak

[Penginapan] Caravan Park Adelaide – Melbourne

Lake Albert Caravan Park

Tidak seperti biasanya, dalam road trip campervan kali ini, saya tidak ribet booking penginapan lebih dulu. Karena kami jalan-jalannya di low season, bukan musim liburan, kami bisa langsung menginap tanpa memesan terlebih dahulu di semua caravan park yang kami singgahi di jalan.

Dalam road trip Adelaide – Melbourne kali ini, kami menginap delapan malam di caravan park dan satu malam terakhir di hotel dekat bandara (Holiday Inn Melbourne Airport). Hanya hotel yang sudah kami pesan lebih dulu di websitenya. Sisanya, saya siapkan saja pilihan caravan park di kota-kota yang singgahi sepanjang perjalanan. Mencari caravan park ini bisa dengan bantuan google, atau mengunjungi tiga website grup caravan park di Australia: Big 4, Top Tourist Parks dan Discovery Holiday Parks, yang punya banyak caravan park, tersebar di seluruh penjuru Australia. Saya tidak fanatik dengan salah satu brand caravan park, yang penting lokasinya pas karena standard mereka sudah bagus.

Tiga malam pertama, kami menginap di tiga caravan park yang berbeda di Kangaroo Island. Malam-malam berikutnya, kami menyusuri garis pantai Australia Selatan dari Adelaide ke Melbourne.

Ketika menyusun itinerary perjalanan ini, saya tidak punya bayangan kota Meningie itu seperti apa. Saya belum pernah mendengar nama kota kecil ini, bahkan di buku panduan. Agak cemas juga menginap di tempat asing, tapi Meningie ini titik istirahat yang pas dari perjalanan hari keempat dari Cape Jervis melewati Victor Harbor dan Strathalbyn. Ternyata, menginap di Meningie ini melebihi harapan saya. Di sini kami menyaksikan sunset dan sunrise di tepi danau, dari belakang campervan kami. Siapa yang tidak bahagia, makan malam dan sarapan dengan pemandangan seperti ini, tapi cukup membayar 1/4 dari harga hotel biasa.

Hari sudah senja ketika kami sampai di Lake Albert Caravan Park. Si Ayah mengurus cek in di resepsionis, yang ternyata memakan waktu yang sangat lama. Resepsionisnya nenek-nenek yang ramah dan suka mengobrol. Jadi perlu waktu setengah jam untuk melayani dua orang yang cek in di depan antrean Si Ayah. Duh, si Nenek ini bikin gemes karena Si Ayah niatnya ingin memotret sunset yang sudah memerah di tepi danau, keburu sunset-nya hilang. Akhirnya kami berhasil cek in juga dengan tarif $48 (untuk berempat) di lokasi tepi danau (lake front). Danau Albert benar-benar hanya sepuluh langkah dari pintu campervan kami.

Saya suka tempat ini, bersih, rapi dan cantik. Ada dua tempat sampah untuk masing-masing site, satunya untuk sampah daur ulang. Hati saya jadi riang, sampai sempat memasak spaghetti jamur untuk the precils πŸ™‚ Kami makan malam cepat-cepat di tepi danau sebelum nyamuk dan serangga malam datang, sambil memandang sunset yang akan terus kami kenang.

Di caravan park kami harus berbagi kamar mandi dan toilet dengan penghuni yang lain. Jangan khawatir, semua kamar mandi di sini, meskipun digunakan bersama, selalu dalam keadaan bersih. Tentu karena sesama pengguna menjaga kebersihan. Tidak seperti di rumah, saya selalu mandi pagi-pagi banget agar mendapatkan bilik kamar mandi yang masih belum dipakai, yang masih kering. Lazimnya di sini, setelah selesai mandi, kita diminta untuk mengepel lantai kamar mandi agar siap digunakan oleh yang lain. Tongkat pel disediakan di sudut. Mandinya memang hanya shower (pancuran), tapi nyaman banget karena pakai air panas. Cukup menyegarkan setelah semalaman meringkuk dalam kantung tidur.

Sunset dari belakang campervan kami
Matahari terbit

Kota kecil berikutnya yang kami singgahi adalah Robe. Di sini kami menginap di Robe Discovery Holiday Park, yang letaknya di pinggir pantai Long Beach. Tarif menginap semalam di powered site adalah $51, tapi kami mendapat diskon 10% karena menggunakan campervan Apollo, jadi tinggal membayar $45,90 untuk berempat. Kami sampai di Robe pada jam makan siang. Setelah jalan-jalan di kotanya yang kecil dan tidak menemukan restoran yang pas, kami memutuskan untuk barbekyu-an di caravan park. 

Biasanya di setiap caravan park ada fasilitas barbekyu, ada yang gratis (tinggal pencet tombol untuk menyalakan), ada juga yang harus bayar dengan koin (satu atau dua dolar). Bentuk mesin barbekyu ini biasanya kotak seperti tungku dari batu bata, atasnya ada wadah seperti baki alumunium. ‘Baki’ inilah tempat untuk memanggang, menjadi panas setelah kita memencet tombol di bawahnya.Tinggal letakkan bahan yang ingin kita panggang: potongan ayam, daging sapi, domba, kebab (sate), sayuran, dll. Kami biasanya menggunakan semprotan minyak zaitun agar hasil barbekyu lebih sedap (selain karena praktis). Karena digunakan bersama, kita harus membersihkan mesin ini setelah selesai memakai. Kadang kami menjumpai mesin barbekyu yang tidak bersih. Ini agak menjengkelkan, tapi bagaimana lagi, harus selalu dibersihkan sebelum dipakai. Bagi yang khawatir barbekyu ini digunakan untuk memanggang babi, setelah dibersihkan bisa melapisinya dengan aluminium foil. Tapi tentu saja rasanya tidak sesedap kalo dagingnya ada kontak langsung dengan ‘baki’ :p

Sorenya, setelah cuci-cuci baju di laundry koin, kami jalan-jalan di pantai yang jaraknya cuma tiga menit jalan kaki, tinggal menyeberang jalan. Pantai yang cantik ini sepi sekali, hanya ada satu-dua orang yang jogging melewati kami. Selebihnya ini menjadi pantai pribadi kami πŸ™‚ Kami tidak tahu kalau sunset ini adalah sunset terakhir yang bisa kami nikmati dalam cuaca cerah. Karena malamnya, kami harus berusaha tidur dalam guncangan badai.

makan siang di Robe Discovery Park
Jalan menuju Long Beach

Dari Robe, kami menuju Port Fairy, perjalanan terpanjang dalam rute Adelaide-Melbourne kami. Sebenarnya, tadinya kami ingin menginap di Portland, kota sebelum Port Fairy. Tapi ternyata Portland kotanya nggak asyik, terlalu banyak truk bermuatan yang lalu-lalang di jalan. Akhirnya kami berkendara satu jam ekstra untuk mencapai Port Fairy, kota yang lebih kecil dan lebih tenang. 

Menginap semalam di Port Fairy Gardens Caravan Park dikenakan tarif $48,90 untuk berempat. Caravan park ini letaknya di pinggir sungai. Sore hari kami kurang bisa menikmati Port Fairy karena cuaca mendung dan akhirnya hujan. Agak sengsara juga kalau hari hujan ketika kami sudah cek in di caravan park. Yang bisa dilakukan adalah membaca buku, mendengarkan musik, main iPad, sambil ngemil dan membuat hot chocolate. Kami membuka meja yang ada di tengah campervan.

Kamar mandi umum sebenarnya tidak jauh dari campervan kami, tapi kalau hari hujan, dengan rerumputan yang becek, jarak 50 meter rasanya jauh sekali. Apalagi kalau sudah di depan pintu toilet dan lupa kode yang harus dipencet di tombol. Tambah sengsara!

Pagi harinya untuk mencerahkan suasana, saya memasak pancake. The precils senang punya sarapan spesial, pancake dengan olesan madu organik dari Kangaroo Island. Cuaca cerah sebentar ketika kami cek out dan jalan-jalan sebentar menjelajah Port Fairy. Hari ini bakal istimewa karena kami akan singgah di Twelve Apostles di Great Ocean Road, salah satu alasan kami melakukan perjalanan ini. Sambil terus berdoa supaya cuaca membaik.

Tetangga kami di Port Fairy
Danau di sebelah Caravan Park

Siang harinya, kami cukup diberi cuaca setengah cerah sepanjang perjalanan di Great Ocean Road. Awan menggulung, matahari mengintip sedikit, tapi tidak hujan. Tadinya kami ingin bermalam di Port Campbell, lima belas menit sebelum Twelve Apostles dari arah barat, tapi kotanya tidak terlalu menarik dan tidak banyak yang bisa dilihat. Akhirnya setelah makan siang di tepi dermaga di Port Campbell, dan singgah sejenak di 12 Apostles, kami menembus hutan dan sampai di Apollo Bay jam tujuh malam. Cuaca sangat buruk ketika kami menembus hutan, dan dalam kota yang gelap, kami agak kesusahan mencari tanda caravan park. Begitu menemukan Pisces Holiday Park dan berhasil cek in, saya luar biasa lega.

Tarif semalam di caravan park yang masuk grup Big 4 ini adalah $49. Kami memilih parkir di lantai cor, bukan rerumputan agar tidak kena becek. Sayangnya tempat ini jauh dari toilet. Saya cuma bisa memandang iri pada tetangga yang parkir di sebelah kami, campervan Maui yang dilengkapi dengan toilet. Toilet di sini pun cukup ‘seram’ karena menempati bangunan lama yang cukup luas. Ketika saya masuk kamar mandi, hanya ada saya seorang diri, tapi pihak caravan park menyalakan radio lokal yang menyiarkan salam-salam dan lagu-lagu ‘daerah’. Maksudnya mungkin agar tidak merasa kesepian di dalam toilet, tapi saya malah sedikit ketakutan dan bahkan tidak berani melihat diri saya di kaca besar ketika cuci tangan di wastafel.

Sebenarnya lokasi Pisces Holiday Park ini bagus, di tepi pantai Apollo Bay, hanya tinggal menyeberang jalan. Tapi karena cuaca tidak mendukung, kami kurang bisa menjelajah kota tempat kami singgah ini. Perjalanan kami lanjutkan menuju Torquay, kota terakhir sebelum kami sampai Melbourne. Dalam perjalanan, kami singgah untuk makan siang di kota kecil yang cantik, Lorne.

‘dementor’ di atas Pisces Caravan Park

Torquay mendapat julukan Surf Capital of Australia dan juga tempat lahir brand terkenal Billabong. Setelah mendapatkan peta lokal di kios informasi, kami memilih menginap di Torquay Caravan Park yang terletak di pinggir pantai Torquay Surf Beach, tapi tidak jauh dari kota. Caravan park satu ini sangat luas, tapi tampaknya sedang dalam perbaikan. Beberapa blok ditutup, membuat kami berputar-putar mencari lokasi, meskipun sudah berbekal peta dari resepsionis. Banyak kabin-kabin tua yang dibangun dari caravan yang sudah tidak layak jalan. Beberapa blok di pojok terlihat tidak terawat. Mungkin karena itu tarif menginap di sini terhitung murah, hanya $31 per malam untuk sekeluarga.

Ketika sampai di lokasi kami yang pertama, ternyata toilet di dekat kami tidak berfungsi. Akhirnya kami mencari lokasi lain dengan toilet yang tidak rusak, dan parkir persis di seberangnya. Lumayan, kalau mau mandi tinggal melompat dari campervan.

Lucunya, mandi dengan air panas di sini dibatasi hanya 4 menit. Sebelum mandi, kita harus menekan tombol (di luar bilik) untuk menyalakan air panas. Setelah empat menit, air panas akan berhenti mengalir dan tinggal air dingin saja. Trik nya tentu saja dengan mempersiapkan segala sesuatu sebelum memencet tombol. Saya yang kalau mandi cukup lama (apalagi dengan air panas) agak repot dengan aturan ini. Empat menit di bawah pancuran rasanya sebentar banget. Tapi tantangn ini bisa saya selesaikan dengan baik. Saya sudah bersih dari sabun ketika air dingin mulai mengalir :p

Tantangan berikutnya adalah cek out sebelum jam 10 pagi. Kami diberi kode untuk membuka boom gate di gerbang depan. Lewat dari jam 10 pagi, kode ini sudah tidak berlaku lagi dan kami tidak bisa keluar. Untungnya The Precils bisa diajak kompromi. Kami bahu membahu membereskan campervan dan berhasil melewati boom gate tepat dua menit sebelum jam sepuluh!

Torquay Caravan Park

Parkir dekat toilet πŸ™‚

Kami keluar dari kota Torquay, mengucapkan selamat tinggal pada Great Ocean Road dan membayangkan tidur nyaman di kasur empuk di Holiday Inn Melbourne Airport.

~ The Emak

[Penginapan] Caravan Park di Kangaroo Island

KI Shores Caravan & Camping

Jalan-jalan dengan caravan, campervan atau camping sudah menjadi gaya hidup di Australia, bukan sesuatu yang aneh atau mewah. Gaya liburan seperti ini didukung fasilitas caravan park yang mudah ditemui di setiap daerah di negara ini.

Caravan Park, atau yang sering disebut Holiday Park dan Tourist Park adalah akomodasi untuk ‘memarkir’ caravan/campervan atau mendirikan tenda. Fasilitas standar yang ada adalah colokan listrik (power), kran air bersih, kamar mandi dan toilet umum, laundry, dapur umum serta tempat barbekyu. Caravan park yang lebih ‘mewah’ dilengkapi taman bermain atau bahkan kolam renang. Mereka biasanya juga punya kabin atau unit kamar sederhana, yang fasilitasnya mirip dengan motel. 

Ada tiga grup besar yang menjadi operator caravan park di Australia: Big 4, Top Tourist Parks dan Discovery Holiday Parks. Mereka punya park yang tersebar di seluruh Australia, biasanya di pinggir pantai, tepi danau/sungai atau dekat dengan tempat wisata. Holiday Park ini jarang sekali yang lokasinya di tengah kota besar. Kalau ingin dapat diskon, daftar aja jadi member di grup mereka, bisa secara online kok. Atau biasanya kalau kita menyewa campervan, akan otomatis mendapat diskon di beberapa caravan park yang bekerja sama.

Kami pertama kali mencicipi Holiday Park ketika menginap di Te Anau, New Zealand. Waktu itu kami memesan kabin dengan kamar mandi dalam, belum berani naik campervan, berkemah atau bahkan sekedar sharing kamar mandi πŸ™‚ Saya ingat, tidak bisa menyembunyikan kekagetan ketika berkenalan dengan keluarga dari Amerika Serikat yang membawa dua anaknya yang masih balita, keliling Selandia Baru dengan… berkemah! Gile bener, pikir saya. Tapi setelah merasakan sendiri asyiknya berkemah di Holiday Park, suatu saat kami pun ingin berkeliling New Zealand dengan hanya mendirikan tenda πŸ™‚ Saran saya untuk yang ingin jalan-jalan dengan campervan tapi belum berani, coba dulu menyewa kabin di salah satu holiday park. Coba semua fasilitas yang ada. Kalau merasa nyaman, baru lain kali datang lagi dengan membawa campervan.

Selama tiga hari berkeliling Kangaroo Island, kami menginap di tiga caravan park yang berbeda, sesuai dengan itinerary. Yang pertama adalah Kangaroo Island Shores Caravan & Camping di Penneshaw, dekat dengan dermaga penyeberangan. Kami sampai di Caravan Park ini pukul 7 malam, hari sudah gelap dan resepsionis sudah tutup. Ketika Si Ayah menelpon, penjaga caravan park bilang agar kami memilih tempat sendiri dan bisa membayar sewanya besok. Kami pun memarkir campervan di antara kantor resepsionis dan kamar mandi, tentu setelah mengecek bahwa colokan listrik-nya benar-benar berfungsi. Colokan ini berguna untuk men-charge power di campervan yang digunakan untuk menyalakan lampu, memompa air di bak cuci piring, menyalakan kulkas dan microwave. Khusus microwave, hanya bisa digunakan ketika power disambungkan ke colokan listrik, jadi alat masak yang satu ini tidak bisa digunakan ketika kami dalam perjalanan. Colokan listrik juga penting banget untuk men-charge gadget-gadget kami (sudah jelas!).

Pagi harinya, baru kami bisa menyaksikan keindahan tempat ini, dengan bunga-bunga liar di sekeliling campervan, dan pemandangan laut yang bisa disaksikan dari tempat kami parkir. Kami cepat-cepat beberes, bongkar pasang setting campervan. Di hari-hari pertama, kami perlu waktu lama untuk bongkar pasang campervan ini. Tapi lama-lama, kami bisa melakukannya dengan mata tertutup πŸ˜€ 

Sekitar jam 11 siang, kami baru siap melanjutkan perjalanan. Saya yang bertugas membayar, celingak-celinguk mencari resepsionis yang baru saja saya lihat tadi pagi. Ternyata orang itu sudah pergi membawa serta mobilnya. Saya baca pengumuman di depan pintu kantor: kalau tidak ada orang, uang pembayaran bisa diselipkan di lubang pintu. Heh, serius? Saya mencari-cari lubang untuk menyelipkan uang, tapi tidak ketemu. Saya berlari ke depan untuk mencari kotak pos, siapa tahu bisa dititipkan di sana, ternyata juga tidak ada. Agak frustasi, saya menuliskan nama dan kontak kami, tanggal cek in dan cek out di kertas. Lalu saya sertakan uang sesuai tarif yang ada di website mereka, $27 per malam, plus $10 untuk tambahan dua anak. Setelah menggumamkan doa kecil, gulungan kertas berisi uang tersebut saya lemparkan di celah antara pintu kasa dan pintu kayu. Bismillah, yang penting sudah bayar, nggak ngemplang!

Little A menyiram bunga dengan… wajan :p
Bunga hasil panenan Little A. Berguna utk hiasa ‘meja makan’.

Saya geli sendiri kalau ingat cara pembayaran yang ajaib tadi. Tapi ternyata malah ada caravan park yang sama sekali tidak ada penjaganya, bahkan tidak ada kantor resepsionisnya. Dalam perjalanan kami mencari pantai perawan Vivonne Bay, kami ‘menemukan’ caravan park jenis ini. Di sana hanya ada papan pengumuman yang menjelaskan cara pendaftaran dan tarifnya. Di dekatnya ada Pay Station, kotak untuk memasukkan uang pembayaran kita. Tarif bermalam di caravan park ini $25 untuk tempat dengan power (listrik) dan $15 tanpa power, berlaku untuk dua orang. Tambahan orang membayar $5 per malam. Fasilitas di caravan park dan camping ground ini cukup mantap. Selain kamar mandi dan toilet umum, juga ada tempat barbekyu dan taman bermain. Bonusnya, pantai Vivonne yang cantik bisa dicapai dengan 5 menit berjalan kaki, dan ada koala, penghuni tetap yang ‘menjaga’ kita di pepohonan.

Tadinya saya kepikiran untuk menginap di sini. Tapi takut kalau malam terlalu sepi dan esok harinya kami harus road trip dengan jalur yang lebih panjang lagi. Akhirnya kami memilih melanjutkan perjalanan ke barat dan menginap di Western KI Caravan Park & Wildlife Reserve.

Lokasi caravan park yang satu ini rimbun banget. Beberapa kilometer sebelum mencapai tempat ini, di kanan kiri jalan ada kanguru-kanguru liar, membuat Si Ayah harus menyetir dengan sangat hati-hati agar tidak menabrak. Tarif menginap semalam di sini untuk tempat dengan colokan listrik $28 untuk berdua. Orang ketiga bayar $8 dan anak di bawah 5 tahun $4. Jadi total $40. Lebih mahal dari caravan park sebelumnya, mungkin karena ada yang jaga 24 jam πŸ™‚ Fasilitas di sini standar, yang istimewa adalah penghuni asli-nya. Kami dikunjungi oleh dua kanguru ketika sedang makan malam, dibangunkan oleh suara berisik kalkun di pagi hari dan diganggu bebek-bebek liar ketika sarapan. Yah, namanya tidur di alam terbuka πŸ™‚ 

Tapi jangan salah, kamar mandi di setiap caravan park dilengkapi shower air hangat. Jadi di musim dingin pun, kita tetap bisa mandi nyaman dengan air hangat, semudah menyalakan kran.

Nggak ada yang jaga. Perhatikan tanda caravan warna biru πŸ™‚
Toilet yg bersih dan nyaman.

Caravan Park yang terakhir kami singgahi adalah Kingscote Tourist Park & Family Units. Caravan park ini dekat sekali dengan Nepean Bay, tempat Si Ayah menyaksikan sunrise yang paling indah seumur hidupnya. Tempat ini dikelola oleh pasangan pensiunan yang bercita-cita tinggal di paradise. Ternyata, kata mereka, tinggal di tempat seindah ini pun banyak tantangannya. Antara lain mahalnya transportasi ke mainland (ingat cerita saya tentang tiket feri Sea Link?) dan biaya listrik yang tinggi. Saya jadi ingat cerita pemilik Parndana Wildlife tentang listrik yang harus ‘diimpor’ dari mainland melalui kabel bawah laut. Tapi sayangnya, listrik ini hanya bisa dialirkan searah. Jadi kalau ada kelebihan listrik, mereka tidak bisa mengembalikan ke mainland. Akhirnya mereka menanggung biaya yang lebih dari yang seharusnya.

Di Kingscote ini kami membayar $29 untuk power site, ditambah $16 untuk ekstra dua anak. Total $45 per malam. Di Pulau Kanguru ini, hanya di Kingscote, ibukotanya kami bisa menikmati layanan internet. Wifi yang tidak begitu lancar tarifnya $5 untuk 2 jam. Tapi lumayan lah untuk update-update status dan mengintip email πŸ™‚ Sore hari, saya menemani Little A berenang-renang dengan pelican di Nepean Bay. Nggak papa berbasah-basah sekalian karena memang ini jadwal kami mencuci baju. Setiap kali traveling, kami biasanya hanya membawa baju untuk tiga hari dan mencuci baju di perjalanan. Di campervan ini ada mesin cuci menggunakan koin 3x $1 untuk sekali cuci. Mesin pengering juga dioperasikan dengan koin 3x $1. Jadi nggak perlu repot-repot jemur baju, cucian langsung kering dan bisa dipakai lagi.

Western KI yang rimbun
Hot chocolate, beef pie and… iPad. Afternoon tea at Western KI.
The Precils makan sendiri ya, biar Emaknya nggak repot :p At Kingscote Tourist Park.

Saya memimpikan ada camping ground dengan fasilitas seperti ini di Indonesia (dengan toilet dan kamar mandi yang bersih, laundry, tempat barbekyu dan taman bermain), supaya kami bisa melanjutkan petualangan kami di tanah air. Atau sudah ada? Beritahu The Emak ya…

~ The Emak

[Penginapan] Holiday Inn The Esplanade Darwin

Pose standar The Precils kalau ketemu Nickelodeon :p

Terus terang tarif hotel di Darwin pada bulan Juni (termasuk high season karena musim kemarau) membuat saya pusing. Harga hotel jauh lebih mahal daripada di Sydney. Bolak-balik saya cek website wotif, booking, dan booking engine lainnya, berharap tarif hotel turun (atau ada yang khilaf pasang harga murah :p) Sampai akhirnya saya ‘menemukan’ Holiday Inn The Esplanade dan langsung jatuh cinta pada brand ini.

Ketika saya memesan hotel ini, rencana kami adalah pergi bersama Ibu Mertua, jadi harus pesan hotel untuk 3 dewasa dan 2 anak-anak. Di situlah rumitnya, karena terpaksa kami harus pesan 2 kamar. Kalau cuma berempat: dua dewasa dan dua anak, satu kamar dengan dua double bed biasanya sudah cukup. Tarif kamar ketika saya booking di bulan Maret 2012 adalah AUD 189 per kamar per malam, termasuk sarapan. Ini tarif yang non-refundable, artinya pesanan tidak bisa dibatalkan atau diubah tanggalnya, dan harus dibayar di muka. Waktu itu saya memesan melalui website resmi mereka dan membayar dengan kartu kredit. Sebelumnya, saya sempatkan bergabung dengan Priority Club Rewards mereka agar dapat poin selama kami menginap 2 malam di 2 kamar.

Nggak disangka, Ibu batal pergi dengan kami, padahal kamar kami tidak bisa dibatalkan. Ya sudah, saya pikir asyik juga punya dua kamar. Ntar anak-anak bisa tidur sendiri sementara The Emak dan Si Ayah … :p Di formulir pesanan saya sudah mencantumkan secara khusus meminta connecting rooms. Ternyata ketika kami datang, resepsionis memberi kami adjacent rooms, cuma dua kamar yang berdekatan aja, tapi tidak ada pintu hubungnya. Si Ayah yang kecapekan menyetir dari Kakadu National Park langsung tertidur begitu menyentuh bantal. Sementara saya beberes dan menaruh barang-barang the precils di kamar mereka. Ternyata repot banget pakai dua kamar yang tidak nyambung. Little A berkali-kali pengen ke kamar kami, dan harus keluar masuk pintu dengan membawa kunci hotel. Kami bertekad akan komplain masalah ini ke manager setelah menikmati sunset di Mindil Beach.

Sepulang dari pantai, Si Ayah yang bahasa Inggrisnya lancar banget langsung menghadap manager, perempuan bernama Kate. Dia secara tegas meminta kami dipindahkan ke connecting room karena repot bolak-balik buka tutup pintu. Dan anak-anak juga tidak nyaman di kamar sendiri. Ternyata pada hari itu semua connecting rooms terpakai, dan baru tersedia satu keesokan harinya. Kate menawarkan memindahkan kami ke kamar suite dengan dua extra bed. Saya langsung mengiyakan daripada ribet. Dan kapan lagi mencoba kamar suite? Hehehe…

Kate manager satu ini langsung gerak cepat, turun tangan sendiri memindahkan barang-barang kami dari kamar dengan troli dan mengantar kami ke kamar suite. Dalam sekejap, masalah kami terselesaikan. Pelayanan seperti ini yang membuat saya langsung jatuh cinta pada brand Holiday Inn πŸ™‚ *yes, I am that cheap* Sungguh perasaan yang menyenangkan merasa dihargai dan dibantu dengan cepat sampai masalah selesai. Tarif kamar kami tidak bisa diubah, dan kami pasrah saja 2 kamar biasa kami diganti satu kamar suite dengan dua ekstra bed. Saya nggak mau repot ngecek tarif aslinya, untung apa rugi πŸ™‚

Kamar suite jelas lebih lega. Ada ruang duduk dengan sofa, televisi dan toilet dan satu kamar dengan king bed yang dipisahkan oleh rolling door kayu. Kamarnya dilengkapi ensuite kamar mandi dengan shower, bathtub dan toilet. Dua extra bed diletakkan di ruang duduk. Karena ada dua televisi, The Precils bisa menonton Nickelodeon sementara The Emak bisa tenang menonton Grand Slam Roland Garros. 

Satu kelemahan hotel ini adalah tidak ada sinyal di dalam kamar sama sekali. Ketika kami tanyakan pada Kate, ternyata karena di depan hotel ini dipasang kerangka anti angin topan yang membuat sinyal juga tidak bisa masuk. Darwin pernah dilanda angin topan Tracy pada tahun 1974 yang meluluhlantakkan kota. Jadi kalau ingin menelpon, mengirim sms atau menggunakan internet, kami harus turun ke lobi. 

Sarapan pagi di hotel cukup enak dan bervariasi. Yang paling juara adalah hash brown-nya, semacam kentang goreng tapi bentuknya seperti perkedel, biasa sebagai menu sarapan di Aussie. Saya mencoba menu vegetariannya: jamur dan tomat panggang yang segar dan yummy. Menu telur juga bermacam-macam, bisa dipesan langsung ke chef-nya. Yang nggak ada adalah nasi! Hehehe, ini yang membuat Si Ayah ngotot makan di kafe Indonesia siang harinya. Kalau nggak ketemu nasi nggak kenyang πŸ™‚

Kami juga sempat mencoba kolam renangnya. Lumayan mengasyikkan meskipun airnya dingin. Yang saya suka lagi dari hotel ini adalah ada mesin laundry koin. Jarang-jarang ada mesin laundry di dalam hotel, karena mereka juga jualan servis laundry yang mahalnya minta ampun itu. Dengan laundry koin, cukup memasukkan 3x koin $1 untuk mencuci dan $3 berikutnya untuk mengeringkan. Hemat dan bersahabat, yay!

Lokasi hotel ini, di The Esplanade No.116 cukup strategis, berada tepat di depan taman pinggir laut yang bisa untuk jalan-jalan di pagi dan sore hari. Di ujung esplanade, ada Aquascene, tempat untuk memberi makan ikan-ikan laut. Kami tinggal jalan kaki sekitar sepuluh menit dari hotel ke Aquascene. Menuju ke pusat kota juga lumayan dekat, sekitar lima belas menit sudah sampai ke pertokoan, kafe, restoran dan supermarket. Parkir di hotel ini gratis untuk tamu hotel. Kita tinggal minta token (koin khusus) untuk dimasukkan ke gerbang parkir agar palang pintu otomatis membuka.

Jangan salah, di jalan The Esplanade ada DUA hotel Holiday Inn, satunya di nomor 116 (tempat kami menginap) dan satu lagi di nomor 122. Hotel kami lebih khas tampak depannya karena ada bangunan penangkal angin topan. Kenapa kami memilih menginap di hotel No.116 ini? Jelas karena pada waktu itu tarifnya lebih murah daripada hotel satunya πŸ™‚

Secara umum kami cukup terkesan dengan pengalaman tinggal di (suite) hotel ini. Apalagi setelah seminggu kemudian ketika mengecek akun Priority Club, saya diberi poin dobel dari hotel ini, mungkin sebagai tanda permintaan maaf. Lumayan, poin bisa dikumpulkan untuk menginap di Holiday Inn berikutnya πŸ˜‰

Jalan-jalan di The Esplanade di depan hotel, sekalian menuju Aquascene

~ The Emak

[Penginapan] Kakadu Lodge & Caravan Park

Malam Bertabur Bintang di Kakadu Lodge

Di Australia, kita bisa main-main ke banyak Taman Nasional karena tempatnya terawat, ada jalan yang mulus, dan selalu ada pilihan akomodasi, mulai dari area camping sampai hotel mewah.

Tidak banyak pilihan akomodasi di Kakadu National Park yang letaknya di antar berantah ini. Hanya ada satu kota kecil Jabiru yang menjadi pendukung logistik penginapan yang ada di sini. Nggak heran kalau tarif menginap di sini lebih mahal daripada di kota.

Di kota Jabiru ada tiga pilihan penginapan: Wildman Wilderness Lodge, Kakadu Lodge & Caravan Park dan Gagudju Crocodile Holiday Inn. Sementara di Cooinda, tempat kami menunggu untuk ikut tur Yellow Water Cruise, ada Gagudju Lodge Cooinda. Dua penginapan yang terakhir ini bisa dipesan melalui website Gagudju-Dreaming, yang merupakan operator tur Yellow Water Cruise dan paket tur lainnya. Tadinya saya ingin menginap semalam di Holiday Inn yang bentuk hotelnya kalau dilihat dari atas seperti buaya dan semalam lagi di Gagudju Lodge Cooinda supaya itinerary cocok dengan tempat menginap, ketika selesai Yellow Water Cruise bisa langsung istirahat di Cooinda. Gagudju Lodge Cooinda ini juga cocok untuk yang ingin ikut Sunrise Yellow Water Cruise, karena tur dimulai tepat di depan lodge, tinggal menunggu jemputan. 

Sayangnya Holiday Inn dan Gagudju Lodge Cooinda kapasitasnya maksimal empat orang per kamar. Sementara kami rencananya pergi berlima. Saya sudah menghubungi Holiday Inn dan Cooinda Lodge, tapi mereka tidak bisa membantu soal kapasitas kamar, jadi harus memesan dua kamar. Akhirnya saya putuskan untuk memesan penginapan di Kakadu Lodge dan Caravan Park. Cabin di sini bisa muat untuk lima orang: ada ranjang utama untuk dua orang, ranjang susun untuk dua orang dan satu lagi ranjang sorong untuk satu orang. Harga per malam untuk lima orang tidak murah. Saya memesan melalui website check-in sebesar AUD 240 per malam. Mahal ya? Begitulah, kombinasi antara peak season (musim kemarau dan musim liburan Juni-Juli) dan akomodasi yang jauh dari mana-mana membuat harga relatif mahal. Harga di atas belum termasuk sarapan pagi, duh. Saya pesan di website Check In karena tergoda oleh cash-back mereka yang diberikan langsung ketika memesan. Lumayan bisa menghemat $13, hehe. Saran saya, jangan terlalu fanatik dengan satu booking engine. Bandingkan harga/tarif penginapan di minimal tiga booking engine, termasuk website mereka sendiri, baru pilih yang termurah. Kalau malas browsing, bisa klik Hotels Combined yang sudah ‘pintar’ membandingkan langsung beberapa booking engine, kita tinggal pilih.

Sebenarnya ada yang lebih murah daripada penginapan yang saya sebutkan di atas, yaitu mendirikan tenda di tempat camping yang disediakan oleh pengurus national park. Daftar tempat camping bisa dilihat di buku panduan Kakadu NP atau website. Tapi namanya di alam liar beneran, tempat-tempat ini tidak steril dari hewan buas. Ketika saya kembali ke Darwin, saya membaca di salah satu koran lokal bahwa ada tenda traveler yang diserang oleh Dingo (anjing liar khas Aussie). Duh, kalau saya hanya berani pasang tenda di tengah-tengah peradaban πŸ™‚

Kasur The Emak dan Si Ayah
Kasur The Precils

Saya tidak menyesali pilihan menginap di Lodge ini. Tempatnya bagus, sekitarnya rimbun dan bersih. Kabin kami tidak besar, tapi cukup luas untuk berlima, dilengkapi dapur mungil dan kamar mandi di dalam. Fasilitas dapur cukup lengkap untuk menyiapkan makan sendiri: kulkas besar, ketel air listrik, pemanggang roti dan hotplate (wajan listrik). Tentu kami membawa rice cooker kecil sendiri untuk menanak nasi :p Karena Kakadu lumayan jauh dari peradaban, kami membawa bahan makanan dari Darwin. Ketika memasak sendiri ketika traveling, saya nggak mau ribet. Biasanya kami akan membeli satu daging (ayam atau sapi) yang sudah dibumbui di supermarket (ada juga dalam bentuk sate/kebab), dan membeli bahan-bahan salad: selada, tomat dan timun. Nanti dagingnya tinggal di-grill atau dibarbekyu. Tambahkan nasi hangat, sudah jadi menu sehat dan mengenyangkan. Yum!

Menginap di Lodge memang menguntungkan karena kita bisa memasak sendiri makanan kita. Kalau tinggal di hotel, tidak ada dapur atau tempat memasak sendiri, jadi harus keluar uang untuk membeli makan di restoran, yang tentunya lebih mahal dan bisa jadi berbeda dari selera kita (dan belum tentu ada nasi untuk Si Ayah :p).

Dapur mungil
The Precils having a good time at swimming pool

Selain dapur, fasilitas lodge lain yang kami gunakan adalah mesin cuci dan kolam renang. Pagi hari sebelum berangkat ke Cooinda, kami sempat berenang di kolam renang ‘pribadi’ karena tidak ada penghuni lain yang senekat kami, berenang di air yang dingin. Meskipun saat itu suhu udara panas, namun suhu air sangat dingin, apalagi di pagi hari. Setelah anak-anak selesai berenang, kami bisa langsung mencuci baju di mesin laundry yang dioperasikan dengan koin. Malamnya ketika kami kembali, baju-baju sudah kering dan wangi πŸ™‚ 

Satu hal yang istimewa ketika menginap di Taman Nasional Kakadu, kami disuguhi hiasan langit yang spektakuler. Karena minimnya cahaya buatan manusia (hampir tidak ada pemukiman penduduk), bintang-bintang di langit kelihatan sangat jelas. Maklum orang kota, saya terkagum-kagum menikmati pemandangan langit nan indah yang berhasil diabadikan Si Ayah ini.

 ~ The Emak

[Penginapan] Barramundi Lodge Darwin

The Emak dan Little A di depan Barramundi lodge
Kami memilih penginapan murah Barramundi Lodge ini karena cuma akan numpang semalam di Darwin, sebelum menjelajah Taman Nasional Kakadu keesokan harinya.
Penerbangan dari Sydney ke Darwin perlu waktu hampir lima jam. Berangkat dari Sydney siang, kami baru sampai di Darwin ketika langit sudah memerah, matahari hampir pamit. Begitu mendarat, saya langsung menelpon resepsionis penginapan ini karena kantor mereka tutup jam 5.30 sore. Kalau ingin cek in lewat dari jam itu harus janjian dulu. Kami menunggu sebentar bersama beberapa orang backpacker yang juga sedang mencari akomodasi. Tak lama ibu paruh baya yang kemungkinan pemilik penginapan ini menyambut kami. Kamar kami di lantai dua sudah siap. Cek in berlangsung mulus tanpa repot, cukup memperlihatkan salinan booking online. Setelah itu kami bergegas ke kamar kami untuk beristirahat.

Rekomendasi penginapan ini saya dapat dari Lonely Planet Australia edisi lama (tahun 2005). Sepertinya penginapan ini memang penginapan yang sudah beredar lama di kalangan backpacker. Ada beberapa pilihan akomodasi mulai dari bunk bed (ranjang susun) untuk backpacker sampai kamar untuk keluarga yang muat sampai 5 orang seperti yang kami tempati. Semuanya dengan fasilitas kamar mandi terpisah/umum. Saya memesan kamar ini dari website booking.com karena website Barramundi Lodge sendiri tidak begitu meyakinkan πŸ™‚ Harganya sama, untuk family room yang muat untuk 5 orang harganya $165 per malam. Lumayan mahal ya untuk ukuran budget accommodation? Maklum aja, bulan Juni yang merupakan musim kemarau adalah musim liburan, termasuk high season untuk Darwin. Kalau ingin harga kamar yang jauh lebih murah bisa berkunjung ke sini ketika musim penghujan dan bukan musim liburan sekolah. Kami pesan kamar untuk 5 orang karena tadinya Mama kami mau ikut liburan ke Darwin ini, tapi akhirnya batal. Kalau mau mencari penginapan untuk 4 orang saja, atau kurang dari itu, bisa pesan kamar yang lebih murah.

Lokasi penginapan ini, 4 Gardens Rd, The Gardens tidak tepat di tengah kota, tapi dekat dengan Botanical Garden dan bisa jalan kaki ke Mindil Beach Market dan Casino. Tadinya saya berencana jalan-jalan ke Mindil Beach Market ini karena kebetulan kami datang Kamis malam (pasar Mindil hanya buka Kamis dan Minggu malam), tapi apa daya kami sudah terlalu capek dan lapar, dan memutuskan untuk jalan (naik mobil) ke kota mencari makan dan belanja kebutuhan bahan makanan untuk road trip ke Kakadu keesokan harinya. Malamnya kami bisa tidur dengan nyenyak karena lokasi penginapan ini lumayan tenang, jauh dari keramaian kota.


Fasilitas yang ada di lodge ini cukup sederhana, sesuai harganya πŸ™‚ Di kamar kami ada satu double bed dan satu double bunk bed (ranjang susun dobel). Ada juga fasilitas kitchenette (dapur sederhana) berupa kulkas kecil, microwave, ketel listrik, toaster, kompor listrik, peralatan makan minum dan peralatan memasak. Semua masih dalam kondisi baik kecuali kompornya yang sudah karatan. Kami hanya memakai peralatan dapur ini untuk memanaskan makanan. Kamar mandi yang cukup bersih letaknya terpisah dari kamar, harus jalan kira-kira 10 meter πŸ™‚ Jarak yang ‘cukup jauh’ ini membuat kami jadi malas mandi (ahlesyan!). Bagi kami, cuci muka dan sikat gigi di kitchen sink sudah cukup (jangan ditiru!). Di lodge ini juga ada fasilitas kolam renang kecil yang bebas untuk digunakan. Sayangnya kami tidak sempat mencoba karena pagi-pagi harus cek out dan segera menuju Taman Nasional Kakadu untuk petualangan selanjutnya.

~ The Emak

Family Camping at Lane Cove National Park Sydney

Keluarga kami & tenda kesayangan di Lane Cove NP. Foto oleh Radityo Widiatmojo
Ternyata pengalaman dua kali kemah dengan keluarga dan teman-teman di Sydney tidak membuat kami kapok, malah ketagihan. Untuk kemah ketiga kali ini kami memilih mendirikan tenda di lokasi yang dekat saja dengan kota, yaitu di Lane Cove National Park.
Lokasi Taman Nasional Lane Cove ini dekat sekali dengan pusat kota Sydney, hanya 11 km ke arah barat laut kota. Lane Cove bisa dicapai dengan mobil atau dengan naik kendaraan umum. Stasiun kereta terdekat dari Lane Cove adalah North Ryde. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Lane Cove yang merupakan paru-paru kota Sydney, antara lain: bushwalking (trekking), bird-watching, piknik, barbekyu, bersepeda atau aktivitas sungai seperti naik perahu, kayak atau kano. Untuk masuk ke taman nasional ini dikenakan biaya $7 per mobil. Di dalam Lane Cove tersedia fasilitas bangku piknik dan tempat-tempat yang bisa disewa untuk mengadakan gathering. Ada juga persewaan sepeda dan perahu.
Untuk keluarga yang ingin menginap di Lane Cove ini tersedia beberapa pilihan akomodasi yang dikelola oleh Lane Cove River Tourist Park. Seperti umumnya Holiday Park di Australia, LCRTP ini menyediakan akomodasi berupa kabin, tempat caravan dan tempat berkemah. Ada tambahan akomodasi spesial untuk mereka yang ingin berkemah di alam terbuka tapi malas mendirikan tenda sendiri, yaitu Luxury Camping atau Glamping (Glamour Camping). Website kemping glamour yang tarifnya lebih mahal dari hotel ini bisa dicek di sini.
Kami yang hidupnya sederhana inginnya camping yang biasa-biasa saja, menyewa tempat untuk mendirikan tenda kami sendiri. Tarif camp site di Lane Cove adalah $37 per malam untuk unpower dan $39 per malam untuk powered alias ada colokan listriknya. Kami yang hidupnya tidak bisa berpisah dengan gadget tentu memilih powered site :p Dekat dengan alam boleh, tapi handphone tetap harus nyala dong πŸ™‚ Satu camp site bisa untuk mendirikan tenda yang cukup untuk enam orang dan satu tempat mobil yang bisa diparkir di pinggir tenda persis. 
Keluarga petualang yang ingin menghemat anggaran akomodasi ketika berlibur di Sydney bisa mempertimbangan camping ini sebagai alternatif penginapan. Fasilitas yang tersedia cukup bagus dan nyaman, seperti kamar mandi dan toilet umum dan juga dapur umum. Biasanya di lokasi camping juga ada taman bermain dan kolam renang.

Lokasi kemah kami dan teman-teman di Lane Cove National Park
Di tempat kemah kami sebelumnya, dua-duanya dekat dengan pantai sehingga anak-anak bisa bermain air di hari Sabtu. Kami biasanya berkemah dua malam, berangkat Jumat sore dan kembali Minggu siang. Di hari Sabtu, kami punya waktu seharian untuk beraktivitas. Pilihan aktivitas di Lane Cove ini lumayan banyak. Atas saran seorang teman yang sudah biasa main di taman nasional ini, kami bushwalking dari camp site ke site no.13, bermain kayak dan barbekyu-an untuk makan siang.

Lokasi No.13 ini cukup luas. Ada lapangan rumput yang bisa dibuat main bola, bangku-bangku kayu untuk piknik dan bantaran sungai yang cocok untuk meluncurkan kayak. Fasilitas piknik ini juga dilengkapi tempat parkir mobil dan toilet umum yang bersih. Anak-anak dan Bapak-Bapak (dan juga Si Om) bergantian mencoba kayak yang dibawa oleh seorang teman kami. Sungai Lane Cove ini airnya tenang. Beberapa kali kami melihat perahu dan kano lain yang melintas.

Little A main bola, tetep pakai dress pinky :p
Big A dan Si Om main kayak di Lane Cove river

Menjelang makan siang, kami mulai menyalakan mesin barbekyu portabel berbahan bakar gas. Saya selalu senang kalau ada acara barbekyu seperti ini karena yang bertugas masak adalah Bapak-Bapak. Sementara itu, Ibu-Ibu bisa ngobrol karena anak-anak juga asyik bermain dengan teman-temannya. Saya biasanya kebagian membuat salad sayuran yang mudah banget karena tinggal memotong-motong sayuran segar dan menuang salad dressing. Salad sayuran andalan saya adalah campuran iceberg lettuce, coss lettuce, daun rocket yang agak pahit, baby spinach yang manis, grape tomatoes dan timun Lebanon. Kadang salah ini saya campur dengan avokad kalau sedang tidak mahal πŸ™‚ Dressing favorit saya adalah Italian dressing yang terbuat dari cuka dan Italian herbs.

Piknik di bawah pohon teduh di Lane Cove NP

Apa menu kemah yang kalian ingat ketika pramuka dulu? Mie instant dan kornet? Atau sarden dan mackarel kalengan? Di sini, menu standar kemah adalah daging barbekyu plus salad segar. Di Kiama, kami bakar-bakar ikan, sementara di Lane Cove kami membakar daging domba dan daging sapi. Tinggal di Aussie membuat kami kreatif membuat bumbu rendaman untuk barbekyu. Si Ayah juga punya resep rahasia untuk merendam daging steak ini, dengan bahan dasar kecap manis πŸ™‚ Tanpa bumbu istimewa pun biasanya daging domba dan sapi dari Australia ini sudah cukup enak dan cepat empuk. Apalagi dengan campuran bumbu spesial dan kecap manis dari Indonesia. Hmm, rasanya oke banget, dimakan dengan salad segar. Nggak pakai nasi juga sudah kenyang.

Dibandingkan dengan tempat kemah kami sebelumnya, di Narrabeen dan Kiama, fasilitas di Lane Cove ini paling juara. Dapur umum dekat sekali dengan lokasi tenda kami, hanya menyeberang jalan kecil. Dapur ini buka 24 jam karena tidak ada pintunya πŸ™‚ Ini memudahkan kami yang pingin ngopi di pagi hari atau tiba-tiba lapar tengah malam :p Di dapur tersedia fasilitas kompor gas dua tungku, kulkas, air panas dan tempat cuci piring. Alat-alat masak seperti panci, wajan dan juga rice cooker harus kita bawa sendiri. Dapur yang lumayan luas ini juga dilengkapi dua pasang meja dan kursi piknik panjang, cocok untuk tempat nongkrong kami. 
Kamar mandi dan toilet juga cukup bersih dan nyaman. Tiap pagi sekitar jam 9-10, kamar mandi ini ditutup untuk dibersihkan. Pengumuman jadwal membersihkan kamar mandi ini dipasang di pintu sehingga kami bisa siap-siap untuk mandi lebih pagi.

Kemah kali ini juga merupakan debut chef Radityo yang aslinya adalah fotografer. Bakatnya memang dobel-dobel πŸ˜€ Tiap pagi kami disuguhi sarapan istimewa: nasi goreng teri di hari pertama dan nasi mawut dari sisa-sisa makanan semalam, lengkap dengan sambal bajak dan sambal kecap.

Si Om yang merangkap jadi chef di camp site kami
Kami tidak tahu apakah ini bakal menjadi pengalaman kemah terakhir kami di Australia. Big A yang suka sekali berkemah selalu bertanya-tanya, di mana nanti kemahnya kalau sudah pindah ke Indonesia? Apakah di sana ada toilet dan kamar mandi bersih juga? Hmm, ada yang bisa bantu jawab?

~ The Emak

Menanti Matahari Terbit di Kiama

Melihat matahari terbit dari dalam tenda. Foto oleh Radityo Widiatmojo.
Sungguh suatu pengalaman magical menikmati indahnya matahari terbit, langsung dari dalam tenda!
Lokasi yang kami pilih untuk menjajal kemah kedua kali ini adalah Kiama, sekitar dua jam bermobil ke selatan Sydney. Kami sekeluarga pernah berakhir pekan di Kiama, tiga tahun yang lalu. Memang suasana kota kecil tepi pantai ini nyaman dan pemandangannya bagus. Ada beberapa Holiday Park di sekitar Kiama. Kami memilih East Beach Holiday Park dari grup Big 4, yang lokasinya di tepi pantai.
Ketika kami datang Jumat malam, lokasi bumi perkemahan sudah gelap. Perjalanan kami sempat tertunda karena ada macet akibat kecelakaan di jalan, plus GPS kami yang ngaco menyarankan jalan berputar menyusuri kampung. Setelah cek in di resepsionis, kami bergegas menuju lokasi untuk tenda. Saya dibantu Big A mendirikan tenda dengan penerangan senter dan cahaya bintang :p Sementara itu Si Ayah membantu teman-teman kami yang lain dari grup “Pramuka Marrickville” yang tendanya lebih besar daripada tenda kami. Untungnya malam pertama kemping kali ini tidak disambut hujan seperti kemping kami yang pertama :p
Kami bisa tidur nyenyak meskipun suhu udara dingin menusuk tulang. Malamnya saya belum tahu lokasi kami menghadap mana, pantai ada di sebelah mana. Dari debur ombak yang mengiringi tidur malam kami, saya bisa menduga kalau pantainya dekat dengan lokasi kami berkemah. Menjelang subuh, saya dikejutkan oleh suara berisik Si Ayah dan Om Thuwid yang mencari-cari sesuatu. Ternyata mereka perlu sarapan dan kopi untuk bekal memotret sunrise. Lokasi kemah kami ada termasuk yang powered, ada colokan listriknya. Jadi kami bisa membawa alat-alat listrik seperti ketel listrik untuk membuat air panas. Sayangnya, saya telanjur mengandalkan teman-teman lain untuk membawa ketel listrik ini. Dalam gelap, kami tengak-tengok tenda lain. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sekeliling kami. Saya sarankan Si Ayah dan Si Om untuk jalan ke dapur umum. Pengalaman kami di bumi perkemahan Narrabeen, ada mesin air panas instan di dapur umum. Beberapa saat kemudian, Si Ayah kembali dengan bersungut-sungut: dapur umum baru buka jam 8.30! Ya ampun, lha terus kami disuruh sarapan jam berapa? Akhirnya Si Ayah dan Si Om harus puas sarapan dengan Up&Go, sereal yang sudah dihaluskan dicampur susu, yang sebenarnya milik The Precils.
Setelah Si Ayah dan Si Om pergi berburu sunrise, giliran Big A yang bangun. Saat itu mulai muncul cahaya jingga dari pantai di seberang tenda kami. Pelan-pelan cahaya ini mulai naik, menerangi area berkemah kami. Lama-lama ketahuan bahwa lokasi kemah kami sebenarnya tepat di pinggir pantai, hanya dibatasi rerumputan hijau dan sungai kecil. Saya yang jarang menikmati indahnya sunrise – karena terlalu malas bangun pagi :p – tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya ambil kursi lipat, meletakkannya di depan (atau belakang?) tenda. Saya tunggui episode matahari menampakkan diri ini sambil duduk membaca novel The Hunger Games, masih berbalut sleeping bag untuk melawan udara dingin di pagi hari. Ketika langit mulai terang, teman-teman banyak yang bangun dan saya bisa mendapatkan kopi panas untuk teman membaca. 
Sunrise di hari kedua tidak kalah menariknya. Kali ini saya sudah siap-siap meminjam ketel listrik untuk membuat kopi Si Ayah sebelum berburu sunrise. Udara pagi tidak sedingin hari sebelumnya, tapi rasanya saya kok malas keluar meski sudah mendengar suara berisik Si Ayah dan teman-temannya yang mau hunting foto. Little A masih nyenyak dalam sleeping bag di samping saya. Saya iseng membuka pintu tenda untuk melihat seberapa naiknya matahari. Pemandangan yang saya dapatkan di luar dugaan saya. Cahaya jingga menyorot menerobos pintu tenda. Dengan iringan debur ombak di pagi hari, scene ini indah sekali. Saya cuma bisa duduk bengong di dalam tenda, masih dalam sleeping bag, mengamati matahari yang naik pelan-pelan ke langit. Kok kemarin saya tidak terpikir untuk menikmati sunrise ini dari dalam tenda saja ya?

Terus ngapain aja sih selama camping? Kami, grup ‘Pramuka Marrickville’ biasanya berkemah selama dua malam di akhir pekan. Jumat malam kami datang dan mendirikan tenda, biasanya sudah makan malam, jadi langsung tidur malam pertama di tenda. Sabtu, kami punya satu hari penuh untuk berkegiatan, seperti fotografi dan mancing (bapak-bapak), berenang, main bola dan main air di pantai (anak-anak) dan makan-makan! (ini gak cuma Emak-Emaknya lho). East Beach Holiday Park punya fasilitas kolam renang. Anak-anak langsung minta berenang sehabis sarapan. Di sini juga ada fasilitas arena bermain (playground) yang dekat dengan lokasi tenda kami. Tapi sepertinya anak-anak lebih senang main bola di pelataran dekat tenda. Setelah makan siang, anak-anak kembali main air, kali ini ke pantai East Beach yang cuma lima menit jalan kaki dari area tenda. Big A dan teman-teman sudah siap dengan body boardnya. Pantai East Beach ini ukurannya sedang, pasirnya putih halus dan ombaknya lumayan besar. Sambil mengawasi anak-anak besar bodyboarding, emak-emaknya duduk-duduk santai sambil nge-gosip dan makan camilan πŸ˜€

Hari Minggu, kami cek out jam 10 pagi, dilanjutkan dengan jalan-jalan di Kiama  Blowhole. Di sini ada mercusuar dan ‘ledakan’ air laut yang terperangkap karang. Kami pernah ke sini tiga tahun yang lalu. Suasananya masih seteduh dan seindah yang dulu.

Si Ayah berburu gambar indah. Foto oleh Radityo Widiatmojo
Pantai East Beach, Kiama. Foto oleh Radityo Widiatmojo
Holiday Park atau Caravan Park di Australia merupakan salah satu alternatif penginapan yang murah. Biasanya mereka menyewakan tempat parkir untuk caravan, tempat untuk mendirikan tenda (dan cukup untuk parkir mobil di sebelahnya), dan juga kabin-kabin kecil yang cukup untuk keluarga. Tarif sewa kabin ini relatif lebih murah daripada di hotel atau apartemen. Untuk yang tidak masalah berbagi fasilitas kamar mandi umum dan dapur umum, menyewa kabin sangat menghemat anggaran. Kami membayar AUD 160 untuk kemah dua malam, untuk 3 dewasa dan 2 anak-anak.
Ketika berkemah di sini, saya kurang puas dengan fasilitas dapur umum dan kamar mandi umumnya. Dapur umum baru buka jam 8.30 pagi, terlalu siang untuk ukuran kami. Ini merepotkan kalau harus mengambil lauk yang akan dimasak untuk sarapan. Kulkas yang ada di dapur juga terlalu kecil. Letak dapur juga terlalu jauh dari area tenda, sehingga repot kalau mau cuci-cuci alat dapur yang kami gunakan di sekitar area tenda. Di area tenda kami, blok F, hanya ada fasilitas kamar mandi umum dan laundry. Dapur umum dan BBQ area terpisah dan harus jalan kaki cukup jauh. 
Kamar mandi umum cukup bersih, jumlahnya cukup banyak sehingga tidak perlu antri. Ada juga kamar mandi khusus anak-anak berupa shower/pancuran kecil. Little A senang mandi di sini. Sayangnya jadwal bersih-bersih mereka tidak pasti, antara jam 9 – 11, dan tanpa peringatan terlebih dahulu. Ketika anak-anak selesai berenang, sekitar jam 10, kamar mandi sedang dibersihkan, sehingga tidak bisa digunakan untuk bilas. Esok harinya, baru jam 9 pagi, kamar mandi sudah ditutup untuk dibersihkan. Si Ayah sampai harus mandi di kamar mandi untuk difabel gara-gara ini.
Kalau dibandingkan dengan lokasi kemah kami sebelumnya, fasilitas kamar mandi, toilet dan dapur umum di Sydney Lakeside Holiday Park memang lebih bagus daripada di East Beach Holiday Park. Dapur umum bisa diakses kapan saja dengan menggunakan kunci, dan letaknya dekat dengan area tenda kami. Hanya saja di Narrabeen tidak ada fasilitas kolam renangnya dan tidak ada pemandangan spektakuler seperti di East Beach.
View spektakuler adalah kelebihan holiday park ini. Untuk bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit seperti kami, pesanlah lokasi tenda/caravan di blok F12-17. Saya juga menyarankan untuk membawa sendiri peralatan memasak atau barbekyu, jangan mengandalkan dapur umum. Kalau perlu bawa kulkas portabel sendiri, seperti tetangga di seberang tenda kami.
Kemah pertama dan kedua sukses. Akan adakah kemah ketiga? Rupanya suhu musim gugur yang cukup dingin tidak menyurutkan grup Pramuka Marrickville untuk berkemah lagi. Kali ini kami akan mendirikan tenda di Lane Cove National Park, taman nasional yang ada di tengah kota Sydney.
Tunggu cerita dari kemah berikutnya ya πŸ™‚
 ~ The Emak

Camping Ala Aussie

Tenda kami di Sydney Lakeside Holiday Park
Di Australia, camping tidak hanya dilakukan oleh Pramuka saja, tapi sudah menjadi gaya hidup keluarga. Berkemah menjadi pilihan hemat untuk mengisi akhir pekan dan liburan sekolah.
Kami pertama kali berkemah bersama delapan keluarga teman-teman ngaji The Precils. Waktu itu kami mencari-cari tempat berkemah di beberapa Taman Nasional di sekitar Sydney. Ternyata semua spot berkemah di bulan Januari sudah penuh. Kata resepsionis, kalau ingin berkemah di musim liburan sekolah (Desember-Januari) harus booking jauh-jauh hari. Akhirnya kami menemukan tempat berkemah di Holiday Park untuk awal bulan Februari, ketika liburan sekolah sudah berakhir. Kemah dua malam di akhir pekan ini cukup berkesan bagi The Precils dan kami, orang tuanya πŸ™‚
Ada dua macam pilihan tempat berkemah di Australia: di Taman Nasional dan di Holiday Park. Untuk mendapatkan pengalaman kemah yang lebih otentik, bener-bener di tengah hutan, Taman Nasional adalah pilihan terbaik. Fasilitas camping di Taman Nasional beragam, dan biasanya lebih terbatas daripada di Holiday Park. Ada yang hanya menyediakan tempat berkemah, toilet, kamar mandi dan unit untuk barbekyu. Tapi ada juga yang fasilitasnya sudah cukup lengkap termasuk colokan listrik, kamar mandi dengan air panas dan fasilitas memasak. Tarif menginap per malam bervariasi, sekitar AU$ 7 untuk dewasa dan AU$ 5 untuk anak-anak. Untuk memesan tempat, biasanya harus menelpon langsung ke ranger/petugas taman nasional tersebut. Klik di sini untuk melihat daftar 220 bumi perkemahan di Taman Nasional NSW.

Matahari pagi di bumi perkemahan
Emak-Emak ngopi dan ngeteh. Anak-anak mana ya? πŸ™‚
Bagi camper pemula, lebih mudah mencoba berkemah di Holiday Park atau kadang disebut juga Caravan Park/Tourist Park. Di Australia, ada ratusan Holiday Park yang tersebar di tiap daerah untuk traveler yang ingin berkemah atau bermalam di caravan. Holiday Park ini juga menyediakan kabin sederhana yang biasanya lebih murah tarifnya daripada motel atau hotel. Ketika road trip di pulau selatan New Zealand, kami dua kali menginap di kabin Holiday Park. Di Australia, cara paling mudah untuk mencari Holiday Park adalah dengan melihat website Big4 yang merupakan jaringan Holiday Park terbesar.
Fasilitas standar Holiday Park adalah kamar mandi, toilet, dapur, laundry, taman bermain dan tempat barbekyu untuk umum. Kadang ada juga Holiday Park ‘mewah’ yang ada kolam renangnya. Fasilitas umum ini digunakan bergantian untuk yang berkemah maupun yang membawa caravan atau yang menyewa kabin sederhana tanpa kamar mandi. Saya yang biasanya alergi sharing kamar mandi dan toilet, ketika camping tidak merasa keberatan lagi. Karena sudah bukan musim liburan, Holiday Park lumayan sepi, sehingga saya tidak harus antri kamar mandi. Semua fasilitas sangat bersih dan nyaman digunakan. Judulnya saja yang ‘camping‘, tapi kami tetap bisa mandi air panas dengan nyaman seperti di rumah :p Bahkan ada kamar mandi khusus dengan bath tub untuk anak-anak. Little A senang banget bisa mandi di sini.

kamar mandinya luas, bersih dan nyaman
Kami, delapan keluarga mendapatkan spot berkemah di Sydney Lakeside Holiday Park, di daerah Narrabeen, kira-kira satu jam bermobil dari tengah kota Sydney ke arah utara. Holiday Park ini kami pilih karena lokasinya yang dekat dengan danau dan pantai, sehingga The Precils nanti bisa main-main air. Ketika memesan tempat berkemah jauh-jauh hari, kami belum tahu ramalan cuaca untuk hari itu. Jadi pasrah dan berdoa saja semoga cuaca cerah dan tidak hujan. Ternyata Sang Pemilik Alam berkehendak lain, tepat di hari pertama kami berkemah, gerimis turun sepanjang hari. Mungkin ini untuk menguji keteguhan hati para Pramuka Siaga ini, hehe. The Precils dan teman-temannya tampak tetap semangat membantu kami mendirikan tenda di tengah gerimis. Kalau bukan demi precils-precils ini, mungkin kami ogah berkemah di tengah hujan πŸ˜€
Untungnya tenda kami lumayan kecil, cukup untuk 4 anggota keluarga kami yang berukuran mini juga. Tenda kami, Retreat 60 Tent, khusus kami beli online di Kathmandu, salah satu toko perlengkapan outdoor yang lumayan terkenal di Australia. Begitu paket tenda ini sampai di rumah, kami langsung mencoba mendirikannya di ruang tamu dan sempat dibuat bermalam beberapa hari oleh The Precils, sampai bosan. Alhasil, tenda berukuran 4,2 x 2,2 m ini tidak menyisakan ruang di lounge kami. Ada untungnya juga tenda ini pernah kami coba dirikan, jadi bisa pasang dengan cepat di tempat kemah.

Tenda kami termasuk mini dibandingkan dengan tenda teman-teman lain. Bahkan ada yang membawa 2 bedroom tent yang bisa muat untuk 6 orang. Kalau tenda serius begini, pasangnya juga lumayan lama. Peralatan camping yang dibawa teman-teman juga canggih-canggih semua, mulai dari sleeping bag (kantung tidur), sleeping mat, air bed (kasur angin), travel pillow, kursi lipat, lentera, meja lipat, esky, kompor portabel dan mesin barbekyu portabel. Memang di Australia, kemah sudah menjadi life-style (gaya hidup) sehingga peralatan berkemah dan segala aksesori-nya yang lucu-lucu gampang dibeli di toko-toko outdoor. Dua toko outdoor yang populer di Australia adalah Ray’s Outdoor dan Kathmandu. Kalau lihat katalog online mereka, rasanya saya juga ingin beli ini itu πŸ™‚

Di Sydney Lakeside Holiday Park, tempat berkemah dijadikan satu dengan tempat parkir Caravan. Setiap keluarga mendapat jatah tempat yang lumayan luas, sekitar 6×8 meter untuk mendirikan tenda dan memarkir mobil di sebelah tenda. Tempat kemah ini berupa lapangan rumput dengan fasilitas kran air dan colokan listrik karena kami memilih Powered Site. Camping ala Aussie ini sama sekali nggak ada susahnya karena ketergantungan kami dengan gadget difasilitasi oleh adanya colokan listrik. Jadi judulnya saja yang ‘camping‘, urusan men-charge gadget tetep jalan terus πŸ™‚

Gadget gak mau ketinggalan ikut camping :p
Setelah malam pertama diguyur hujan, kami bisa tersenyum menikmati cuaca cerah keesokan harinya. Ibu-ibu langsung mojok ngerumpi di bangku taman ditemani teh dan kopi panas. Bapak-bapak, sesuai hobinya, pergi memotret matahari terbit di pantai atau pergi memancing (yang sayangnya, belum ada hasil). Asyiknya berkemah dengan banyak keluarga seperti ini, anak-anak punya teman bermain sehingga Emak-Emak bisa sedikit santai tanpa direcoki The Precils yang sebentar-sebentar bilang ‘I’m bored‘. 
Mungkin ini bedanya camping ala keluarga Aussie beneran dan ala keluarga Indonesia yang ada di Aussie: kami kelebihan stok makanan! Keluarga Aussie biasanya jalan-jalannya hanya satu sampai tiga keluarga, jarang yang sampai delapan keluarga seperti kami πŸ˜€ Mereka pun biasanya bawaannya minimalis, daging atau seafood untuk barbekyu, roti, salad dan buah. Sementara kami, semua masakan dari rumah diangkut ke tempat camping: beras dan rice cooker, Indomie berbungkus-bungkus, sawi, salad, buah, sosis, telur, kornet, roti, sereal, susu, daging sapi dan domba untuk barbekyu, lauk pauk seperti rendang, kering tempe, ayam goreng, dan tentu saja tak ketinggalan sambal! Tapi itu juga enaknya jadi orang Indonesia: nikmat sekali tetap bisa makan kering tempe, rendang dan sambal ijo di negeri orang πŸ™‚ Beruntung banget saya berkemah bareng Ibu-Ibu yang jago masak, bisa numpang makan lauk enak :p
Ketika matahari mulai naik, kami mengajak anak-anak jalan kaki ke pantai, dengan membawa body board mereka untuk bermain ombak. Kira-kira perlu sepuluh menit jalan kaki dari bumi perkemahan sampai di pantai North Narrabeen. Pantai ini panjang banget, mengingatkan saya pada garis pantai di Gold Coast. Bulir pasirnya besar dan keemasan, khas pantai-pantai di bagian utara Sydney. Anak-anak yang besar segera bermain ombak dengan body boar mereka, sementara Precils yang masih kecil seperti Little A cukup senang bermain pasir. Ternyata Little A takut mendengar suara ombak yang berdebur sehingga dia tidak mau mendekat ke air. Cukup lama kami main-main di pantai ini sampai anak-anak puas.

bermain ombak di pantai North Narrabeen
Sore hari, setelah anak-anak membersihkan diri dari pasir pantai, giliran kami yang beraksi menggelar barbekyu. Daging yang direndam bumbu sudah kami siapkan dari rumah, begitu juga dengan sosis yang siap dipanggang. Di Holiday Park ini ada mesin barbekyu untuk umum, tapi kami memilih menggunakan barbekyu portabel yang bisa ditaruh di atas meja piknik. Barbekyu portabel ini menggunakan bahan bakar gas. Sebenarnya lebih asyik barbekyu dengan bahan bakar arang (charcoal), tapi sayangnya di Holiday Park ini dilarang menggunakan api (open fire). Karena itu juga kami tidak membuat acara api unggun :p Barbekyu cukup sukses membuat kami semua kekenyangan dan tidur lebih nyenyak tanpa gangguan hujan seperti malam sebelumnya.
Alternatif Penginapan
Kenyamanan berkemah dengan fasilitas lengkap seperti ini membuat camping menjadi satu pilihan akomodasi yang hemat di Australia. Tarif berkemah lebih murah dibandingkan dengan menginap di kabin, motel apalagi hotel. Semalam, kami cukup membayar AU$ 40 untuk satu keluarga (2 dewasa dan 2 anak-anak). Untuk keluarga petualang, pilihan camping ini tentu cukup menarik, hanya bermodal tenda, bisa menghemat biaya akomodasi separuhnya atau bahkan sampai 80%. Saya jadi ingat, ketika menginap di Te Anau Holiday Park, kami bertemu keluarga Amerika dengan dua precils yang keliling New Zealand dengan berkemah.

Hanya saja, lokasi Holiday Park di Australia biasanya cukup jauh dari pusat kota. Di Sydney, ada dua Holiday Park dari Big4 yang letaknya kira-kira satu jam dari pusat kota, yaitu: Sydney Lakeside dan Sydney Gateway Holiday Park. Akomodasi jenis ini cocok untuk mereka yang melakukan road trip dan memiliki kendaraan sendiri, misalnya dari Gold Coast ke Sydney atau dari Melbourne ke Sydney. Tarif menginap di Holiday Park ini termasuk murah karena sudah termasuk tarif parkir mobil untuk 24 jam. Bandingkan dengan tarif tambahan yang dikenakan hotel-hotel di Sydney untuk parkir mobil semalaman, mahalnya minta ampun, bisa mencapai AU$ 40 semalam untuk mobilnya saja.

camper kids
Ternyata setelah mencoba kemah satu kali, kami ketagihan dan ingin mencoba lagi. Akhir Maret ini kami akan camping lagi di daerah Kiama. Ada yang mau ikut? πŸ™‚

~ The Emak

[Penginapan] Hotel Parkview St Kilda, Melbourne

Pemandangan dari jendela kamar hotel
Hotel di daerah St Kilda ini cukup nyaman untuk melepas penat setelah semalaman tergoncang ombak di kapal dan seharian menerobos macetnya Melbourne.
Setelah menyeberang dari Tasmania, kami punya waktu 24 jam di Melbourne sebelum melanjutkan perjalanan liburan musim panas ke Queenstown, Selandia Baru. Untuk penginapan kali ini saya sengaja memilih hotel yang resepsionisnya buka 24 jam karena kami harus cek out pagi-pagi mengejar pesawat ke New Zealand. Saya memilih menginap di daerah St Kilda karena ingin membawa The Precils mengunjungi Luna Park. Lagipula, kami sudah pernah menginap di apartemen tengah kota dan jalan-jalan di pusat kota Melbourne. Daerah St Kilda ini bisa menjadi alternatif menginap untuk yang ingin lebih dekat dengan kawasan pantai di Melbourne.
Pilihan jatuh pada Parkview Hotel di St Kilda Rd. Tarif per malamnya AU$ 179 untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak, tidak termasuk makan pagi. Untuk parkir mobil seharian, kami dikenakan tambahan AU$ 10. Saya memesan hotel ini dari website Quickbeds yang tidak mengenakan biaya booking seperti di Wotif πŸ™‚ Kami mendapat kamar dengan 2 double bed, dengan pemandangan lapangan kriket. Desain hotel yang baru saja direnovasi ini cukup elegan. Di dalam kamar ada TV layar datar yang menempel di dinding dan meja serbaguna yang nyaman untuk menulis maupun untuk makan. Di belakang partisi ada kulkas mini, lemari baju, kaca rias dan tempat untuk membuat teh dan kopi, lengkap dengan ketel listriknya. Yang saya nggak suka, kulkas mininya dikunci oleh pihak hotel. Kalau kita ingin memakai mini bar tersebut, harus lapor dan minta kunci ke resepsionis. Hal ini tidak kami lakukan karena sudah telanjur capek begitu sampai di hotel.
Kami cek in sore hari, setelah main-main ke rumah teman lama di daerah Brunswick. Ternyata, menyetir mobil di Melbourne, sama nggak enaknya dengan di Sydney, ada beberapa titik macet yang membuat perjalanan terhambat. Mungkin karena ini akhir pekan. Lebih nggak enaknya menyetir di Melbourne, di luar batas kota, kami harus berbagi jalur dengan trem. Rasanya kok serem berada di belakang trem dua muka. Kalau trem berhenti untuk menurunkan penumpang, mobil juga harus berhenti karena tidak ada jalur untuk mendahului. Jadi harus cukup sabar kalau mengendarai mobil sendiri di Melbourne. Kalau cuma jalan-jalan di pusat kota, mungkin lebih enak naik trem (terutama yang gratis), seperti yang kami lakukan saat liburan ke Melbourne tahun lalu.
Begitu cek in, Si Ayah yang capek menyetir (dan kemungkinan masih kesal dengan pengalaman naik feri), langsung tertidur di ranjang hotel yang empuk. The Precils, seperti biasa, langsung mencoba-coba chanel TV (maklum, di rumah kami tidak ada TV). Kami keluar menjelang maghrib untuk jalan-jalan di pantai Brighton, sekitar 20 menit berkendara dari hotel, kalau tidak nyasar :p Di pantai Brighton, saya ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bathing box warna-warni yang fotonya biasa saya lihat di kartu pos. Setelah bertanya ke orang di pinggir jalan karena kami nyasar, akhirnya sampai juga di pantai yang menjadi favorit orang lokal ini. Angin bertiup cukup kencang ketika kami datang, sehingga kami hanya sebentar main-main di sana. Yang penting Si Ayah sudah memotret dan bisa dipamerkan kalau pernah melihat salah satu bangunan ikon Australia ini.
Kami bisa tidur nyenyak di hotel ini, jauh lebih nyaman daripada tidur di kabin kapal :p Esoknya kami harus cek out pagi-pagi dan bergegas menuju Bandara Internasional Melbourne untuk mengejar pesawat ke Selandia Baru.

Little A penasaran dengan Bible πŸ™‚
Bathing Boxes warna-warni di pantai Brighton

~ The Emak

[Penginapan] Cradle Mountain Chateau, Tasmania

Ingin menyatu dengan alam tapi tidak ingin repot mendirikan tenda? Cobalah menginap di salah satu akomodasi di Taman Nasional Cradle Mountain.
Saya ingat suatu malam ketika memesan akomodasi ini via Wotif. Waktu itu kami belum memutuskan mau jalan-jalan ke mana aja di Tasmania. Yang pasti, setelah tiga malam di Hobart, kami punya waktu semalam di tempat lain di Tasmania. Pilihan pertama adalah Launceston, kota terbesar kedua di Tasmania, yang juga terkenal dengan keindahan Cataract Gorge Reserve-nya. Tapi Si Ayah, yang biasanya nggak punya ide apa-apa untuk liburan, kali ini pengen mencoba sesuatu yang berbeda. Menurutnya, lebih mending menjelajah Taman Nasional daripada jalan-jalan ke kota lagi. Saya langsung menyarankan Cradle Mountain, salah satu tujuan utama petualang di Tasmania. Cepat-cepat saya buka wotif untuk mencari akomodasi di Cradle Mountain, sebelum Si Ayah berubah pikiran :p 
Ada beberapa pilihan akomodasi di Cradle Mountain, dari vila mewah sampai akomodasi untuk backpacker di Discovery Holiday Park. Yang paling terkenal dan letaknya paling strategis adalah Cradle Mountain Lodge, tepat di depan Visitor Centre dan dekat dengan gerbang Taman Nasional. Lodge ini juga merupakan tempat mulai trek Enchanted Walk. Sayangnya waktu itu lodge sudah penuh. Untung masih ada pilihan akomodasi lain yang lebih murah, yaitu Cradle Mountain Chateau. Dengan tarif AU$ 163 per malam, kami mendapat kamar Deluxe Spa Room, dengan dua double bed untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak. Kami langsung memesan kamar ini tanpa berpikir panjang lagi. Ini salah satu pembelian impulsif yang tidak kami sesali πŸ™‚
Jalan menuju penginapan ini cukup mulus dengan navigasi yang mudah. Banyak rambu-rambu penunjuk arah di jalan. Dibanding penginapan lainnya, Chateau kami letaknya paling luar atau paling jauh dari gerbang Taman Nasional, sekitar lima menit naik mobil atau 20 menit jalan kaki. Setelah melalui perjalanan berkelok menaiki pegunungan dari Launceston ke Cradle Mountain, kami bersyukur melihat gerbang Chateau ini. Pertama kali yang saya lakukan setelah cek in adalah mencari laundry koin untuk mencuci baju dan car seat Little A yang terkena muntahan di jalan. Saya belum pernah sesenang ini ketika menemukan Laundry umum (murah) yang bisa langsung kami pakai. Begitu cucian beres, baru saya bisa menikmati suasana di sekitar Chateau.

Pose standar The Precils begitu melihat TV :p
Pemandangan dari dalam kamar
Trek Rainforest di belakang hotel kami
Begitu membuka jendela, yang terlihat adalah semak belukar dan pohon-pohon khas hutan di Australia. “Ini benar-benar di tengah hutan,” pikir saya. Asyiknya menginap di Cradle Mountain Chateau ini, kita bisa menikmati pemandangan alam liar dan kicauan burung dari kursi empuk di ruangan hangat. Suhu di luar memang cukup dingin, sekitar 16 derajat celcius.
Kami memesan makan malam dari room service. Memangnya mau makan di mana lagi di tengah hutan seperti ini? Pilihannya adalah membawa makanan sendiri, makan di restoran hotel atau memesan dari room sevice dan menikmatinya di dalam kamar. Seperti hotel pada umumnya, kamar kami tidak menyediakan fasilitas memasak, hanya ada kulkas mini, ketel listrik beserta teh,kopi dan coklat. Untungnya harga makanan di hotel ini cukup wajar, AU$ 8-12 satu porsi. Hanya saja ada tambahan AU$ 6 setiap kali pesan.
Ketika menunggu makan malam diantar, kami kedatangan tamu istimewa. Ada satu wallaby yang lompat-lompat dan akhirnya nongkrong manis di depan balkon kamar. Little A (dan saya) langsung heboh dan keluar untuk menyapa si wallaby imut, nggak peduli udara dingin yang langsung menusuk. Selanjutnya ada dua wallaby lagi yang ikut mampir dan bermain-main di depan kamar kami. Cukup lama kawanan wallaby singgah dan diajak ngobrol sama Little A. Pengalaman seru banget bisa melihat binatang khas Australia ini di habitat aslinya, bukan di kebun binatang kota πŸ™‚
Setelah menyelesaikan makan malam, kami masih punya waktu sebelum maghrib untuk main-main di luar, menjajal trek yang banyak tersedia di Cradle Mountain. The Precils yang biasa menjadi anak pantai, kali ini mencoba berpetualang di hutan dan gunung. Di belakang hotel kami ada Rainforest Track, jalan setapak dari kayu yang mengitari hutan dan bisa diselesaikan dalam 20 menit. Si Ayah mencoba trek ini untuk memotret suasana sekitar hotel, The Precils tidak ada yang mau ikut :p Resepsionis hotel ini menyarankan kami mencoba Enchanted Walk, trek sepanjang satu kilometer yang bisa diselesaikan dalam 20 menit (atau satu jam kalau bersama Precils). Berbekal dua lampu senter besar yang dipinjam dari resepsionis, kami memulai petualangan menyusuri Enchanted Walk dari tempat parkir Cradle Mountain Lodge. Pulang dengan kaki lelah karena sempat lari dikejar wombat, kami mandi berendam di bak mandi besar yang juga bisa untuk spa. Sayangnya suara spa-nya berisik sekali ketika kami nyalakan, sehingga kami memilih berendam di air hangat biasa dengan tenang. Malamnya kami tidur nyenyak di ranjang empuk. Pagi berikutnya dengan berat hati kami cek out dan melanjutkan perjalanan.

Rasanya satu malam terlalu singkat untuk berpetualang di Cradle Mountain. Mungkin nanti setelah The Precils beranjak remaja, kami bisa kembali lagi ke sini dan mencoba trek-trek lain yang lebih menantang.

Wallaby, tamu istimewa yang mampir ke penginapan kami
Little A ngajak ngobrol, Si Ayah asyik motret
~ The Emak

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

[Penginapan] Hotel Grand Chancellor Hobart

Hotel Grand Chancellor Hobart. Foto oleh Anindito Aditomo.
Selama tiga hari jalan-jalan di Hobart, kami menginap di Hotel Grand Chancellor yang letaknya sangat strategis di tepi pelabuhan. Ini adalah penginapan favorit Little A dalam rangkaian Summer Adventure kami.
Saya memilih menginap di hotel ini karena Si Ayah mengikuti konferensi di sini. Jadi Si Ayah tidak repot bolak-balik ke tempat konferensi dan masih bisa bertemu kami ketika rehat makan siang. Tarif hotel ini AU$ 195 per malam untuk kamar dengan dua double bed dengan pemandangan kota atau gunung. Kalau ingin pemandangan pelabuhan dari dalam kamar, bisa upgrade dengan menambah AU$ 10 per malam. Tarif segitu hanya untuk akomodasi saja, tidak termasuk makan pagi. Tidak seperti di Indonesia, harga standar penginapan di Australia belum termasuk sarapan. Kalau ingin mencari sarapan yang lebih murah daripada harga sarapan prasmanan di hotel, cari saja kafe terdekat. Kopi dan toast harganya di bawah AU$ 10. Tapi maaf, tidak ada yang sedia sarapan bubur ayam di sini :p
Kalau boleh memilih, biasanya saya menghindari menginap di hotel-hotel besar seperti ini. Saya lebih suka menginap di motel atau apartemen yang tarifnya lebih murah dan mempunyai fasilitas untuk memasak. Di hotel mewah, biasanya hanya ada fasilitas membuat teh atau kopi dengan ketel listrik dan kulkas mini untuk menyimpan makanan. Untuk bisa menghemat, terpaksa saya harus kreatif. Dalam perjalanan liburan musim panas ke Tasmania dan New Zealand ini, saya membawa rice cooker kecil. Jangan tertawa dulu, peralatan yang satu ini sangat berguna untuk survival perjalanan dua minggu dengan dua precils πŸ˜€ Kalau sudah punya nasi, kita tinggal membeli lauk dan lalapan saja. Jatuhnya lebih murah daripada harus selalu membeli makan di luar. Harga satu porsi makanan di Australia kira-kira Rp 150.000, itu hanya untuk makanan di food court atau di warung pinggir jalan lho, belum di restoran. Nah, sekarang boleh ikuti tips saya membawa rice cooker πŸ˜‰

Untuk menyiapkan sarapan The Precils, saya mengalihfungsikan setrika yang disediakan hotel menjadi toaster. Dari rumah, saya sudah mempersenjatai diri dengan aluminium foil. Untuk membuat roti setrika, oles dua potong roti tawar dengan selai kacang atau olesan kesayangan si kecil lainnya, tangkupkan dan bungkus rapi dengan aluminium foil. Setelah itu, setrika tiap sisi sampai roti hangat dan ada crust-nya. Hmm… yummy!

The Precils langsung terpaku menonton TV :p
Little A sarapan dengan roti setrika dan segelas susu, sambil lihat-lihat pemandangan kota Hobart.
Satu-satunya kekurangan hotel ini hanya ketiadaan fasilitas memasaknya. Selain itu, kami sangat menyukai fasilitas dan pelayanan di hotel ini. Kami sampai di hotel ini dengan mengendarai shuttle bus dari bandara Hobart, sekitar pukul 10.30 pagi. Waktu itu Little A tertidur karena capek dari penerbangan Sydney – Hobart, sehingga saya gendong sampai lobi. Si Ayah yang harus segera mengikuti konferensi meninggalkan kami di lobi, menunggu kamar disiapkan. Sebenarnya, aturan cek in baru bisa paling awal jam 2 siang. Tapi petugas yang mungkin kasihan melihat saya membawa dua precils, memprioritaskan cek in kami. Sambil menunggu, Little A tidur di sofa di lobi. Banyak tamu hotel yang senyum-senyum melihat Little A yang pulas. Nggak tahu, senyum karena lucu atau kasihan πŸ™‚ Dalam setengah jam, kamar kami sudah siap dan tas bawaan kami juga sudah diantar ke kamar.

Begitu sampai di kamar, Big A berteriak kegirangan. Dia memang pecinta hotel, seperti Emaknya πŸ™‚ Kamar kami bersih, cukup luas dengan ranjang empuk dan pemandangan kota dengan latar belakang Mt Wellington. Yang paling spektakuler adalah kamar mandinya: wastafel yang besar dengan meja marmer, bak mandi yang baru dan pancuran dengan curahan air seperti air terjun. The Precils jadi senang mandi di sini. Selain itu, ada fasilitas kolam renang tertutup yang sempat dicoba The Precils sekali.

Meskipun hotel ini ada restorannya, kami tidak pernah membeli makanan dari sana. Kami memilih membeli makanan dari luar. Tepat di depan hotel ini, di tepi dermaga ada beberapa warung apung yang menyediakan makanan laut. Di hari pertama kami membeli sekeranjang fish&chips di Flippers dan membeli sepaket lagi untuk makan malam. Selain warung apung, di dekatnya juga ada restoran seafood yang lumayan terkenal di Hobart: Mures. Sayang sekali harganya tidak mure :)) Malam terakhir, kami makan malam di restoran India: Saffron, yang juga ada di seberang hotel kami. Masakan India di resto ini rasanya lumayan dan mereka juga menyediakan menu halal.

Yang paling berkesan bagi Little A tentang hotel ini adalah pintu putarnya. Setiap keluar dan masuk hotel ini, Little A selalu memilih lewat pintu berputar, meskipun ada pilihan pintu lain yang bisa membuka secara otomatis. Pada awalnya, Little A takut-takut dan minta gendong. Tapi lama-lama dia malah ingin melewati pintu ini sendiri dengan mendorong daun pintunya yang lumayan berat. Saking cintanya dengan pintu putar ini, setiap kali dia melihat ada pintu putar di hotel atau perkantoran di Sydney, Little A bertanya, “Is this Hobart?

Pemandangan pelabuhan Hobart dilihat dari depan lift hotel
Keluarga The Precils di depan hotel, siap melanjutkan perjalanan ke Cradle Mountain

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):
 
~ The Emak

[Penginapan] Tudor Court Motel Christchurch

Tudor Court motel di kota Christchurch adalah penginapan terakhir selama road trip kami menjelajah Pulau Selatan Selandia Baru. Kalau di Wanaka dan Lake Tekapo saya bingung mencari penginapan karena tidak banyak pilihan, di Christchurch ini saya bingung karena terlalu banyak pilihan :p Maklum, Christchurch memang kota terbesar di Pulau Selatan New Zealand, yang menjadi gateway jalan-jalan di negara Kiwi ini.
Dua kali gempa besar yang melanda Christchurch, September 2010 dan Februari 2011 mengakibatkan kerusakan pada bangunan-bangunan hotel. Beberapa hotel besar, terutama di tengah kota hancur. Sementara hotel-hotel yang lain belum layak huni karena bangunannya miring. Penginapan yang bisa survive di tengah gempa adalah motel-motel kecil (berlantai satu atau dua) yang ada di pinggiran kota.
Seperti biasa, saya mencari-cari penginapan di website Wotif. Ada beberapa motel bagus menurut review Trip Advisor, yang letaknya paling dekat dengan pusat kota, tapi harganya di atas NZ$ 200, di luar jangkauan kocek saya πŸ™‚ Akhirnya saya menemukan motel Tudor Court ini, yang bangunannya tampak menarik, dengan harga NZ$ 165 per malam, untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak. Saya pesan dari Wotif yang tarifnya sedikit lebih murah daripada tarif di website resminya.

Motel ini hanya punya 1 kamar tidur berisi dua single bed untuk the precils. Ranjang utama ada di ruang serbaguna yang menjadi satu dengan sofa, meja makan dan dapur kecil. Kami mendapatkan kamar di pojok, tanpa pemandangan ke luar. Dari jendela yang bisa dibuka, tampak pepohonan dari motel sebelah. Nggak jauh beda dengan pemandangan dari apartemen kami di Sydney :)) Bangunan di motel ini tampak kuno, terlihat dari sofa, pemanas, dapur dan kamar mandinya. Mengingatkan saya pada motel tempat kami menginap di Snowy Mountain. Dapur kecilnya juga hanya ada kulkas kecil, microwave dan bak cuci piring, tanpa kompor. Fasilitas laundry umum ada di luar kamar, menggunakan koin. Saya tidak menggunakan laundry karena sudah puas cuci-cuci baju di Lake Tekapo Holiday Park. Nilai plus dari motel ini: kasurnya nyaman, dengan linen dan sprei berkualitas dari Sheridan. Kami bisa tidur nyenyak, dihangatkan oleh selimut listrik.

Lokasi motel Tudor Court ini di Bealey Avenue, utara pusat kota. Di sepanjang Bealey Avenue banyak terdapat motel. Lokasi tidak terlalu masalah kalau kita membawa mobil, hanya sekitar 5 menit ke pusat kota, Botanic Garden atau Museum. Sore hari setelah mengunjungi museum, Big A minta dibelikan buku karena buku yang saya belikan di Hobart sudah tamat ia baca. Big A akan bilang I am bored setiap menit kalau tidak punya bacaan. Dari penjaga museum kami diberi tahu kalau ada beberapa toko buku di Riccarton Mall. Daerah Riccarton ini terletak di sebelah barat Museum/Botanic Garden. Di kanan kiri jalan Riccarton berderet-deret toko, kafe, motel dan satu mal besar. Saya pikir, enak juga kalau motel kami ada di jalan Riccarton ini, tinggal menyeberang jalan kalau mau belanja ke Mal. Kalau kami punya kesempatan mengunjungi Christchurch lagi, pilihan pertama saya adalah Motel Kauri yang persis di seberang pusat perbelanjaan. Saya ingat kehabisan kamar di motel ini ketika memesan lewat Wotif dulu. Buku yang Big A cari tidak ada di Mal Riccarton. Capek keliling Mal mencari toko buku, kami makan di food court-nya, di bawah pengawasan tukang bersih-bersih karena sebentar lagi Mal tutup (jam 6 sore waktu setempat).

Minggu, 11 Desember 2011, saya dibangunkan oleh The Precils dan Si Ayah. Perasaan saya waktu itu: bahagia yang sederhana. Ini adalah negara ketiga tempat saya merayakan ulang tahun, setelah Indonesia dan Australia. The Precils memberi saya kartu ulang tahun yang diam-diam mereka beli di supermarket di Wanaka. Saya terharu dengan perhatian mereka, tapi juga tertawa melihat gambar Barbie di kartu ultah saya, dengan latar belakang warna pink yang gemerlap. Ini pasti pilihan Little A πŸ˜€ Jam 10.30 kami cek out dari motel, kembali jalan-jalan ke museum dan Botanic Garden, kemudian merayakan ulang tahun saya dengan makan siang di restoran Malaysia di Papanui Road. Sorenya, kami harus mengejar pesawat Emirates yang akan membawa kami kembali ke Sydney.

~ The Emak

[Penginapan] Lake Tekapo Motels & Holiday Park

Mobil sewaan di belakang kabin kami di Lake Tekapo Holiday Park
Don’t judge an accommodation by it’s website! Website Lake Tekapo Motels & Holiday Park ini tidak begitu meyakinkan, namun kabin dan fasilitas yang kami dapatkan cukup lumayan, plus bonus pemandangan danau Tekapo yang bisa dilihat langsung dari dalam kabin πŸ™‚
Ketika mencari akomodasi di Lake Tekapo, saya cukup bingung karena pilihan di Wotif sangat sedikit. Pilihan di website informasi lokal juga tidak ada yang cocok, terutama harganya :p Di Lake Tekapo ini banyak didirikan resort-resort mewah yang harganya tentu tidak sesuai dengan anggaran liburan kami. Ada satu hotel waralaba mewah yang terkenal di sini, yang harga vila untuk keluarganya di atas NZ$ 350. Not for us! Dengan anggaran maksimal NZ$ 150 per malam, akhirnya saya menemukan akomodasi yang sesuai untuk keluarga kami: kabin dengan kamar mandi dalam di Holiday Park.
Saya memesan langsung akomodasi ini di website mereka. Harga awal kabin ini adalah NZ$ 120 per malam untuk 2 orang. Anak-anak di bawah usia 14 tahun membayar tambahan NZ$10 per malam, sehingga total NZ$ 140 per malam untuk kami berempat. Ketika tiba di Holiday Park ini saya cukup was-was, takut akomodasinya tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Berbeda dengan Holiday Park di Te Anau yang kelihatan baru dan terawat, bangunan-bangunan di Holiday Park ini tampak tua. Dari luar, kantor resepsionis tampak seperti gudang. Ketika masuk ke kompleks Holiday Park yang luas ini, kami melewati dua taman bermain, yang satu sudah rusak dan satunya tampak tua dan tidak terawat. Saya jadi semakin takut melihat kabin kami.
Ternyata yang saya khawatirkan tidak terjadi. Kabin kami yang kecil cukup bagus dan terawat. Ketika kami datang, kamar sudah bersih dan rapi, dengan sprei baru, berikut handuk dan sabun mandi baru. Ukuran kabin ini sekitar 4×7 meter, berisi satu ranjang dobel dan satu set ranjang susun (bunk bed). The Precils langsung excited mencoba naik turun ranjang susun ini. Ada dua set meja kursi seperti di kafe, yang juga bisa kami bawa ke teras. Ada satu TV kecil yang tidak pernah kami nyalakan. Di sudut lain ada fasilitas kulkas kecil, ketel listrik, pemanggang roti, dan bak cuci piring. Peralatan makan lengkap seperti piring, gelas, sendok, garpu juga disediakan di sini. Kamar mandi (pancuran), toilet dan wastafel yang lebih baru daripada kamar mandi di Te Anau, ada di dalam kabin di samping kamar.
Yang paling mengesankan dari penginapan ini adalah pemandangan luar biasa yang bisa kami lihat dari dalam kamar. Kabin kami terletak persis di pinggir Lake Tekapo, hanya dihalangi oleh padang bunga liar warna-warni. Setelah beres-beres barang bawaan kami, terutama bahan makanan, kami bisa santai sejenak di teras berlantai kayu, sambil memandang danau Tekapo dan gunung di belakangnya. Big A menyempatkan menulis jurnal perjalanan, dengan menyeret meja kursi kami keluar.
Di Holiday Park ini tersedia sambungan internet via wifi yang bisa dibeli NZ$10 untuk 24 jam. Ketika laptop kami sudah tersambung dengan internet, Si Ayah langsung duduk manis di depan laptop :p

Kabin mungil kami tampak dari depan
The Precils menjelajah kabin
Little A menatap bebek-bebek yang bebas berkeliaran di depan kabin kami
The Precils bermain meniti kayu di samping kabin
Sayangnya, di sini taman bermainnya tidak sebagus yang ada di Te Anau. Lagipula, playground tersebut cukup jauh dari kabin. Namun The Precils tidak kalah akal. Little A dengan cepat menemukan permainan baru: meniti gelondongan kayu yang dia temukan di samping kabin. Selain bermain titian, Little A juga sibuk mengejar bebek-bebek yang berkeliaran dengan bebas di sekitar kabin. Pada awalnya, Little A hanya memandang bebek-bebek yang lewat. Tapi lama-lama, dia mulai mengejar bebek-bebek tersebut. “The duckies need to sikat gigi,” kata Little A.
Sebelum menyiapkan makan malam, saya punya PR cucian yang menumpuk. Selama dua hari di Te Anau dan sehari di Wanaka kami tidak mencuci baju. Big A dengan senang hati membantu saya mencuci baju di laundry umum yang ada di belakang kabin kami. Little A tidak mau kalah membantu memasukkan koin ke dalam slot mesin laundry. Untuk sekali mencuci baju, kita perlu koin $2 dan untuk mesin pengering juga perlu $2. Deterjen juga dijual di mesin otomatis seharga $2 per bungkus. Cucian langsung kering dan bisa dipakai lagi. Tips ketika bepergian: jangan merepotkan diri sendiri dengan menyetrika πŸ˜‰

Big A serius membaca sementara Si Ayah serius memasak
Makanan sudah siap tapi Big A masih asyik membaca
Jangan dilihat bentuknya, ‘scramble’ salmon ini enak banget!
Cucian beres, saatnya menyiapkan makan malam istimewa: barbekyu salmon dari Mt Cook Alpine Salmon Farm. Lagi-lagi kami beruntung karena tempat piknik dan mesin barbekyu letaknya tepat di samping kabin. Fasilitas barbekyu dengan gas ini disediakan gratis. Di samping kabin ada tiga mesin barbekyu dan beberapa bangku-bangku kayu. Ketika kami bersiap-siap, sudah ada beberapa orang yang makan malam. Saya lumayan kerepotan menyalakan mesin barbekyu ini. Untung ada traveler lain yang berbaik hati membantu saya. Ternyata saudara-saudara, barbekyu jenis ini harus dinyalakan dengan korek api πŸ˜€ 
Setelah berhasil nyala, saya letakkan dua potong salmon segar di atas aluminium foil. Bumbunya cukup mentega, garam dan lada hitam. Sementara itu, nasi, lalapan dan jus jeruk sudah siap. Ketika salmon mulai matang, saya tidak bisa membaliknya karena ikan ini lengket dengan foil. Si Ayah turun tangan memberi bantuan, berhasil membalik salmon ini sampai matang, tapi si salmon tidak berbentuk lagi. Alhasil, kami makan orak-arik salmon, bukan steak salmon πŸ˜€ Jangan salah, rasa salmon ini tidak dipengaruhi oleh bentuknya. Si Ayah berulang kali bergumam kalau ini salmon terenak yang pernah dia rasakan. The Precils pun makan sendiri dengan lahap. Kali ini benar-benar makan malam istimewa di tempat terbuka yang memesona.

Malamnya kami tidur dengan nyenyak. Pagi hari saya dikejutkan dengan pemandangan indah danau Tekapo yang bagaikan cermin memantulkan bayangan gunung di belakangnya. Rupanya bayangan  seperti ini hanya bisa didapatkan pagi hari ketika matahari belum tinggi. Saya pun membuat kopi dan menikmati sarapan sereal dengan bonus pemandangan danau Tekapo berkabut tipis ini. Pukul 10 pagi, kami menyelesaikan rutinitas berkemas, cek out dan melanjutkan perjalanan ke Christchurch.

Breakfast with a view
~ The Emak

[Penginapan] Wanaka View Motel

Wanaka View Motel
Hari beranjak senja ketika kami sampai di Wanaka View Motel. Capek dari bermain-main di Wanaka Puzzling World, kami lega mendapati chalet kami yang sudah siap, rapi dan bersih. Pemilik motel, Ibu muda ramah yang membawa anak laki-lakinya menemani kami berkeliling, menunjukkan fasilitas yang tersedia di motel.
Saya memesan motel ini dari website Wotif, seharga NZ$150 per malam. Dengan harga segitu, kami sudah mendapat motel dengan dua kamar (double bed di kamar utama dan dua single bed di kamar The Precils), fasilitas dapur lengkap dan kamar mandi dalam dengan shower. Saya tambah senang karena mendapat fasilitas internet gratis melalui wifi.
Lokasi motel ini cukup strategis, berada di tepian danau, hanya dihalangi oleh taman. Saya suka dengan layout dan interior-nya, modern minimalis. Kami beruntung mendapatkan motel yang baru saja direnovasi, sehingga perabotannya masih baru dan tampak bersinar πŸ™‚ Dari review di Trip Advisor, beberapa orang mengingatkan bahwa motel ini terlalu sempit. Saya biasanya cuek dengan review seperti ini, mirip dengan review tentang apartemen yang kami sewa di Melbourne. Mungkin kamar-kamar ini akan terasa sempit bagi orang bule yang badannya besar. Tapi bagi kami yang badannya mini, chalet kami masih terasa longgar :p Memang ukuran kamarnya lumayan kecil, paling kecil dibandingkan semua penginapan yang pernah kami huni. Ketika saya membuka pintu, daun pintu langsung menabrak pinggir ranjang sehingga hanya ada celah kecil untuk masuk kamar. Untungnya The Emak cukup ramping πŸ˜€

Begitu kami memasuki chalet ini, ada ruang serbaguna berisi dapur mungil, meja makan dan sofa panjang. Meskipun kecil, fasilitas dapur ini lengkap, mulai dari kompor, microwave, kulkas, perabotan memasak, peralatan makan sampai alat bersih-bersih. Yang harus kami sediakan sendiri cuma satu: ricecooker πŸ™‚ Ketika datang sore-sore, energi saya sudah habis untuk menenangkan Little A yang tantrum di Puzzling World, sehingga tidak sanggup untuk memasak. Akhirnya, kami makan malam dengan menu andalan: Indomie goreng yang saya beli di supermarket di Queenstown dan telur mata sapi. Anak-anak yang kelaparan langsung makan dengan lahap.
Motel ini menyediakan fasilitas laundry dengan koin, yang letaknya di luar chalet kami. Pemilik motel mewanti-wanti agar kami tidak mencuci baju terlalu malam karena bisa mengganggu penghuni kamar yang bersebelahan dengan laundry. Saya sebenarnya punya simpanan baju kotor dua hari dari menginap di Te Anau, tapi agak malas juga kalau disuruh segera mencuci baju begitu datang dan mau istirahat sejenak. Memang lebih enak kalau fasilitas laundry ada di dalam seperti apartemen yang kami sewa di Queenstown. Tapi, motel dengan harga ‘murah’ ini sudah cukup memenuhi kebutuhan kami kok. Baju-baju kotor sanggup menunggu satu hari lagi sampai di perhentian kami selanjutnya di Lake Tekapo. Yang lebih penting, kamar mandi di chalet kami ini lumayan baru, sehingga The Precils mau mandi dengan sukarela, tanpa dipaksa πŸ™‚

Si Ayah beres-beres di dapur
Meja makan di antara kamar utama dan kamar The Precils
Sebelum supermarket tutup jam 9 malam, Si Ayah menyempatkan diri berbelanja bahan makanan kami yang menipis: sereal dan susu segar untuk The Precils dan buah-buahan untuk kami. Di Wanaka ada supermarket yang cukup besar, bagus dan lengkap: New World. Buah dan sayur yang dijual di sini segar-segar semua, dan harganya relatif lebih murah daripada harga bahan makanan di Sydney. Lokasi supermarket ini sekitar 450 m dari motel, hanya 2 menit kalau naik mobil. Oh, ya, di motel dan di supermarket disediakan tempat parkir gratis.
The Precils tidur cukup pulas malam itu. Tiap ranjang dilengkapi dengan electric blanket untuk menghangatkan tubuh karena malam hari suhu lumayan dingin. Kami cek out jam 10 pagi, menghabiskan waktu untuk bermain di Wanaka Playground, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Peternakan Salmon di Mt Cook.

The Emak dan Big A di depan motel, difoto oleh Little A

~ The Emak

[Penginapan] Te Anau Lakeview Holiday Park

Koromiko Lodge
Te Anau adalah kota kecil di tepi danau di Pulau Selatan Selandia Baru, 170 km sebelah barat daya Queenstown. Kota ini biasa dijadikan persinggahan para pejalan yang akan mengunjungi Milford Sound atau Doubtful Sound.
Sebenarnya Milford Sound bisa dicapai dengan perjalanan tanpa menginap (day trip) dari Queenstown menggunakan bis turis. Namun saya tidak yakin The Precils sanggup bertahan dalam perjalanan bolak-balik selama 13 jam menggunakan bis. Karena itu singgah di Te Anau merupakan pilihan terbaik. Saya memutuskan menginap di Holiday Park setelah gagal mencari motel di bawah NZD 150 per malam. Budget saya untuk Te Anau memang saya pasang di bawah $150 karena kami sudah lumayan bermewah-mewah di Queenstown. Ini adalah pertama kali kami menginap di lodge, salah satu jenis penginapan di Holiday Park. Tak disangka, The Precils senang sekali menginap di sini karena ada fasilitas taman bermain. Saya juga puas dengan fasilitas mesin barbekyu gratis dan tarif internet wifi yang lumayan murah, ‘hanya’ $10 untuk 24 jam πŸ™‚
Perjalanan Queenstown – Te Anau

Dari Queenstown, Te Anau bisa ditempuh selama 2 jam dengan mobil. Dari kota Queenstown kami menyusuri tepi danau Wakatipu sampai di Kingston, kemudian melewati kota-kota kecil: Athol dan Mossburn. Navigasi untuk rute ini mudah sekali karena ada papan penunjuk jalan di setiap tikungan. Tinggal ikuti rambu menuju Te Anau, dijamin tidak akan tersesat meski tidak membawa GPS. Jalan yang dilalui sudah teraspal semua dan selalu mulus. Sepanjang perjalanan kami menemui banyak pemandangan menarik yang tidak biasa atau belum pernah kami lihat sebelumnya. Dari Queenstown sampai Kingston, mata dimanjakan oleh keindahan danau Wakatipu, dari sisi yang lain dari perjalanan kami ke Glenorchy. Beberapa kali kami menepikan mobil di pinggir jalan untuk mengabadikan panorama indah ini. Dari Kingston, kami melewati beberapa peternakan, baik domba, sapi maupun kuda. Melihat ratusan domba yang asyik merumput di bukit hijau atau kawanan sapi yang leyeh-leyeh di antara gerumbul semak berbunga kuning membuat mata saya takjub. Lebih takjub lagi ketika melihat kawanan sapi yang muncul dari balik padang rumput setinggi tubuh mereka. Pantas saja sapi di sini gemuk-gemuk ya πŸ™‚

Danau Wakatipu, dekat Kingston

Peternakan sapi
Si Ayah berfoto dg bunga Lupin yang tumbuh liar di tepi jalan, dg latar belakang ratusan domba merumput.

Fasilitas di Holiday Park

Holiday Park adalah taman yang menyediakan tempat menginap dan fasilitas yang bisa digunakan bersama. Menginap di Holiday Park menjadi alternatif penginapan murah di Australia dan New Zealand untuk pejalan yang ber-budget tipis. Di Holiday Park sendiri ada berbagai jenis akomodasi, mulai dari sekedar tempat untuk mendirikan tenda, tempat memarkir caravan/campervan/motorhome, kabin sederhana tanpa kamar mandi, kabin dengan kamar mandi dan juga akomodasi seperti motel atau flat turis. Beberapa Holiday Park menyediakan bunk bed seperti hostel, yang lazim untuk backpacker. Pilihan kami adalah lodge, dengan dua kamar yang dihubungkan oleh kamar mandi di tengah-tengahnya. Tarif lodge semalam untuk 2 dewasa dan 2 anak adalah NZD 135. Lodge ini saya pesan langsung dari websitenya, sebelum kami memulai road trip ke Pulau Selatan New Zealand.

Sesuai namanya, Te Anau Lakeview Holiday Park terletak di tepi danau Te Anau. Dari teras depan kamar, kami bisa memandang tepian danau, meskipun terhalang oleh jalan. Kamar pertama berisi satu double bed dan kamar kedua berisi dua single bed untuk The Precils. Masing-masing kamar dilengkapi dengan TV, kulkas mini, ketel air panas, pemanggang roti, dan peralatan makan seperti piring, gelas, sendok, garpu, pisau dan serbet. Selain menyediakan kopi, teh dan gula, kami juga mendapatkan bumbu garam dan lada hitam (yang berguna untuk barbekyu). The Precils senang sekali mendapatkan kulkas mini sendiri. Tanpa disuruh, mereka dengan sukarela menata makanan di kulkas tersebut.

Bangunan lodge kami sepertinya sudah tua, tampak dari kamar mandinya yang seperti kamar mandi tahun 60-an. Ketika lampu kamar mandi dinyalakan, secara otomatis kipas angin yang mengeluarkan suara bising juga ikut nyala. Little A sampai takut dan malas mandi di lodge ini :p Untungnya ranjang dan interior lainnya sudah mendapat sentuhan renovasi.

Kamar The Precils
Little A suka mini kulkas ‘pribadi’ nya
Te Anau, danau yang namanya sama dengan nama kotanya, adalah danau terbesar kedua di New Zealand setelah danau Taupo di Pulau Utara. Sayang sekali, kami tidak sempat jalan-jalan sama sekali di tepi danau atau pun pusat kota Te Anau, bahkan sekedar untuk berbelanja. Menginap dua malam di Holiday Park ini benar-benar kami gunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga sebelum dan sesudah mengunjungi Milford Sound. 
Ketika sampai di Koromiko Lodge sekitar jam 3 sore, kami langsung beres-beres dan istirahat sebentar. Sejam kemudian, the precils minta ditemani ke taman bermain. Saya sekalian menyiapkan makan malam. Karena lodge kami tidak dilengkapi dengan fasilitas dapur, saya menggunakan fasilitas barbekyu listrik yang letaknya kebetulan dekat dengan taman bermain. Mesin barbekyu ini mudah sekali digunakan, tinggal memencet tombol dan mesin akan menyala selama lampu hijau menyala. Di samping mesin barbekyu ada meja kursi untuk makan dan bak cuci piring untuk beres-beres. Bahan makanan untuk barbekyu sudah kami beli semua di Queenstown. Capek bermain, the precils makan dengan lahap menu sederhana kami: daging barbekyu, nasi dan lalapan (salad).
Pagi harinya kami melakukan day trip ke Milford Sound, sekitar 2 jam dari Te Anau dengan mobil. Pulang dari Milford Sound, sekitar jam 4 sore, saya lumayan capek, tapi The Precils tetap ingin main-main di playground. Mereka berkenalan dengan dua precils dari Amerika yang diajak ortunya berkeliling New Zealand, menginap di tempat ini dengan berkemah. Pikir saya, hebat bener precil-precil ini, masih balita sudah diajak camping keliling dunia πŸ˜€ Little A cepat akrab dengan Bella yang seusia dengannya, 3 tahun. Sementara Kakak Bella, laki-laki usianya sekitar 5 tahun. Saya mengamati, Precils Amerika ini memang pemberani dari ‘atraksi’ mereka di playground

Menu makan malam hari kedua di Te Anau kembali dari mesin barbekyu, kali ini sate ayam, nasi dan lalapan. Saya membeli daging ayam yang sudah dibumbui dan ditusuk dengan bambu, di sini istilahnya chicken kebab. Daging berbumbu seperti ini praktis karena tinggal dibakar atau dipanggang di atas mesin barbekyu, dengan menambahkan sedikit mentega atau minyak zaitun. Kalau ingin membeli daging ayam yang bersertifikat halal di New Zealand, carilah merek Brink’s. Dengan perut kenyang, kami bisa tidur nyenyak memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Wanaka.

Kayaknya asyik juga bersepeda keliling danau
Big A di taman bermain. Di belakangnya adalah kabin-kabin sederhana.
Menu andalan: barbekyu, nasi plus lalapan

~ The Emak