Kategori: Luxury Travel

Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean

Sebelum naik ke kapal pesiar Royal Caribbean, saya deg-deg-an membayangkan bagaimana nanti kalau saya mabuk laut. Maklum lah, nenek moyang saya bukan pelaut. Saya kembali teringat pengalaman ngehe menyeberang selat Bass dari Tasmania, pusing banget terombang-ambing di lautan meski cuma berlayar semalam. Juga pengalaman terakhir kami LOB menyusuri sungai Sekonyer di Tanjung Puting National Park. Kapal kelotoknya sih jalan pelan-pelan, tapi dua hari setelah kembali ke darat, rasanya badan masih terayun-ayun di sungai.

Tapi rasa penasaran saya pada kapal pesiar mengalahkan kecemasan saya. Dan… begitu lihat kamar dan balkonnya, rasa gugup saya langsung lenyap, berganti dengan excitement. Batin saya, “Ini sih hotel terapung bintang lima!”

Our room
Handuk binatang imut, tiap hari ada di kamar

Kita bisa tahu lokasi kapal dari TV di kamar

 

 

Kami berempat mendapatkan dua kamar (stateroom) di deck 6. Untuk keluarga sebenarnya bisa pesan family room untuk berempat, atau connecting room. Kamar standar mempunyai tempat tidur ukuran king, yang bisa dipisah menjadi dua single bed.

Fasilitas kamar kami ini lengkap seperti layaknya kamar hotel di darat. Ada sofa, televisi yang dilengkapi dengan program untuk anak-anak (Dreamworks), ketel listrik, kopi dan teh, minibar, lemari dan tentu saja pelampung. Kalau ada penghuni anak-anak, room attendant akan memberikan pelampung khusus anak-anak. Colokan listriknya sama dengan di Indonesia, jadi tidak perlu menggunakan konektor.  

Kamar mandinya cukup nyaman dan bersih. Sabun, sampo, dan handuk sudah disediakan, tapi kita perlu membawa sikat dan pasta gigi sendiri. Alat pengering rambut juga tersedia.

Kasurnya sangat nyaman untuk tidur. Kalau sudah ketemu kasur, rasanya susah buat keluar kamar lagi, hehehe. Beberapa kali kami niatnya rehat sejenak di antara aktivitas di kapal, eh jadinya Big A atau Little A malah tidur siang. Little A juga senang setiap kali menyalakan TV, ada film kartun dari Dreamworks. Setelah nonton filmnya bisa langsung meet and greet dengan karakter aslinya, sesuai jadwal yang diadakan.

Setiap kamar punya room attendant atau buttler yang akan membersihkan kamar sehari dua kali. Kamar kami, 6668, room attendant-nya Pak Awit dari Indonesia. Enak kan, kalau mau minta apa-apa bisa pakai bahasa Indonesia aja ๐Ÿ˜€ Pak Awit ini sopan, ramah, dan rajin. Room attendant juga yang memastikan setiap penghuni kapal ikut “drill”, latihan penyelamatan dalam keadaan darurat. Sebelum kapal berangkat, sekitar jam 4 sore sirine dibunyikan. Semua penghuni harus keluar kapal sesuai dengan nomor titik berkumpul yang ada di seapass card. Setelah berkumpul, kami diberi peragaan cara menggunakan pelampung. Anak-anak diberi gelang sesuai nomor titik kumpul tadi.   

From where I sleep ๐Ÿ˜‰
Tumben Big A mau berpose :p
Little A menikmati pemandangan Langkawi

Foto oleh Nabila Azzahra

Apa yang paling asyik di kamar kami? Jawabnya adalah balkon! Dari balkon, kita bisa melihat kesibukan di pelabuhan, laut lepas, dan pemandangan pulau atau kota ketika kapal akan berlabuh. Tiap pagi bisa melihat matahari terbit, dan sorenya bisa melihat matahari terbenam. Kadang kami juga dihadiahi pelangi yang cantik setelah hujan usai. Kalau menginap di hotel, kami hanya bisa melihat satu view yang sama. Tapi kalau ikut cruise, pemandangannya bisa beda-beda tiap hari.


Rute kapal kami yang berlayar selama 4 malam adalah Singapura – Port Klang (KL) – Langkawi – Singapura. Di hari pertama kami bisa menikmati pemandangan pelabuhan Singapura yang sibuk. Di hari kedua, kami disuguhi pemandangan Port Klang Malaysia yang relatif lebih sepi dan tenang. Hari ketiga pemandangannya super sekali, gugusan pulau di Langkawi.
 
Saya sendiri cukup senang bisa duduk bengong di balkon sambil minum minuman hangat. Melihat air bergerak pelan ditinggalkan kapal yang melaju benar-benar membuat saya rileks. Tidak ada di antara kami berempat yang mabuk laut ๐Ÿ˜€

Ada beberapa pilihan kamar di kapal pesiar Royal Caribbean. Yang paling istimewa adalah suite dengan balkon pribadi, bath tub, dan juga pelayan pribadi. Setingkat di bawahnya adalah kamar dengan balkon. Yang lebih hemat lagi adalah kamar dengan sea view, jendela yang menghadap laut. Pilihan yang paling hemat adalah stateroom interior, yaitu kamar yang menghadap ke dalam kapal. Ada yang mempunyai balkon menghadap ke promenade (semacam Mal di dalam kapal). Keuntungannya, penghuninya bisa melihat parade atau atraksi di promenade, cukup dari dalam kamar.


Tarif stateroom interior sekitar $400 per orang untuk cruise selama 4 malam. Sementara untuk stateroom dengan balkon, harganya sekitar $600 per orang untuk cruise 4 malam. Harga ini sudah termasuk pajak, biaya pelabuhan, tip, makanan, dan hiburan di kapal. Tarif selengkapnya bisa dicek di website www.royalcaribbean.com.

Harga segitu, dibandingkan dengan apa yang didapat (biaya liburan all in), tidaklah begitu mahal. Tahu sendiri kan, harga kamar hotel di Singapura aja semalam nyampai berapa. Benefit lain dari cruising adalah nggak perlu ribet bongkar koper dan cek in pesawat, tapi sudah nyampai ke beberapa destinasi. Keuntungannya mirip dengan liburan naik campervan, hanya saja ini memakai jalur laut.

Balkon yang menghadap promenade

Balkon kamar interior

Budget liburan dengan kapal pesiar atau cruising sudah fullboard, artinya biaya yang kita keluarkan sudah termasuk makanan 3x sehari. Selain cruising, biasanya ada resort yang menawarkan liburan full board juga. Tapi keuntungan naik kapal pesiar, kita tidak hanya makannya saja yang dijamin, tapi juga ada hiburan dan aktivitas seru lainnya yang bisa dicoba. Untuk aktivitas yang cocok dilakukan oleh keluarga akan saya buatkan post tersendiri ya.

Makanan di kapal pesiar Royal Caribbean melimpah ruah. Dijamin tidak akan kelaparan di sini. Kalau memilih leyeh-leyeh di kamar pun, kita bisa pesan room servis, gratis! Biaya hanya dikenakan untuk pemesanan tengah malam.

Untuk sarapan prasmanan seperti di hotel, ada restoran Windjammer. Kalau bisa datang pagi dan langit kebetulan cerah, kita bakal sarapan dengan pemandangan sunrise yang cantik. Meski pilihan makanan berlimpah, saya dan anak-anak ternyata nggak bisa mengubah kebiasaan sarapan favorit kami. Saya tetap sarapan dengan buah potong, salad sayuran, dan kopi. Big A sarapan dengan hash brown dan omelet, sementara Little A dengan roti panggang dioles selai. Alhamdulillah ada susu full cream untuk melengkapi sarapan duo precils.

Selain Windjammer, kita bisa sarapan di restoran ala carte seperti di Rhapsody in Blue atau Top Hat and Tails. Di sini kita harus antre untuk mendapatkan tempat duduk, dan menu sarapannya pun akan disiapkan pelayan. Kita bisa minta dibuatkan bagel salmon atau french toast. Tapi di sini pun saya tetap sarapan dengan granola, buah, dan yoghurt. Yang penting kopinya enak!

Untuk makan siang, kita bisa tetap makan di Windjammer. Menu untuk makan siang tentu berbeda dengan menu sarapan. Atau kalau bosen prasmanan, bisa mencoba beberapa restoran yang berbayar, seperti Johnny Rockets yang menyajikan hamburger atau Giovannis’ Table yang merupakan restoran Italia.

Tetap setia sama yang gratisan saja? Bisa mencoba gerai hot dog atau gerai es krim di dekat kolam renang.

Masih lapar di luar jam makan? Ada kafe yang buka 24 jam! Kafe Promenade ini letaknya di ‘Mal’ di dalam kapal. Menunya makanan ringan seperti sandwich, pizza, puding, cheesecake, cookies, muffin, dan berbagai minuman hangat maupun dingin.

Kalau di kapal pesiar, sudah biasa makannya nggak 3 kali, tapi 5 kali sehari, hehehe.

Buka 24 jam!

Pengalaman makan yang tak terlupakan di kapal pesiar adalah fine dining setiap malam. Setiap penumpang kapal sudah dialokasikan meja tertentu untuk makan malam. Jadwal makan malam kami setiap jam 5.30 sore di restoran Top Hat and Tails. Menunya 3 course, mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup. Setiap hari menunya ganti-ganti. 

Tidak semua makanan di sini halal, jadi untuk yang muslim sila menghindari masakan yang ada pork/ham-nya. Untuk yang ragu makan daging tanpa sertifikat halal, bisa memilih hidangan laut atau vegetarian. Di setiap pilihan menu pasti ada pilihan hidangan vegetarian dan sea food-nya. Salah satu teman dalam rombongan kami vegetarian dan dia asyik-asyik aja, tetap makan enak dan kenyang ๐Ÿ™‚

Rombongan kami berjumlah 12 orang dan duduk di dua meja. Waiter yang melayani kami adalah Xiaolong, dan asistennya adalah Pak I Gede dari Bali. Servis mereka bagus sekali, selalu menjelaskan pilihan makanan ke kami, memastikan kami suka dengan hidangannya, dan minumnya tidak pernah kekurangan. Little A sangat terkesan dengan Xiaolong yang membuatkannya mainan dari serbet. Di malam terakhir, Xiaolong membuatkan topi dari serbet yang cantik banget. Little A berasa seperti princess, hehehe.

Di hari terakhir, ada malam apresiasi untuk seluruh kru yang bertugas di restoran. Mereka melakukan parade dan chef-nya malah menyumbangkan lagu untuk menghibur. Suasananya hangat dan akrab sekali, rasa-rasanya saya tidak ingin kembali ke dunia nyata, hahaha. 

yummy dinner bread roll and appetizer
New Zealand Mussels

Merasakan kemewahan kapal pesiar ini, saya berasa naik Titanic, sayangnya mamas Leonardo-nya nggak ikut ๐Ÿ˜‰

~ The Emak 

Previous post: Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean
Next post: 10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean

Ketika kapal pesiar berlabuh di Port Kelang, 1 jam berkendara dari Kuala Lumpur

Delapan tahun yang lalu, ketika masih tinggal di Sydney Australia, kami berkesempatan untuk ‘naik’ kapal pesiar karena teman saya yang bekerja sebagai kru kapal mengundang kami sekeluarga untuk mengunjungi kapal. Tapi ya cuma naik doang ketika kapal berlabuh, hehehe. Saya pun sempat foto-foto di restoran dengan piring kosong sambil berharap suatu saat bisa naik kapal pesiar beneran, bukan yang sedang parkir.

Alhamdulillah kesempatan itu akhirnya datang juga. Kami baru saja pulang dari cruise 4 malam bersama Royal Caribbean. Kami berlayar dari Singapura, pelabuhan yang paling dekat dengan Indonesia, yang dilayani oleh Royal Caribbean. Rute cruise kami selama 5D/4N adalah Singapura – Port Klang (KL) – Langkawi – Singapura

Selama cruising, saya sudah banyak mengunggah foto-foto di instagram, dan mendapat banyak banget pertanyaan dari teman-teman. Ngapain aja selama 5 hari di kapal? Bosen nggak? Mabok laut nggak? Family friendly nggak? Makanannya enak nggak? Habis duit berapa? Kalau mau ikut, gimana caranya? Dan… masih banyak pertanyaan lainnya. Moga-moga aja tulisan ini bisa menjawab penasaran teman-teman tentang liburan dengan kapal pesiar. Di sini akan saya tuliskan step-by-step naik kapal pesiar dan highlights apa saja yang bisa dilakukan di kapal maupun ketika kapal berlabuh. Biar yang masih ragu nyobain cruise jadi makin mantep. Kalau diminta merangkum dalam satu kata sih, pengalaman kami liburan kali ini: S-E-R-U!

CEK IN
Naik kapal pesiar sebenarnya sama saja dengan naik pesawat. Kita harus cek in dulu di terminal keberangkatan. Kalau naik pesawat cek in di airport (bandar udara), naik kapal pesiar cek in di port (bandar), hehehe. Untuk Royal Caribbean keberangkatan dari Singapura, cek innya di Marina Bay Cruise Centre. Kami berangkat dari Surabaya dengan pesawat pagi, sampai di bandara Changi sekitar jam 11 siang. Dari bandara langsung meluncur ke Marina Bay. Kapal akan berangkat jam 5 sore waktu setempat, tapi penumpang sudah boleh cek in sejak siang.

Kita akan mendapatkan boarding pass dan luggage tag dari agen travel, atau bisa dicetak sendiri ketika cek in online. Selain itu kita diminta mengisi surat keterangan sehat. Di luggage tag sudah ada nomor kamar (stateroom). Sebelum antre cek in di dalam terminal, kami memasang luggage tag pada koper besar kami (dibantu petugas), dan menyerahkannya pada petugas di bag drop. Nantinya koper ini akan langsung dikirim ke kamar, tidak perlu dibawa sendiri. Kami tinggal bawa ransel kecil saja. Kalau bingung caranya, bisa tanya petugas yang ramah dan helpful.

Setelah menitipkan koper besar, kami lanjut antre pemeriksaan keamanan melewati X-Ray. Benda-benda yang tidak boleh dibawa masuk ke kapal antar lain setrika dan steker colokan listrik. Setelah lolos x-ray, kami cek in untuk mendapatkan Sea Pass Card. Ini kartu sakti untuk keluar masuk kapal, kunci kamar, dan alat bayar ketika belanja di kapal. Semua orang dapat kartu ini termasuk anak-anak. Ketika cek in, petugas akan bertanya nantinya pengeluaran di kapal akan dibayar dengan kas atau kartu kredit. Mata uang yang digunakan adalah US$, dolar Amerika. Yang nggak punya kartu kredit boleh kok bayar pakai uang kas, jangan lupa tukar uang dari rupiah ke dolar sebelum berangkat. Kami juga difoto, dan data fotonya dimasukkan di Sea Pass Card. Nantinya kalau mau keluar masuk kapal bakal kelihatan ini orangnya beneran apa enggak. Jangan sampai kartu ini terbawa oleh orang lain.

Begitu dapat Seapass Card, kami langsung antre di imigrasi. Oh iya, waktu mendarat di bandara Changi, kartu penumpangnya kami isi sesuai data cruising. Alamat di Singapura ditulis nama kapal kami: Mariner of The Sea. Lama di Singapura ditulis 1 hari, dan next port ditulis Kuala Lumpur, sesuai itinerary cruise. Begitu lolos imigrasi, langsung deh naik ke kapal pesiar yang besarnya ternyata lebih dari yang saya bayangkan. Sebelum masuk deck, kartu seapass dipindai lagi dan paspor kami dititipkan ke petugas. Jangan khawatir, nanti akan dibalikin lagi kok menjelang berakhirnya cruise.

Marina Bay Cruise Centre Singapore

Luggage Tag
Bag Drop

Cek in untuk mendapatkan Sea Pass Card

SEA PASS CARD Ini kartu sakti yang kami gunakan selama cruise. Kartu sea pass ini bisa berfungsi sebagai kunci kamar, kartu belanja, kartu main di arcade, dan kartu identitas untuk keluar masuk kapal. Ketika turun di KL dan Langkawi, kami tidak perlu lewat pemeriksaan imigrasi dengan paspor seperti biasanya, tapi cukup dengan memindai kartu ini ketika keluar dari kapal. Paspor ditahan pihak kapal ketika kami melewati imigrasi, dan akan dikembalikan sore hari menjelang selesainya cruise. Sea pass dibuat dan diberikan ketika kami cek in di terminal keberangkatan (Marina Bay cruise center). Di dalamnya ada informasi foto, identitas, nomor kamar, nomor emergency meeting point, nomor meja fine dining beserta jadwal dan lokasi restorannya. Saat pembuatan sea pass, kita akan ditanya, nanti pengeluaran di kapal mau dibayar dengan kas atau kartu kredit. Ketika antre untuk main panjat dinding dan ice skating, kartu ini juga wajib dibawa. #rcisg #royalcaribbean #marinerofthesea #sgserubareng #singasik
A photo posted by Ade Kumalasariโœˆ๏ธTravel Blogger (@travelingprecils) on

Pertama melihat kapalnya dengan mata kepala sendiri, kami langsung barengan berseru, “whoa”. Eh beneran gedhe banget lho, sampai susah kalau mau memotret tampak seluruh badan kapal. Begitu menginjakkan kaki ke kapal, kita bebas sih mau ngapain aja. Kami tentunya… makan duluuuu… laper :p

AKOMODASI
Mariner of The Sea, kapal kami ini mampu menampung 3800 penumpang dan 1300-an kru. Akomodasi standar adalah kamar dengan dua single bed yang bisa digabung menjadi king bed. Kalau mau berpesiar sendirian aja tetap bisa kok, tapi ada tambahan biaya suplemennya. Sementara kalau mau sekamar bertiga atau berempat juga bisa, malah ada diskon untuk orang ketiga dan keempat, berlaku juga untuk anak-anak.

Tipe-tipe kamar, atau stateroom bisa dipilih sesuai budget. Yang paling murah adalah stateroom interior yang terletak di tengah kapal. Ada yang tanpa jendela, ada yang dilengkapi balkon dengan pemandangan ke promenade (bisa nonton parade atau show dari balkon). Tipe berikutnya adalah ocean view, dengan jendela menghadap laut. Lalu stateroom yang kami tempati adalah tipe kamar dengan balkon menghadap laut. Ini asyik banget karena bisa untuk leyeh-leyeh melihat sunrise atau sunset, tergantung kamarnya menghadap ke mana. Tipe kamar yang paling mewah adalah suite room, yang punya balkon pribadi dan kamar mandinya dilengkapi bath tub. Kamu pilih yang mana? ๐Ÿ˜‰

Stateroom kami di deck (lantai) 6. Ketika kami nengokin kamar, koper besar kami sudah ditaruh di depan pintu. Alhamdulillah. Review lengkap tentang akomodasi akan saya tulis tersendiri ya.

MAKAN
Kalian nggak bakalan kelaparan di kapal pesiar. Serius, makanan yang tersedia berlimpah banget. Sebagian besar makanan bisa kita dapatkan tanpa membayar biaya tambahan. Tarif kamar kapal pesiar sudah full board, termasuk makanan 3x sehari. 

Ada beberapa pilihan restoran di kapal. Windjammer, andalan kami, adalah resto casual dining dengan layanan prasmanan untuk makan pagi dan makan siang. Kalau bosan sarapan di Windjammer, bisa memilih sarapan di resto Top Hat and Tails atau Rhapsody in Blue yang lebih formal, dengan menu ala carte. Untuk makan malam, setiap orang sudah mendapatkan nomor meja tertentu, di restoran fine dining. Nomor, nama restoran, dan jam makan tertera di sea pass card. Makan malam kami di resto Top Hat and Tails tiap jam 5.30 sore. Selama empat malam kami makan 3-course fine dining sambil melihat sunset. Kebayang nggak sih mewahnya?

Yang nggak puas sama makanan ‘gratisan’ bisa mencoba speciality restaurant dengan menambah biaya yang nggak terlalu mahal. Misalnya Giovanni’s Table untuk masakan Italia, atau Johnny Rockets untuk hamburger klasik. 

Kalau di antara tiga jam makan masih terasa lapar, ada kafe yang buka 24 jam. Cafe Promenade ini menyediakan makanan ringan seperti sandwich, cheese cake, muffin, cookies, pizza, salad buah, puding, dan juga minuman panas dan dingin seperti teh, kopi, susu dan cokelat. Selain itu ada gerai es krim dan gerai hotdog di dekat kolam renang. Atau kalau lapar tapi males keluar kamar, kita bisa pesan room service. Semua layanan room service gratis, mulai jam 5 pagi sampai tengah malam. Dimanja banget kaaaan?

Perlu diketahui, tidak semua makanan di kapal halal. Jadi untuk yang muslim, perlu menghindari daging babi dan variasinya. Jangan khawatir, semua diberi label kok, jadi mudah untuk menghindari pork, lard, ham, salami, dan pepperoni. Bagi yang ragu makan daging ayam/bebek/sapi yang tidak bersertifikat halal, bisa memilih makanan vegetarian dan seafood. Di setiap menu pasti ada pilihan vegetarian dan masakan laut. Jangan salah ya, variasi makanan vegetarian itu banyak dan enak-enak banget lho. Masakan laut juga tidak cuma ikan tangkapan hari ini, tapi ada juga salmon, udang, kerang, dan cumi-cumi. Yummy! 

Makan prasmanan di Windjammer

Makan fine dining di Top Hat and Tails

Cafe yang buka 24 jam

AKTIVITAS DI KAPAL PESIAR
Terus ngapain aja di kapal pesiar selama 5 hari? 
Banyak banget pilihannya, kami sampai nggak sempat coba semuanya. Sebenarnya untuk aktivitas ini terserah kita banget. Mau aktif bisa, mau leyeh-leyeh doang bisa, mau foto-foto doang juga boleh. Semua pilihan aktivitas sudah diinfokan di newsletter Cruise Compass yang akan kita dapatkan melalui room attendant malam hari sebelumnya. Jadi tinggal pilih jam berapa mau ngapain. Hampir semuanya bisa diikuti gratis tanpa tambahan biaya.

Untuk yang mau aktif, tersedia sarana olahraga seperti jogging track, kolam renang, gym, tenis meja, lapangan basket, sampai panjat dinding. Untuk anak-anak juga ada kolam anak, jacuzzi, mini golf, arcade (seperti timezone), in line skating, atau ice skating.

Leyeh-leyeh bisa di sauna, jacuzzi, salon dan spa, atau di deck sambil nonton film layar lebar. Selain itu ada banyak tontonan yang bisa dipilih, mulai dari show on ice, teater ala Broadway, sampai pengalaman seru dengan karakter Dream Works. Untuk aktivitas yang ramah keluarga ini akan saya tulis di postingan tersendiri ya. Pokoknya, aktivitas di kapal nggak akan ada matinya ๐Ÿ™‚

Kalau nyasar, bisa cari jalan di peta digital

ITINERARY
Naik kapal pesiar bisa sampai mana saja?
Ya tergantung itinerary-nya. Untuk pemula, saya sarankan ikut cruise yang lamanya 3 atau 4 malam. Kalau naik Royal Caribbean yang berangkat dari Singapura, pilihannya bisa berlayar ke Port Klang (KL), Penang, Langkawi, dan Phuket (Thailand). Rute cruise bisa dilihat langsung di website www.royalcaribbean.com.

Ketika kapal berlabuh, kita bebas memilih mau turun dari kapal atau tetap beraktivitas di atas kapal. Ketika mau turun, kita juga bebas mau jalan-jalan sendiri atau ikut tur yang disediakan kapal. Kalau ikut tur dari Royal Caribbean, ada garansi kita nggak bakal ditinggal oleh kapal. Biasanya kapal berlabuh jam 9 pagi dan akan berangkat lagi jam 5 sore. Jadi kita punya waktu seharian untuk day trip ke kota yang disinggahi oleh kapal pesiar. Ketika turun dari kapal, cukup dengan menunjukkan sea pass card untuk dipindai. Nggak ada pemeriksaan paspor untuk penumpang kapal pesiar. Kan paspornya ditahan ๐Ÿ™‚

Cruise yang kami ikuti berlabuh di dua pelabuhan: Port Klang dan Langkawi. Ketika di Port Klang, kami tidak ikut tur ke kota. Kami hanya turun dari kapal dan jalan-jalan di sekitar terminal saja. Di situ ada beberapa toko suvenir, toko kelontong, tempat penukaran uang dan juga kantin masakan Malaysia. Di Malaysia tentu transaksinya menggunakan Ringgit. Di sini kami sempatkan berfoto dengan seluruh badan kapal.

Di Langkawi kami ikut tur Royal Caribbean dengan operator lokal. Tur Langkawi Highlights ini mengunjungi Laman Padi (museum padi), Chocofee, Handicraft Centre, Museum Warisan, Museum Adat Istiadat, dan Underwater World di downtown. Sekitar jam 14.30 kami sudah balik lagi ke kapal.

Port Kelang, Malaysia
Jeti Star Cruises, Langkawi, Malaysia

Little A melihat penguin di Underwater World Langkawi

CEK OUT
Proses cek out juga semudah proses cek in, lancar dan tertib meski penumpang kapal ini ribuan jumlahnya. Kapal berlabuh di Singapura Jumat pagi. Kamis sorenya kami sudah boleh mengambil paspor. Di dalam paspor sudah disisipkan passenger card yang nantinya akan diperiksa di imigrasi. Jadwal pengambilan paspor dibagi sesuai deck stateroom kita. Jadwal ini ditulis di Cruise Compass.

Kamis malam, kita bisa meletakkan koper besar (bagasi) yang sudah diberi tag sesuai urutan cek out, mulai dari tag nomor 1 sampai 36. Setiap tag akan mendapatkan jadwal jam keluar kapal tersendiri, jadi tidak perlu rebutan. Kami mendapatkan tag nomor 2, sehingga bisa keluar kapal duluan. Bagasi akan kita dapatkan kembali di hall terminal kedatangan.

Pengambilan Paspor
Bagasi yang sudah diberi tag diletakkan di depan kamar

Bagasi di terminal kedatangan sesuai tag

BUDGET
Berapa biaya naik kapal pesiar? Nah, ini dia pertanyaan yang paling sering muncul ๐Ÿ™‚ Banyak orang yang ragu naik kapal pesiar karena takut biayanya kemahalan. Padahal nggak mahal-mahal banget sih, dibandingkan biaya untuk liburan ke Jepang/Australia/Eropa misalnya. Untuk perkiraannya, biaya rata-rata per orang per malam adalah US$ 100. Jadi misalnya cruise 4 malam, biaya per orangnya sekitar USD 400. Harga ini bisa naik turun sesuai tanggal keberangkatan. Di musim liburan tentu jatuhnya lebih mahal. Biaya segitu sudah termasuk pajak, port charge, tipping, akomodasi plus makanan dan hiburan di kapal. Jadi kita tinggal nambah budget untuk tiket pesawat ke Singapura aja pergi pulang.

Saran saya buat yang pengen ikutan cruise, buka-buku dulu website Royal Caribbean, pilih tanggal dan destinasi, masukkan jumlah orang, pilih-pilih kamar dan lain-lain. Setelah ketahuan jatuhnya berapa, pergi ke agen travel untuk minta harga yang lebih murah. Untuk yang baru pertama kali ikut cruise memang sebaiknya beli tiket lewat agen travel saja agar bisa berkonsultasi, tanya-tanya, dan bisa minta bantuan kalau nanti ada perubahan jadwal, pembatalan, perubahan orang yang pergi atau upgrade kamar.

Travel agen yang melayani cruise Royal Caribbean di Surabaya antara lain: Celindo, Karmel Tour, Bianglala, Wita Tour, dan Seven World. Atau bisa juga tanya-tanya di travel agen besar lainnya seperti Panorama, Bayu Buana, Dwi Daya, dan lain-lain.

A video posted by Ade Kumalasariโœˆ๏ธTravel Blogger (@travelingprecils) on

Ketika saya tanya ke anak-anak, apa mau kalau suatu saat diajak cruise lagi, mereka serempak menjawab, “Mauuuuu…” Iya, Emaknya juga nggak nolak sih. Lalu saya terbayang ketika pagi-pagi buka gorden kamar nemu sunrise cantik. Saya bengong aja di kasur sambil memandang air laut dibelah kapal yang melaju perlahan. Kalau jalannya kalem gini sih nggak bikin mabuk laut, cuma mabuk keindahan aja ๐Ÿ˜‰

~ The Emak

Next post: Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean
Next post:
10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

Alila Solo, Kemewahan yang Terjangkau

Saya sudah lama ‘ngidam’ pengen menginap di hotel Alila. Mana saja deh, karena hotelnya cakep-cakep semua. Alila Ubud, Manggis, Seminyak, atau Uluwatu. Tapi memang tarifnya mahal ya, karena memang luxury hotel. Begitu dapat kabar grup Alila buka hotel di Solo, saya langsung masukin ke bucket list. Semahal-mahalnya Solo berapa sih? ๐Ÿ˜‰ Alhamdulillah kesampaian mencoba hotel Alila pas long weekend di bulan Mei kemarin.

Hotel Alila Solo ini masih baru, baru buka bulan November 2015. Beberapa fasilitasnya juga baru buka ketika saya menulis review ini, seperti rooftop bar dan spa. Saya memesan kamar deluxe lewat Agoda seharga US$ 83,61 atau sekitar 1 juta rupiah. Setelah membandingkan di Hotels Combined, waktu itu tarif di Agoda memang lebih murah. Harga sudah termasuk pajak dan sarapan gratis untuk 2 orang. Tarif ini sedikit di atas rata-rata karena bertepatan dengan liburan akhir pekan panjang.

Tentunya hotel ramai banget. Kami cek in sekitar pukul 7 malam setelah menempuh kemacetan kota Solo, sepulang dari Candi Cetho di Karanganyar. Begitu masuk ke lobi hotel Alila, saya langsung takjub banget. Padahal foto-foto lobi hotel ini sudah sering saya lihat di postingan seleb twit dan seleb instagram. Tapi tetap saja, aslinya lebih megah.

Kamar kami di-upgrade jadi Executive Room, yay! Alhamdulillah, rezeki Emak salehah ๐Ÿ˜‰ Sementara saya cek in, anak-anak dan Si Ayah duduk di sofa dan disambut dengan welcome drink dan handuk hangat untuk cuci muka. Seger banget. Waktu itu kebetulan ada Ibu Eleonore, GM Alila Solo yang dengan ramah menyambut kedatangan kami. Kata beliau, malam ini hotelnya fully booked.

Begitu dapat kunci, anak-anak langsung lari ke lift dan buka kamar. Udah capek banget pengen rebahan ke kasur empuk. Tentu saya usir-usir karena harus… foto duluuuu. Maaf ya Nak ๐Ÿ˜€ Kamarnya luas (40 meter persegi) dan memang elegan banget, khas Alila. Saya suka desainnya yang simpel tapi terkesan mewah. Plus sentuhan dekorasi wayang yang membuat hotel ini Solo banget. Kasurnya ukuran king, jadi muat buat kami berempat. Orangnya memang mini-mini sih :p Tapi kalaupun nggak muat, ada sofa yang cukup nyaman untuk jadi extra bed. Begitu selesai foto-foto, duo precils langsung ambil remote dan nyalain TV segedhe gaban. Maklum, di rumah nggak ada TV yang bisa nyala. TV-nya 48 inci dan channel-nya lengkap, mulai dari berita, olahraga, sampai anak-anak.

Kami tidur dengan nyaman di sini. Kamarnya terasa tenang banget nggak ada gangguan suara apapun. Sepiii… Padahal hotelnya sedang penuh lho. Berarti soundproof-nya oke banget kan. Suara AC juga nyaris nggak terdengar.



Ini pose apaan sih? :p

Fasilitas kamar ini lengkap kap kap. Ya jelas, bintang lima! Dari meja kerja yang sleek, colokan di mana-mana, sampai akses internet dari wifi yang cukup kencang. Dari amenities wajib seperti botol air mineral sampai setrika dan papannya. Karena ini kamar eksekutif, kamar mandinya dilengkapi bath tub. Little A senang banget bisa mandi berendam dengan busa-busa melimpah. Saya suka sabun dan samponya yang wangi sereh. Tentu sisa toiletris-nya saya bawa pulang semua. Jadi ketika mandi di rumah, saya masih merasakan kemewahan bintang lima, hahaha.

Fasilitas kamar eksekutif yang paling saya suka adalah: mesin kopi! Terbiasa minum kopi enak, saya paling sebel kalau hotel hanya menyediakan kopi sesat, eh saset. Apalagi kalau di restorannya juga nggak ada mesin kopi. Gagal deh jadi hotel berbintang. Makanya begitu bangun pagi, saya langsung mencoba mesin kopi nespresso ini, yang dilengkapi dengan dua buah kapsul kopi. Alhamdulillah ada petunjuk cara menggunakan, bisa repot kan kalau sampai rusak :p Pagi itu, dua cangkir kopi lezat terhidang untuk saya dan suami. Kami berdua bisa menikmati golden time, ngopi sambil ngobrol sebelum anak-anak bangun. Alangkah sedapnya.

Lokasi Hotel Alila Solo di jalan Slamet Riyadi No 562, bagian barat kota Solo. Hotel ini dekat dengan mal Solo Square. Pusat perbelanjaan ini terlihat dari jendela kamar kami di lantai 8.

Ketika anak-anak sudah bangun, langsung saya ajak untuk sarapan. Saya sudah terbayang restorannya bakal ramai kayak apa karena kamarnya penuh semua. Dan memang benar, ramai pol. Staf Alila tampak hilir mudik melayani tamu dengan gesit. Kami juga diantar oleh waiter sampai mendapatkan meja untuk empat orang. Karena Big A sudah 14 tahun, dia sudah harus bayar tambahan tarif dewasa. Sementara Little A yang usianya 7 tahun pakai tarif anak-anak. Total saya bayar ekstra Rp 232.320 untuk sarapan. 

Pilihan makanan untuk sarapan sangat lengkap, dari makanan tradisional sampai ala Barat. Seperti biasa si duo lidah bule pilih makan roti panggang dengan olesan. Saya wajib mencicipi bubur ayam, sementara Si Ayah selalu menjajal makanan tradisionalnya plus sepiring salad. Bubur ayam cukup enak, rotinya bisa diterima duo Precils yang punya standar tinggi untuk bakery, Si Ayah juga hepi dengan macam-macam sambal yang tersedia. Saya paling terkesan dengan yoghurt dan muesli yang dihidangkan dalam gelas-gelas mini banget. Ini enaaaak… tapi kok kayaknya nggak banyak yang ambil. Selain itu, kami juga sempat mencicipi aneka sushi yang yummy dan tentunya diakhiri dengan buah-buah segar.

Saya sangat terkesan dengan pelayanan staf Alila di restoran. Tahu sendiri kan, suatu hotel atau tempat makan bakalan diuji ketika ramai pengunjung. Kalau menurut saya Alila lulus ujian dengan nilai bagus. Meskipun ramai, tampaknya semua tamu terlayani. Meja cepat dibersihkan, makanan selalu cepat diisi ulang, dan ketika saya meminta tolong salah satu staf untuk mengambilkan tusuk gigi, dia langsung menghentikan kegiatannya dan melayani saya. Pagi itu, saya mendapati Ibu Eleonore turun langsung ikut membersihkan meja. Pemimpin keren yang seperti ini kan, lead by example.

Suasana ramai juga tidak membuat restoran Epice ini rusuh. Saya lihat pengunjungnya kebanyakan warga lokal yang menikmati long wiken. Para pengunjung bisa antre dengan tertib, nggak sampai rebutan saat mengambil makanan ๐Ÿ˜€ Anak-anak disediakan high chair, jadi nggak ngider ke mana-mana. Kami punya cukup waktu untuk menikmati sarapan dengan nyaman tanpa takut diusir. Meski begitu, kami juga nggak terus berlama-lama, gantian dengan tamu yang lain. Lagipula kami masih punya agenda hari itu sebelum cek out: berenang!

Wajah kelaparan :p

Ini yang ditunggu-tunggu saya dan duo precils: mencoba kolam renang Alila yang super keren itu. Kolam ini ada di lantai 6, jadi satu dengan gym yang sayangnya belum sempat kami coba. Kolamnya luas banget, bisa untuk olahraga renang beneran, nggak cuma celup-celup. Di pinggirnya ada kolam-kolam dangkal untuk main. Masih ditambah kolam terpisah khusus anak-anak. Di kolam ini juga tersedia banyak kursi malas plus handuknya, semua pasti kebagian meski sedang ramai. Kita juga bisa pesan minuman dan snack kalau masih belum kenyang.

Yang lucu, di kolam ini ada beberapa bantal besar dan bean bag buat leyeh-leyeh manja di air. Little A langsung pose-pose cantik ala model begitu berhasil mendapatkan bean bag. Belum lancar berenangnya nggak papa asal gaya, hahaha. Kami main-main di kolam ini sampai puas, sampai tamunya tinggal kami aja. Nggak takut gosong? Nggak lah, kan udah pakai sunblock.

 
We had a fantastic stay at Alila Solo. Will definitely come back again when we visit Solo and when the kids club is open. Hotel ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau staycation, mudik, atau mengunjungi Solo. Meski hotel baru, Alila Solo sudah mendapat ranking satu di Tripadvisor. Kapan lagi nginep di Alila dengan harga ‘hanya’ satu jutaan?

~ The Emak

Luxury Stay at Hotel Tugu Bali

Dari dulu saya sudah ngincer pengen merasakan menginap di sini. Grup Tugu memiliki beberapa hotel yang cantik dan unik di Indonesia, yaitu Tugu Malang, Tugu Lombok, Tugu Blitar dan Tugu Bali ini. Saya pernah makan dan diajak tur di hotel Tugu Malang. Keren banget memang, jadi pengen mencoba semua properti Tugu.

Makanya… ketika akun instagram @kartuposinsta mengadakan #KartuposAuction, saya sudah bertekad harus menang. Alhamdulillah berhasil ๐Ÿ™‚ Voucher hotel Tugu ini sebenarnya bisa digunakan sampai bulan Desember 2016, tapi akhirnya kami pakai awal Maret ini agar bisa bareng dengan Tante @diladol. Big A kebetulan juga punya tiket Garuda yang belum terpakai, jadi dia bisa mencoba terbang sendiri ke Bali, sementara saya, Si Ayah dan Little A naik pesawat yang lebih murah, hehehe. Cerita Big A, in her own words, bisa dibaca di sini.

Kami naik Grab Car sampai Canggu, dari Kuta sekitar 1 jam, melewati jalan-jalan tembus yang sempit, bahkan lewat pematang sawah yang hanya pas untuk satu mobil. Ngeri-ngeri sedaaap :))

Begitu masuk lobi hotel, kami disambut dengan ramah oleh Pak Pande dan staf hotel lainnya, yang langsung tahu nama saya. Saya sempat ge-er, sudah mulai terkenal nih saya. Tapi setelah bisa mikir dengan jernih, tentu saja mereka gampang menebak karena wajah saya paling Indonesia dibanding tamu-tamu bule lainnya ๐Ÿ™‚

Antre cek in di hotel Tugu nggak perlu berdiri di depan konter. Kami bisa duduk-duduk di sofa empuk sambil menikmati welcome drinks, yang bisa dipilih sesuai selera masing-masing. Lobi hotel ini mengesankan sekali, bangunannya bergaya pendopo dengan pilar-pilar kayu dari pohon utuh. Di tengahnya ada panggung untuk pementasan tari. Dan di panggung tersebut terdapat patung garuda besar yang ikonik. Little A sampai bengong menatap patung ini.

Yang paling saya takutkan setiap kali membawa keluarga menginap di hotel adalah hotelnya nggak ramah sama anak-anak. Sempat ragu juga waktu mau bawa anak-anak menginap di Tugu, karena hotel ini lebih terkenal sebagai hotel mewah untuk honeymooner. Tapi ketakutan itu langsung lenyap dengan sambutan yang ramah dari staf di sini. Little A langsung merasa seperti di rumah sendiri dengan mengomentari banyak hal, tapi terutama jus apelnya yang menurut dia seger banget.

Ada dua pilihan kamar ‘biasa’ di hotel Tugu. Dedari Suite yang terletak di bawah, dengan kolam renang kecil dan kamar mandi semi terbuka. Satunya lagi Rejang Suite yang ada di lantai atas, dengan pemandangan ke laut, balkon terpisah dan spa pribadi. Si Ayah memilih kamar yang di atas biar bisa melihat laut. Saya setuju saja, karena saya lihat kolam renang pribadi yang di bawah hanya kecil, cuma cukup untuk celup-celup, bukan berenang beneran. Tapi, kalau boleh memilih sih, saya pengennya menginap dua malam dan bisa coba dua-duanya ๐Ÿ™‚ Kalau di kolam renang pribadi kan bisa pakai bikini, bukan burqini :p

Room boy mengantar kami ke kamar, naik melewati tangga berputar. Dia juga menjelaskan fasilitas yang ada di kamar, berikut cara kerja listrik, kunci dll. Saya manggut-manggut saja. Begitu room boy keluar, baru lah kami sekeluarga bebas mengekspresikan kekaguman kami pada kamar yang luasnya 75 meter persegi ini. Norak-norak bergembira seperti biasa, hahaha. Saya terpesona dengan dua lemari kayunya yang menjulang tinggi sampai langit-langit, yang dikunci dengan selot kayu juga. Big A langsung mencari posisi wuenak di day bed samping jendela, karena masih dalam tahap penyembuhan dari sakit batuknya, dia kurang begitu semangat. Sementara itu Little A main seluncuran di lantai kayunya yang licin mengilap. Si Ayah menginspeksi meja kerja di balkon untuk tempatnya mengerjakan PR nantinya.      

Saya langsung mengkalkulasi ketersediaan kasur untuk malam nanti. Ada satu ranjang besar ukuran king, pastinya muat untuk kami bertiga, dengan Little A di tengah. Sementara Big A bisa tidur di day bed yang cukup nyaman, dengan tambahan selimut yang bisa saya mintakan ke housekeeping. Tapi pada praktiknya, kami berempat tidur di ranjang utama, cukup nyaman dan hangat dengan bantal yang empuk banget dari bulu angsa.

Di atas meja, ada rangkaian bunga khas Bali dengan kartu ucapan untuk saya dan juga sepiring buah-buahan tropis untuk camilan. Untuk minum ada empat botol air mineral dan beberapa kantung teh Dilmah dan kopi dari plantation mereka sendiri. Logistik aman sampai nanti.

Happy Little A in front of a mirror

Ketika saya tanya ke Little A, apa yang paling berkesan di hotel Tugu, dia bilang bath tub-nya. Saya setuju banget! Bak mandi yang ada di kamar Rejang ini sangat banget. Bentuknya bulat, cukup untuk nyemplung berempat sebenarnya. Kami bertiga berendam di bath tub setelah berenang sebentar di kolam renang hotel. Sementara Si Ayah masih sibuk dengan PR-nya di meja sebelah, hahaha. Sabun dan sampo yang disediakan hotel cukup wangi, bisa untuk bubble bath dua kali. Saya paling suka sabun batangan mereka yang beraroma sereh. Sabun cair dan sampo diletakkan di wadah seperti kendi dari tanah liat, jadinya nggak bisa dibawa pulang. Saya cuma bisa bawa pulang sabun serehnya doang. Emak-emak nggak mau rugi banget :p

Kamar mandi pancuran dan toilet ada di sisi satunya lagi, tidak jadi satu atau ada di dekat bath tub. Pertama kali masuk kamar mandi shower, saya sempat kaget karena ada penunggunya: patung Simbok Gemuk lambang kesuburan. Big A juga kaget dan kurang nyaman mandi bareng Simbok. Saya yang tadinya mikir bakalan terbiasa sama kehadiran Simbok ini, ternyata tetap ‘mak tratap‘ juga waktu masuk kamar mandi, tetep kaget. Owalah simbok, simbok!

Toiletnya terpisah dari kamar mandi. Kebetulan di kamar saya ini toiletnya belum dilengkapi penyemprot air/bidet. Kami bisa akali sih, kan ada wastafelnya di dalam toilet. Lagipula sudah banyak latihan pas tinggal di Ostrali sono ๐Ÿ˜€ Sebenarnya, kata pihak hotel, di sebagian besar kamar yang ada, toiletnya sudah dilengkapi penyemprot air/bidet/washlet. Tinggal rikues aja sih, dijamin bakal dikasih. Saya nggak minta ganti kamar karena sudah pewe, posisi wuenak banget. Anak-anak juga udah susah diangkut, masing-masing udah mojok hepi.

Setelah leyeh-leyeh sebentar, kami turun untuk berenang. Lingkungan hotel ini cukup asri, enak dipandang mata. Kolam renangnya tidak besar, tapi cukup untuk membakar kalori dengan beberapa lap. Bagian dangkalnya 60 cm, sedangkan bagian dalamnya 150 cm. Little A bisa ditinggal bermain sendiri di bagian dangkal sementara balapan dengan Big A yang tentu saja dimenangkan dia yang sekolah renangnya di Sydney Uni.

Hotel ini hanya mempunyai 24 kamar, jadi suasananya tidak ramai dan hiruk pikuk seperti hotel besar. Ketika kami berenang, hanya ada sepasang Opa Oma yang leyeh-leyeh di tepi kolam, yang satu tiduran, satunya membaca buku. Untungnya anak-anak saya tipe yang kalem, jadi kegiatan kami tidak mengganggu mereka.

Setiap sore, tamu di Tugu hotels bisa menikmati afternoon tea dengan sajian kue-kue tradisional dan pilihan teh sesuai selera. Sajian teh sore ini bisa dinikmati di mana saja. Kami memilih menikmatinya di taman tepi pantai, sekaligus menikmati matahari terbenam. Saya mencoba teh melati sementara Si Ayah meminta teh jahe. Big A sedang ingin minum kopi flat white. Kue-kuenya kami bawa sebanyak mungkin, biar malamnya nggak kelaparan ๐Ÿ˜‰ Big A terutama suka kue klepon (kue bulat berwarna hijau dari tepung ketan yang digulingkan ke parutan kelapa, didalamnya ada gula merahnya) sampai harus berebut dengan jatah Little A.

Beach garden, properti milik hotel Tugu ini ada di tepi pantai Batu Bolong. Di sini terdapat kursi santai, meja kursi untuk makan dan juga bale-bale (dipan yang bisa dipesan untuk tempat makan malam romantis). Kami menikmati minum teh di bale-bale berhiaskan kain-kain merah yang cantik.

Di sebelah lapangan rumput milik Tugu ada The Lawn, tanah lapang untuk para bule jelata umum. Di sini sepertinya bisa membeli minum dan meminjam peralatan piknik. Ada ayunan, papan keseimbangan dari tali, dan bahkan ada yang berlatih juggling. Suasana cukup ramai tapi masih nyaman. Orang-orang yang ada di sini tipe yang pengen santai-santai menikmati pantai, bukan yang berisik dan mengganggu.

Tugu Beach Garden
The Lawn
Pantai yang ada di sebelah hotel Tugu ini namanya pantai Batu Bolong, terkenal sebagai pantai untuk berselancar karena ombaknya yang cukup besar. Pasirnya tidak putih, tapi cukup bersih. Menjelang sunset, Little A mulai berbasah-basahan di air, menemani Si Ayah yang asyik motret. Saya suka pantai yang tidak terlalu ramai seperti ini. Meski harus berbagi dengan pengunjung lain, Little A masih punya spot pribadinya. Tidak ada pedagang asongan yang terlihat. Tapi juga tidak ada penjaga pantainya. Untuk yang mau berenang di pantai ini perlu berhati-hati karena ombaknya cukup besar. Daerah Canggu yang yang terletak di antara Seminyak dan Tanah Lot ini bisa menjadi alternatif main ke Bali bagi yang sudah bosen ke Kuta yang ramai.
Yang mungkin bisa mengganggu adalah anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar pantai. Bukan anjing kampung buduk sih, mereka tampak bersih dan tidak berbahaya. Tapi bagi yang takut anjing mungkin akan kurang nyaman juga karena mereka mengendus-endus setiap orang yang duduk-duduk di pantai, mungkin mencari makanan.
Menjelang magrib, para surfer mengangkut papan selancar mereka untuk pulang. Little A pun harus mengakhiri main-main di pantai meski belum puas.

Tadinya saya pengen jalan-jalan menyusuri pantai di pagi hari. Tapi setelah pagi datang kok jadi malas ya? Hahaha. Padahal kalau mau jalan sedikit bisa sampai di pura melihat keramaian umat Hindu yang beribadah melasti. Sejak subuh, sudah banyak orang Bali yang berbondong-bondong melewati jalan di samping hotel kami menuju pura. Melasti adalah upacara untuk menyucikan benda-benda sakral, yang dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi.  

Akhirnya saya dan Si Ayah kencan sarapan saja di taman tepi pantai. Saya memesan paket sarapan tradisional (150K) untuk Si Ayah dan paket sarapan Babah (180K) untuk saya. Hotel Tugu tidak menyediakan sarapan buffet, semua menu bisa dipilih sendiri dan bisa diantarkan ke mana saja sesuka hati kita, mau di kamar, di lobi, di dekat kolam, atau di pinggir pantai juga bisa. Pagi itu di pantai, saya lihat sudah banyak yang mulai berselancar, sepagi itu. Si Ayah juga membawa peralatan berselancar… di internet :p

Makanan kami datang setelah satu jam, hiks. Ini mungkin salah saya juga sih. Saya memesan dua jenis sarapan, satu untuk kami di pantai, satunya lagi untuk anak-anak di kamar. Saya bilang yang untuk anak-anak tolong diantar satu jam lagi, karena waktu itu mereka masih tidur. Eh, mungkin mereka salah paham mengira sarapan kami juga mintanya satu jam lagi.

Tapi gara-gara lapar, makannya jadi tambah nikmat. Paket Si Ayah terdiri dari nasi goreng, bubur ketan hitam, buah potong dan kopi. Paket saya terdiri dari bubur ayam, dimsum, buah potong dan kopi. Saya dari dulu selalu mewajibkan untuk mencicipi setiap bubur yang ada di hotel. Yang ini buburnya lumayan lah, cukup terasa enak kaldunya, tidak terlalu asin. Sementara untuk Si Ayah, nasgornya kurang pedas! Dia meminta sambal ulek, alhamdulillah segera datang sebelum nasgornya habis. Memang sih, kalau di hotel bintang 5, kalau ingin pedas harus bilang dari awal, karena biasanya bumbu makanannya mild, disesuaikan dengan lidah internasional.

Saya cukup senang dan puas dengan kencan pagi ini, bisa makan dan ngobrol sama Si Ayah tanpa gangguan anak-anak yang masih tidur di kamar. Hanya ditemani debur ombak di kejauhan, ish

Untuk anak-anak, sarapannya saya pesankan bakery basket (75K) yang berisi empat potong roti pilihan dan 2 gelas susu segar. Saya pilihkan 2 toasted whole wheat bread, croissant dan danish. Untuk olesannya, kami diberi mentega dan homemade jam yang enak banget: selai nanas, selai jambu biji, dan satu lagi saya nggak tahu campurannya apa aja, tapi enak!

Sebelum cek out, kami sempat diantar keliling hotel oleh Mbak Retno, untuk melihat kamar-kamar yang lain, tempat spa, galeri koleksi benda antik dan pilihan tempat makan yang tersedia. Karena biasanya tamu yang menginap adalah honeymooner, Tugu punya tempat spa yang spesial. Ada paket lengkap spa selama 8 jam untuk pasangan, termasuk diselingi makan siang. Saya membayangkan kalau Si Ayah ikutan ini, pasti bakalan sukses tertidur begitu kepalanya mulai nempel di dipan ๐Ÿ™‚

Kami juga dibawa melihat Bale Puputan, dining hall yang bisa dipesan untuk 
makan malam istimewa. Salah satu paket makan istimewa mereka adalah Royal Tugudom Dining. Tamu akan dibawa ke era majapahit, diperlakukan seperti raja, dengan makanan yang dibawakan oleh pelayan, penduduk desa, dan prajurit. Tamu juga akan disuguhi tarian di antara acara makan.

“Ya ada, Mbak, yang pesan paket ini?” tanya Si Ayah keheranan.
“Banyak, Pak,” kata mbak Retno, “terutama tamu-tamu dari Eropa.”

Saya nggak seheran itu sih, kalau memang uangnya ada, kenapa nggak dipakai untuk membeli pengalaman yang unik, yang nggak akan hilang kenangannya. Setelah melihat satu dining venue lagi yang atapnya memakai kuil Tiongkok yang sudah berusia ratusan tahun, tur hotel itu ditutup dengan mengunjungi galeri benda antik, koleksi Pak Anhar, pemilik hotel yang dijual untuk umum. Saya dan Si Ayah nggak ngerti apa-apa tentang benda antik, jadi kami cuma melihat-lihat saja dan kadang terbelalak membaca label harganya ๐Ÿ˜‰


Bale Puputan
 Bale Puputan Dining venue
Keluarga Precils di depan Hotel Tugu

Saya senang mencoba hal-hal baru, termasuk menginap di hotel yang nggak biasa-biasa saja. Secara umum kami puas dengan pengalaman kami di Tugu hotel, terutama pelayanan para staf-nya yang excellent. We were impressed with their hospitality. Siang itu, setelah makan siang di Canggu Cafe di dekat hotel, kami diantar Pak Sopir ke Seminyak. Di dalam mobil, saya sudah memikirkan strategi untuk menginap di hotel Tugu lainnya.

~ The Emak

Follow @travelingprecil

Staycation: Ascott Waterplace Surabaya

Kalau saldo Paypal lagi banyak, The Emak bawaannya pengen staycation melulu, hehe. Jangan ditiru ya. Seperti minggu kemarin ketika saya memutuskan membawa anak-anak nginep di apartemen mewah di Surabaya Barat. Tapi ini ada alasan rasionalnya kok. Selama dua minggu ini kan Big A bertugas menjadi jurnalis di acara Deteksi Jawa Pos, jadi tiap hari wajib ke DetCon yang diadakan di PTC Supermall. Dari rumah kami di Surabaya ujung timur, Supermal ini jauh banget, mana macet pula. Jumat malam Big A harus meliput acara sampai malam, dan siangnya sudah harus ke sana lagi. Karena Si Ayah juga sedang ke luar kota, ya sudah lah, Emak jadi punya alasan untuk booking hotel ๐Ÿ˜‰

Saya memesan Ascott Waterplace ini via Agoda, karena bisa dibayar dengan saldo paypal. Tarif semalam untuk apartemen 1 bedroom waktu itu sebesar $79,48. Saya sudah cek via hotelscombined, harga di website lain juga sama. Gak mau rugi, kan? Saya memilih Ascott ini dari segi kepraktisan saja karena lokasinya persis di depan PTC Supermal, jadi tinggal menyeberang jalan. Ada sih beberapa pilihan hotel di sekitar situ yang lebih murah, tapi sama saja tidak walking distance, tetap harus naik taksi.


Jumat sore setelah menjemput Little A dari sekolah, kami berdua naik taksi menuju Ascott. Kami masuk ke lobinya yang mewah dan disambut dengan ramah. Proses cek in cukup gampang dan cepat. Setelah menyerahkan voucher Agoda, kami langsung dapat kunci kamar.

Big A ngecek tulisannya di Deteksi Jawapos

Little A, pecinta penginapan mewah, langsung terbelalak dan kagum begitu kami sampai di kamar. Dekorasinya memang tampak mewah. Ada satu kamar tidur dengan queen bed, dilengkapi TV dan lemari tanam. Ruang keluarga terpisah dari kamar, dilengkapi sofa besar dan nyaman, plus TV kabel dengan saluran lengkap. TV-nya ada dua ya, jadi The Emak nggak akan rebutan remote sama Little A, hahaha. Di ujung ruang keluarga terdapat dapur, lengkap dengan kompor, microwave, dispenser air panas dingin, peralatan masak, kulkas besar dan meja kursi. Bahkan ada mesin cuci juga. Kelihatannya apartemen ini sangat nyaman untuk tinggal dalam waktu lama. Sayangnya kami tidak menggunakan semua fasilitas tersebut. Ngapain masak kalau makanan enak tinggal beli di mal sebelah?

Wifi juga disediakan gratis. Meski kami stay di lantai atas, wifi masih bisa nyambung. Kecepatannya lumayan, bisa digunakan Big A untuk mengerjakan PR.

Tarif yang saya bayarkan sudah termasuk sarapan. Setelah bisa tidur nyenyak bertiga di kasur empuk, Sabtu paginya kami turun untuk sarapan. Menu sarapannya standar, tidak ada yang terlalu istimewa. Seperti biasa Little A minta roti panggang dengan olesan. Big A minta salad sayuran yang lumayan segar dengan dressing yang cukup enak. Saya pesan omelet jamur yang dimasak di tempat, cukup enak lah. Kopinya biasa saja, tidak nendang, tapi cukupan untuk memulai pagi hari.

Setelah lumayan kenyang, saya menemani Little A untuk main-main air di kolam renangnya yang ternyata luas banget. Sebenarnya lebih mirip mini waterpark daripada kolam renang biasa. Setelah melihat sendiri, saya baru ngeh kenapa namanya Ascott Waterplace ๐Ÿ™‚ Di sini ada kolam untuk bayi, kolam yang seperti pantai, kolam dengan permainan air (seluncuran) dan kolam renang biasa untuk olahraga. Sepertinya ada lazy river-nya juga tapi kok airnya nggak bergerak. Waktu kami menginap di sana hari Sabtu, suasana tidak terlalu ramai. Hanya ada dua keluarga yang bermain dan beberapa orang yang berenang beneran. Padahal apartemen ini juga jadi satu dengan hunian, fasilitas kolam bukan hanya untuk tamu apartemen saja

Karena Big A tidak ikut main air, Little A cuma sebentar bermain di sini. Tapi untuk staycation, fasilitas mini waterpark ini cukup mewah juga, jadi nggak perlu keluar ke waterpark beneran.

Yang paling kami suka dari Ascott ini adalah fasilitas kamar mandinya yang mewah banget. Ada bak mandi (bath tub) yang tampaknya masih baru. Amenities yang disediakan adalah merk L’occitane. Duh, wanginya sedep banget, dengan senang hati sisanya saya bawa pulang :)) Cuci tangan aja pakai L’occitane *berasa jadi horang kaya*. Sayangnya sebotol kecil shower gel-nya cuma cukup untuk dua kali berendam.

Selepas berenang, Little A dan Big A berendam bersama. Mereka main-main di bak mandi lama banget sampai saya harus memaksa mereka untuk keluar. Mandi air hangat dengan sabun wangi emang enak sih ๐Ÿ˜‰

Serviced apartment ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang memang punya acara di Surabaya bagian barat. Soalnya lokasinya cukup jauh dari kota. Kalau jalanan macet, satu jam perjalanan mungkin belum sampai ke tengah kota. Tarif apartemen ini memang lebih mahal dibandingkan hotel, tapi sepadan dengan fasilitas yang diberikan, antara lain dapur agar bisa memasak/menghangatkan makanan sendiri dan mini waterpark-nya yang pasti membuat anak-anak puas bermain.

~ The Emak  
Follow @travelingprecil

Fast & Furious Ala Singapore

Bukan Syahrini tapi naik Lamborghini ๐Ÿ˜€

Ketika menerima surel itinerary dari Singapore Tourism Board, saya senyum-senyum sendiri, nyengir dan kemudian mendelik melihat jadwal jalan-jalan naik Ferrari atau Lamborghini. “Ini beneran naik sports car?” Whoa *emoticon pegang pipi* Lha wong pegang mobil sport aja belum pernah. Tapi di Singapura, apa sih nggak yang bisa? Tak perlu jadi Syahrini untuk bisa naik Lamborghini ๐Ÿ™‚

Di Marina Bay Sands (tau kan, hotel yang atasnya seperti perahu terdampar) ada booth Ultimate Drive, yang memberi kesempatan pada ‘orang-orang biasa’ yang nggak mampu beli mobil sport sendiri untuk mencoba mobil seharga ratusan ribu dolar ini. Ultimate Drive menawarkan pengalaman yang tak biasa ini dengan paket tur 15 menit (lewat sirkuit F1 dalam kota), setengah jam (sirkuit F1 dan freeway) atau satu jam (sepuasnya). Kita bisa memilih mau menyetir sendiri atau disetirin. Masing-masing mobil cuma untuk dua penumpang, jadi satu orang akan ditemani petugas dari Ultimate Drive. Kalau kita ingin bareng-bareng teman ya sewa dua mobil.

Untuk tahu lebih lengkap tentang paket tur, tarif dan diskon, langsung aja cek di website Ultimate Drive. Icip-icip naik ferrari atau lamborghini ini tarifnya mulai 200 dolaran. Mahal apa murah? Tergantung buat siapa. Untuk orang yang lebih senang mengeluarkan uang untuk membeli pengalaman, tarif segitu masih terjangkau lah.

Selain paket tur biasa, Ultimate Drive juga menyewakan mobil-mobil sport-nya untuk acara ulang tahun atau kawinan, buat dipajang doang atau buat menjemput tuan rumah dan tamu-tamunya. Mobil ini juga bisa disewa untuk foto-foto pre wed. Selain itu, banyak juga perusahaan yang memberikan hadiah (gift) pengalaman seru ini untuk karyawannya yang berprestasi. 

Gerai Ultimate Drive di hotel Marina Bay Sands
Ibu-Ibu arisan nunggu jemputan sopir :p

Sebelum mencoba mobil sport, kami diminta mengisi formulir pendaftaran dulu, untuk kelengkapan dokumen asuransi. Untuk jadi penumpang, tidak ada syarat tertentu, asal sehat aja. Tapi sebaiknya ibu hamil jangan naik dulu ya, karena getaran dan suara berisiknya. Sementara untuk nyetir sendiri, minimal berusia 21 tahun dan mempunyai SIM untuk mengendarai mobil. Tidak masalah SIM-nya berbahasa Indonesia. Ultimate Drive menerima SIM lokal dari negara-negara ASEAN dan SIM internasional lainnya.

Do you drive?” tanya petugas Ultimate Drive yang antusias dan ramah. Eng… nganu, saya puya SIM A sih, dan bisa nyetir mobil matic. Tapi kalau untuk nyoba mobil sport, kayaknya entar dulu deh. Takut kenapa-kenapa. Akhirnya saya minta disopiri saja. Seperti juragan ๐Ÿ˜€

Sebelum akhirnya berangkat, kami diminta memilih mau naik mobil yang mana. Waktu itu pilihannya Ferrari atau Lamborghini. Saya yang nggak ngerti apa-apa soal mobil, tahunya mobil merah atau oranye. Biar matching dengan baju yang saya pakai (alasan apa ini?) dan karena Dara, teman kami dari Jakarta pengen naik Ferrari, akhirnya saya pilih Lamborghini oranye aja.

Yuk mari kita ke parkiran…

Ada yang lebih suka Ferrari?

Kakinya nyampai nggak tuh?

Roy and me
Foto: (c) Syafitri Tambunan
From Where I Sit

Driver saya namanya Roy, orang Singapura keturunan India. Orangnya ramah dan asyik. Dia dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh saya tentang sports car. Pertanyaan saya yang paling bodoh, “Do you have height restriction to drive this car?” Roy balik nanya, “Sorry, age restriction?” Nooo… maksudku kalau orang sependek aku ini apa boleh nyetir tho, Mas? Ini lho kakiku nggak nyampai, nggak bisa nginjak pedal gas. Roy menjelaskan kalau tempat duduk sopir bisa dimajukan dan ditinggikan kok (of course!), jadi berapapun tingginya bisa pegang kemudi ๐Ÿ™‚

Lalu sambil disetiri keliling Singapura, saya nanya-nanya tentang mesin, meski jawabannya tetap bikin nggak mudeng. Ternyata mesin Lambo ini lebih besar dari mesin Ferrari yang pakai V8. Saya naik mobil dengan mesin V10, sodara-sodara! To Valhalaaaa! Ketika jalanan sepi, Roy langsung tancap gas dari posisi berhenti ke kecepatan 80 km/jam, dalam tiga detik saja. Wuuzzz. Saya refleks pegang jilbab biar nggak terbang ketiup angin. Roy ketawa. Sebenarnya kecepatan mobil ini bisa sampai 340 km/jam. Tapi ya, karena kami di dalam kota, harus taat peraturan pemerintah, kecepatan maksimal 90 km/jam. Kalau di Indonesia, yang punya Lambo mungkin bisa ngebut di tol Cipali ya, boleh sampai 110 km kan? Etapi kondisi jalannya gimana? Di Singapura, kata Roy, semua jalan di Singapura sudah memenuhi kriteria untuk balapan F1. Jadi ketika mereka mulai mengadakan F1 race, pemerintah sudah nggak perlu lagi merombak jalan, tinggal pasang lampu-lampu saja karena balapan F1 diadakan malam hari.

Selain akselerasi Lambo yang cepat banget, perjalanan dengan sports car juga terasa mulus. Kalau pas melambat, rasanya seperti meluncur di jalan. Kalau pas ngebut, rasanya seperti terbang. Entah bagaimana nanti saya bisa menikmati naik mobil biasa lagi, hahaha. Di jalan, orang-orang memandang mobil kami dengan iri. Beberapa orang melambaikan tangan, dan dibalas oleh Roy. “Now I know how easy to get a girlfriend if you own a car like this,” kata saya pada Roy, yang diamini oleh dia. “Everytime I drive this car, people says hi and asks my name,” tambah Roy. “Even the Indian girls who knew I work here, still want me to marry them, so they can say ‘my husband drives Lamborghini at work’.” LOL. “Best job in the world, no?

Setengah jam berlalu dengan cepat. Waktu memang terasa ngebut kalau kita bersenang-senang. Naik mobil ini keliling kota rasanya seperti berada dalam adegan film Fast & Furious. Saya belum pengen turun dari mobil ketika Roy masuk ke halaman depan hotel Marina Bay Sands, diikuti pandangan kagum orang-orang. Pada mobil, bukan pada saya :p Setelah ini saya memang bakalan naik mobil biasa lagi, tapi setidaknya sekali seumur hidup, pernah disopiri naik Lamborghini ๐Ÿ˜‰

Selesai menjajal mobil keren ini, kami diberi sertifikat. Saya baru tahu kalau yang saya tumpangi adalah Lamborghini Gallardo Spyder apa itu, hahaha. Lumayan, sertifikatnya bisa buat nambah-nambah cv ya Kak.

Alhamdulillah, pernah nyoba pengalaman dahsyat yang tak terlupakan. Ada yang pengen nyoba Ultimate Drive juga?

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Disclaimer:

This trip was paid by Singapore Tourism Board.  But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

Pengalaman Pertama Terbang dengan Kelas Bisnis Singapore Airlines

Gara-gara baca blog Derek Low ini, saya jadi punya cita-cita sesekali mencoba terbang first class. Atau business class dulu lah. Kesempatan untuk mencoba kelas penerbangan di atas kelas ekonomi datang ketika saya mencari tiket pulang dari Singapura ke Surabaya.

Saat shopping trip ke Changi airport dengan tujuan menghabiskan voucher seribu dolar, saya tidak mau keluar uang banyak untuk beli tiket pesawat sendiri. Dari Surabaya ke Singapura saya naik Jetstar gratisan hasil menukar poin Skywards Emirates. Sementara pulangnya, saya naik Singapore Airlines, dengan menukar poin Krisflyer yang saya punya dari perjalanan (menang lomba juga) ke New Zealand tahun lalu.

Dari tiket SQ Jakarta – Christchurch via Singapura yang disponsori oleh Tourism New Zealand, saya menabung poin sebesar 11.548. Kalau mau ditukar tiket SQ ekonomi SIN-SUB sebenarnya sudah cukup, malah sisa karena hanya perlu 7.500 poin. Itu pun kalau booking online mendapat diskon 15%, jadi tinggal menukar 6.375 poin saja. Tapi saya pikir-pikir kalau ada sisa poin mau buat apa? Kenapa nggak sekalian pesan tiket bisnis saja?

Ternyata tiket business class SQ untuk rute tersebut perlu 17.500 poin. Diskon 15% untuk pemesanan online menjadi 14.875. Poin saya nggak cukup, masih kurang 3.327 poin. Tapi The Emak yang pinter ini tidak menyerah. Di website SQ sebenarnya diberi pilihan untuk top up poin seharga USD 40 per blok (1000 poin). Tapi tentunya saya ogah kalau harus bayar kemahalan. Intip-intip poin dari kartu kredit, ternyata ada banyak dan ternyata lagi bisa ditukar menjadi Krisflyer Miles (sebelum ini cuma saya tukar ke Garuda Miles). Untuk 1 Krisflyer saya harus menukar 7 poin kartu kredit. Jadi kalau perlu 3.327 poin KF perlu menukar 23.289 poin credit card. Tenang, poinnya masih banyak kok. Penukarannya juga gampang, tinggal log in di akun kartu kredit dan pilih penukaran rewards dengan miles. Dalam dua hari poin kartu kredit sudah ditransfer menjadi Krisflyer. Yay! Kesampaian naik kelas bisnis meski cuma short haul, penerbangan singkat 2 jam 25 menit.

Menukarkan poin Krisflyer dengan tiket bisa dilakukan online, bahkan pembayaran pajaknya pun bisa langsung di sana. Setelah log in ke akun KF, pilih book a flight –> centang pilihan redeem award flight. Nantinya penerbangan yang kita pilih akan dihargai dalam poin KF. Pajak untuk penerbangan saya ini sebesar SGD 108,90 atau sekitar satu juta rupiah (sudah termasuk airport tax di Changi). Memang harus pakai modal sih, tapi hitungannya murah banget karena harga asli tiket bisnis SIN-SUB ini SGD 1.311 atau dua belas jutaan rupiah. Whiiii…

Pertimbangan lain memilih business class, saya perlu memakai lounge SQ untuk menginap di bandara. Lumayan kan menghemat budget penginapan. Hotel di Singapura kan mahal-mahal. Sebelum memesan tiket, saya sudah cek dulu apakah mereka bisa early check in, ternyata bisa sampai 48 jam sebelum penerbangan. Jadi untuk penerbangan saya hari Minggu jam 07.50 pagi, saya sudah bisa cek in Sabtu malam sekitar jam 9. Koper saya yang isinya ransel dan cokelat bisa masuk bagasi. Jatah kelas bisnis sebenarnya sampai 40kg, tapi tas saya cuma 8 kg doang. Oh, iya, saya sempat nyasar antre cek in di economy class, udah kebiasaan, hahaha.

Begitu mendapat boarding pass, saya masuk lagi ke area transit lewat imigrasi. Petugas hanya tersenyum dan bertanya, “Pulang?” Pokoknya petugas nggak akan rewel kalau kita punya tiket keluar dari situ, meski pesawat baru terbang esok harinya. Saya lanjut berbelanja dari jam 9 sampai tengah malam.


Ketika voucher seribu dolar sudah habis dan perut mulai keroncongan, saya mencari-cari lounge SQ. Ternyata lounge mereka ada di atas Enchanted Garden di T2. Ada dua pilihan lounge: SilverKris Lounge dan Krisflyer Gold Lounge. Yang pertama untuk yang punya tiket Suites, First atau Business Class SQ. Lounge kedua untuk member Krisflyer Gold yang punya tiket ekonomi SQ. Saya masuk ke SilverKris yang fasilitasnya lebih lengkap termasuk tempat mandi.

Karena lapar, saya berusaha cari makan di buffet. Tapi karena sudah tengah malam, sajiannya sudah banyak yang habis dan pilihannya tidak menarik. Mau tanya ini itu ke pelayan kok nggak ada yang kelihatan. Akhirnya saya cuma ngemil sandwich timun dan minum jus apel, ditemani mainan baru saya.

Setelah perut terisi, saya mulai mencari-cari kursi dengan posisi strategis yang dekat colokan. Malangnya, tidak semua kursi dekat colokan, dan tidak ada colokan yang ada konektornya. Bayangan saya, seharusnya di semua lengan kursi ada colokan universalnya, seperti yang saya lihat di dekat kolam koi di T3. Tapi mungkin karena lounge ini di T2, belum ada perombakan fasilitas seperti di gedung terminal yang lebih baru. Saya akhirnya pinjam konektor dari petugas karena konektor yang saya bawa sudah terlanjur masuk ke bagasi (pinter!). 

Ketika menemukan kursi dekat colokan di pojok, ada pelayan lelaki tua yang menghampiri saya. “You rest here? I bring pillow.” Begitu katanya dengan bahasa Inggris patah-patah. “Oh, yes, please, thank you,” sahut saya cepat. Si Paman kembali dengan bantal dan selimut Givenchy. Dia mengisyaratkan agar saya mendekatkan dua kursi untuk menjadi flat bed yang nyaman. Alhamdulillah, tubuh saya yang mungil ini bisa muat di dua kursi tanpa tertekuk-tekuk. Saya bisa tidur nyaman sampai jam empat pagi.

Setelah jam empat, lounge mulai ramai oleh orang-orang bisnis beneran yang memakai jas, bersiap-siap untuk penerbangan pagi mereka. Saya sudah nggak mungkin tidur lagi. Mending mandi dulu biar seger. Toilet di lounge ini kelihatan lebih mewah dan lebih wangi daripada toilet biasa yang memang sudah bersih banget di Changi. Di tiap wastafel disediakan sikat gigi, pasta gigi, mouthwash dan sisir. Kamar mandinya pun super mewah, seperti fasiltas di hotel bintang lima. Sabun, shampo dan handuk bersih disediakan. Saya sampai keasyikan mandi pakai pancuran air panas. Capek-capek karena belanja semalaman langsung hilang.

Selesai mandi, saya mampir wastafel untuk mengambil foto. Eh sepertinya kok ada pelayan yang menyelinap untuk membersihkan kamar mandi yang barusan saya pakai. Mungkin memang harus cepat dibersihkan agar bau-bau orang proletar lenyap seketika, hahaha.

Keluar dari toilet, saya disambut bau masakan yang harum menguar. Para koki dan pelayan wira-wiri menyiapkan sarapan. Ada banyak pilihan yang lebih enak daripada roti mentimun. Saya pilih fish congee (bubur ikan) dan poached egg. Saya nggak makan banyak-banyak karena nanti masih ada sarapan kedua di pesawat ๐Ÿ™‚

Setelah sempat chatting sebentar dengan Si Ayah yang masih sibuk packing untuk terbang ke alor, saya memutuskan untuk keluar dari lounge. Di setiap terminal Changi ada prayer room yang cukup nyaman dan bersih, buka 24 jam. Tempat wudhu laki-laki dan perempuan juga dipisah. Waktu di Singapore sama seperti WITA, lebih maju satu jam dari WIB, meski posisinya sejajar dengan WIB kita. Jadi jadwal salatnya agak aneh, jam 6 pagi baru masuk waktu subuh.

Sekitar jam 7.20 pagi, kami sudah mulai boarding. Pemeriksaan keamanan cepat dan efisien. Di Singapore, setiap alat elektronik atau gadget harus dimasukkan ke dalam baki sendiri dan diberi nomor. Jadi kalau kita bawa 1 laptop, 1 tablet dan 1 ponsel, akan diberi tiga tiket (nomor). Tapi nggak usah khawatir urusan beginian, asal menurut saja sama petugas. 

Penumpang kelas bisnis dan anggota PPS Club disilakan untuk masuk ke pesawat terlebih dahulu. Saya pun lenggang kangkung sambil senyam-senyum. Begitu sudah dekat ke petugas, saya mengulurkan paspor dan boarding pass. Saya dengar petugas di gate sebelah bisik-bisik, “This is business class first, right?” Tunggu, emangnya tampangku gak meyakinkan ya jadi penumpang kelas bisnis? *sensi* :p   

Enchanted garden lebih cakep kalau difoto dari atas, depan SQ lounge.

Ketika cek in malam sebelumnya, saya meminta kursi yang sebelahnya kosong. Petugasnya mengabulkan, dengan catatan nggak ada jaminan kursi tersebut kosong sampai besok pagi. Eh ternyata satu ruas belakang kelas bisnis kosong semua. Pramugari bercanda kalau saya boleh pilih duduk di manapun, pindah-pindah juga boleh. All mine ๐Ÿ˜€ Sebenarnya saya pilih kursi sendirian biar gak malu-maluin kalau cengar-cengir sendiri. Maklumlah, pengalaman pertama di business class, kelihatan banget kalau norak-norak bergembira. Saya juga pengen bebas motret-motret tanpa rikuh.


Tahu kalau saya motret-motret, Si Mbak pramugari menawari memfoto saya. Jadi tongsis alias ‘tolong, Sis’. Saya cuma minta difoto sekali saja di kursi sendiri. Si Mbak masih mau motretin yang lainnya lagi, tapi saya kan orangnya pemalu ๐Ÿ˜€ Lagian dari sudut manapun bakalan begini-begini aja jadinya.

Pesawat yang digunakan di rute ini Airbus A330-300. Di kelas bisnis ini ada 30 kursi dengan formasi 2-2-2, jadi ada lima baris. Desain kursinya masih yang jadul, belum ada refurbishment. Tapi itu aja saya sudah senang. Pramugarinya ada lima, jadi saya punya pramugari privat sebenarnya, hahaha. Pramugari membantu saya menaruh tas saya di atas. Tadinya saya tanya apa tas saya yang isinya gawai dan kamera bisa saya taruh bawah tempat duduk saja. Si Mbak dengan tersenyum manis bilang, “Sorry, not for this aircraft.” Nganu, ternyata kalau di kelas bisnis harus disimpan di atas semua. Gawai, kamera, dompet, buku, paspor dan alat tulis bisa disimpan di kompartemen di depan atau di lengan kursi. Ketahuan deh baru pertama kali naik bisnis ๐Ÿ˜‰


Selanjutnya saya sibuk mengatur tempat duduk saya agar nyaman. Ruang kaki di depan tempat duduk luas banget. Bahkan ketika kaki saya julurkan, nggak nyampai ke kursi di depannya kalau saya nggak memerosotkan diri. Ini memang kabinnya yang lapang atau sayanya yang pendek ya? Kaki saya pun nggak bisa menyentuh tanah. Untungnya bisa ditopang dengan menyetel sandaran kaki bagian bawah. Jadi meskipun menggantung tetap terasa nyaman. Tinggal mencet-mencet tombol kok.

Sesudah nyaman, saya menunggu pesawat tinggal landas. Mungkin di kelas ekonomi masih pada ribut naruh tas kabin ya? Pramugari menawari saya jus jeruk, apel atau tomat. Saya pilih nyobain jus tomat yang ternyata segar sambil baca-baca majalah travel dan window shopping di katalog KrisShop. Sambil dengerin album baru Taylor Swift. Tadinya saya bingung cari colokan untuk headset saya. Biasanya kan di lengan kursi tuh? Kalau di kursi bisnis colokan headset ada di samping sandaran kursi, ehehe.


Pesawat berhasil lepas landas dengan mulus. Setelah tanda sabuk pengaman boleh dilepas, sarapan mulai dihidangkan. Ini yang saya tunggu-tunggu, pengen merasakan makan pakai piring dan gelas beneran, hahaha.

Untuk kelas bisnis, kita bisa memesan makanan spesial lewat ‘Book The Cook’. Menu sarapan pilihannya lebih terbatas daripada menu makan siang atau makan malam. Saya pengen nasi lemak ala chef. Tapi di sini tidak ada keterangan halalnya. Saya tanyakan via email ke mereka dan dijawab oleh kepala kateringnya via telpon langsung. Nasi lemak dan nasi biryani mereka halal, dimasak di dapur khusus. Alternatif lain untuk memastikan mendapatkan makanan halal adalah dengan memesan moslem meal (kategory religious meal). 

Pilihan masakan lain juga ada. Yang mau diet bisa pesan low fat meal. Pesan vegetarian meal pun bisa. Tapi yang paling menarik menurutku adalah yummy meal untuk anak-anak, hehe. Nggak tahu kalau orang dewasa boleh pesan makanan anak-anak apa enggak. Dulu waktu naik Emirates, Big A tidak bisa memesan makanan anak-anak karena usianya sudah lewat 12 tahun. Tapi itu kelas ekonomi…

Nggak pilih menu terlebih dahulu pun nggak papa kok sebenarnya. Pilihan sarapan untuk rute SIN-SUB ini sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Kalau nggak pesan nasi lemak masih ada nasi uduk, hehehe. Pilihan makan siangnya, untuk rute SUB-SIN lebih menarik. Sarapan dihidangkan dengan roti dinner roll dan mentega yang enak banget. Ditutup dengan buah potong segar dan kopi sedep. Waktu saya pamer foto di path, adik saya @diladol komentar, “Penampakannya langit dan bumi dengan nasi lemak Pak Nasser.” Ya beda kelas kaleee ๐Ÿ˜€

Saya sarapan ditemani mas Ethan Hawke di film Before Midnight. Telat banget ya nontonnya?

Saya juga sempat mencoba toilet untuk kelas bisnis. Luasnya sama dengan toilet kelas ekonomi, hanya saja amenities-nya lebih bagus. Di toilet ini disediakan sikat dan pasta gigi, sisir rambut dan razor. Sabun cuci tangannya pakai L’occitane yang wangi banget. 

Penumpang kelas bisnis masih terus dimanjakan setelah pesawat mendarat. Kami bisa lebih dulu turun dari pesawat dan bagasi kami datang lebih dulu karena termasuk priority baggage. Jadi ya memang enak naik kelas bisnis. Jujur aja saya nggak bisa pencitraan naik kelas ekonomi kalau memang ada jatah kelas bisnis :)) 


Ada yang pengen nyoba (atau sudah pernah) naik business class juga? Atau malah punya pengalaman naik first class? Maskapai mana yang paling bagus?

~ The Emak
 

Baca juga:
Belanja Habis-Habisan di Bandara Changi
Tempat Nongkrong Paling Asyik di Bandara Changi 

Terbang ke Singapura dengan Tiket Jetstar Gratisan
Terbang Ke New Zealand Dengan Singapore Airlines