Kategori: belanja

7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik

Hello 2017…
Apa resolusi piknik kamu tahun ini? Kalau The Emak sih nggak muluk-muluk karena resolusi tahun lalu banyak gagalnya, hiks. Tapi ketolong sama pengalaman traveling di akhir tahun yang tak disangka-sangka: cruising! Tahun ini keluarga precils insyaallah akan ke KL dan Malaka (dapat tiket 0 rupiah AA dari tahun lalu) dan LOB Komodo (amin YRA). Udah itu doang? Enggak sih, nanti ditambah staycation sana-sini dan weekend mini trip entah nyangkut di mana, hahaha. Trus The Emak juga punya keinginan terpendam untuk #ngopibarengnicsap2017 karena kan destinasi nggak melulu tempat, bisa juga orang.

Nah, yang lebih penting dari sekadar resolusi piknik adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya.Traveling pasti perlu modal dong. Kabar baiknya, nggak semua biaya traveling harus dibayar dengan uang. Bisa juga dibayar pakai miles untuk tiket pesawat, pakai kredit poin untuk penginapan, dan pakai doa kalau pengen menang kuis 😉 Emak yang baik hati dan tidak sombong ini akan berbagi tips untuk ngumpulin duit dan poin receh agar resolusi piknik kamu kesampaian.

Untuk bisa mengumpulkan miles/mileage (poin penerbangan), kita harus jadi anggota frequent flyer dari suatu maskapai. Nama program tiap perusahaan penerbangan bisa beda-beda. Untuk orang Indonesia, saya sarankan minimal ikut tiga keanggotaan frequent flyer ini: Garuda Indonesia, Air Asia, dan Singapore Air. 

“Duh, saya kan jarang terbang?” Tenang, untuk ikut keanggotaan ini nggak perlu harus sering terbang kok. Bahkan sebaiknya mendaftar jadi anggota sebelum terbang dan sebaiknya sebelum beli tiket agar nomor frequent flyer bisa dicantumkan ketika membeli tiket. 

Cara mendaftar gampang kok, seperti ketika kita membuat akun email. Klik masing-masing website-nya ya, trus cari tombol Daftar/Join/Register.
Garuda Miles: https://garudamiles.com    
Air Asia Big Loyalty Programme: http://www.airasiabig.com/id/id/
Kris Flyer SIA: http://www.singaporeair.com/KrisFlyer

Nah, kalau keanggotaan frequent flyer udah beres, mari kita cari tahu cara memperoleh poinnya. Nggak melulu dari terbang lho. The Emak punya 7 tips untuk ngumpulin remah-remah biaya untuk traveling.

1. Mengumpulkan receh (literally)
Ini serius. Saya selalu meminta uang kembalian kalau belanja di minimarket atau supermarket. Dan saya pasti mengecek struk belanja sebelum keluar dari toko. Untuk toko besar biasanya sih saya pakai kartu debit atau kredit, tapi untuk toko kecil saya pakai uang kas. Lebih sering saya yang memberi kasir uang kembalian karena saya selalu bawa recehan di dompet untuk belanja.

Bukannya saya pelit untuk donasi ya, tapi untuk zakat, uang qurban dan sumbangan sosial memang sudah saya program, bukan dari uang receh. Donasi pun akan sampai ke penerima yang kita pilih sendiri.

Latihan minta uang kembalian ini membuat kita menghargai uang kecil, karena uang besar berasal dari uang kecil. Dalam bahasa Ibuk saya yang pedagang, kita harus “setiti”. Apa ya bahasa Indonesianya yang pas? Karena benar-benar uang receh, tentu hasilnya setahun enggak banyak, tapi tetap saja ada harganya. Misal sehari kita bisa mengumpulkan 1000 rupiah saja, setahun kita bisa dapat 365 ribu. Cukup untuk bayar pajak bandara, karena meski kita bisa membeli tiket pesawat dengan miles, pajak bandara tetap harus dibayar pakai uang, nggak bisa pakai daun 🙂

2. Mengumpulkan cashback dari Shopback 
Hayo siapa yang hobi online shopping? *ikut ngacung. Sejak kenal Shopback, saya selalu belanja melalui website/apps ini karena setiap belanjaan kita bakalan dapat uang kembalian antara 2% sampai 15%. Belanjaan saya juga kebutuhan sehari-hari sih seperti beli pulsa, bayar PDAM, bayar BPJS di tokopedia; beli tiket nonton di BookMyShow; beli tiket pesawat di PegiPegi, Tiket, atau Nusatrip tergantung mana yang lebih murah; booking hotel di Booking dot com atau Agoda.

Keuntungan jadi anggota Shopback ini, uang kembalian kita terkumpul di suatu tempat dan bisa ditarik jadi tunai (transfer ke rekening bank kita) kapan pun kita mau. Lumayan kan kalau dalam setahun bisa dapat 3-4 juta? Tinggal bilang ke pasangan kita, “Sayang, liburan yuk aku yang traktir.” :p
 
Daftar Shopback pakai referral saya untuk mendapatkan bonus Rp 45.000: https://www.shopback.co.id/?raf=YppJr2

https://www.shopback.co.id/?raf=YppJr2
Toko favorit ada di sini semua
Cashback saya 🙂 Lumayan yah.

3. Mengisi Survey YouGov untuk Poin Airasia Big
Ini tadi yang saya bilang nggak harus sering terbang untuk mencari poin frequent flyer. Kita bisa mendapatkan poin Air Asia Big hanya dengan mengisi survey. Setiap survey bisa dapat poin mulai dari 25 poin sampai 150 poin. Nanti kalau sudah terkumpul 5000 poin, bisa ditukar menjadi 2500 poin AirAsia Big. Kalau sedang promo, banyak rute Air Asia yang bisa ditukar hanya dengan 500 poin saja, misalnya Jakarta – KL, Jakarta – Penang, Jakarta – Bali, Surabaya – Johor Bahru, dll.

Surveynya gampang kok, tentang kehidupan kita sehari-hari. Misalnya tentang pemakaian internet di rumah, merk sabun yang sering dipakai, pendapat tentang service provider, dll. Setelah mendaftar, nanti akan dikirimi email kalau ada survey yang cocok dengan profil kita. Surveynya bisa dikerjakan di komputer atau smartphone, dan biasanya nggak sampai 10 menit.

Daftar survey YouGov di sini:
https://id.yougov.com/en-id/refer/TQ3vAFZlkjhYLB6Bv-KGvw/



4. Menulis Review di Tripadvisor untuk Miles Garuda
Selain survey, kita juga bisa menambah miles dengan cara menulis review di Tripadvisor Indonesia. Sebenarnya kita bisa memilih, poinnya mau ditukar jadi Garuda Miles atau Air Asia Big, tapi saya lebih memilih ditukar Garuda Miles. Setiap reviewer hanya boleh memilih salah satu.

Yang harus dilakukan adalah mendaftar jadi anggota Garuda Miles dulu agar mendapatkan nomor anggota. Setelah itu, daftar menjadi anggota Tripadvisor Indonesia (bisa dengan akun facebook biar nggak ribet). Baru kemudian menyambungkan program mileage dari review Tripadvisor di sini: https://www.tripadvisor.co.id/GarudaMiles

Yang bisa diulas di Tripadvisor tidak cuma hotel atau penginapan, tapi juga restoran atau tempat wisata. Jadi tanpa pergi jauh pun kita bisa menulis tentang warung langganan di kota kita sendiri. Setiap tempat yang kita review punya nilai mileage sendiri, mulai dari 5 poin sampai 200 poin. Ulasan harus otentik ya, artinya kita memang pernah punya pengalaman di tempat yang kita review. Ulasan palsu akan membuat kita di-blacklist oleh Tripadvisor. 

Miles yang dibutuhkan untuk terbang dengan Garuda dari Surabaya ke Bali adalah 4000. Kalau tiap review rata-rata dapat 50 miles, kita tinggal menulis 80 kali 🙂 Atau redeem miles Garudanya pas diskon 50%, jadi untuk SUB – DPS atau Jakarta – Belitong tinggal perlu 2000 poin (40-an review) saja. Baca pengalaman saya menukar Garuda miles untuk terbang ke Bali sekeluarga di sini.

 

Poin dari review langsung masuk miles Garuda



5. Join Afiliasi Airbnb
Airbnb adalah apps dan website favorit saya untuk mencari vila atau apartemen ketika harga hotel terlalu mahal. Saya pernah memakai airbnb untuk memesan penginapan di Paris, Ubud, Taipei, dan baru-baru saja Jogja.

Airbnb juga termasuk yang murah hati memberikan credit point untuk para affiliate-nya. Kalau saya memberikan referral pada seseorang untuk bergabung dengan airbnb, orang tersebut akan mendapat Rp 295.000 (besaran kupon ini bisa berubah sesuai program mereka) dan saya akan mendapat jumlah yang sama kalau orang tersebut memesan penginapan. Karena rajin memberikan referral, selama ini saya bisa memesan penginapan di airbnb dengan diskon besar atau bahkan gratis 🙂

Daftar airbnb pakai tautan ini ya: https://www.airbnb.com/c/akumalasari

 

6. Join Afiliasi Hotel Quickly
Hotel Quickly adalah apps favorit saya untuk memesan hotel yang diperlukan secara mendadak. Apps ini paling pas untuk staycation. Saya pernah pakai untuk memesan beberapa hotel di Surabaya.

Untuk bisa menjadi affiliate, kalian harus mendaftar di apps Hotel Quickly dulu, cari apps nya di Google Play atau App Store. Setelah itu masukkan kode AKUMA72 untuk mendapatkan diskon tambahan 15% untuk pemesanan pertama. Nanti di apps, kalian bakalan punya banyak pilihan untuk memberikan referral ke teman-teman dan akan mendapat Rp 10.000 setiap kali teman menggunakan kode kalian, plus 10% dari pemesanan ketika teman kalian booking hotel. Lumayan, kreditnya bisa buat staycation leha-leha. Kalau udah punya kredit mending cepat dipakai sebelum expire 🙂
 

tampilan apps HQ

7. Menukar Poin Kartu Kredit
Tip terakhir untuk membiayai liburan adalah dengan menukar poin kartu kredit. Tentu saja syaratnya kalian punya kartu kredit, hehehe. Eh kalau nggak punya kartu kredit, ada kok kartu debit yang poinnya bisa ditukar miles Garuda, contohya Fiestapoin Bank Mandiri.

Bagi keluarga saya, kartu kredit adalah alat bayar yang praktis, terutama ketika bertransaksi online atau transaksi di luar negeri. Kami tidak pernah ngutang dan pasti membayar tagihan tepat waktu, jadi tidak pernah membayar bunga. Karena memang hanya sebagai alat bayar, kami masing-masing hanya punya satu kartu kredit.

Kalau kalian ingin mengumpulkan miles melalui poin kartu kredit, sebaiknya memang memilih kartu kredit yang bekerja sama dengan maskapai tertentu, agar milesnya cepat bertambah. Untuk miles Air Asia pilih CIMB Niaga, Singapore Air pilih BCA, sementara Garuda bekerja sama dengan BNI dan Citibank.

Tapi kartu kredit lain pun tetap bisa ditukar dengan miles. Bahkan keuntungan punya kartu kredit biasa, poinnya juga bisa ditukar dengan poin dari hotel, misalnya poin IHG (Holiday Inn) atau Hilton Honor. Kami pernah menginap gratis di Holiday Inn Penang dengan menukar poin IHG plus tambahan dari poin kartu kredit. Saya juga pernah merasakan terbang dengan kelas bisnis Singapore Air dengan menukarkan miles Krisflyer plus tambahan poin dari kartu kredit suami, hihihi. Padahal, saya belum pernah membeli tiket SQ dengan duit saya sendiri. Miles yang saya tukarkan berasal dari tiket hadiah ketika saya memenangkan kuis New Zealand Tourism. Moral of the story: selalu daftar keanggotaan frequent flyer sebelum kamu beli tiket pesawat atau sebelum kamu menang kuis 🙂


Itu semua tip-tip yang bisa kita semua lakukan sebagai rakyat jelata biasa. Tentu masih ada cara lain, misalnya endorse instagram kalau kamu arteeees. Atau bisa pasang iklan di blog kalau view blog kamu ratusan ribu sebulan, hehe. Tapi nggak papa, tetap optimis ya untuk #resolusipiknik2017 kamu. Jangan sampai kita rakyat biasa kena derita #kurangpiknik. Gimana, ada yang mau bareng kami ke Labuhan Bajo?


~ The Emak

Changi Shopping Trip

100 lembar voucher SGD 10 numpang lewat doang :p

Semua masih ingat kan kalau saya menang lomba #CeritaChangi yang hadiahnya *uhuk* S$1000? Cerita keluarga Precils ketika transit di bandara Changi Singapura terpilih jadi 3 cerita terbaik. Alhamdulillah, rezeki nomplok. Thank you Changi Airport.

Ketika ada pengumuman di akun twitter @bandaraChangi, saya senang campur bingung. Soalnya hadiah harus diambil langsung dan hanya bisa dibelanjakan di bandara Changi. Maaf ya, tiket pesawatnya harus cari sendiri. Saya lebih bingung mencari cara nyampai ke sana daripada bingung vouchernya mau dibelanjakan apa 😀



Tapi The Emak yang pinter ini tentu nggak kehabisan akal. Setelah mengecek semua poin, diskon dan kupon yang dimiliki, akhirnya saya bisa terbang pp ke Singapore dengan pesawat gratisan. Kelas bisnis pula, hahaha. Masih bayar pajaknya sih, tapi kan lumayan daripada bayar pesawat penuh. Nanti hadiahnya nggak ‘nyucuk’. Nggak lucu kan kalau besar pasak daripada tiang, lebih mahal di ongkos daripada yang didapat.

Saya menukar poin Skywards dari penerbangan Emirates ke Eropa bulan Juli tahun lalu dengan tiket Jetstar Surabaya – Singapura. Pulangnya saya menukar poin Krisflyer Singapore Airlines yang saya dapat dari penerbangan ke New Zealand (hasil menang kuis juga) bulan Juni tahun lalu. Cerita saya naik Jetstar dengan tiket gratisan bisa dibaca di sini.

Tiket beres, saya tinggal pilih-pilih mau beli apa. Buka-buka guide Shop & Dine Changi airport malah jadi senewen sendiri. Lha masa’ tas wanita harganya di atas $1000 semua? Harus nombok dong saya. Lupakan deh tas, sepatu dan aksesories branded. Kalau pengen beli barang-barang mewah, SGD 1000 sepertinya sedikit banget.

Tapi saya tetap membuat daftar belanja. Yang utama, saya ingin beli hadiah ulang tahun Big A yang jatuh tanggal 26 Januari. Karena itu juga saya mengambil hadiah sebelum tanggal ini. Little A tentu harus dibelikan mainan. Oke, catet. Emaknya juga. Hasilnya seperti ini daftar belanja saya.

Shopping List:
1. Hadiah untuk ultah Big A (ransel dan bodyshop set)
2. Mainan untuk Little A (Lego friends)
3. Mainan untuk Emak :p
4. Dompet atau kacamata hitam untuk Si Ayah
5. Oleh-oleh untuk Mamah dan Mama
6. Cokelat untuk ponakan-ponakan

Opsional: lingerie, perfume, Uniqlo, Muji Go, travel accessories, snorkeling set, Go Pro, underwater camera housing.

Lalu, seminggu sebelum berangkat saya baru ingat wejangan Ibu saya: “When life gives you money, buy gold.” Nggak persis bahasa Inggris seperti itu sih 😀 Tapi intinya, kalau punya uang lebih, belikan emas untuk investasi. Langsung saya cari tahu apa ada toko emas di bandara Changi. Ternyata ada! Saya juga cek harga dan jenis-jenis emas yang dijual di toko ini. Lumayan kan, kalau berhasil beli emas, nilai uangnya nggak turun. Malah nanti bisa digadaikan kalau sedang perlu :p

Terbang Ke Changi
Saya terbang ke Changi sendiri, dan alhamdulillah selamat mendarat di bandara Changi hari Sabtu sore. Kata perwakilan bandara Changi di Jakarta yang mengadakan kuis, akan ada seseorang yang menjemput, membawa papan nama saya. Ketika saya keluar dari pesawat, kok nggak ada siapa-siapa? Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya melihat perwakilan bandara Changi yang berjalan ke arah gate dengan membawa kertas bertuliskan Traveling Precils. Saya hampiri sambil mengenalkan diri. Dia senang bisa bertemu saya dan langsung ke pokok persoalan tanpa basa-basi. Saya senang dengan orang seperti ini 😉 Seratus lembar voucher masing-masing SGD 10 pun berpindah tangan. Saya menandatangani berita acara sambil di-briefing di mana saja bisa berbelanja dengan voucher tersebut. Bada, begitu katanya namanya, juga memberi saran-saran toko mana saja yang bisa saya datangi untuk membeli barang-barang di shopping list saya. Lalu, saya ditinggal sendiri. 

Ada lima menit saya duduk bengong sambil tersenyum nggak jelas. Saya masih bingung, hanya punya waktu 13 jam untuk menghabiskan $1000 karena besok pagi harus segera pulang ke Surabaya. Dari Bada saya diberi tahu kalau ingin belanja tanpa GST, saya harus belanja besok sebelum terbang. Kalau belanja sekarang sebelum saya meninggalkan Singapore, saya tetap harus bayar GST sebesar 7%. Saya nggak begitu ‘mudheng’ bagaimana mekanismenya, tapi akhirnya saya bangkit menuju imigrasi sambil tersenyum ke setiap orang yang berpapasan dengan saya 😀

Public Area & Transit Area
Bandara Changi dibagi menjadi dua area: public area untuk umum dan transit area untuk penumpang yang akan naik pesawat. Di public area, pengunjung bandara non penumpang pun bisa berbelanja dengan bebas. Changi menerapkan diskon GST 7% juga di area umum ini, meski pilihan tokonya tidak sebanyak di area transit.

Setelah keluar dari imigrasi, saya siap-siap menjelajah public area. Dari shopping guide, pilihan toko yang asyik-asyik di public area ada di T3. Saya pun berhasil membeli tas ransel di toko Bratpack untuk hadiah ultah Big A dan juga titipan skin care The Body Shop buat dia. Setiap akan membeli sesuatu, saya selalu bertanya lebih dulu ke penjaga tokonya, apakah mereka menerima voucher Changi Dollars. “Can!” begitu jawab mereka. Setelah yakin kalau voucher bisa benar-benar dipakai, saya semakin bersemangat berbelanja.

Sebenarnya, toko-toko yang lebih menarik ada di area transit. Tapi masalahnya, kalau saya terlanjur di dalam, barang-barang itu harus saya tenteng sampai saya boarding. Kalau belanja sebelum cek in, barang belanjaan ini bisa saya masukkan bagasi. Padahal rencananya saya ingin membelikan Lego set yang cukup besar untuk Little A. Kalau beli di dalam, masa’ harus saya tenteng-tenteng sampai pagi? Haduh, dilema.

Di public area T3 ada dua toko mainan. Tapi dua-duanya tidak punya koleksi Lego yang bagus, tidak ada Lego Friends. Jadi… terpaksa saya memang harus beli dan nenteng Lego di area transit. Akhirnya saya lanjut berbelanja… cokelat!


Saya agak kebablasan berbelanja cokelat di Cocoa & Co. Tapi daripada harus mikir mau ngasih oleh-oleh apa ke adik2, sepupu dan ponakan, mending saya belikan cokelat semua. Saya sendiri alergi cokelat, langsung batuk begitu mencoba. Hiks. Sebelum belanja cokelat, saya sudah jalan-jalan ke toko-toko lain, tapi malah bingung mau beli apa.

Public Area T3
Public Area T3

Saya punya tiket SQ kelas bisnis untuk penerbangan esok harinya. Menurut website SQ, saya bisa cek in 48 jam sebelum jam penerbangan saya. Jadi saya beres-beres hasil belanjaan saya sampai saat ini, masukkan ke koper yang saya bawa dan cek in. Ternyata memang bisa early cek ini sehari sebelumnya. Koper saya beratnya sekitar 8 kg. Lumayan lah beban nenteng koper sambil belanja berkurang. Dengan berbekal boarding pass, saya melangkah ke imigrasi dan mulus masuk ke transit area T2. Saat itu jam 9 malam. Saya belum merasa lapar dan masih sanggup untuk kembali berbelanja, hahaha.

Target pertama cari Lego untuk Little A. Ada dua toko mainan di dekat Enchanted Garden di T2, sebelah-sebelahan. Saya bandingkan harga legonya, ternyata lebih murah di Kaboom. Akhirnya saya beli Lego Friends Lighthouse seharga $70. Uhuy, saya senang kalau harganya pas begini. Kalau harganya bukan kelipatan $10, terpaksa saya harus nombok sendiri kelebihannya karena toko tidak memberi kembalian untuk pembayaran dengan voucher. Kalau mau disumbangkan ke toko ya monggo. Saya sih ogah, haha. Jadi di beberapa toko, saya genapkan dengan membeli benda-benda kecil lain, tapi ada yang memang harus nombok yang saya bayar dengan uang receh sisa ke Singapore tahun lalu atau bayar dengan kartu kredit. Oh, ya, kalau belanja di area Transit ini, kita harus menyerahkan paspor dan boarding pass untuk dipindai.

Sukses membeli mainan untuk Little A, saya mencari mainan untuk diri sendiri :p Ada toko ‘mainan’ iStudio di dekat situ. 

Kanan: mainan Little A. Kiri: mainan The Emak :p

Alhamdulillah, Little A dan Emaknya sudah dapat mainan. Sekarang saatnya menghabiskan sisa voucher dengan bijak. Saya mencari toko perhiasan yang menjual emas 22K dan 24K. Saya belum tahu apa yang akan saya beli, tapi di sana pas ada stok emas murni 5gr yang harganya terjangkau oleh sisa voucher saya. Ya udah, memang niatnya untuk disimpan kok, bukan untuk perhiasan. 

Setelah membayar belanjaan di Luvenus, saya baru sadar kalau voucher saya tinggal 5 lembar, dan saya belum beli apapun untuk Si Ayah. Dan untuk Mamah dan Mama Mertua. Dududu. Saya baru menyesal kebanyakan belanja cokelat dan permen. Ketika saya berangkat, sebenarnya Si Ayah nggak minta apa-apa, tapi kasihan juga kan kalau nggak dibelikan. Saya mondar-mandir di toko-toko fashion untuk laki-laki sambil ngintip harga kalau penjaga tokonya sedang nggak lihat. Duh, untung nggak pingsan setelah tahu harganya.
 

Saya menyerah setelah window shopping di beberapa toko. Akhirnya saya mampir ke toko teh TWG untuk berbelanja oleh-oleh teh premium. Dengan sisa voucher 1 lembar saya baru ingat kalau adik saya Diladol minta dibelikan magnet kulkas singapur. Eyaelah. Agak susah belanja magnet kulkas. Di bagian yang murah saya nyeletuk, “Dih, jelek banget bahan dan disainnya.” Di bagian magnet yang bagus disainnya dan kuat bahannya, saya nyeletuk, “Ih, mahal amat.” Akhirnya saya beli magnet kulkas kelas menengah sambil nyomot satu buku di Relay. Mission accomplished. Sorry Darling.

Saat itu jam 12 malam dan saya terseok-seok membawa barang belanjaan. Toko-toko mulai tutup dan perut saya keroncongan. Malam ini mau nggak mau harus menginap di Changi karena sudah cek in. Trus saya ingat, saya kan bisa masuk bisnis lounge SQ? Di sana kan ada makanan? Hahaha.

Berikut hasil perburuan saya di Changi Airport, gak tahu dapat mahal apa murah,lha wong saya juga gak tahu harga pasarannya 😀

No Item Shop Price Voucher Cash/CC
1 Herschel Backpack Bratpack T3 B2 PA 96.78 9 6.78
2 Tea Tree gift bag Bodyshop T3 B2 PA 47.48 5 0.00
3 Cocoa & Co Cocoa & Co T3 B2 PA 90.96 9 1.00
4 Ovomaltine+tic tac Candy Empire T3 L2 PA 10.19 1 0.20
5 Lego Friends Lighthouse Kaboom T2 L2 TA 70.00 7 0.00
6 iPad Mini iStudio T2 L2 TA 315.89 31 5.89
7 24K Gold 5gr Luvenus T2 L2 TA 337.50 33 7.50
8 Tea gift pack TWG T2 L2 TA 46.72 4 6.72
9 Book + fridge magnet Relay T2 L2 TA 20.84 1 10.84
TOTAL 100 38.93

Kalau kalian punya voucher SGD 1000, mau dibelanjain apa di bandara Changi?

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Baca Juga:
Tempat Nongkrong Paling Asyik di Bandara Changi 
Terbang ke Singapura dengan Tiket Jetstar Gratisan
Terbang Bersama Keluarga ke Singapura dengan Jetstar

Tip Belanja Belanji di Sydney

Window display di QVB

Setahun sekali di Sydney, ada hari khusus untuk berbelanja gila-gilaan, ketika SEMUA toko menawarkan diskon. Mereka menyebutnya Boxing Day. Saya menyebutnya Hari Raya Berbelanja 🙂

Boxing Day dirayakan setiap tanggal 26 Desember, satu hari setelah Natal. Tadinya saya pikir Boxing Day ini berkaitan dengan ‘tinju’, tapi tinju yang bagaimana? Ternyata bukaaan. Pada awalnya, Boxing Day ini diramaikan dengan memberikan hadiah (natal) untuk orang-orang miskin, yang dikemas dalam kotak (box). Tapi maknanya kemudian bergeser menjadi hari belanja untuk menghabiskan uang lebaran atau angpao 🙂

Biasanya, sebelum datang tanggal ini, orang-orang sudah mengincar apa yang ingin mereka beli pada Boxing Day. Katalog SALE bisa dilihat di internet, website masing-masing toko atau di Lasoo. Pasukan belanja sampai mati ini biasanya mengincar merk-merk terkenal, gaun-gaun disainer yang hanya memberi diskon setahun sekali pada hari tersebut. Nggak heran kalau mereka sampai bela-belain antre di depan toko mulai subuh, menunggu toko buka jam 7 pagi dan bergegas mencomot barang yang mereka incar. Tak jarang, ada aksi rebutan, saling sikut dan saling dorong. Boxing, anyone? :p Dan sebenarnya, acara belanja di Boxing Day ini tidak ramah untuk anak-anak, takut mereka kejepit dan keinjek. Alternatif bagi yang males keluar rumah adalah belanja daring. Brand favorit saya untuk belanja fesyen daring adalah Sportsgirl, Sportcraft, Hijab House dan Supre.

perempatan yang sibuk
QVB

Saya tidak hobi berbelanja barang-barang branded. Lha modalnya saja habis buat jalan-jalan 🙂 Tapi lima setengah tahun tinggal di Sydney, setidaknya saya tahu di mana mencari barang-barang bagus dengan harga murah. Asyiknya belanja di sini, bisa mulai window shopping dari rumah, karena setiap brand atau toko punya katalog daring. Sila langsung klik link yang ada di sini untuk ikutan window shopping dan siap-siap anggaran berapa kalau mau belanja sampai bangkrut di Sydney 🙂 You can thank me later.

Downtown Shopping
Yang ingin berburu oleh-oleh made in China sila langsung menuju Paddy’s Market yang tersohor itu. Semua tip mencari oleh-oleh sudah pernah saya tulis di sini.

Queen Victoria Building atau QVB adalah shopping mal yang wajib dikunjungi di Sydney, termasuk yang tidak berniat belanja sekali pun. Bangunan tua dan cantik ini cukup fotogenik, bagus difoto dari sudut manapun. Tak jarang mal ini dipakai untuk foto prewed. Setiap boxing day, bakal terlihat antrean mengular untuk masuk toko BALLY di lantai dasar. Antrean yang lebih pendek juga terjadi di toko kristal Swarovski dan salah satu merk fesyen Aussie: Country Road.

Biasanya, selain mengagumi arsitektur dan detil QVB, saya ajak keluarga makan di Laksa House di basement. Saya juga suka ngopi-ngopi cantik di Starbucks di bawah QVB kalo lagi sendiri sambil melihat orang lalu lalang. Nah, di dekat Starbucks di lantai bawah itu ada toko pernak-pernik dapur dan rumah tangga yang semua Emak perlu tahu: Victoria Basement. Toko ini sering menggelar diskon dan saya selalu gagal pulang dengan tangan kosong 😀 Tante dan Ibu Mertua saya saja kalap kalau diajak masuk toko ini. Soalnya banyak bric-a-brac unik yang bisa mempercantik dapur, yang tidak ada di Indonesia. Saran saya, tinggalkan anak-anak (dan suami) di rumah/hotel karena lorong-lorong di toko ini sempit dan banyak barang pecah belah. Katalog bisa dilihat online di sini. You’re welcome 😉

Di seberang QVB ada The Galeries. Toko yang paling sering saya kunjungi di Mal ini adalah Toko Buku Kinokuniya dan toko DVD JB Hifi. Pojok buku anak-anak di Kinokuniya Sydney ini punya pemandangan yang luar biasa: perempatan paling sibuk di kota di depan Town Hall. Saya bisa berlama-lama duduk di pojok ini sambil menatap orang-orang yang menyeberang jalan dengan tergesa-gesa di bawah sana. Sayangnya sekarang dipasang larangan memotret. Mungkin sudah banyak fotografer yang berusaha mengabadikan momen di perempatan tersebut, yang malah mengganggu anak-anak yang membaca buku. Tapi… coba aja dengan kamera kecil. Moga-moga satpamnya sedang sibuk dengan gadget dan lupa menengok CCTV 🙂 Di Kinokuniya, saya biasanya hanya lihat-lihat buku. Kalau borong beli buku, saya biasanya ke Basement Bookstore yang ada di mulut terowongan Central Station. Toko buku ini diskonnya gila-gilaan, sampai 90%. Awas, pegangi dompet dan ingat kuota bagasi kalau sempat mampir sana 🙂

Sementara itu… JB Hifi adalah surga DVD! Bagi pecinta dan kolektor film, sepertinya bakal histeris menemukan DVD apapun ada di sini, mulai dari film klasik lawas sampai film animasi terbaru. Harga DVD dan Blu Ray asli di sini jauuuuh lebih murah daripada di Indonesia. Yuk maree… 

Satu blok dari QVB dan The Galeries adalah Pitt St Mall. Jalan satu ini ditutup untuk kendaraan bermotor dan hanya digunakan untuk pejalan kaki. Dua departemen store di blok ini adalah Myer dan David Jones. Di sini lah kehebohan boxing day terjadi. Jangan heran kalau pas jalan-jalan ke Sydney tanggal 26 Desember, melihat SEMUA orang menenteng tas belanja Myer atau David Jones. Di Westfield Sydney, masih di Pitt St, kita bisa menemukan semua butik mewah: Prada, Miu Miu, Chanel, Gucci, sebutkan saja. Saya tidak pernah berani masuk ke butik yang pintunya dijaga lelaki berseragam dan memakai sarung tangan ini. Paling sekali setahun saya ikut antre masuk butik Bally dan pegang-pegang apa yang bisa dipegang, haha. Pernah Si Ayah iseng melihat dan menanyakan harga handbag branded di David Jones. Dia tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya saat tahu tas-tas yang didiskon ini harganya sampai $5000. “Siapa yang mau beli tas dengan harga segini?” tanyanya heran.
Err… orang-orang dengan disposable income? Kalau kami punya uang segitu, mending untuk jalan-jalan ke Eropa sih.

Westfiled mal ini juga menjadi pintu masuk untuk naik ke atas Sydney Tower. Sayangnya kami belum pernah naik karena Si Ayah takut ketinggian, hehe.

Toko-toko favorit kami juga ada di sepanjang Pitt St: Diva (aksesori), Sportsgirl (fesyen), dan Smiggle (stationery). Untuk balik ke George St (ada Apple Store di seberang jalan) bisa melewati Strand Arcade sambil cuci mata gaun-gaun cantik karya perancang Aussie: Lisa Ho, Alannah Hill, Leona Edmiston, Alex Perry, dll.

Outlet Esprit di atas Paddy’s Market

Outlet
Yang waktunya sedikit tapi duitnya banyak, bolehlah belanja di kota. Tapi, orang-orang seperti saya, kebalikan dari kategori tadi, mari melipir ke outlet berburu barang-barang diskon.

Outlet favorit saya adalah Birkenhead Point, kira-kira setengah jam naik bis dari QVB ke arah utara. Mal yang satu ini bentuknya gudang luas dan letaknya di pinggir dermaga yang cantik. Kalau puas mengubek-ubek toko, saya biasanya duduk-duduk di kursi food court di luar, menikmati pemandangan kapal-kapal yang berlabuh sambil nyemil gozleme.

Sebagian toko dan brand yang ada di tengah kota tadi bisa ditemui di sini. Barang-barang clearance dari dept. store David Jones ada di sini, harganya kadang lebih murah dari harga boxing day. Begitu juga outlet merk Oroton, diskon minimal 60%. Saya biasanya mampir ke: Sheridan untuk cari bed sheet atau handuk, Corelle untuk piring-piring cantik, Pumpkin Patch untuk cari baju anak-anak dan Diana Ferrari untuk cari sepatu. Tapi favorit saya tetap outlet Kathmandu yang menyediakan peralatan outdoor dengan desain lucu-lucu. Yang nggak sempat ke Birkenhead, jangan khawatir, ada toko Kathmandu di atas Town Hall stasiun di tengah kota.

Satu lagi outlet tengah kota yang lumayan menarik untuk berburu diskonan: Market City. Letaknya persis di atas Paddy’s Market, nggak susah dong carinya 🙂 Di sini ada diskonan Esprit sepanjang masa, juga Supre, Oroton Factory, Cotton On, Cotton On Kids dan Giordano. Tenang, di sini mereka nggak berisik panggil-panggil Kakak kok 😀

Masih ada lagi sih tempat belanja alternatif yang tak kalah asyik: weekend market. Tapi ntar aja ya saya tulis tersendiri. Oh, ya, kalau mau belanja mainan anak-anak, Toys Sale biasanya di tengah tahun: Juni/Juli. Cek katalog di Lasoo untuk membandingkan harga masing-masing toko. Pastikan anak-anak tidak ikut melihat isi katalog, nanti histeris, hehe.

Ada yang mau sharing pengalaman atau menambah tip belanja belanji di Sydney?

~ The Emak

Tips Berburu Oleh-Oleh di Paddy’s Market Sydney

Gedung Paddy’s Market di Haymarket. Foto oleh Radityo Widiatmojo.
Di Australia, kalau ada teman yang berangkat jalan-jalan, kami biasanya bilang, “Save journey and have a great holiday.” Sementara di Indonesia, kalimat yang biasa kita dengar adalah: “Jangan lupa oleh-oleh ya.” 😀
Tidak bisa dipungkiri, di Indonesia, budaya memberi oleh-oleh adalah urusan serius. Kalau pulang liburan dengan tangan kosong, bisa-bisa dianggap orang sombong, pelit, nggak sopan, nggak mensyukuri nikmat dll. Haha, kebablasan ya? Untungnya, di Sydney ada tempat belanja oleh-oleh yang cheap and cheerful, harganya gak bikin kantong bolong dan yang nerima juga senang dapat sesuatu dari Sydney, meskipun hampir pasti barang-barang ini buatan China :p
Pastikan berkunjung ke Paddy’s Market di Chinatown untuk berbelanja oleh-oleh khas Sydney untuk orang sekampung atau minimal untuk diri sendiri. Di Sydney, ada dua Paddy’s Market, satu di tengah kota (Chinatown) dan satu lagi di pinggiran (Flemington). Yang saya bahas di sini adalah yang di Chinatown karena lokasinya lebih terjangkau untuk turis yang jalan-jalan ke Sydney. 

Paddy’s Market adalah pasar tradisional yang letaknya di lantai dasar mal: Market City. Biar tidak bingung, saya perjelas: Paddy’s Market adalah nama pasarnya, Market City adalah nama bangunan tempat pasar ini berada (hanya di lantai bawah), Haymarket adalah nama suburb/distrik tempat bangunan ini berada, Chinatown adalah sebutan lain (nama populer) Haymarket karena memang di suburb ini banyak bermukim imigran dari China. Paddy’s Market atau biasa disingkat “Paddy’s” saja, letaknya sangat strategis, hanya 10 menit jalan kaki santai dari stasiun central atau 10 menit jalan kaki dari Darling Harbour. Bagi yang tinggalnya di daerah Haymarket, pasar ini cuma 5 menit jalan kaki. Yang tinggalnya di hotel di daerah kota, bisa naik kendaraan umum ke sini. Masing-masing bis kota gratis warna hijau (free shuttle bus), monorail dan lightrail (trem) punya halte yang berhenti di Paddy’s. Pastikan meminta sopir atau kondektur untuk diturunkan di Paddy’s.

Market City, Mal yang berada di atas Paddy’s buka tiap hari. Sementara Paddy’s Market buka mulai Rabu sampai Minggu, jam 9 pagi sampai 5 sore. Senin dan Selasa tutup, kecuali kalau ada libur nasional. Perhatikan jam buka ini agar tidak kecele. Di akhir pekan, biasanya pasar ini ramai sekali. Kalau ingin berbelanja pas pasar sepi, datanglah hari Rabu atau berbelanjalah pagi-pagi.

Meskipun judulnya pasar tradisional, Paddy’s cukup nyaman, bersih dan rapi. Jarak antar lapak cukup lebar sehingga enak untuk jalan dan melihat-lihat. Ada banyak tempat sampah di berbagai sudut dan ada toilet bersih yang nyaman digunakan. Pasar ini terbagi menjadi dua bagian: pasar basah tempat menjual sayur/buah dan lapak-lapak yang menjual suvenir, fesyen, aksesoris, mainan, snack dan benda apapun yang bisa kamu bayangkan 🙂 Kalau ingin sekalian belanja sayur dan buah segar, lebih baik belanja sore hari. Menjelang pasar tutup jam 5 sore, harga barang-barang segar ini diturunkan, banyak yang diobral satu dolaran.

Pintu masuk utama Paddy’s
Lapak souvenir langganan kami
Sebelum berbelanja, tolong terima kenyataan bahwa sebagian besar suvenir di Paddy’s ini buatan China 🙂 Kalau ingin suvenir made in Australia, berbelanjalah di The Rock Market, Paddington Market, QVB Shop atau Ken Done Store. Ada sih satu lapak yang menjual barang-barang kerajinan suku Aborijin, antara lain lukisan di kain, tas, kaos, topi dan aneka barang lainnya. Setiap barang di sini otentik, ada sertifikat dari seniman Aborijin-nya, dan mereka mendapat royalti untuk setiap karya yang dibeli. Saya pernah mengajak Ibu saya ke lapak yang menurut saya cukup bagus ini. Tapi akhirnya Ibu urung membeli karena barang-barangnya ‘cuma’ seperti batik di Indonesia 😀 Selera orang memang beda-beda 🙂

Ada dua macam lapak suvenir di Paddy’s: satu yang menjual kaos dan jaket dan satu jenis lagi yang menjual berbagai suvenir seperti gantungan kunci, tas, topi, dompet dll. Lapak-lapak ini banyak sekali jumlahnya dan rata-rata harganya sama. Saya punya dua lapak langganan: lapak suvenir milik sepasang Bapak Ibu China yang ramah banget dan lapak kaos milik Ibu China/Malaysia dengan pegawai yang bisa berbahasa Indonesia, yay! Bagaimana ceritanya dua lapak ini bisa menjadi langganan saya? Dua tahun pertama di Sydney, saya berpindah-pindah lapak kalau berbelanja di Paddy’s. Sering saya menemukan penjual yang judes, yang marah kalau ditawar atau ngomel-ngomel nggak jelas kalau kita urung membeli. Sebagian besar pemilik lapak adalah orang-orang China yang kadang tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga komunikasi hanya terbatas pada barang ini harganya berapa, dengan menunjukkan jari-jari kita :p Sampai akhirnya saya menemukan Bapak Ibu penjaga lapak suvenir yang murah senyum ini, yang tetap tersenyum walau ditawar dan kadang memberi diskon kalau kita belanja banyak. Sementara lapak kaos dengan mbak penjaga berbahasa Indonesia ini, tentu menjadi favorit saya karena lebih mudah nawarnya, daripada harus bersilat lidah dalam bahasa Inggris atau bahasa isyarat 🙂
Harga barang-barang di Paddy’s rata-rata sama dan harganya pas. Kita masih bisa nawar sih, tapi rata-rata penjual hanya mau memberikan potongan lagi kalau kita belanja lumayan banyak. Biasanya barang-barang dijual bukan dengan harga satuan, tapi dengan paket. Jangan salah, kalau kita mendengar harga “3 for 5” artinya lima dolar dapat tiga, bukan tiga dolar dapat lima. Kadang orang Indonesia salah mengartikan ini karena lupa membalik arti kata dalam bahasa Inggris. Tas-tas kecil atau dompet pensil koala harganya 3 for $5. Topi dan tas belanja besar biasanya 4 for $10 (sepuluh dolar dapat empat). Gantungan kunci metal biasanya satu dolaran. Kaos oblong tanpa kerah rata-rata harganya 3 for $20 (dua puluh dolar dapat tiga). Ada juga gantungan kunci ‘spesial’ untuk ‘teman kita’ yang tiba-tiba sok dekat dan minta oleh-oleh: gantungan kunci koala seharga $2,5 yang isinya satu lusin. Beli 4 lusin seharga $10 sudah bisa untuk orang sekampung :p

Jangan lupa membawa catatan siapa saja yang akan dibelikan oleh-oleh. Gawat banget kalau sampai ada yang kelewatan. Catatan ini juga membantu kita untuk ‘fokus’ dan nggak melebar beli barang-barang lucu lainnya. Ibu, Budhe dan Tante saya yang sudah bawa catatan saja sampai tiga kali ke sini karena merasa ada saja yang kurang, apalagi yang nggak pakai catatan. Siapkan juga uang cash yang cukup untuk berbelanja di sini, hanya sedikit yang menerima pembayaran dengan debit (eftpos) atau kartu kredit. Biasanya diskon juga diberikan untuk yang membayar dengan uang cash. Kalau beli oleh-oleh untuk orang sekampung, kira-kira perlu $200-an. Tapi kalau hanya beli untuk diri sendiri atau keluarga kecil saja, $50 sudah cukup.

Lapak kaos langganan. Mbak yang sebelah kanan bisa bahasa Indonesia 🙂
Lapak mainan warna-warni dari kayu favorit The Precils.
Saya punya tips berbelanja untuk keluarga yang membawa precils. Terus terang saja, nggak ada anak kecil yang suka diajak berbelanja Emaknya yang lama milih-milih barang yang sama :p Coba bujuk mereka dengan membelikan satu mainan atau barang yang bisa mereka pilih sendiri. Di dekat lapak kaos langganan saya tadi ada lapak mainan dari kayu yang warna-warni. ‘Titipkan’ anak-anak (dan Bapaknya) di lapak ini sementara kita menawar kaos. Mbak penjaga mainan ini sangat ramah dan nggak jutek walaupun kita hanya lihat-lihat. Harga mainan ini juga ada yang murah, mulai $1.
Kalau nggak mempan dibujuk dengan dibelikan mainan, suruh si Bapak untuk membawa anak-anak menghirup udara segar dan melihat burung di pelataran Entertaintment Centre di seberang Paddy’s. Lapak suvenir langganan saya terletak di dekat pintu masuk Paddy’s yang dekat dengan stasiun monorail. Di seberangnya ada pelataran luas cukup untuk Si Kecil berlarian mengejar burung-burung. Peringatan: sebelahnya lagi ada Mc Donald :p
Yang hobi belanja, kegiatan berburu oleh-oleh ini tentu mengasyikkan dan menjadi ‘alasan mulia’ untuk shopping 🙂 Masalahnya, bagasi kita tentu terbatas. Kalau memang tujuan utama jalan-jalan untuk berbelanja, perlu memikirkan ruang kosong untuk tempat oleh-oleh ini. Jangan sampai asyiknya jalan-jalan dirusak dengan dilema minimnya jatah bagasi dan perasaan bersalah tidak memberi oleh-oleh.
Saya sendiri tidak pernah meminta oleh-oleh (atau bahasa halusnya nitip) dari teman yang pergi berlibur. Mereka udah direpotkan oleh packing, jangan terbebani dengan urusan oleh-oleh ini. Dan terakhir, siapa sih kita meminta oleh-oleh? Biasanya ‘oleh-oleh’ yang saya minta adalah cerita dan pengalaman mereka, siapa tahu nanti kami berkesempatan jalan-jalan ke sana juga dan membeli sendiri souvenir yang kita inginkan. 

Saya doakan orang-orang yang masih banci oleh-oleh diberi kesempatan untuk jalan-jalan sendiri sehingga bisa beli souvenir sendiri. Amini doa saya ya 🙂

~ The Emak

PS: Baca juga tip belanja barang-barang branded di sini.